
"Rangga!" Rangga berjalan membukakan pintu, ketika Mami memanggilnya.
"Ada yang ingin kami semua bicarakan," hati Rangga merasa was-was mendengar ucapan Mami. Rangga dan Mami pun menuruni tangga menuju ruang tamu. Sudah kutebak, disana ada Gea beserta kedua orang tuanya.
"Aku hamil,"
DEG!
Rangga membulatkan mata sempurna, hamil? Apa maksudnya? "H-hamil? M-maksud lo?" tanya Rangga tak percaya.
"Kita, sebentar lagi akan menjadi orang tua," Gea meraih tangan Rangga, dan menggenggamnya.
"Pernikahan kalian akan dipercepat, dan tinggal 3 hari lagi kalian akan menikah," jelas Papi.
"Tap--" Om Dav-- Ayah Gea langsung memotong ucapan Rangga.
"Persiapannya, sudah kami siapkan. Undangan pernikahannya juga sudah siap, ini demi menjaga kehormatan keluarga kita." Potong Om Dav. Rangga hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, lalu mengangguki saja permintaan mereka. Setelah itu, Rangga langsung kembali menaiki tangga untuk pergi kekamar. Rasanya sangat malas untuk sekedar menatap wajahnya. Bagaimana bisa ini terjadi?
...
"Saat ini, dan seterusnya gue yang bakalan traktir kalian," Rian yang tadinya sedang makan, kini terbatuk dan menatap Rangga tak percaya.
"Beneran? Lo nggak becanda kan?" tanya Farell. Rangga pun langsung mengangguk.
"Asek, rezeki emang nggak kemana-mana," ucap Farell dan diangguki Rian.
"Eh, bentar-bentar. Lo putus sama Nura?" tanya Arga. Mungkin, cuma dia yang sadar. Rangga hanya mengangguk, Rangga serahkan sebuah undangan kepada mereka. Alhasil mereka membulatkan matanya ketika melihatnya.
"L-lo mau nikah sama Gea!?
"Tiga hari lagi!?" tanya ketiganya tak percaya. Rangga lagi-lagi mengangguk dan langsung bangkit dan pergi, rasanya sangat sulit untuk jauh dari Nura, tapi apa yang harus Rangga perbuat?
"Kenapa sih, lo harus nyakitin Nura?" Rangga menoleh kearah Bisma yang sedang menghalangi jalan Rangga. Rangga palingkan wajah tampan ini, ku tatap dia dengan tajam.
"Bukan urusan lo!" balas Rangha, dan langsung berlalu pergi. "Lo hebat ya? Sampai-sampai Nura nggak mau bertemu siapa pun gara-gara lo!" Rangga kaku, mendengar ucapannya, Rangga pun berlari mencari sosoknya. Saat Rangga menemukannya, Rangga pun berniat menghampirinya.
"Pergi! Jangan dekati Nura lagi!" Rangga terkejut mendengar teriakannya. Baru kali ini aku mendengar bentakannya.
"Maafin gu--"
"Nura nggak mau lihat kamu lagi!" usirnya lagi. "Anggap aja, kalau kita orang asing," ucapnya lagi. Gadis ini berucap, namun sangat menyakiti Rangga.
__ADS_1
Rangga membalikkan badan nya, dan melangkah pergi. Entah ini terakhir Rangga melihatnya, atau tidak.
Rangga melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, rasanya sangat letih setelah bersekolah.
"Assalamu'alaikum, Rangga pulang!" teriak Rangga.
"Wa'alaikumussalam. Eh, kebetulan kamu baru pulang, nih anterin buat Gea," Mami menyodorkan sebuah tempat berisi salad buah.
"Nggak ah, Rangga males ketemu Gea!" tolak Rangga. Mami menatap Rangga tajam, seperti ingin menerkam nya hidup-hidup, membuat Rangga terpaksa untuk mengambilnya.
"Kamu harus menerima semuanya, itu juga kesalahan kamu. Bersikaplah untuk tanggung jawab atas apa yang kamu perbuat," Rangga mengangguk, lalu menyalami tangan Mami dan berjalan keluar dari rumah. Rangga hembuskan nafas berat, kemudian menaiki motornya dan melajukannya menuju rumah Gea.
Gerbang rumah Gea terbuka lebar, seperti tau Rangga akan datang. Rangga langsung masuk dan memarkirkan motornya di halamannya. Disana, ada Bi Ika yang sedang menyapu, ternyata Bi Ika masih bekerja disini setelah sekian lama.
"Assalamu'alaikum, Bi," salam Rangga.
"Wa'alaikumussalam, eh ada Den Rangga, waduh tambah ganteng aja, Den." Ucap Bi Ika seraya tersenyum.
"Hehe, Gea nya ada?" tanya Rangga.
Bi Ika mengangguk, "Ada, Den. Mau saya panggilkan?" Rangga menggeleng, "Gak usah, Bi. Biar Aku aja yang panggil," ujar Rangga lalu berjalan masuk kedalam rumah bercat putih tersebut.
Rangga terkejut, tatkala mendengar benda pecah dari arah atas. Rangga pun segera mencari sumbernya, kaki Rangga melangkah pelan ketika mendengar suara isakan beserta amarah dari arah kamar Gea.
"Apa?! Itu semua salah kamu! Aku hamil gara-gara kamu!"
DEG!
"Dasar cowok bren*sek! Pengecut! Apa lagi maumu? Kamu seharusnya tanggung jawab atas bayi ini!"
Rangga terpaku mendengarnya, siapa yang berbicara dengan Gea lewat telepon? Ternyata, bukan Rangga yang melakukannya tapi orang yang ada dibalik telepon itu.
"Jangan hubungi aku lagi, bren*sek!"
Rangga ingin sekali memarahinya sekarang, tapi kaki Rangga tertahan. Rangga harus mencari kebenaran atas semuanya terlebih dahulu, baru Rangga akan mengungkapkannya pada semua orang.
Rangga pun berjalan pelahan menuruni tangga, supaya Gea tak mengetahui keberadaan Rangga. Rangga duduk di sofa ruang tamu, bersikap seolah baru datang.
"Eh, Rangga. Sejak kapan kamu disitu?" Rangga menoleh, mendapati Gea yang baru saja turun dari tangga dan berjalan kearah Rangga.
"Baru aja datang ... btw mata lo kenapa?" tanya Rangga. Benar saja, mata Gea terlihat sembab, karena menangis tadi.
__ADS_1
"E-eum gapapa kok," jawabnya, lalu duduk di sofa.
"Ini salad buah dari Mami, katanya lo pengen kan?" Gea mengangguk lalu membukanya. Rangga harus bersikap lembut padanya, ini adalah satu-satunya cara, untuk mengetahui kebenarannya dan menemukan siapa pria bren*sek tersebut.
"Gea, boleh bikinin gue teh atau apalah? gue haus," ucap Rangga.
"Tunggu sebentar ya, aku bikinin," Gea berjalan menuju dapurnya. "Aduh, gulanya habis lagi, tunggu sebentar ya, aku beli diwarung sebelah," Rangga mengangguk, setelah Gea pergi, Rangga gunakan kesempatan ini untuk mencari ponsel Gea.
Setelah kutemukan ponselnya dikamarnya, Rangga membukanya, ini bukanlah ponsel yang biasa ia bawa, melainkan ponsel yang lain. Ia bahkan tak menggunakan keamanan atau pin dan semacamnya, hingga Rangga mudah untuk membukanya.
Rangga mencari riwayat telponnya, sebuah kontak dengan bertuliskan 'Andre' beserta emot love. Rangga segera mencatat nomornya dan sesekali melihat isi didalam ponsel tersebut.
Rangga membuka Whatsapp, mendapati pesan dari gadis yang kemarin berulang tahun. Ternyata, keduanya pernah merencanakan sesuatu.
Rangga kembali meletakkan ponsel tersebut ditempatnya. Kemudian Rangga segera keluar dari kamar tersebut, takut Gea kembali dengan cepat.
...
Rangga pamit pada Gea dan Bi Ika sebelum pergi. Setelah berada diluar, Rangga segera menelpon ketiga teman nya dan mengajaknya untuk bertemu, Rangga harap mereka mau membantunya mencari kebenaran walau waktunya cukup mepet. Karena jika Rangga gagal, maka terpaksa Rangga harus menikahi Gea walaupun Rangga tak berbuat apa-apa.
Rangga lajukan motornya menuju cafe, tempat biasanya Rangga dan ketiga temannya kumpul. Setelah sampai, Rangga langsung masuk dan menunggu ketiganya untuk datang.
Selang beberapa menit, ketiganya datang dan menghampiri Rangga. "Duh, ada apa sih, Ga? Gue lagi enak-enakan tidur, lo malah nyuruh ketemu!" oceh Farell dan menatap Rangga tajam.
"Tau tuh, gue aja nih masih belum nyisir rambut!" sahut Rian. Benar saja, rambutnya masih terlihat acak-acakan, tetapi tetap tampan.
"To the point aja lah! Lu ada masalah apa?" tanya Arga. Rangga menghembuskan nafas berat, dan menceritakan semua yang terjadi.
"Apa?! Gea hamil?!" tanya ketiganya tak percaya, hingga beberapa orang menatap kearah kami semua.
"Ssstt, diem woi!" peringat Rangga. Ketiganya nyengir onta dan menggaruk kepalanya.
"Ternyata, lo lebih mesum daripada gue," ucap Rian tak percaya.
"Makanya dengerin dulu cerita gue, aelah lu mah suka ngambil kesimpulan sendiri!" Rangga mulai kesal dengan ketiganya, belum selesai ceritanya, mereka malah nyerocos tanpa tau yang sebenarnya.
Rangga kembali menceritakan semuanya. Mereka membulatkan mata tak percaya.
"Terus, kita harus gimana?" tanya Arga.
Rangga pun mulai menyusun rencana, ketiganya langsung menyetujuinya. Rangga berharap, rencana ini berhasil, jika dalam 2 hari ini Rangga tak mendapatkan bukti apa-apa, maka Rangga yang harus menikahi Gea.
__ADS_1