OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Awal dari Segalanya


__ADS_3

"Kenalkan dirimu pada yang lain." Pinta guru itu, setelah Gram sampai di sampingnya dan menghadap ke para siswa.


"Namaku Graham, di ambil dari nama seorang ilmuwan yang lumayan terkenal. Tapi, panggil saja aku Gram." Perkenalan singkat Gram, membuat para siswa tertegun kebingungan. Ya jelas, soalnya Gram berniat sedikit ngelawak sebenarnya.


"Ha-ha-ha... Tidak lucu sama sekali. Sekarang ulangin penjelasan saya tadi, yang katanya kamu dengarkan." Suruh guru itu.


Gram yang memang memiliki daya ingat yang lumayan, ia pun mengucapkan semua penjelasan guru tanpa ada salah kata, satu pun. Hal itu membuat para siswa mulai bertanya-tanya, dan sedikit membuat kericuhan karena takjub.


"Wow-wow... Apa? Bagaimana caramu mengingat semua kalimat itu nak?" Tanya guru itu, kali ini nada bicaranya mulai santai. Membuat Gram sedikit tenang.


"Saya gak tau hal ini bersangkutan atau tidak, tapi mungkin ini adalah efek dari membaca banyak buku, bu. Saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca novel, dan hal itu saya rasa yang membuat ingatan saya agak kuat." Jelas Gram.


"Kalau begitu, karena kamu sudah mau mengulangi penjelasan saya dengan sempurna, saya beri kamu wewenang untuk memilih ketua kelas. Karena saya adalah walikelas sepuluh Ekonomi-Akuntansi ini." Ucap Guru itu, membuat Gram terkejut.


"Eh... Jangan bu, lebih baik kalau didiskusikan bersama, mungkin akan lebih baik kalau dipilih secara demokratis."


"Siapa yang setuju, si ilmuwan ini memilih ketua kelas secara langsung? Angkat tangan." Tanya guru itu, sambil mengangkat satu tangannya. Diikuti dengan para siswa, yang sepertinya terpaksa mengangkat tangannya.


Disaat yang bersamaan, Gram lalu melihat ke arah Dion. Dion tersenyum lebar, seakan-akan mengucapkan "Rasain kamu."


"Kenapa jadi begini? Mau bagaimana pun juga, hal ini aneh. Ini hari pertamaku di SMA ini, tapi sudah diberi hal seperti ini. Ini sama halnya dengan berjudi gak sih? Aku belum mengenal secara individual tentang semua siswa yang ada di kelas ini, bisa gawat kalau aku salah memilih." Pikir panjang Gram.


"Nah... Sekarang silahkan gunakan wewenang ini, Gram." Suruh guru itu, karena semua siswa telah setuju.


Gram lalu menoleh ke arah Arima, Gram lihat Arima seolah sedang memberi sebuah kode pada Gram dengan gerakan matanya. Namun, Gram tidak mengerti dengan kode yang diberikan oleh Arima. Ia pun menoleh ke arah lain, sekarang ke arah tiga teman barunya, ternyata hasilnya nihil bagi Gram, mereka seakan tidak peduli.


Lalu Gram teringat sesuatu, "Azmi?! Dari caranya ngomong saat sambutan tadi bisa dibilang dia cukup tegas, di samping itu, aku merasa dia orangnya sedikit lawak. Mungkin dia adalah tipe ketua yang ideal untuk kelas ini." Pikir Gram, dengan tangannya yang menyangga dagu dan memejamkan mata.


Gram lalu membuka mata, "Azmi. Kurasa ia akan cocok menjadi ketua kelas ini." Ucap Gram dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Baiklah, siapa yang bernama Azmi, silahkan berdiri di tempat." Timpal guru.


Azmi pun berdiri, dan melihat Gram dengan wajah penuh pertanyaan, seolah bertanya-tanya, "Apakah aku kenal dengan orang ini?"


"Bukankah dia siswa sambutan yang dipanggil tadi? Mengapa kamu secara spontan memilihnya, Gram? Apakah kalian sudah saling mengenal?" Tanya guru setelah Azmi berdiri.


"Oh kalau itu, maafkan saya, saya tidak mengenal Azmi secara personal." Ucap Gram, "Namun, ada beberapa alasan yang membuatku memilihnya... Mungkin teman-teman yang lain akan berpikir kalau aku memilihnya karena siswa sambutan, tapi bukan itu alasanku." Sambung Gram, sambil mengeluarkan sebuah buku saku, dan ia berpura-pura membaca sesuatu dibuku itu, padahal buku itu tidak ada tulisannya.


Semua siswa kembali mulai saling bertanya-tanya pada sesama, sambil terus menatap Gram.


"Baiklah, kalau begitu apakah semua setuju dengan keputusan Gram?" Tanya guru lagi pada para siswa, dan semuanya setuju.


Alhasil, Gram disuruh untuk kembali ke tempat duduknya lagi.


"Semuanya, ibu sampai di sini saja. Peraturan dan ketua kelas sudah ditentukan, tidak bisa diganggu-gugat lagi. Ibu pamit dulu." Ucap walikelas itu, lalu pergi meninggalkan kelas.


-


Saat Gram melihat ke arah Azmi, ternyata Azmi tidak komplen, yang ada malah Azmi nampak kegirangan. Di waktu yang sama, Arima pun mendekati Gram dan memberikan secarik kertas bertuliskan...


"Azmi ini sepertinya sangat obsesif, hati-hati. Dan juga, ada dua orang yang tinggal kelas di kelas ini, mereka ada di bangku belakang, nama mereka adalah Jonathan dan Luffy."


Setelah membaca tulisan Arima, Gram pun menoleh ke arah belakang, ia pun melihat dua orang siswa bernama Jonathan dan Luffy. Gram langsung tahu, karena di sekolah ini setiap siswa akan diberi name tag, dan untuk membuat name tag mestinya butuh waktu, jadinya yang memiliki name tag saat ini hanyalah murid yang telah lama bersekolah di SMA ini.


"Kenapa bro?" Tanya Bara.


"Gapapa Bar, aku agak tertarik aja sama dua orang yang punya name tag itu." Jawab Gram.


"Trus si Arima ya tadi itu? Ngapain ngasih kamu kertas gitu Gram?" Tanya Arif.

__ADS_1


"Yelah gak usah ditanya lah bro, pasti juga surat-suratan percintaan." Sahut Bara.


"Jadi gimana?" Pertanyaan Sima lagi-lagi membuyarkan pembicaraan antara empat sekawan itu.


Tak lama setelah itu seseorang yang duduk sebangku dengan Azmi mendatangi empat sekawan ini, "Namamu Gram ya? Aku bisa tebak, kamu pasti suka pelajaran yang memakai otak kan? Contohnya matematika." Ucap cowok itu.


"Heh? Dia bisa tahu gitu? Ya~ Aku emang suka MTK sih, tapi aku gak pernah bilang ke siapapun termasuk Arima dan Dion lho." Pikir Gram, sambil merasa keheranan pada cowok itu.


"Eh... Lebih baik kamu perkenalkan dirimu dulu." Pinta Arif tiba-tiba, sepertinya dia tidak ingin kejadian antara Sima dan Bara terulang lagi.


"Oh ya-ya... Namaku Noir." Balas cowok itu, dan lalu manjabat tangan empat sekawan itu, sebagai tanda perkenalan.


-


"Noir, gimana caramu bisa tahu kalo aku suka MTK?" Tanya Gram.


"Ngarang aja, soalnya aku butuh contekan gitu. Aku kan bodoh banget di bidang matematika." Jawab Noir dengan santai.


"Hah?!" Empat sekawan itu kaget secara bersamaan.


"Ngomong-ngomong, Gram... Kamu temennya ketua geng tadi kan? Si Dion?" Sambung Noir bertanya.


"Ah ya... Bisa dibilang seperti itu sih, kenapa emangnya?" Tanya balik Gram.


"Tadi saat aku sedang menuju kelas, aku lihat si Dion sedang nongkrong dengan beberapa OSIS, dia menyebutkan namamu, dan sedikit aku dengar, katanya kamu punya keunggulan." Jelas Noir.


"Namaku? OSIS? Waduh, bisa gawat nih kalo aku dijadikan kandidat nantinya." Pikir Gram.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2