OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Penjelasan Gram


__ADS_3

"Napa Gram?" Tanya Ina.


"Keknya aku melakukan hal yang salah deh In." Jawab Gram lalu berpikir, darimana Arima mendapat foto itu.


"Ina tadi bilang, dia nebeng sama seseorang kan ya, siapa ya kira-kira." Pikir Gram.


"Ina, kamu tadi ke persawahan ini bareng sama siapa emangnya?" Tanya Gram setelah sedikit berpikir.


"Oh aku? Aku bareng sama temen sekelas kita juga sih, cewek. Siapa ya namanya aku lupa, pokoknya yang duduk di barisan depan deh." Jawab Ina, sambil menunjukkan pose berpikir.


"Barisan depan? Bisa jadi orang itu orang yang duduk bareng Arima, apa iya dia yang lapor pada Arima. Brarti kalo dia lapor sama Arima, bisa jadi Arima udah cerita tentang perasaannya ke aku dong pada orang itu." Gram berusaha berpikir.


"Setelah nebengin kamu, cewek tadi kemana In?"


"Gatau deh Gram, tadi dia pergi aja gitu bawa mobil mininya. Mobilnya keren lho, hanya cukup dinaikin dua orang."


"Ya,ya... Tapi itu informasi yang gak penting, Ina. Dan juga, aku antar kamu pulang ya, aku mau ada urusan." Ucap Gram, berniat mendatangi rumah Arima.


"Antar pulang? Rumahku di luar kota."


"Eh?" Gram kaget.


"Gapapa, kalo kamu ada urusan tinggalin aku di sini aja Gram. Aku bisa pesan ojek online kok." Ucap Ina lalu turun dari motor Gram.


"Maaf ya, ini masalah yang agak serius soalnya." Ucap Gram sambil mengambil helmnya.


"Iya Gram. Ngomong-ngomong jadi ngasih kontak gak?"


"Oh ya, lupa aku." Gram lalu memberikan kontaknya pada Ina, dan segera pamit lalu meninggalkan Ina di tengah persawahan.


-


"Aih... Panas-panas gini ada aja masalah. Aku gak mau tau, pokoknya aku gak boleh biarin Arima mikir macem-macem." Pikir Gram, sambil mengendarai motornya dengan cepat, kembali ke kota menuju rumah Arima.


Sesampainya di depan rumah Arima, dia langsung mengetuk pintunya. Dan dibukalah pintunya oleh ibunya Arima.

__ADS_1


"Lho Gram, kenapa kamu? Kok tergesa-gesa begitu?" Tanya ibunya Arima.


"A,Arima..." Ucap Gram yang ragu terhenti saat melihat Arima bersender pada tembok dan menghadap pada Gram yang berada di depan pintu.


"Arima ibu pergi ke dapur dulu ya." Ucap ibu Arima, seakan mengerti kebutuhan anak-anak ini, dan lalu pergi.


"Ma?" Sapa Gram, pada Arima yang tatapan matanya telah kosong.


"Semua gak seperti yang kamu kira kok Ma. Ayolah, aku gak mau pacaran bukan karena ada cewek yang aku suka selain kamu kok." Sambung Gram sedikit menjelaskan.


Arima lalu duduk di lantai, Gram pun melepas sandalnya dan lalu mendekati Arima, berlulut dan lalu mengelus bahunya. Arima lalu menekuk lututnya dan memeluk lutut yang ditekuknya, sambil menyembunyikan wajahnya.


"Maafkan aku Gram, aku bahkan bukan siapa-siapamu yang bisa melarangmu melakukan apapun. Tapi aku egois, aku hanya ingin kamu ada untukku. Hiks." Arima mengucapkannya dengan dibarengi tangisan.


"Kamu gak salah kok Ma, cuma kamu salah paham aja, aku akan menjelaskan sedetail mungkin. Kamu tau kan aku gak suka bohong, dan juga daya ingatku kuat? Dengarkan aku dan biarkan aku menjelaskan." Balas Gram, setelah itu menjelaskan segala kronologinya.


Mulai dari niatnya ke sawah dan pertemuannya dengan Ina. Dan ya, Arima memang tidak pernah meragukan Gram, karena Gram orang yang hampir tidak pernah berbohong. Setelah mendengar penjelasan dari Gram, Arima sepertinya sudah merasa baikan dan berhenti bersedih.


-


"Maksudnya gimana bu?" Tanya Gram.


"Arima saat SMP suka kamu bantu kan dalam mengerjakan tugas. Saat SMA ini dia bertekad untuk tidak menyusahkanmu lagi, akhirnya Arima terlalu banyak beban pikirannya."


"Begitu ya?" Gram lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Arima, "Ayo bangun dulu Ma." Sambung Gram. Arima pun meraih tangan Gram sampai ia berdiri.


"Gram kamu lapar?" Tanya ibunya Arima.


"Belum bu, aku saat pulang tadi sudah makan kok hehe. Aku pinjam ruang tamunya ya bu." Lalu Gram menarik tangan Arima, hingga sampai di ruang tamu.


-


"Kamu jangan pernah begini lagi Ma, ini namanya kamu terbodohi oleh perasaanmu sendiri. Aku gak mau kamu melemah gara-gara hal kek gini." Ucap Gram saat ia dan Arima baru duduk di sofa ruang tamu rumah Arima.


"Apakah aku salah Gram?" Tanya Arima dengan nada melas.

__ADS_1


"Gak, kamu gak salah, kalo menangis hanya karena hal yang salah paham begini, kamu bukan Arima yang ceria yang aku kenal. Kamu tau, aku bukan khawatir tentang perasaanmu lagi kalo begini, aku malah khawatir sama pikiran kamu. Kamu itu orangnya ceria lho." Jelas Gram, lalu menggenggam jemari Arima.


"Ingat ya, jangan pernah sekalipun memikirkan perasaanmu padaku, jalani aja apa yang menurutmu baik untukmu. Kamu gak mau kan aku terganggu karena hal seperti ini lagi." Sambung Gram.


"Jadi aku salah Gram?"


"Kamu... Hmmm, apa ya... Dibilang salah juga nggak, tapi ya sudahlah ya." Jawab Gram lalu melepas genggaman tangannya.


"Kenapa kamu lepas?"


"Lah? Tanganmu keringetan tuh, tanganku kotor nanti kalo terus menggenggam hehe." Jawab Gram dengan bercanda.


"Kamu bisa aja." Arima lalu tersenyum dan mengusap air matanya, "Baiklah Gram, Aku minta maaf ya. Dan juga, aku akan janji pada diriku sendiri agar tidak mudah salah paham." Sambung Arima, dengan senyuman sumringah.


"Baguslah. Sekarang kamu sudah tenang kan?"


"Sudah Gram."


"Sekarang bilang kepadaku, siapa yang mengirimkan foto yang membuatmu salah paham itu?" Tanya Gram dengan wajah yang tiba-tiba serius.


"Teman sebangkuku, kenapa emangnya Gram?"


"Oh jadi kamu sudah cerita pada orang lain tentang perasaanmu itu?"


"Eh? Iya sih kenapa emangnya?"


"Huh..." Gram menghela nafas karena jawaban polos Arima, "Aku tebak kamu pasti bilang sama temenmu itu kalo kita gak pacaran kan? Dan kamu cerita seolah-olah kamu sangat mengincarku kan?"


"Iya kurang lebih seperti itu. Kenapa sih? Heran deh sama kamu, kalo mau ngomong tuh jelasin juga dong."


"Fitnah itu datang kadang bukan dari orang lain, tapi bisa saja datang karena kita yang terlalu overthinking. Ya seperti kamu tadi tuh, dan juga aku bisa tebak, pasti saat kamu menerima foto ini kamu gak langsung minta penjelasan kan sama temenmu? Kamu langsung berusaha menghubungiku."


"Kamu suka banget berspekulasi gitu ya Gram? Padahal kamu gak tau kejadiannya, tapi kamu bisa tau bagaimana suatu hal bisa terjadi. Tapi ya, yang kamu katakan sebagai besar benar. Saat aku menerima foto itu aku langsung berusaha menghubungimu dengan perasaan campur aduk... Lho Gram, kamu gak dengerin aku? Kenapa malah main HP?" Tanya Arima pada Gram yang mulai main HP.


"Nih langsung kuhubungi cewek yang ada di foto tadi, sepertinya muncul keraguan lagi di pikiranmu." Jawab Gram, sambil menelepon Ina.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2