OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Terapi untuk Bara


__ADS_3

"Ma... Lebih baik kamu sana deh kembali ke bangkumu sama Ina, Bara keknya gak nyaman gitu." Bisik Gram pada Arima.


Akhirnya tanpa basa-basi lagi, Arima dan Ina pergi dari hadapan Gram dan Bara.


"Udah Bar? Cewek tuh cuma gitu doang Bar, mereka gak akan makan kamu kok." Ucap Gram setelah Arima dan Ina pergi, pada Bara.


"Mungkin ini yang disebut rasa segan ya bro. Gak tau lagi deh aku, padahal cewek kan masih manusia ya. Harapanku sih, dengan sekolahnya aku di SMA ini, bisa membuatku perlahan terbiasa dengan cewek." Jawab Bara, sambil perlahan mengangkat pandangannya.


"Hm? Iya juga, harus begitu sih. Kalo nggak, gimana kamu mau nikah nantinya yakan. Masa nikah sama cowok, kan gak boleh."


"Yeh kamu bisa aja. Lagian, aku juga pengen kali punya anak gitu."


"Cowok sama cowok ngomongin anak, heh mencurigakan." Celetuk tiba-tiba Sima, yang tiba-tiba juga sudah duduk di samping Gram, dengan kepala yang ditidurkan di atas meja.


"Eih... Kamu ini Sim, datang-datang bukannya nyapa atau giman, malah mikir macem-macem. Lagian, ngapain kembali ke kelas? Udah mending kamu pergi tadi." Balas Gram.


"Kamu buta apa gimana? Jam pelajaran ke-tiga sudah mau mulai, jam istirahat sudah habis. Wajar aku balik ke kelas." Jawab Sima, lalu mengangkat kepalanya.


"Nah loh, ada apa lagi?" Reflek Gram bertanya.


"Biarin aja bro, keknya nih anak mabok deh." Sahut Bara, sambil memasukkan HP-nya ke dalam tas.


Di saat Bara nyeletuk begitu, Sima lagi-lagi menaruh kepalanya di atas meja, sambil terus melihat ke arah pintu. Tak lama kemudian, para murid dari kelas 10 Ekonomi-Akuntansi berbondong-bondong masuk ke dalam kelas, begitu juga Arif.


"Kenapa Rif?" Tanya Gram.


"Ah enggak ada apa-apa. Itu, guru yang mau ngisi kelas kita udah ada di depan aja." Jawab Arif, selagi mendudukkan dirinya di bangkunya.


Benar saja, seorang guru masuk setelah semua murid masuk ke kelas, dengan senyuman sumringahnya, sambil membawa tumpukan buku di tangannya.


"Sekarang pelajaran ke-tiga, berarti pelajaran Bahasa Indonesia ya? Ya gak kaget sih kalo bu guru ini banyak bawa buku. Mungkin beliau meriset pelajaran di pertemuan kali ini dengan sedemikian rupa, dan juga mungkin karena jam Bahasa Indonesia ini lumayan panjang, sampai jam pulang lagi tuh, mungkin materinya bakal banyak nih." Pikir Gram, sambil melihat guru Bahasa Indonesia itu mulai duduk di meja guru.

__ADS_1


-


"Selamat siang anak-anak, sudah kenyang setelah jajan tadi?" Tanya bu guru itu, dan serempak semua siswa mengiyakan pertanyaan bu guru ini.


"Nah sekarang waktunya kalian untuk berpikir, tapi sebelum itu, ibu akan mengabsen dulu ya." Sambung bu guru setelah mendapati jawaban dari para siswa.


Singkat cerita, absensi telah selesai.


"Oke karena ini pertemuan pertama kita, kita akan langsung belajar menganalisa hikayat dan juga dongeng. Di hadapan saya ini ada tumpukan lembaran, satu orang mengambil satu lembar ya. Dan karena waktu kita tidak banyak, dari tiga puluh empat siswa ini silahkan menentukan kelompok, satu kelompok berisi dua orang ya, laki-laki dan perempuan. Tidak ada pertanyaan, kerjakan sekarang." Suruh bu guru, dan para siwa mulai mengambil lembaran yang ada di meja guru.


"Tiga puluh empat? Bukankah Arima bilang kalo keseluruhan siswa yang ada di kelas ini tiga puluh lima ya?" Pikir Gram bertanya-tanya.


"Eh tunggu, kelompoknya laki-laki dan perempuan? Lah Bara gimana?" Sambung Gram terkejut sendiri dalam pikirannya.


Ia pun melihat ke arah Bara. Dan ya, Bara seperti orang yang sudah tak bernyawa, pandangnya kosong.


Gram lalu mengangkat tangannya, berniat untuk menanyakan sesuatu pada bu guru.


"Pertanyaan tidak penting tidak akan saya jawab. Silahkan." Ucap bu guru.


"Ya." Jawab singkat bu guru.


Gram pun berpikiran untuk berkelompok dengan Arima, tapi tanpa disadari oleh Gram, Sima sudah pergi dari bangkunya, berkelompok dengan seseorang di bangku belakang.


Gram lalu melihat ke arah Arima, Arima pun mengerti dengan tatapannya Gram itu.


Setelah Arima duduk di samping Gram, Gram lalu melirik ke arah Ina, Ina yang sadar dengan Gram, ia pun melihat balik ke arah Gram, dengan raut wajah penuh tanda tanya.


"Ma, keknya Ina biar jadi satu kelompok aja deh sama Bara." Bisik Gram pada Arima, yang akhirnya Arima mengisyaratkan pada Ina untuk datang padanya.


Setelah Ina datang, Gram lalu menawarkan Bara pada Ina.

__ADS_1


"Bro?" Celetuk Bara dengan nada cemas.


"Gapapa, Ina ini orangnya baik kok, walaupun aneh ya. Ini juga tugas Bar, gak akan sampai mati kok." Jawab Gram meyakinkan Bara.


Arif yang dari tadi merasa jadi angin, ia pun memutuskan untuk pergi mencari pasangan kelompoknya. Dan Ina pun duduk di samping Bara.


-


Bu guru lalu menepukkan tangannya, "Karena sepertinya sudah punya kelompok masing-masing, segera akan saya jelaskan apa saja yang kalian harus lakukan." Ucap bu guru, lalu mejelaskan sedikit banyak tentang tugasnya.


"Gram, beneran deh, temenmu ini kenapa?" Tanya Arima berbisik pada Gram, di tengah penjelasan bu guru.


"Udah gapapa, gausah terlalu dipikirkan." Jawab Gram yang masih terfokus pada bu guru.


"Jadi seperti itu, bukan hal yang sulit kan? Segera kerjakan, dan waktu kalian panjang, tidak ada alasan untuk dijadikan PR." Ujar bu guru setelah menjelaskan, lalu duduk lagi di mejanya.


Singkat cerita, semua telah selesai mengerjakan, semua pekerjaan sudah dikumpulkan pada bu guru, dan jam pulang pun tiba.


Arima, Ina, Arif dan Sima telah kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Gimana Bar, aman? Haha" Tanya Gram pada Bara sambil cengengesan.


"Udah. Keknya nyawaku udah habis bro haha. Yaudahlah ya, aku pulang duluan, kamu masih harus ke ruang OSIS kan?"


"Iya Bar. Rif, Bar, aku ke ruang OSIS duluan deh ya." Ucap Gram lalu pergi dari kelas.


Kenapa tidak pamit pada Sima juga, padahal Sima kan teman sebangkunya Gram? Seperti sebelum-sebelumnya, Sima udah menghilang seperti ditelan bumi.


-


Di tengah perjalanan menuju ruang OSIS, muncul lagi beban pikirannya Gram.

__ADS_1


"Ruang OSIS ya? Kali ini, aku tidak merasa gelisah, malahan aku penasaran, apa yang membuatku dipinta untuk pergi ke ruangan mereka, apakah karena Dion? Ataukah karena kejadian Azmi kemarin? Azmi kalo menurut cerita dari Arima, dia kan siswa teladan yang suka membantu guru tuh, siapa tau dia punya koneksi kepada OSIS. Ah sudahlah, lebih baik aku segera keruangan mereka, agar cepat selesai urusannya." Pikir Gram, lalu mempercepat langkahnya menuju ruang OSIS.


...•••...


__ADS_2