Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 17


__ADS_3

Rangga berjalan dikoridor kelas, melewati beberapa siswa dan siswi, yang kebanyakan melihat kearah Rangga. Kenapa? Tampan kah?


"Kak, boleh minta foto nggak?" Rangga melirik salah satu siswi bernama Ratih, yang menghadang jalan Rangga. Ia cantik, dengan rambut panjang berwarna cokelat. Rangga membalasnya dengan tersenyum, lalu mengangguk. Dia nampak tersenyum bahagia, lalu mengotak-atik ponselnya.


"Senyum ya, Kak," Rangga tersenyum ketika kamera menyala. Sumpah, Rangga manis sekali, ya ampuuunn!


"Eh, lihat tu, si Ratih foto sama Kak Rangga!"


"Ini gak boleh terjadi! Kita juga harus bisa foto sama dia!" Segerombolan siswi berlari kearah Rangga.


"Aku juga, kak!" begitulah permintaan yang mereka lontarkan. Rangga hanya bisa pasrah dan menuruti semua permintaan mereka.


...


Rangga memasuki kelas, disana sudah ada ketiga kadal, alias ketiga teman-temannya sedang terduduk dengan tawa diwajannya, eh diwajahnya. Tega sekali mereka tidak mengajakku untuk tertawa bersama!


"Roma! Kenapa kau meninggalkanku, dan tertawa bersama mereka!" drama Rangga, sambil memeluk kaki Farell. Ketiganya menatap kearah Rangga, lalu tertawa lagi.


"Aku tidak mau lagi denganmu, Ani! Kau sudah ternoda, lihatlah bajumu, yang terkena lipstik!" lanjut Farell lagi. Rangga pun melirik bajunya yang kini terlihat ada berkas ciuman.


Vangke.


Ini pasti karena siswi-siswi yang tadinya berfoto dengan Rangga. Mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan ternyata.


"Tau tuh, lo habis ngapain? Apa jangan-jangan, lo sama Nura ...," Rian menggantung ucapannya, dengan cepat Rangga pun langsung menutup mulutnya itu. Dia pasti akan mengatakan hal yang tidak-tidak.


"Diem lo! Ngomong aneh, gue bunuh lo!" ancam Rangga. Rian dengan cepat meleps tangan Rangga.


"Tangan lo bau parfum cewek!" ujar Rian seraya menutup hidungnya. Rangga cium bau tangannya, ternyata memang bau parfum.


Rangga berjalan kearah bangku nya, lalu mendudukkan bokong nya di kursi. Rasanya, Rangga ingin bersantai dan membuka ponsel nya. Rangga buka aplikasi bertuliskan whatsApp, baru saja menyalakan data ponsel nya sudah bergetar.


Rangga beralih ke status WA, seketika matanya membulat sempurna. Apa ini? Para siswi yang tadinya minta berfoto dengan Rangga, memposting foto itu. Pertama, Rangga buka status dari kontak yang bernama 'Ratih'


"TUHAN, DIA KOK TAMPAN BETT SIH! AKU KAN JADI GIMANA-GIMANA GITU."


Rangga menepuk jidat nya, apa ini? Rangga pun beralih, melihat status yang lain.


"AKU MENGAGUMINYA!"


"JADIKAN DIA JODOHKU, TUHAN,"


Bujubusyet! Gini amat yak, harga diri gue mau di bawa kemana ini woii!


...


Bagaikan langit, disore hari ... berwarna biru, sebiru hatiku ... ayye ayyee.


Hari sudah sore, waktunya pergi jalan-jalan bersama tuyul cantik nan polosnya sampe ubun-ubun. Rangga tak pernah berhenti bergaya-gaya di pantulan cermin.


"Ganteng banget, sih lu!" ucapnya percaya diri, lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar.


"Lho, Ga. Mau kemana kamu rapi-rapi nan ganteng kek gitu?" tanya Mami, ketika Rangga sudah turun kebawah.


"Biasanya, juga Rangga ganteng kali, Mi," Mami menatap Rangga, lalu geleng-geleng kepala.


"Biasanya juga, kek orang gembel kamu dirumah. Kerjaannya tidor mulu kek kebo," Rangga mendatarkan wajahnya. Rangga langsung pergi saja dari sini, daripada harus debat dengan Mami nya tercuinta ini.


Rangga lajukan motor nya menuju kediaman Nura. Semoga saja orang tuanya tidak ada dirumah, karena kemarin Rangga sempat membawa pergi Nura begitu saja.


Setelah sampai, Nura sudah terlihat cantik dan rapi dengan dress selutut, dan make up tipis. Ah, meleleh Abang dek!

__ADS_1


Tapi boong, papale palepal pale pale.


...


Setelah membeli es krim, Rangga dan Nura pun duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang. Kami berdua pun menikmati es krim tersebut.


"Abang lucu, kek badut, Haha!" tawa Nura menggelegar, ketika mencolekkan es krim tersebut kehidung Rangga. Rangga pun membalasnya juga, dengan mencolekkannya dihidungnya.


"Haha, lo kayak badut woii!" Nura mengerucutkan bibirnya.


"Ih, kok diolesin sih! Nura gak kayak badut, Nura itu imut sejagat raya!" ucapnya lagi. Dih geer juga nih anak. Sebenarnya sangat imut sih, jadi pengen nelen. Eh.


"Gue gemes!" dengan gemas, Rangga pun mencubit hidung Nura dengan keras, membuat si empu meringis kesakitan. Rangga tertawa lepas melihat ekspresinya yang seperti bayi tersebut.


"Aa sakit! Kok dicubit sih? Abang jahat banget!" Nura membalasnya dengan mencubit pinggang Rangga. Rasanya, ah mantap, mantap rasa sakitnya maksudnya.


"Aduh, sakit tau!


"Biarin!" balasnya.


"Kayaknya, ginjal gue mau c-copot," kuambil kesempatan ini, dan pura-pura pingsan di pangkuannya. Rasakan itu Maemunah!


"Aaa Abang, kok pisang sih?" ingin tertawa tapi juga greget dengannya. Salah kata neng, pingsan kali, bukan pisang.


"Abang, maafin Nura ... Nura janji nggak ngelakuin lagi, Abang jangan mati dong, huaa!" Nura terisak, gampang sekali gadis ini dikerjai. Mungkin, Air matanya sudah luruh sekarang.


'Busett, gue dikira mati!" Rangga hanya berucap dalam batin. Nura kembali menggoyang-goyangkan tubuh Rangga.


"Kok, Abang nggak bangun sih? Huaa!" isaknya lagi.


"Cium aku, dan rasa sakitnya pun akan hilang," lirih Rangga dengan sedikit drama.


Cup!


"Abang jangan tinggalin Nura, kayak tadi! Nura nggak suka!" Nura langsung memeluk Rangga erat, Rangga hanya bisa melukis senyuman dibibir tanpa berkata-kata lagi.


"Gue akan selalu bersama lo, kok. Yakali gue ninggalin manusia se-imut dan se-lucu elo," Rangga pun membalas pelukannya, dan mengusap lembut rambutnya yang terurai.


'Ya Allah, jangan biarkan momen ini pergi dalam hidupku."


...


Setelah mengantar Nura kerumahnya, aku kembali melajukan motornya untuk pulang. Beberapa menit beralu dan Rangga sampai, Rangga langsung memakirkan motornha pada tempatnya. Matanya menatap kearah mobil berwarna putih yang sepertinya tak asing, tapi siapa yang punya?


Rangga langsung masuk saja kedalam rumah, dan membuka pintunya. "Assalamu'alaikum," salam Rangga.


"Wa'alaikumussalam,"


DEG!


Suara itu? Rangga kaku, terdiam seribu bahasa, mendapati sesosok wanita cantik yang selama ini membuat Rangga terpuruk dalam luka, wanita yang berhasi membuat Rangga rindu setiap masa. Gea, kenapa dia kembali?


Gea berlari kecil kearah Rangga, ia tersenyum lalu memeluk tubuh Rangga yang kaku. Rangga terdiam, pelukan ini, masih saja sama seperti dulu.


"Rangga, aku kembali lagi seperti janjiku dulu. Aku kangen sama kamu, Rang." Hati Rangga terasa terguncang mendengar ia memanggil Rangga dengan panggilan masa kecil kami dulu.


Kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat? Apa yang harus Rangga lakukan sekarang?


"Assalamu'alaikum!" Rangga yang sedang sarapan langsung terperanjat, mendengar teriakan dari arah luar. Siapa yang bertamu sepagi ini? Apalagi, Mami dan Papi pergi keacara pernikahan. Ah, menyebalkan.


"Duh, siapa sih yang dateng sepagi ini?!" keluh Shela yang baru saja turun dari tangga. Ia pun berjalan kearah meja makan, menarik kursi yang terususun rapi dan menududukkan bokongnya.

__ADS_1


"Bukain, gih," suruh Rangga padanya. Bukannya menurut, Shela malah menatap Rangga sengit. "Kakak aja sana! Shela laper," tolaknya, sambil mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk.


'Gini amat yak, punya adek!' batin Rangga kesal. Rangga pun beranjak dari duduk nya, dan membuka pintu.


Senyum manis itu, terus terlihat dari wajahnya. Nura, kenapa dia datang sepagi ini? Nura langsung masuk kedalam rumah tanpa kusuruh.


"Lo ngapain datang sepagi ini? Lo udah mandi kan?" tanya Rangga. Nura menatap Rangga, lalu mengangguk.


"Sejak kemarin, Kak Arya lagi ada acara perkemahan. Jadinya, Nura sendirian dirumah, Nura bosan!" jawabnya. Lalu berlari kecil dan duduk di kursi meja makan.


"Eh, ternyata lo tamunya, gue kira siapa!" kesal Shela. Nura hanya nyengir onta lalu mengambil ayam goreng yang tertata rapi diatas meja.


Sementara mereka berdua makan, Rangga pun mengambil ponselnya, sedikit bersantai dengan bermain game.


Beberapa menit berlalu, namun Rangga sangat fokus. Entah apa yang kedua titisan kuntiberanak itu lakukan sekarang.


"Kak, main kuy!" ajak Shela.


"Lo nggak lihat gue lagi main game? Mending kalian aja sana yang main!" sahut Rangga, namun mata terus terfokus pada layar ponsel.


"Nanti aja mainnya!" Shela mengambil paksa ponselnya. Rangga hanya bisa menghembuskan nafas kasar, dan mengikuti permainan mereka.


"Jadi, kita bakalan puter botol ini, dan yang bakalan kena, mukanya harus diolesin sama saus, kecap, minyak, dan tepung. Ngerti?" Rangga hanya mengangguk. Shela pun mulai memutar botol tersebut. Aku yakin, botolnya pasti akan mengarah kearahku.


"Nah, Kena!" Nura dan Shela bersorak ria, betul kan? Aku yang kena sekarang, Aishh. Rangga mengutuk inisial N sekarang!


"Aish, ini botol kok pilih kasih sih?! Baru satu putaran aja, kok gue yang kena!" kesal Rangga. Shela dengan cepat mengambil minyak dan mengoleskannya diwajah Rangga.


Mak! Wajah tampanku ternodai oleh minyak sekarang!


"Mukanya glowing tu, haha!" tawa Shela menggelegar di sepenjuru ruangan. Giliran Nura, yang melempari Rangga dengan segenggam tepung. Keduanya kembali tertawa lepas.


"Mirip badut, hihi." Nura terkikik. Memang gak ada akhlak mereka!


"Sini gue yang puter!" Rangga mengambil alih botol, lalu memutarnya. Alhasil, Shela lah yang kena. Bagus! Aku akan balas dendam sekarang. Langsung saja Rangga lumuri wajahnya dengan saus dan kecap.


"Rasain tu!" Rangga tertawa, Shela merengek lalu memukul Rangga. Rangga kembali melumuri wajah Nura sama seperti Shela. tawa Rangga menggelegar melihat ekspresi keduanya.


"Mirip orgil, jir! Haha." Shela dan Nura beranjak mengambil botol saus beserta kecap. Rangga ikut berdiri dan memundurkan tubuhnya.


"Ayo kita balas dia!" ucap Nura dan di angguki Shela. Tanpa aba-aba lagi, Rangga langsung berlari dan dikejar oleh keduanya. Sial memang!


"Jangan lari lo Verguzzo!" teriak keduanya, hingga mereka mengenai baju Rangga dengan tembakan saus.


"Kena kau, haha!" Rangga hanya bisa pasrah, ketika keduanya menahan tubuhnya dan menghiasinya.


Vangke.


"Haii," mata kami semua tertuju pada Gea yang sedang berdiri diambang pintu. Shela dan Nura menghentikan aksinya.


"E-eh, aku ganggu ya?" Rangga mematung, Nura dan Gea bertemu sekarang. Bagaimana mungkin?


"Eh, nggak kok Kak, masuk gih," Shela mempersilahkan Gea masuk, Gea tersenyum lalu berjalan masuk dan menghampiri kami bertiga.


"Hai, kamu siapa?" Gea menatap kearah Nura, Nura dengan polosnya menatap Gea dan nyengir onta.


"Aku, Gea. Kamu siapa?" tanya Gea sambil mengulurkan tangannya, Nura meraih tangan itu dan tersenyum.


"Aku Nura, si manusia yang cute sejagat raya!" balas Nura. Gea kembali menatap kearah Rangga yang sedang kaku.


"Kamu pacarnya, Rangga kan?"

__ADS_1


DEG!


Rangga membulatkan mata, bagaimana bisa Gea tau? Darimana dia tau? Kini hati Rangga merasa bersalah dan menyesal. Apa aku seegois ini? Bahkan Rangga takut kehilangan Nura dan Rangga juga masih menyayangi Gea.


__ADS_2