
"Gimana kalau kita ke pantai?" ucap Arya tiba-tiba. Shela dan Nura melompat-lompat senang.
"Sekuylah! Gue juga udah lama nggak kepantai," sahut Shela. Untuk hari libur ini, Rangga berniat untuk rebahan saja dikamar, dan main game. Biasalah, kaum rebahan gitu, hehehe.
Sebenarnya malam sekali rasanya untuk keluar rumah, tapi, Shela terus saja membujuk Rangga.
Diluar sudah terlihat Rian, Arga, dan Farell yang sedang menunggu. Setelah bersiap-siap, kami pun berangkat menuju pantai.
Rangga, Shela, Nura, dan Arya menaiki mobil sport milik Rangga. Tapi, bukan Rangga yang menyetir, melainkan Arya, malas guys! Jadinya, Rangga hanya melihat-lihat keluar, sesekali menguap.
Karena perjalanannya cukup jauh, aku segera mengambil ponsel. Buka WA, buka Facebook, dan IG, semuanya sepi kek hati yang lagi baca, ye kan? Eits tapi boong, sebenarnya sangat ramai, di penuhi pesan dari para ciwi-ciwi.
[Ga, gimana kabar lo? Gue kangen]
Rangga membulatkan mata sempurna, tangan Rangga bergetar hebat, kulihat foto propil dari orang yang mengirimkan pesan.
"Nggak mungkin," Rangga masih tak percaya, kutepuk pipi beberapa kali. Apakah ini mimpi? Bukan! Tapi kenapa ini nyata?
"Apanya yang nggak mungkin?" Rangga menggeleng, ketika Shela bertanya.
Tangan Rangga bergetar, kemudian mengetik untuk membalas pesan tersebut.
[Lo siapa? Gea kah?]
Send. Centang dua abu-abu.
Gea? Gadis itu? Seseorang yang sudah membuat Rangga mengenal kekecewaan. Gadis yang sudah menyakiti Rangga hingga sekarang, gadis yang sampai saat ini tak bisa kulupakan akan kehadirannya, sudah lama ia pergi meninggalkan Rangga. Dan Rangga benci itu!
Sudah lama, namun Rangga tak mendapat balasannya, hingga kami semua pun sampai di tempat tujuan.
"Ayo, Abang!" Nura menarik tangan Rangga, ia berlari-lari seperti anak kecil.
"Hari ini, Abang traktir Nura kan?" Rangga menyerinyitkan dahi, traktir apa? Maksudnya?
"Traktir apaan?" tanya Rangga.
"Ish! Kan kemarin, Abang janji mau traktirin Nura, apapun yang Nura mau!" Nura mengerucutkan bibirnya lima senti. Rangga menepuk jidatnya, ternyata dia ingat, bisa habis uang jajan Rangga sekarang.
'Ya Allah, tolong hambamu ini!' ucap Rangga dalam batin.
"Iya iya. Yaudah, lo mau ap-"
Belum selesai Rangga berbicara, Nura sudah menarik tangan Rangga ke penjual es krim. Suasana pantai cukup ramai, banyak yang bermain-main.
"Nura pengen dua aja. Satu untuk Nura, satunya lagi untuk Abang." Nura memberikan Rangga satu ice krim rasa setrawbery.
"Kalian cocok banget yah," ucap penjual ice krim tersebut, seraya tersenyum kearah kami. Cocok sih, tapi hati kami yang belum cocok guys!
__ADS_1
"Khem, berduaan mulu. Ketiganya setan lho," ucap Farell menggoda Rangga.
"Dan setannya itu, lu!" Farell melototkan matanya, mendengar ucapan Rangga. Rasain lu!
"Mata lu sipit Junedi! Nggak bisa melotot!" Farell mengerucutkan bibirnya lima senti, menatap Rangga dengan geram. Segera Rangga berlari menjauhinya.
Ku berlari, kejar mimpi. Eh malah nyanyi sepatu super.
"Awas lu ya, Marjuki! Gue dapet lu, retak ginjal lu!" Farell mengejar Rangga, sepertinya dia sudah kesal.
"Ampun bang jago!" Rangga hanya terkekeh melihat sahabat nya yang satu ini.
"Lari yang kenceng, hehe!" Nura terlihat senang melihat kejar-kejaran antara Rangga dan Farell, sampai-sampai Nura memegang perutnya sambil tertawa.
"Rian, awas!"
BRUK!
Rangga terjatuh, bersamaan dengan Rian yang di depan Rangga. Pinggangku remuk sekarang.
"Sakit woy!" Rian menjitak kepala Rangga.
"Hah, hah ... mau kemana lu?" tanya Farell dengan napas yang tak beraturan, akibat mengejar Rangga.
"Abang, kena. Huhuyy!" Nura berlari kearah Rangga, sambil berjoget-joget. Apa gadis ini gila?
.
"Nih, minum." Arya menyodorkan Rangga minuman, yang kemudian segera Rangga ambil dan meminumnya. Arya duduk di samping Rangga, sambil meminum minumannya.
"Gue mau nanya. Kenapa gue nggak pernah lihat orang tua kalian? Ketika Nura di rumah sakit, gue juga nggak pernah lihat orang tua kalian. Bukannya, kalau anak yang lagi sakit, harus di temenin orang tuanya? Dan, kenapa bisa Nura bersikap seperti takut untuk kembali kerumahnya?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Rangga. Sudah lama Rangga penasaran tentang kedua orang tua Nura. Wajah Arya seketika berubah murung, ia menatap Rangga lalu tersenyum.
"Huft ... sebenarnya, sejak kecil gue sama Nura hanya tinggal bersama Om dan Tante gue, kedua orang tua gue nggak pernah peduli sama gue, bahkan untuk berbicara langsung pun sangat jarang. Seperti tidak ada kasih sayang untuk kami berdua, gue sedih harus ngelihat Nura yang selalu kena imbas ketika mereka bertengkar. Gue sendiri juga bingung, kenapa mereka bisa setega itu dengan kami berdua. Dan ...," Arya menggantung ucapannya.
"Dan, kemarin mereka sempat bertengkar, Nura yang tak tahan mendengar teriakan dan pukulan pun, coba untuk hentikan pertengkaran mereka. Hingga Nura yang mendapat pukulan dari Ayah sampai kepalanya berdarah dan pingsan di tempat. Saat itu gue lagi nggak ada dirumah, gue nggak bisa lindungin dia dari pertengkaran itu." Suara Arya terdengar bergetar hebat. Ternyata, di balik wajah ceria Nura, ia juga menyimpan luka yang bahkan lebih sakit dariku. Tapi kenapa?
"Terima kasih, Tan. Udah bolehin kami tinggal disini untuk sementara waktu," ucap Arya dengan senyum manis yang melekat di bibirnya.
"Iya, Nak. Sama-sama, kalau ada waktu, main aja kesini," Arya mengangguk, lalu menyalami tangan Mami dan diikuti oleh Nura.
"Terima kasih, Mami. Nura sayang Mami," Nura memeluk Mami. Tunggu! Mami? Apa barusan dia bilang Mami? Astoge nih anak.
"Tunggu, tunggu. Mami? Maksud-"
"Sstt! Nura calon mantu Mami. Emang salah kalau Nura bilang gitu?" Mami melototi Rangga. Membuatk Rangga tak berani berkutik.
Gini nih! Kalau jadi anak, serba salah melulu di mata Mami.
__ADS_1
Apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang kan ku berikan, jarang goyang. Eh.
.
"Ya Allah, belum bangun! Ini dah jam berapa, Ga? Astagfirullah ni anak, adek kamu aja udah berangkat!" Rangga membuka mata nya, menatap kearah Mami yang sedang mengoceh.
"Ah Mami, baru juga jam ... astagfirullah, gue telat!" Rangga berlari terbirit-birit kekamar mandi. Bagaimana bisa Rangga telat? Padahal Rangga sudah mengunci alaram. Ah menyebalkan!
Setelah siap dengan semua yang diperlukan, segera Rangga berlari menuruni tangga, menyalami Mami dengan takzim, kemudian berangkat.
Capcuss!
"Tunggu, Pak!" Rangga berteriak, ketika petugas sekolah hampir menutup gerbang.
"Pak, izinin saya masuk dong."
"Maaf, Dek. Kamu sudah terlambat, jadi nggak boleh masuk!" Rangga menahan tangannya, ketika hampir menutup gerbang.
"Kalau saya balik lagi, saya bisa dihajar sama Mami saya! Emang bapak gak kasihan? Kalau muka saya yang ganteng ini bonyok?" Rangga mencoba membujuknya, tapi ia terus saja menolak.
Vingki.
"Yasudah, kamu masuk aja. Lain kali jangan telat makanya!" Rangga tersenyum bahagia, dengan senang hati Rangga langsung memasuki area sekolah.
"Moga aja, gak telat!" Rangga berlari kencang kearah kelas.
"STOP! Berdiri di lapangan sekarang!" Baru sampai kelas, Bu Ani sudah memberikan Rangga hukuman. Jika saja Bu Ririn, mungkin sekarang, aku sudah duduk manis di bangkuku.
"Tapi-"
"Cepat!" Jantung Rangga hampir copot, mendengar bentakan dari Bu Ani.
"Bu, jangan hukum Ayang aku dong. Hukum aku aja," sahut seorang siswi, dan diikuti siswi yang lainnya.
"Diam kalian semua!"
Hening!
Senyap!
Mati!
Eh mati!
.
Disinilah Rangga, berdiri dengan posisi hormat. Disamping Rangga ada si tuyul separuh kuntiberanak, coba tebak siapa?
__ADS_1
Jeng ... jeng ... jeng. Yap, yang aku maksud adalah Nura, gadis polos bin nyebelin. Ia juga sama seperti Rangga, telat masuk kelas.