
Disinilah Rangga, berada di jalanan bersama Nura, mengendarai motor seperti Dilan dan Milea. Ditambah dengan rintik-rintik kecil yang mengenai kami, dah dulu dramanya.
"Berhenti!" Rangga menghentikan motornya, dengan tiba-tiba. Menatap ke arah gadis polos itu.
"Apaan sih?!" tanya Rangga kesal. Nura menunjuk ke arah penjual burger yang berada di tepi jalan.
"Nura laper, pen makan." Nura menatapku sambil merengek. Rangga memutar bola mata malas, segera Rangga tolak permintaannya.
"Nggak boleh! Gue harus pulang," tolak Rangga.
1 detik
2 detik
"Hua! Abang jahat, huaa!" Rangga terkejut setengah mati, kemudian dengan cepat menutup mulut Nura, ah menyebalkan! Kini, semua sorot mata menatap ke arah kami.
"Iya dah, iya. Lu jan nangis dong!" seketika tangis Nura terhenti, kemudian mengusap hingus dan air mata yang hampir jatuh. Dasar jorok!
Terpaksa Rangga berhenti dan menunggu Nura memakan burger. Kalian tahu? Menunggu itu membosankan!
Ku lihat Nura yang sedang memejamkan matanya berdo'a, gadis ini terlihat sangat cantik dan imut. Selesai berdo'a Nura mengambil burger lalu, hap! Hap! Aku menganga sempurna, ketika melihat Nura makan begitu cepat dan lahap, apa begini cara gadis itu makan?
"Abang mau?" tanya Nura, walaupun mulutnya penuh dengan makanan. Rangga menggeleng pelan, masih dengan keadaan menganga, kayak Udin ngangak.
__ADS_1
'Ni gadis kek belum makan sebulan aje' Rangga hanya membatin melihat tingkahnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Nura sudah selesai makan. "Alhamdulillah," Nura beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah motor Rangga.
"Lo mau kemana? Bayar dulu oy!" Nura tersenyum manis ke arah Rangga.
"Abang yang bayarin," Rangga menepuk jidatnya. Kenapa Tuhan? Kenapa aku harus berpacaran dengan gadis monster ini? Kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku ....
Rangga dan Nura kembali menaiki motornya, kemudian melajukannya pelan.
Baru beberapa menit, Nura kembali berteriak. "Berhenti!"
"Apa lagi? Nura kembali menunjuk ke penjual ice krim. Mau tak mau Rangga harus menuruti.
Rangga terpaksa harus membelikan ice krim untuk Nura. Nura dengan cepat memakan ice krim tersebut.
Krek!
"Aaa!" Rangga berteriak sekencang-kencangnya, ketika Nura mengigit tangannya. Jujur saja, rasanya sakit sekali, seperti digigit ular. Apa dia manusia setengah ular? Bisa jadi sih! Tapi, apa manusia ular secantik dan seimut dia? Ah lupakan!
***
Rangga sampai di rumah Nura. Ingin rasanya langsung pergi dan terbebas, tetapi, Nura menarik tangannya dan mengajak Rangga ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat seorang cowok yang sedang mondar mandir di depan pintu.
"Assalamu'alaikum," cowok tersebut langsung memeluk Nura, tatkala mendengar suaranya. Siapa dia?
"Lu kemana aja sih? Lu gapapa kan?" Nura menggeleng pelan seraya tersenyum.
"Alhamdulillah ... dia siapa?" tanyanya sambil menatapku.
"Pacar Nura," deg! Mamak tolong! Kenapa gadis ini begitu polos? Sampai harus memberitahukannya. Oh Tuhan, kenapa kau beri aku cobaan berat ini.
"Haa? Pacar? Sejak kapan lu pacaran!?" tanyanya dengan raut wajah terkejut.
"Sejak tadi pagi, disekolah." Jawab Nura polos dengan senyum yang melebar.
"Selamat bro, anda menjadi calon anggota keluarga kami!" ucapnya sambil menjabat tangan Rangga.
"Tapi, lu harus ingat! Jangan pernah sakitin adik kesayangan gue! Atau lu akan ...," Arya menggorok lehernya, dengan tangannya. Berarti memberi kode ... dia akan membunuh Rangga! Haa mati aku! Aku kan harus pacaran dengan Nura selama 4 bulan. Tetapi, apa mungkin gadis polos ini bisa jatuh cinta padaku?
"I-iya," jawab Rangga gugup.
"Oh iya, gue Arya, Abangnya Nura. Lu siapa?"
'Udah tau gue manusia, malah nanya lagi!' batin Rangga tentunya. Jika berbicara langsung, mungkin Rangga akan mati.
__ADS_1
"G-gue manusia, eh Gue Rangga," jawab Rangga.
"Nama yang jelek! Baiklah, ayo masuk!" Kenapa Arya bisa berubah secepat itu? Aneh!