
"Kenapa sih datang ke kehidupanku lagi?" Tanya Gram, agak ragu dengan ucapannya.
"Oh ayolah. Kita dari kecil sudah bersama, kenapa kamu baru kaget sekarang. Tidakkah kamu kangen, setelah lebih dari dua tahun tidak bertemu denganku?" Tanya balik Mona, masih dengan senyum lebar di wajahnya dan tangan yang masih merangkul Gram.
"Kangen? Aku... Aku malah bersyukur dalam dua tahun terakhir tidak bertemu denganmu."
"Hoo~ Apa kamu udah punya cewek nih? Jadi dingin gini ke aku? Hahaha... Tenang aja, aku gak akan ambil hatimu yang sudah berisi itu."
Setelah mengatakan seperti itu, Mona lalu melepas rangkulannya dan lalu meneliti kamar Gram, dan berujung merebahkan diri di kasur Gram.
"Cih... Nih cewek. Mending aku tinggal keluar deh, tapi kemana ya? Dion lagi kerja pulak." Pikir Gram berniat meninggalkan Mona.
"Oh ya Gram, aku dibeliin motor sendiri tuh sama ayahku. Kamu jadi ojekku ke sekolah ya, gak bisa nolak." Celetuk Mona, membuat Gram keheranan.
"Yang dibeliin motor kan kamu, ngapain minta aku yang ngendarain? Sehat kamu?" Tanya Gram setelahnya.
"Males aja. Aku penasaran aja, kalo kamu punya cewek beneran, apa ceweknya nanti akan cemburu hihi." Jawab Mona dengan cengengesan.
"Aku gak punya cewek kali."
"Yaudah ih, tinggal iyain susah amat. Lagian, kamu pasti naik angkot kan? Mending bawa motorku aja, bensin aman kok."
"Iya-iya. Udah kan ngomongnya? Keluar dari kamarku sekarang, aku mau istirahat."
"Istirahat ya istirahat aja kali, ngapain ngusir aku segala? Aku gak akan ganggu kamu kek dulu lagi kok, aku udah dewasa kali."
"Oh... Cewek dewasa itu masuk ke kamar cowok tanpa permisi gitu ya?"
"Ih. Sewot banget sih kamu? Perasaan dulu terakhir ketemu, gak gini kamu. Aku bakal tanya Dion dah, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu."
"Aduh... Udahlah, susah menang adu mulut sama cewek ini." Pikir Gram sambil memegang dahinya.
Setelah itu, Gram memutuskan diam, dan merenung lagi di meja belajarnya itu, meski tidak ada yang Gram pikirkan kala itu. Pose Gram cukup serius, ia berpose seolah benar-benar memikirkan sesuatu.
-
"Gram?" Sapa seseorang dari pintu kamar Gram yang masih terbuka, segeralah Gram menoleh ke arah itu.
__ADS_1
"Eh bu." Jawab Gram, yang menyapanya itu ternyata adalah ibunya Mona. Gram berdiri dari duduknya, dan tersenyum lebar pada ibunya Mona.
"Apa kabar kamu?"
"Baik bu, baik banget malah."
"Mona kenapa dibiarin tidur di kasurmu begitu? Hmmm... Gairah anak remaja ya?" Tanya ibu Mona, dengan senyum canda.
"Eh tidur?" Pikir Gram kaget, lalu segera balik badan dan melihat ke arah Mona. Dan benar saja, Mona tengah tertidur pulas di kasur Gram.
"Cepat sekali tidurnya, padahal beberapa menit lalu masih ngobrol denganku." Ucap Gram.
"Haha... Gram, kamu tau? Mona bersekolah di SMP favorit lho, meskipun tidak pernah mendapatkan rangking sepuluh besar sih. Dia bilang saat ini sudah punya pacar dari SMP-nya itu." Jelas ibu Mona pada Gram, yang sedikit membuat Gram lega.
Bagaimana tidak, kalau Mona punya pacar, berarti Mona tidak akan banyak berhubungan dengan Gram, Gram merasa terbebaskan dari hari-hari dimana ia akan tertekan dengan kehadiran Mona.
"Kenapa tersenyum bahagia begitu Gram?" Sambung ibunya Mona bertanya.
"Ah tidak-tidak, cuma agak lucu saja. Gimana, cewek seperti dia ini dapet cowok. Aku curiga cowoknya diancam sih." Reflek Gram menjawab pertanyaan ibu Mona.
"Eh? I-iya bu." Tanpa sadar Gram mengiyakan ucapan ibunya Mona itu.
Setelah mendapatkan jawaban dari Gram, ibunya Mona lalu beranjak pergi dari kamar Gram, tak lupa juga ibunya Mona menutup pintu kamar Gram.
-
"Apa maksudmu aku mengancam pacarku, Gram?" Tanya Mona tiba-tiba, yang membuat Gram kaget.
Saat Gram melihat ke arah Mona, Mona nampak sedang memandangi langit-langit dengan wajah lesu dan penuh kecemasan.
"Kenapa lagi nih cewek? Dan juga, berarti dia pura-pura tidur saat ibunya datang. Apakah dia lagi butuh teman curhat?" Pikir Gram bertanya-tanya, sambil ia mendekati kasurnya yang berisi Mona itu.
Gram lalu duduk di samping Mona yang sedang merebahkan dirinya, "Kamu lagi mau cerita? Cerita aja kali, gak perlu masang wajah sedih gitu. Gak akan ada yang peduli." Ucap Gram.
Mona lalu mendudukkan diri, "Aku benar-benar tidak akan percaya lagi dengan cowok yang menyatakan cintanya padaku, Gram. Aku merasa telah direndahkan dalam hal harga diri." Ucapnya setelah berhasil duduk.
"Lah? Aku bukan cowok?"
__ADS_1
"Hm? Emangnya kamu mau nyatain cinta ke aku gitu? Lagian juga, keknya aku bener-bener gak mau punya hubungan khusus denganmu Gram."
"Baguslah, kalo bisa jangan muncul lagi di hadapanku sekalian. Aku tuh sebenernya agak risih, kalo kamu masih suka berkelakuan sama seperti dulu, suka banget jahil ke aku, keterlaluan pulak."
"Ya, untuk hal itu aku minta maaf Gram. Tapi ya, aku benar-benar bersyukur punya teman sepertimu, aku merasa kamu sama seperti saudaraku."
"Kenapa nadanya jadi berbeda dengan sebelumnya, apa benar-benar sakit hati nih cewek? Nggak, ini bukan Mona yang aku kenal dulu." Pikir Gram, lalu mengelus punggung Mona, berniat menangkan Mona.
"Kamu ngapain?" Tanya Mona polos.
"Melihat wajahmu yang suram seperti itu membuatku iba. Kamu tau, dibanding dulu, kamu yang sekarang ada di hadapanku malah nampak seperti orang yang berbeda. Mona yang kukenal adalah seorang yang periang." Jawab Gram berlagak keren.
"Gram, jujur... Dari tadi kamu menggosok punggungku, kamu lagi nyari pengait dari penopang bagian depanku kan?" Tanya Mona dengan wajah datar.
"Eh?!" Gram yang kaget dengan wajah Mona, reflek menarik tangannya dari punggung Mona.
Lalu Mona mendekat ke Gram, lalu berbisik. "Sayang sekali, hari ini aku tidak memakai apapun hihi." Ucap Mona dengan tawa kecil, lalu beranjak dari kasur, dan meregangkan badannya.
Sedangkan Gram masih tertegun karena bisikan Mona sebelumnya.
"Pa-pa-padahal aku tidak berniat aneh-aneh." Pikir Gram, syok.
"Hmmm... Haaaah... Gram, anterin aku pulang yuk." Ujar Mona, membuat Gram tersadar dari lamunannya.
"Y-ya..." Jawab Gram segera beranjak juga dari kasurnya.
-
Di jalan, saat Gram tengah mengantar Mona dengan motor ibunya, mereka sempat berbincang.
"Gram, makasih ya udah dihibur." Ucap Mona.
"Kamu janji, jangan bersikap seperti dulu lagi ya? Dan juga, jangan mengharapkan hubungan lebih dari teman padaku. Aku gak mau."
"Santai aja kali Gram. Aku gak mau kehilangan teman sepertimu lagian juga."
...•••...
__ADS_1