
"Nah ini kelas kalian. Kalian kelas sepuluh, Ekonomi-Akuntansi kan?" Tanya Jaka, saat mereka berhenti di depan sebuah kelas.
"Oh ya-ya... Terimakasih bro Jaka." Ucap Bara.
"Bro, ya? Untuk kalian bertiga aku tidak masalah jika kalian menganggapku bro kalian. Berbanggalah." Ujar Jaka dengan percaya diri. Tiba-tiba raut wajahnya jadi serius, "Tapi ingat, kalian macam-macam di SMA ini, kami akan turun langsung ke lapangan." Tambahan dari Jaka lalu segera pergi.
"Kami?" Arif keheranan.
"Maksudnya OSIS kali Rif." Balas Gram, lalu mereka pun masuk ke kelas yang ditunjukkan Jaka.
Saat mereka baru masuk ke kelas Ekonomi-Akuntansi itu, mereka terhenti di depan pintu.
"Keren sekali, bahkan cowok dan cewek punya wilayahnya masing-masing. Sebelah kanan barisan cowok, sedangkan kiri barisan cewek ya. Menarik." Pikir Gram takjub.
"Bro. Kita kan udah kenal bertiga, trus ini tempat duduknya, kan cuma dua orang dalam semeja. Apa diantara kita harus ada yang mengalah untuk meninggalkan grup tiga ini?" Tanya Bara tiba-tiba.
"Oh kalo gitu, gapapa aku duduk sendiri aja." Jawab Gram spontan, karena ia merasa belum terlalu kenal dengan dua teman barunya ini, akhirnya daripaa nanti ada rasa canggung, lebih baik ia mengalah.
"Gapapa Gram?" Tanya Arif. Gram pun membalas dengan menganggukkan kepala.
Alhasil, Gram duduk di meja paling depan sendirian, sedangkan Bara dan Arif berada di belakangnya persis.
Gram lalu menengok ke arah belakang, "Kalo ujung-ujungnya kita tetanggaan gini, tadi ngapain kita khawatir?" Tanya Gram.
"Ya, aku kan juga gak enak bro. Masa baru kenal langsung seenaknya egois gitukan." Jawab Bara.
"Haha... Yaudahlah ya, semoga kedepannya kita bisa terus berteman." Potong Arif.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada yang duduk di samping Gram, "Jadi gimana?" Tanyanya, Gram, Bara dan Arif pun bingung dibuatnya.
"Eh? Siapa ya?" Tanya Gram yang masih melihat ke arah Bara dan Arif.
"Oh ya, aku Sima. Aku murid baru sih." Jawab cowok itu.
__ADS_1
"Ya-ya... Haha... Eee... Aku juga murid baru btw." Balas Gram dengan senyum tipis.
"Aneh banget tiba-tiba sok kenal gitu bro. Aku Bara, ini Arif dan ini Graham." Sahut Bara sambil perlahan mulai menarik kerah Sima.
"Bar, kamu ngapain?" Tanya Arif.
"Muka nih orang ngeselin banget, pengen kupukulin sih." Jawab enteng Bara, yang mulai mengepalkan tangannya, dan sambil melihat ke arah Arif yang bertanya padanya.
"Asik tuh." Balas Gram, lalu menarik tangan Bara, berusaha menghentikan tindakan Bara. "Jangan buat onar di hari pertamamu Bar." Sambung Gram.
Bara pun mulai mengurungkan niatnya untuk memukul, dan mulai melepaskan kerah Sima. Sima pun merapikan pakaiannya yang agak kusut, karena tarikan Bara dan Gram.
"Aku murid baru, gak ada kenalan di sini. Ya mau gak mau aku harus sok kenal aja." Celetuk Sima sambil menunduk, membenarkan seragamnya.
"Yaudah-yaudah... Maaf ya, aku juga baru kenal dua orang ini sih. Lagian, kalo kamu mau berteman, aku mau aja kok berteman." Balas Gram, lalu menatap ke arah Bara.
"Ya-ya... Bro, sorry ya... Kalo mau berteman tinggal ngomong aja, kenalan baik-baik kan bisa." Ucap Bara.
"Iya kah Bar?" Tanya Gram.
"Ya~ Bisa dibilang aku cukup tempramen orangnya bro." Jawab Bara lalu memperhatikan ke sekeliling mereka, ia mulai melihat ke semua siswa yang ada di kelas itu. "Oh itu cewek yang tadi pagi bareng kamu kan bro?" Tanya Bara sambil menatap ke arah Arima.
"Ya, namanya Arima... Itu salah satu dari dua orang yang kukenal sih. Dia dari SMP sini juga." Jawab Gram.
"Trus satu orangnya lagi mana bro?"
Tak lama setelah Bara bertanya demikian, tiba-tiba ada geng cowok yang masuk, geng itu lalu disorot oleh semua mata yang ada di kelas Ekonomi-Akuntansi itu.
"Itu dia Bar, orang yang ada di paling depan dari geng itu, namanya Dion. Ya gimana ya ngomongnya, aku dan dia lagi ada konflik sih, jadi belakangan ini agak jarang ngobrol dengannya." Jelas Gram dengan suara yang pelan pada Bara.
"Oh ya? Tapi sebagai cowok, aku gak bisa ikut campur urusanmu yakan bro. Cowok harus memikirkan cara terbaik untuknya sendiri."
"Kalo gitu, makasih pengertiannya Bar. Tapi sejujurnya aku masuk Ekonomi-Akuntansi juga karena ingin berbaikan dengan dia."
__ADS_1
"Baguslah Gram, lagian kalo ada perselisihan mending buruan diklarifikasi." Sahut Arif.
"Jadi gimana?" Celetuk Sima lagi-lagi, membuat tiga sekawan itu terdiam dan menatap jijik pada Sima.
-
Tak lama, setelah semua murid telah masuk, datanglah seorang guru perempuan ke kelas itu. Dengan tatapan bengis, beliau langsung duduk di meja guru. Dan mulai mencermati semua murid yang ada di kelas itu, satu persatu, seolah sedang menilai apa yang beliau lihat.
"Tidak perlu ada perkenalan, kalian silahkan berkenalan satu sama lain sendiri." Celetuk guru itu lalu membuka sebuah buku tebal yang ia bawa.
"Akan saya jelaskan apa saja yang ada di SMA ini." Sambung guru itu, lalu...
Dari yang Gram pahami, intinya di SMA ini ada sistem poin hukuman, siapapun yang sudah mendapatkan poin ini lebih dari sepuluh, maka otomatis akan langsung dikeluarkan dari SMA ini. Salah satu hal yang bisa menyebabkan seorang siswa mendapatkan poin ini adalah yaitu menentang keputusan para OSIS.
Di samping itu, ada dua hal lagi yang membuat Gram tertarik dengan apa yang dibaca guru itu. Pertama, dari kelas 10 sampai kelas 12 mereka tidak bisa ganti jurusan, kedua, siapapun yang mendapatkan kesempatan untuk menjadi anggota OSIS, mereka tidak bisa menolak hal itu. Selain tertarik, Gram juga dag dig dug ser, karena ia pikir bisa jadi dia malah menjadi kandidat OSIS, yang mana Gram masih merasa belum mampu bila mengemban hal besar seperti itu.
-
"Ngomong-ngomong, ternyata cowok bernama Azmi tadi juga di kelas ini ya. Ngeri juga." Pikir Gram sambil menoleh ke arah meja di sampingnya.
"Hoi, kamu! Kamu denger gak yang saya omongin?!" Bentak guru itu pada Gram.
Gram pun kaget, dan lalu menatap kembali ke guru yang ada dihadapannya. Bukan karena apa, soalnya Gram berada di meja paling depan.
"Sa-saya dengar bu..." Jawab Gram agak ragu.
Guru itu lalu berdiri, dan berjalan hingga tepat berada di tengah-tengah hadapan satu kelas.
"Kamu, kesini!" Bentak guru itu, menyuruh Gram maju. Gram pun segera menurut.
"Wah udah... Mati aku..." Pikir Gram, sambil berjalan ragu menuju samping guru itu.
...•••...
__ADS_1