OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Prolog II


__ADS_3

"Kupikir siswa seperti dia yang nantinya akan menjadi kandidat OSIS." Ucap Arima.


"OSIS ya... Apakah kamu juga ingin menjadi OSIS Arima? Kalo aku sendiri sih merasa tidak akan mampu mengemban tanggung jawab itu."


"Ya... Yaudah aku juga gak pengen jadi OSIS. Lagian, setelah semester satu nanti, aku bakal hidup mandiri di asrama khusus perempuan."


"Asrama? Jadi kamu bakal disibukkan dengan asrama gitu Ma? Kok kamu gak cerita sama aku sih?"


"Lah emangnya perlu cerita sama kamu ya?"


"Ya mau gimana juga aku kan sekarang cuma punya temen kamu doang."


"Dion? Oh ya-ya aku paham, kamu belum baikan ya sama dia? Santai aja Gram. Masih ada waktu enam bulan agar kamu punya teman baru nantinya."


"Yaudah deh."


Gram dan Arima pun duduk di salah satu kursi di depan panggung aula itu, dan para siswa pun mulai berdatangan. Dan akhirnya Arima meninggalkan Gram sendirian di kursi khusus cowok, Arima pergi ke kursi khusus cewek.


-


"Halo bro." Sapa seseorang pada Gram.


"Halo..." Jawab singkat Gram.


Gram dan cowok itu lalu berjabat tangan. Di saat yang sama, para senior pun masuk ke aula, dan menatap Gram dan cowok yang menjabat tangannya.


"Aku Bara, bro. Siapa namamu?" Tanya cowok itu.


"Aku Graham. Panggil saja Gram." Jawab Gram, setelah itu mulai melepaskan jabatan tangannya.


"Gram ya? Oke... Kamu jurusan Ekonomi-Akuntansi juga Gram?"


"Iya Bar. Kamu juga ya? Salam kenal deh."


"Yeah bro." Bara lalu duduk di samping Gram. "Ngomong-ngomong, apa kamu dari SMP yang satu lembaga dengan SMA ini Gram?" Sambung Bara bertanya.


"Ah ya... Bisa dibilang begitu Bar. Kenapa emangnya?"


"Ya~ Aku dari luar kota bro, gak ada kenalan di sini."

__ADS_1


"Oh gitu ya? Kebetulan aku juga sama, di jurusan kita yang sekarang aku gak kenal siapapun, kecuali dua orang siswa."


"Oh ya? Jadi bisa dibilang kita sama-sama merasakan suasana baru ya bro."


"Iya Bar."


Obrolan di antara mereka pun terhenti, dan tak ada obrolan lagi. Lalu tiba-tiba ada yang menyapa mereka.


"Halo~" Ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Gram. Sontak Gram dan Bara yang tadinya fokus pada panggung di hadapan mereka, pun langsung menoleh ke orang itu.


"Buset siapa lagi nih?" Pikir Gram.


"Yo bro!" Balas Bara, sambil menundukkan kepala agar pandangannya menjangkau orang itu, karena ada Gram yang menghalangi.


Orang itu lalu mengulurkan tangan, "Salam kenal kalian berdua, aku Arif." Ucap seseorang itu, yang ternyata namanya adalah Arif.


Gram dan Bara pun secara bergantian menjabat tangan Arif, dan saling menyebutkan namanya masing-masing. Tak lama setelah mereka bertiga berkenalan, acara penerimaan siswa didik baru pun segera akan dimulai.


Semua kursi yang sebelumnya kosong pun, sudah mulai dipenuhi oleh para siswa baru.


"Jujur saja, di kotaku tidak ada acara seperti ini sebelumnya bro." Bisik Bara pada Gram, tapi pandangan Bara masih terpaku pada panggung.


"Gitu ya."


-


Di antara Gram, Bara dan Arif pun kembali ada keheningan, karena mereka fokus dengan acara yang ada di panggung.


Yang membuat Gram tertarik dengan acara ini ialah, adanya sambutan untuk siswa baru yang berprestasi, dalam artian ada siswa yang mendaftar ke SMA-nya dengan nilai hasil ujian SMP tertinggi. Dan yang dipanggil untuk sambutan itu adalah, cowok yang sebelumnya dibicarakan oleh Arima, yaitu Azmi.


"Keren juga ya orang itu. Tapi aku kok merasa aneh ya, kenapa dia kelihatan sedikit lawak gitu orangnya?" Pikir Gram bertanya-tanya.


"Bro. Ini cowok bukan dari SMP sini kah?" Tanya Bara.


"Aku gak pernah melihatnya sih Bar, mungkin aja. Karena di angkatanku saat SMP ada kurang lebih tiga ratusan siswa." Jawab Gram.


"Oh kamu dari SMP sini ya Gram?" Tanya Arif.


"Iya Rif, ada apa?"

__ADS_1


"Katanya lulusan sini pinter-pinter, bener gak sih?"


"Kalo itu aku gak bisa bilang benar ataupun salah ya Rif. Soalnya aku gak riset."


"Tenang aja Rif, yang jelas di lembaga ini bayar semesternya murah." Sahut Bara yang membuat mereka bertiga tertawa kecil di tengah acara yang sedang berlangsung.


Setelah itu mereka kembali lagi fokus ke panggung.


-


Singkat cerita, acara penerimaan siswa didik baru itu pun telah selesai dilaksanakan. Gram, Bara dan Arif pun menuju kelas Ekonomi-Akuntansi.


Mereka mengikuti gerombolan siswa yang sepertinya juga akan masuk ke kelas Ekonomi-Akuntansi. Mereka bertiga pun sedikit banyak mengobrol tentang masing-masing. Hingga mereka tiba-tiba berhenti, karena gerombolan yang mereka ikuti berhenti juga.


"Kalian. Siswa-siswi baru, jangan bergerombol saat berjalan di lorong sekolahan, itu akan mengganggu lalu lintas yang ada." Ucap seseorang yang menghadang gerombolan ini.


Di lengan orang itu, ada bandana yang terikat, bertuliskan "Ketua". Yang mana artinya, orang itu adalah seorang pejuang kedisiplinan, yaitu ketua OSIS saat ini.


Semua mata tertuju pada orang itu, dan perlahan gerombolan yang diikuti Gram tadi mulai membuka dan memberi ruang untuk ketua OSIS itu lewat. Gram pun ikut menepis untuk memberi jalan pada ketua OSIS.


"Woah... Keren banget tuh orang bro." Ucap Bara dengan mata berbinar-binar.


"Woooo...!!! Jelas... Itulah ketua OSIS yang sekarang sedang menjabat. Keren, berwibawa, penuh karisma, dan yang terpenting lagi dia orang yang loyal." Ucap seseorang dengan semangat.


Gram, Bara dan Arif pun segera menatap orang tersebut.


"Yo~ Murid baru. Aku Jaka, begini-begini aku kakak kelas kalian lho. Aku salah satu anggota OSIS juga." Ucap orang itu sambil menunjuk lencana yang ia pakai di dada sebelah kanan.


Mereka bertiga pun mulai menyapa dan memperkenalkan diri masing-masing ke Jaka. Setelah itu, saat mereka sadar, gerombolan yang tadinya mereka ikuti telah pergi mendahului mereka. Akhirnya Jaka pun mengantar mereka bertiga ke kelas Ekonomi-Akuntansi, sambil bercerita tentang OSIS.


Dari yang diceritakan Jaka, bisa disimpulkan kalo OSIS di SMA ini sangat berperan besar, bahkan Jaka bilang posisi OSIS bisa disetarakan dengan posisi para guru. Yang mana artinya, para OSIS di sini bukan lagi hanya sebatas tangan kanan para guru.


"Ya, kurang lebih seperti itu. Dan ingat ya, OSIS tidak hanya dilihat dari kemampuan akademiknya, ada beberapa siswa dipilih karena punya sesuatu yang dipercaya bisa memperbagus kondisi sekolah." Timpal Jaka.


"Kamu sendiri?" Tanya Arif.


"Ya, kalo aku sudah jelas. Aku dipilih karena aku terlalu tampan di sekolah ini." Jawab Jaka yang membuat Gram, Bara dan Arif ragu dengan kakak kelasnya ini.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2