OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Tantangan Adel


__ADS_3

"Jangan ucapin kata-kata ambigu gitulah wey," jawab Gram.


"Iya-iya... Lagian kalo aku bilang gitu, trus kamu mikirnya aneh-aneh, ya bukan salahku lah," balas Mona, sembari Gram mulai menjalankan motornya lagi.


"Eish... Cewek mana ada sih yang salah, semua cewek kan selalu benar." pikir Gram, lalu segera mempercepat jalannya motor yang ia kendarai.


-


Singkat cerita, sesampainya di depan sekolah, Gram segera memarkirkan motor Mona itu menuju tempat parkiran. Mona masih berada di atas motor.


Gram dan Mona yang menuju parkiran, pun bertemu dengan Dion yang sedang menata motor-motor yang ada di sana.


"Dion, jadi tukang parkir dapet uang berapa tuh?" tanya Gram sambil nyengir pada Dion yang fokus menata.


Dion pun reflek menoleh ke arah Gram, dan sorot matanya tertuju pada seseorang yang ada di belakang Gram. Mona yang menyadari sorotan Dion pun segera turun dari motor, lalu mendekati Dion.


Saat didekati Mona, Dion lalu memelototi Mona, mungkin karena panik. Ya, semua orang yang pernah berhubungan dengan Mona dulu, semuanya adalah samsak Mona.


"Hey-hey... Bukankah ini Dion," ucap Mona, lalu menepuk bahu kanan Dion, sedangkan Dion sendiri masih tercengang.


Dion lalu berjalan secepatnya ke Gram yang sedang memarkirkan motor, lalu melotot pada Gram.


"Dia... Dia benar-benar sekolah di sini?" bisik Dion.


"Y-ya.." jawab Gram agak ragu, sembari memalingkan pandangannya.


"Cih," sentak Dion, lalu balik badan dan melihat ke arah Mona, yang sepertinya sedang melihat keseluruhan gedung sekolah.


"Kuharap dia tidak se-barbar dulu, Gram," ujar Dion.


"Tenang aja. Setidaknya, sekarang dia seperti cewek pada umumnya kok. Lagian, kurasa dia gak akan jadi seperti dulu lagi," jawab Gram, lalu berdiri di samping Dion.


"Nanti aku libur kerja, kamu mau nongkrong dimana gitu gak?" tanya Dion.


"Nanti ya? Gimana kalo mampir ke rumah Mona?"


"Hah?! Ngapain?"


"Semalem aku kerumahnya tuh, ada kak Rafi. Trus nih ya, ada piano,"


"Ya terus? Eh tunggu. Kak Rafi?"


"Iya."


"Boleh, ntar aku kerumahmu dulu ya?"

__ADS_1


"Oke."


-


Gram, Dion dan Mona pun bergegas menuju ruang kelasnya. Namun, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Gram kini jadi sorotan para warga sekolah, semua mata tertuju padanya.


Pasalnya, Gram berjalan di lorong dengan rangkulan Mona di bahunya.


"Banyak yang liatin tuh, gak malu kamu?" tanya Dion pada Gram.


"Tau nih. Mon, lepasin kek. Diliatin banyak orang noh, gak malu kamu?" tanya Gram pada Mona, yang sepertinya tidak menggubris pertanyaannya sama sekali.


"Aelah... Iya-iya," Mona pun segera melepas rangkulannya.


Sesampainya di kelas, Gram lalu duduk di tempat duduknya, dan Mona... Ya masih ngikut Gram.


"Ngapain kamu?" tanya Gram pada Mona.


"Eh? Kenapa emangnya?" tanya balik Mona.


"Ya cari tempat duduk sendiri lah, di sini cowok dan cewek gak sebangku," jawab Gram, sambil menunjuk barisan bangku cewek.


Mona lalu mengangguk, dan lalu pergi dari hadapan Gram. Di saat Mona masuk ke wilayah cewek, Gram menyadari sesuatu.


"Hmm? Dari dulu nih anak emang lebih tinggi dari cewek-cewek lain ya, kira-kira kalo aku menyebarkan cerita barbarnya Mona yang dulu, bakal ada yang mau berteman sama dia gak ya?" pikir Gram bertanya-tanya.


"Gak Bar, mulai sekarang keknya gak bakal naik angkot lagi deh aku,"


"Lah? Kenapa bro?" tanya Bara lagi, sembari duduk di bangkunya uyang berada di belakang bangku Gram.


"Noh..." Gram lalu menunjuk Mona, "Aku jadi supir pribadinya tuh cewek," jelas Gram, yang membuat Bara tertegun.


"Supir pribadi? Mobil gitu?"


"Ah enggak, motor sih."


"Oh... Kok bisa kamu yang boncengin bro? Lagian, siapa tuh cewek? Kemarin-kemarin gak ada tuh keknya."


"Namanya Mona, temenku dari TK sampe SD, setelah itu dia sekolahnya beda denganku."


"Oh gitu."


"Ya, kurang lebih begitulah ya."


-

__ADS_1


Singkat cerita, pelajaran jam pertama dan kedua selesai, jam istirahat pun tiba. Seperti di hari-hari sebelumnya, Gram hanya terduduk seorang diri di bangkunya, saat semua murid di kelasnya pergi ke kantin.


Arima... Ya, Arima datang menghampirinya, dengan raut wajah yang kesal.


"Kenapa kamu?" tanya Gram.


"Siapa sih cewek yang namanya Mona itu? Kok aku denger dia bicarain kamu ya?" tanya balik Arima, dengan raut wajah yang menunjukkan rasa kesal.


"Lah emangnya gak boleh dia cerita tentang aku? Kalo dia cerita tentangku, itu jadi salahku gitu?"


"Hmmm... Tapi, dia bukan siapa-siapa kamu kan?" tanya Aeima, sembari mendudukkan diri di kursi sebelah Gram.


"Bukanlah. Kamu gak tau dia siapa ya? Gak mau kenalan gitu?"


"Emm. Enggak deh, keknya dia orangnya bakal populer gitu, kalo aku berteman dengannya, bisa-bisa aku kalah sama dia."


"Haha. Mungkin ada benarnya kamu, tapi dia tuh orangnya asik kok, beneran deh. Gak kek orang yang duduk di bangku belakangmu itu, siapa namanya?"


"Siapa? Adel ya? Kenapa dia?"


"Bentar lagi juga tau kamu, kemarin waktu kamu beli sesuatu ke kantin, dia nyamperin aku. Lagi-lagi nantangin aku buat adu matematika gitu."


"Oalah, kirain apaan. Yaudalah ya, namanya juga orang yang ambisius, lagian kamu pasti bisa menangani dia."


"Gini Ma, aku berniat kalah aja dari dia. Biar dia merasa menang, dan tidak merasakan persaingan dariku, aku males sekali kalo diadu gitu."


"Oh jadi gitu mentalnya cowok?" ucap seseorang dari aeah pintu kelas, yang ternyata adalah Adel.


Gram dan Arima pun sontak bersamaan menatap ke arah Adel. Dengan rasa yang kebingungan, Gram pun berdiri sambil terus menatap Adel.


Adel pun mendekat ke Gram dan Arima, "Gram, aku sekarang benar-benar ingin berduel denganmu. Tidak ada kata penolakan, aku sudah merencanakannya, dan meminta guru matematika untuk menjadi pemberi soal," ucap Adel sambil menunjuk dengan telunjuknya ke muka Gram.


"Merepotkan banget sih. Tapi kalo aku diemin bakal makin sering dia menggangguku, mending aku terima deh," pikir Gram, sembari menatap Arima yang melamun ke arah Adel.


"Kamu gak papa Ma?" tanya Gram.


"Eh iya-iya... Aku gak papa kok." jawab singkat dari Arima, bersamaan dengan ia yang tersadar dari lamunannya.


"Arima, maaf ya... Aku benar-benar mau minjam cowokmu saja, aku tidak akan merebutnya, tenang saja," ucap Adel pada Arima dengan nada bicaranya yang santai, padahal sebelumnya berbicara tegas pada Gram, daripada dibilang tegas mungkin akan cocok bila dibilang membentak Gram.


"Daripada-daripada... Mendingan-mendingan deh, pertandingannya paling juga soal-soal biasa aja," pikir Gram.


"Kita bertanding matematika terapan kelas dua belas!" bentak Adel ke pada Gram lagi.


"Hah!? Dua belas? Matematika terapan lagi, mana sanggup aku," balas Gram.

__ADS_1


...***...


__ADS_2