OSIS BERANDAL

OSIS BERANDAL
Ruang Penjelasan


__ADS_3

Sesampainya di depan ruangan OSIS, Gram berhenti dengan menggenggam kuat gagang pintu ruangan itu.


"Cih... Kenapa baru ragu di saat aku telah sampai di sini, kenapa aku tidak ragu sebelumnya." Pikir Gram. Tak lama setelah ia berpikir seperti itu, tiba-tiba ada yang menaruh tangan di bahu Gram.


"Apakah kamu akan berhenti di sini saja? Kamu akan menghalangi jalan, Gram." Ucap seseorang, terdengar suara cowok.


Gram pun menoleh ke orang yang memegang bahunya itu.


"Di-Dion? Apa... Apa yang kamu lakukan?" Tanya kaget Gram, yang ternyata orang dibelakangnya adalah Dion.


"Kamu dipanggil oleh OSIS kan? Maka aku juga sama." Jawab Dion, dengan senyum tipis teraut diwajahnya.


"Kamu juga dipanggil?!"


"Ya, begitulah... Lagi pula, ya... Lebih baik kamu tahu sendiri nanti." Jawab Dion, seakan tidak mau menjelaskan apa yang dipertanyakan Gram.


Dion lalu membuka pintu ruangan itu, dan...


-


"Bukankah kalian berdua terlalu lama? Tidak bisakah kalian lebih disiplin?" Tanya Azmi, yang sepertinya sudah sedari tadi duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan OSIS itu.


"Oh, kamu dipanggil juga ya, pak ketua?" Tanya Dion, lalu duduk di kursi sebelah Azmi.


"Ya. Mereka menyuruhku datang melalui pesan pribadi ku di sosial media, mau tidak mau aku harus menuruti mereka."

__ADS_1


Gram madih terpaku di depan pintu, karena dia bingung harus melakukan apa, agar bisa masuk ke obrolan Dion dan Azmi.


"Kenapa kamu diam saja? Gabunglah dengan teman-temanmu ini, aku akan segera memberitahukan alasan mengapa ketua OSIS meminta kalian datang ke sini." Ujar seseorang pada Gram dari ujung ruangan, dia adalah seorang sekretaris OSIS masa sekarang.


"Orang ini, dari tatapan serta gerak mulutnya, sepertinya dia sangat teliti untuk menyembunyikan sifat wajah aslinya. Atau bahkan ini adalah sifat aslinya." Pikir Gram, menatap pada sekretaris, sambil mulai duduk di kursi samping Dion.


"Tapi, orang ini sepertinya tidak begitu peduli dengan kami bertiga ya? Dia bahkan tidak memerlukan bantuan OSIS lain di ruangan ini. Dia hanya sendirian di sini." Sambung Gram berpikir, saat baru duduk.


"Baiklah, karena kalian bertiga sudah duduk di sini, akan kujelaskan, mengapa kalian dipanggil oleh dewan OSIS." Ucap sekretaris itu, lalu berdiri dan menarik sebuah papan yang bertuliskan tiga nama cowok yang dipanggil oleh dewan OSIS itu.


"Pertama, Azmi. Kami memanggilmu, karena kami mendapatkan rekomendasi dari beberapa dewan guru. Kedua, Gram. Kami memanggilmu, karena kami pikir akan bijak bila kami benar-benar memilihmu. Ketiga, Dion. Ya, kami mendapatkan beberapa informasi dari beberapa siswa juga, kalo kamu adalah pawangnya Gram. Aku sejujurnya tidak paham dengan yang dimaksudkan pawang di sini. Mumpung kita sedang berdiskusi, kumohon untuk kamu sedikit menjelaskan maknanya, Dion." Jelas sekretaris itu, dan lalu meminta penjelasan dari Dion.


Dari pernyataan sekretaris OSIS ini, Gram menjadi bingung, pasalnya dia juga tidak mengerti istilah pawang yang diucapkan sekretaris ini. Gram pun berharap banyak pada penjelasan yang akan dilontarkan oleh Dion.


"Penjelasan singkatnya, bagi orang yang sudah lama mengawasiku dan Gram, bukan hal tabu lagi kalo kami selalu bersama kemanapun. Dan mungkin, yang mereka sebut pawang di sini adalah kata sifat saja, bukanlah kata kerja. Aku bisa menjamin kemampuan analisa yang dimiliki Gram, tapi aku juga bisa menjamin sebegitu malasnya pribadi Gram." Jelas Dion.


"Malas?" Tanya Azmi, merasa penjelasan Dion kurang masuk akal.


"Ah ya, maaf membuat bingung. Ya, singkatnya lagi, dia adalah seorang pemalas yang pintar. Dan dari dulu, satu-satunya teman yang ia miliki hanya aku, jadi ya kurasa orang yang berani memberinya sebuah beban hanyalah aku." Jelas Dion.


"Dion ya? Kurasa penjelasanmu makin rumit, tapi... Ya, ini adalah keputusan ketua OSIS, kalian adalah tiga kandidat pasti untuk OSIS generasi selanjutnya." Sahut sekretaris itu, lalu duduk kembali ke kursinya.


"Kandidat OSIS? Apakah kandidatnya bisa dipilih hanya karena hal-hal sepele?" Tanya Azmi.


"Sepele ya? Hahaha... Semua keputusan itu, ada di tangan ketua OSIS. Kami hanya menjalankan tugas kami masing-masing, yang jelas ini demi masa depan sekolahan ini."

__ADS_1


"Kalo tidak salah, kamu kakak kelas dua belas yang saat ini menjabat sebagai sekretaris OSIS kan ya? Apakah kakak juga berugas memberi informasi seperti ini?" Tanya Dion santai.


"Ya, semua data dan statistik perkembangan segala sesuatu di sekolah aku yang mencatat. Aku diberi tanggungjawab atas pendataan, dan juga sebagai informan. Maka dari itu... Gram, bukankah jabatanmu sudah terbayang?" Tanya sekretaris OSIS ini, sambil tersenyum licik pada Gram.


"Sekretaris ya? Pendataan dan analisa, satu data salah bisa saja meruntuhkan OSIS bahkan sekolahan ini, apakah aku benar-benar akan melakukan tanggungjawab itu? Dan juga, sepertinya kakak kelas ini bukan orang sembarangan, dia pastinya sedang membaca tingkah laku kami sejak tadi." Pikir panjang Gram.


"Satu pertanyaan dariku kak. Kalo memang sudah dipastikan kami akan jadi OSIS, bukankah ini terlalu dini untuk mempatenkannya?" Tanya Gram setelah berpikir, dengan posturnya yang sepertinya agak gugup saat bertanya.


"Kamu ini dengar atau tidak sih? Tadi kakak sekretaris sudah menjelaskannya pada kita, kalo keputusan ini ada di tangan ketua OSIS." Sahut Azmi.


"Kamu jangan sok gitu ya, Gram bertanya berarti dia tidak mendapatkan jawabannya dengan jelas." Ujar Dion, dengan tatapan dinginnya.


Dion dan Azmi pun berakhir dengan saling bertatapan dengan hawa mengancamnya masing-masing. Dion dengan menyilangkan kedua tangannya, sedangkan Azmi dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Sudah-sudah... OSIS ini adalah sebuah organisasi, kalo kalian begini saja sudah ribut, bagaimana bila nanti kalian benar-benar menjadi satu organisasi. Lagipula, ya... Gram, coba jabarkan apa saja yang kamu pahami sejauh ini." Pinta sekretaris itu pada Gram, agar Dion dan Azmi tidak lagi saling mengancam.


"Benar juga, sejauh ini apa yang aku pahami ya? Pertama, kami bertiga adalah kandidat pasti yang sudah tidak bisa diganggu-gugat. Kedua, dari penjelasan kakak ini, sepertinya dia diam-diam sedang mengamati sifat dari kami. Mungkin kah hanya ini yang bisa aku dapatkan? Ayolah Gram, berpikir lagi... Oh ya!!" Pikir Gram, lalu...


"Satu pertanyaan terakhir kak, dan ini benar-benar yang terakhir." Pinta Gram.


"Silahkan Gram."


"Kenapa, hanya ada kakak sekretaris di ruangan OSIS ini? Apakah kami benar-benar kandidat paten?" Tanya Gram, sambil menekan meja di hadapannya itu dengan satu lengan.


"Eh?" Sekretaris itu nampak kaget dengan pertanyaan Gram.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2