
Bush! Rangga langsung terbangun, tatkala siraman air mengenai nya. Rangga menatap ke arah pelampungnya, eh maksudnya pelakunya.
"Ah, Mami!" Rangga berteriak kesal, menatap Mami yang sedang berkacak pinggang. Sumpah! Seremnya minta ampyun.
"Enak?!" Rangga mendatarkan wajahnya. Saat ini, Rangga merasa seperti anak tiri di sinetron-sinetron.
Bujubusyett!
"Nggak enak lah! Lagian Mami ngapain bangunin Rangga? Ganggu Mimpi indah Rangga aja!" oceh nya seraya melempar bantal entah kemana.
"Sudah jam berapa ini? Kamu masih tidur aja! Bantuin Mami kek, mandi kek, sarapan! Yang pasti jangan tidur mulu." Omel Mami panjang kali lebar. Kalian tau kan? Mamiku seperti apa? Galaknya minta ampyun.
"Kan hari libur, Mi. Emang bantuin apa sih?" tanya Rangga pada Mami. Mami menarik nafas sejenak, lalu tersenyum ke arah Rangga.
"Sayang, keluarga Papa kamu mau datang hari ini, dan rumah kita masih berantakan. Apalagi, Bi Astri pulang kerumahnya." Jelas Mami dengan sabar dan lembut. Mungkin ia sudah letih marah dan mengomel. Hehe, maafkan putramu ini Mami.
"Lah terus? Hubungannya apa Rangga apa?" tanya Rangga sok polos.
"Ya kamu bantuin Mami beresin rumah lah! Ngepel, nyuci piring, siram bunga, nyapu halaman! Masa Mami mau ngerjain sendiri? Kan capek Ga, capek! Apalagi keluarga Papa kamu, mau datang. Ya kita sambut dengan baik dong. Kamu juga kan belum sarapan, nanti kalau telat makan jadi sakit! Mami juga yang susah." Rangga menutup telinga nya, mendengar omelan Mami seperti orang ngarep eh maksudnya ngerep.
"Iya, Mi." Jawab Rangga malas.
"Bawel banget si Mami," ucap Rangga pelan. Agar Mami tidak bisa mendengarnya.
"Kamu bilang apa?! Mami bawel? Mami bawel juga karena kamu!" Oceh Mami. Ternyata Mami mendengarnya, tajam juga pendengaran Mami.
***
Rangga mengepel lantai dengan sangat bersih, sementara Mami, sedang menyuci piring dan mengerjakan pekerjaan lain.
"Alhamdulillah, selesai juga." Ucap Rangga sambil mengusap kening nya yang penuh dengan keringat. Ternyata mengerjakan pekerjaan rumah sulit juga, padahal, saat Rangga melihat Bibi mengerjakannya, terlihat sangat mudah.
"Meeooww~"
Rangga membulatkan mata nya sempurna, ketika lantai yang baru saja bersih sempurna kini sudah kotor karena jejak kaki dari Kimy, kucing nakal hadiah dari Papi.
"Kimy! Gue udah capek-capek ngepel! Lu dengan mudahnya, kotorin lagi!" Rangga berteriak kesal.
"Meeooww~"
__ADS_1
Kimy bertingkah lucu. STOP! Aku tidak akan tergoda Kimy. Tak semudah itu Verguuzzoo!
"Gak usah sok imut! Gue gak bakalan tergoda!" uc
"Anyeonghaseo!" Rangga langsung terkejut dan terbangun. Lagi-lagi mimpi indahku terganggu.
Kulirik gadis berambut panjang, yang sedang tertawa lepas.
"SHELAA!" Rangga berteriak kesal. Menatapnya dengan tajam, setajam omongan tetangga, uhuuy. Rangga segera melemparkan bantal ke arahnya, hingga mengenai wajahnya.
"Hahaha." Rangga tak bisa menahan tawanya.
GUBRAK!
GEPREK!
GABRAK!
Tubuh Rangga rasanya remuk, ketika mendapat pukulan darinya. Rangga lupa, kalau Shela pernah belajar, bahkan memenangkan lomba karate. Yap, begitulah, Rangga dan Shela seperti Tom and Jerry, selalu bertengkar kapan pun dan dimana pun. Shela adalah sepupuku, Ayah dan Ibunya sudah meninggal sejak ia berusia 7 tahun, dan sejak itulah, Shela tinggal dirumah Rangga.
"Baru ketemu peluk kek, ini malah mukul kakaknya!" kesal Rangga. Shela nyengir sapi, eh maksudnya kuda, lalu memeluk Rangga.
"Hehe, gue kangen kak," ucap Shela. Rangga tersenyum, lalu membalas pelukannya. Mungkin, orang akan mengira Rangga berpacaran dengan Shela. Tapi, dia adalah adik kecil Rangga, ingat! Adik kecil Rangga.
***
"Makin ganteng aja, cucu Oma," Oma mencubit pipi Rangga gemas, ya beginilah jika menjadi cucu kesayangan. Hehe.
"Mana ada, malahan makin buluk," sahut Mami sambil menahan tawa. Ah! Menyebalkan.
"Ah Mami, anak sendiri aja dibilang buluk!" kesal Rangga sambil memanyunkan bibir 5 cm. Mami hanya tertawa lepas, begitu pun Oma dan Opa.
"Kita jalan-jalan yuk! Gue pengen ketemu temen lama gue juga!" Ajak Shela sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rangga. Goyang teross.
"Kagak mau ah! Males!" Rangga langsung menolak keinginannya. Sumpah! Rangga sangat malas, karena tubuhnya yang masih pegal-pegal karena membersihkan rumah. Apalagi, Rangga harus mengantarnya kerumah teman lamanya, dan itu pasti sangat membosankan! Membosankan!
"Mami ... Kak Rangga nggak mau temenin Shela!" begitulah Shela, ia akan merengek dan mengadu pada Mami, ujung-ujungnya Rangga yang akan dimarahi.
"Ga, temenin Adek kamu, gih!" Sudah kutebak, akulah yang akan disalahkan.
__ADS_1
TIDAK ADIL!
Rangga mendengus kesal. "Iya iya! Ini Rangga temenin!" Shela bersorak ria, lalu menarik tangan Rangga keluar tanpa pamit.
Yayaya, Rangga sekarang mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, berhenti di sebuah mini market lalu memasukinya.
Shela mulai memilih-milih cemilan dan minuman. Ah menyebalkan! Kalian tau? Akulah yang mendorong kereta belanja, dan dia yang memilih-milih.
"Giliran dong, gue yang milih-milih!" Rangga menjulurkan lidahnya mengejekku. Ingin rasanya aku memotong lidahnya, tapi aku tak sejahat itu.
Setelah selesai memilih belanjaan, Rangga segera membayarnya ke kasir. Ujung-ujungnya, Rangga yang akan membayar.
"Mas itu manis, kayak gula kapas," ucap seorang kasir wanita, sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Rangga. Seketika, aku teringat akan Nura, ia pernah mengucapkan perkataan itu saat berada di pasar malam.
"Mas, nikahin aku dong!" Salah satu kasir dengan mudahnya, mengucapkan kata-kata itu. Rangga tersenyum kearahnya.
"Nanti kalau kita jodoh," balasku, mbak kasir tersebut nampak tersipu malu. Satu gombalan saja kasir tersebut mampu tersipu, apalagi kalau beribu kata gombalan. Mungkin mereka akan pingsan dan ingin segera ku nikahkan.
"Mbak, jangan gombalin pacar saya dong! Kan kumat lagi dianya!" Shela kini membuka mulut, mungkin ia kesal dengan wanita yang suka menggombal dan centil seperti itu. Kasir itu langsung terdiam, malu dengan ucapan yang dilontarkan Shela.
Setelah selesai membayar, Rangga berjalan keluar dari mini market, banyak para adik kelas, dan teman kelas melirik kearah Rangga dan Shela. Mungkin, mereka mengira, kalau Shela adalah pacar baru Rangga. Entah apa yang akan mereka bicarakan besok.
"Kenapa mereka lihatin kita sih, Kak?" tanya Shela heran. Mungkin ia sekarang menyadarinya.
"Nggak tau, dan nggak mau tau. Yaudah ah, jangan di pikirin!" Rangga dan Shela memasuki mobil.
"Jan jadi pakboy dong! Nanti gue bilangin Mami baru tau rasa lu!" Ancam Shela dengan tatapan mengalahkan psycopath.
"Idih! Kayak lu nggak aja!" Segera Rangga toyor kepalanya, hingga membuat ia meringis kesakitan. Rasain!
"Sakit tau!" kesalnya, sambil memanyunkan bibirnya. Dengan gemas, aku mencubit hidungnya. Sekarang, tinggal Rangga mengantarnya ke kuburan, eh maksudnya ke rumah para teman Shela.
Beberapa menit kemudian, kita sampai di rumah salah satu teman Shela. Ini cuman salah satu guys! Bukan semua temannya.
Rangga membawa sekresek cemilan dan minuman yang kami beli tadi di mini market. Mungkin saat ini, Rangga akan terlihat seperti asistennya, dan dia majikannya. Ingin rasanya Rangga lempar dia ke lautan, tapi mungkin, Mami akan membunuhku jika Rangga melakukannya.
"Anyeonghaseo!" Shela berteriak histeris, begitupun para geng-geng nya. Rangga hanya bisa menutup mulut, eh maksudnya telinga. Teriakannya, bahkan mampu membuat telinga Rangga sakit. Jika ada pertandingan berteriak dengan kencang, mungkin merekalah yang akan menjadi pemenangnya. Dah lupakan saja!
"Astoge! Ini mimpi kan? Kok ada pangeran yang nyasar?" Salah satu teman Shela beberapa kali menepuk pipinya. Ia pasti tersepona eh maksudnya terpesona melihat ketampananku. Hehe.
__ADS_1
"Idih, kek gitu aja dibilang pangeran, b aja kalik!" Sindir Shela. Rangga langsung menoyor kepalanya, tanpa melihat sekitar.
"Yaudah, ayo masuk." Rangga dan Shela memasuki rumah bernuansa putih itu. Rangga terkejut, melihat sesosok orang yang kukenal terbaring di sofa. Apa dia juga teman Shela?