OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Berputar-putar


__ADS_3

"Kenapa dia kaget? Apakah pertanyaanku terkesan ambigu?" Pikir Gram bertanya-tanya, setelah melihat reaksi kakak sekretaris ini.


"Sejujurnya aku penasaran akan hal itu kak, kenapa di ruangan ini terasa begitu sepi. Kemana semua OSIS? Apakah karena ini hanya tugas kakak saja, lalu OSIS yang lain bebas untuk pulang kerumahnya masing-masing begitu?" Sambung Gram, dan lalu menyenderkan badannya pada kursi.


"Hm? Baiklah, sekarang aku balik bertanya padamu. Kira-kira menurutmu, mengapa mereka tidak ada di sini? Dan juga, sekalian aku mau mengetes, seberapa bagusnya analisis penerusku, sebagai sekretaris." Jawab kakak sekretaris itu.


Gram lalu menaruh tangannya di dagu, menunjukkan pose berpikir.


"Sejauh ini, aku tidak mendapatkan informasi apapun tentang anggota OSIS. Selain kakak OSIS yang tadi pagi kutemui, oh dan juga Jaka kemarin. Sepertinya aku benar-benar kekurangan informasi, aku bahkan tidak tahu kalo ruang OSIS ada di gedung ini. Hmm... Dion? Azmi? Noir? Eh, Noir?" Gram berhenti berpikir.


"Dion, kemarin aku dengar dari Noir, kamu sempet nongkrong sama beberapa anggota OSIS kan? Bisa kamu jelaskan padaku, apa-apa saja yang kamu bicarakan waktu itu?" Tanya Gram tiba-tiba pada Dion.


"Nongkrong ya? Tidak ada yang spesial dari obrolan itu, kami sedikit-banyak ya ngombrol tentangmu. Dan juga... Oh ya, aku baru ingat Gram. Kemarin mereka bercerita, kalo mereka akan belanja pada hari ini untuk membeli beberapa peralatan kebersihan untuk seluruh kelas sepuluh." Jawab Dion, yang sepertinya malah menjadi jawaban pasti.


"Tepat sekali. Kalo orang normal pasti akan melupakan ucapan sepele dari teman baru, Gram. Tapi sepertinya kamu tidak menganggap ucapan si Noir ini sebagai hal sepele ya? Apa kamu takut dengan dewan OSIS?" Sahut kakak sekretaris bertanya.


"Benar juga, seharusnya aku tidak mengingat hal sepele seperti itu. Tapi, bukankah kakak akan mengerti, bila kakak suka menganalisa? Hal sepele pun akan menjadi sebuah jawaban pasti, bila waktunya tepat kak. Dan juga, bukan berarti aku takut dengan dewan OSIS, aku hanya takut bila dibebankan tanggungjawab sebesar nama OSIS ini." Jelas Gram, sambil mulai berdiri.


"Lalu?" Tanya kakak sekretaris, lalu juga berdiri. "Apakah kamu akan menolak secara terang-terangan dengan keputusan ketua OSIS?" Lanjutnya bertanya pertanyaan dengan motif yang sama seperti sebelumnya.


"Sedari kakak mengucapkan ketua OSIS terus, kalo perihal kandidat ini penting bukankah lebih baik kalo ketua OSIS memberitahu kami sendiri? Dan juga, kalo kakak bertugas dibidang pendataan, bukankah seharusnya kakak ikut belanja para anggota OSIS?" Tanya Azmi, sepertinya sok keren, dan ingin dianggap berguna di obrolan itu.


"Azmi, kupikir kamu pintar atau semacamnya, sepertinya aku terlalu berharap padamu." Sahut Gram.


"Apa maksudmu Gram?" Tanya Azmi lagi.


"Kakak ini mau ikut atau tidak pun tidak jadi masalah, dia berada di bidang pendataan, bukan pendanaan. Tapi benar juga katamu, akan lebih sopan kalo hal semacam kandidat ini diobrolkan langsung dengan ketua OSIS." Jelas Gram, yang membuat Azmi sepertinya merenungi ucapannya.


"Hahaha..." Tawa Dion, lalu memukul keras meja di hadapannya. "Aku memang sempat mengobrol dengan beberapa anggota OSIS, kak. Tapi aku tidak pernah diberitahu kalo hal seperti ini akan terjadi. Mendengar ungkapan Gram barusan membuatku berpikir, bukankah kalian dewan OSIS terlalu meremehkan kami?" Dion bertanya dengan muka serius.

__ADS_1


"Tidak, Dion... Mereka sangat-sangat meremehkan adik kelas mereka ini, mereka bahkan hanya menyuruh satu orang saja untuk menyampaikan hal ini. Kakak sekretaris, sebutkan namamu." Pinta Gram.


Sekretaris OSIS yang saat itu merasa terpojok dengan opini Gram dan Dion pun, mulai duduk lagi.


"Haaah..." Sekretaris itu menghela nafas, "Namaku Rey dari kelas dua belas Ilmu Sosial. Dan ya, benar apa yang kalian ucapkan, ketua sengaja hanya menyuruhku seorang untuk mengatakan hal ini pada kalian. Tapi bukan berarti ketua OSIS meremehkan kalian, dia akan menemui kalian esok hari. Jadi tugasku sebenarnya hanya untuk memberitahu kalo kalian tiga kandidat pasti, dan besok ketua akan meminta kalian datang lagi. Aku mohon untuk kalian datang sepulang sekolah besok." Jelas panjang, sekretaris Rey.


"Sekarang kalian keluarlah dari ruangan ini, dan besok jangan sampai telat." Sambung Rey, sambil menunjuk pintu, isyarat perintah keluar.


Gram, Dion dan Azmi pun memenuhi perintahnya itu.


-


Setelah keluar dari pintu itu, Gram yang sebelumnya tidak pernah emosi, pun terbakar emosi. Dia mengepalkan tangannya, dan memukul tembok yang ada di sampingnya, ya walaupun akhirnya kesakitan sendiri sih.


"Haha... Gram, aku gak pernah melihatmu sekesal itu, apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" Tanya Dion sambil tersenyum sumringah.


"Grrr.... Seseorang meremehkanku, aku tidak tau mengapa aku bisa sekesal ini. Yang jelas, kalo saja besok kita masih diremehkan, aku akan benar-benar menolak tanggungjawab OSIS ini. Biarpun aku dikeluarkan dari sekolahan." Jelas Gram, menahan sakit sambil menggerakkan giginya.


"Heh? Orang yang gila jabatan sepertimu bahkan tidak ingin aku lihat, membuat indera-inderaku kesakitan." Balas Dion.


"Kamu sepertinya tidak suka dengan kehadiranku, kamu ngajak berantem?" Tanya Azmi, lalu memasang kuda-kuda.


"Gram, kita pulang sekarang. Jangan dekat-dekat nih orang, gak tau kenapa aku merasa jijik." Ucap Dion.


-


Setelah itu Dion mengajak Gram ke parkiran sekolah.


"Kamu bawa motor Dion?"

__ADS_1


"Ya begitulah, males aja naik angkot kan. Mending bawa motor, beli bensin juga dua hari sekali. Lebih hemat aja, dibanding naik angkot."


"Oh gitu, yaudah aku duluan aja deh."


"Lah, kamu gak mau bareng Gram?"


"Arima..."


"Oh si Chibby ya... Emangnya dia nungguin kamu? Bukannya kemarin kamu pulang bareng sama anak yang dari luar kota itu ya?"


"Siapa? Bara ya? Hehe kemarin banyak hal terjadi, jadi Arima bilang minta pulang bareng gitu, besok-besok aja lah barengnya."


"Okelah, padahal aku udah bawa dua helm ini."


"Hehe sorry deh... Kamu kek gak kenal Arima aja."


"Iya-iya."


Gram pun meninggalkan Dion yang mengeluarkan motornya dari parkiran sekolah. Dan benar saja, Arima menunggu Gram di depan gerbang sekolah.


-


"Lama banget sih kamu?!" Arima nanya dengan membentak.


"Eih... Maaf-maaf, aku kan juga gak bisa prediksi bakal selama apa Ma. Lagian barusan aku habis ngobrol sama Dion, ternyata dia juga dipanggil pihak OSIS."


"Oh gitu?" Mereka berdua pun segera berjalan menuju arah jalan pulang, "Brarti udah minta maaf ya kamu?" Sambung Arima bertanya.


Gram lalu terhenti, dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, "Oh iya, aku lupa Ma!!" Teriak Gram setelahnya.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2