
"Rangha!" Aku menutup telinga mendengar teriakan dari seseorang yang Rangga kenal.
Demi Dora yang kembali tayang di GTV! Lastri, gadis itu berlari kearah Rangga, beserta para budaknya. Ia membawa sebuah bunga lengkap dengan cokelat.
"Eh, kamu mau kan balikan sama aku?" tanyanya, sambil menyodorkan bunga berwarna merah tersebut. Rangga hanya terdiam, kulirik ketiga teman Rangga yang kini menganga. Mungkin mereka tak menyangka, Lastri yang dulunya selalu jual mahal, kini berubah seperti orang yang kerasukan Kuntiberanak.
"Sayang! Kamu ma--"
"ABANG RANGGA!" belum sempat Lastri menyelesaikan ucapannya, Nura tiba-tiba datang dan langsung berdiri di samping Rangga, menampakkan senyum pepsodent dan lesung pipinya.
Lastri menganga hebat, lalu menatap kearah Rangga. "Iya, sayang. Kenapa?" Rangga merangkul tubuh mungil Nura. Sengaja lebih tepatnya.
"S-sayang, kenapa kamu rangkul dia? Dia itu gak pantes buat kamu!" tangan Lastri mencoba meraih tangan Nura, dengan cepat Rangga pun menepis tangan Lastri.
"Emangnya kenapa? Lo kira, lo itu pantes buat gue?" Lastri terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia menghentakkan kakinya, tangannya hampir saja membuang cokelat yang ia bawa.
"Tunggu!" Lastri menghentikan aksinya, lalu menatap kearah sumber suara, yaitu Nura. Nura langsung merampas cokelat di tangan Lastri.
"Jangan dibuang! Kata Pak ustad, gak boleh buang makanan, mubazir. Mendingan kasih Nura aja," demi apapun, ni cewek doyan dengan cokelat. Kau beri saja dia cokelat sekarung, akan habis olehnya sendiri tanpa mau berbagi.
Lastri semakin kesal, ia pun langsung berlalu pergi meninggalkan kami semua. Rangga bernafas lega, untung saja Nura datang tepat waktu, uhuy.
"Eh, Shela mana?" tanya Rangga ketika tak melihat sesosok kuntilanak yang menjadi adikku itu. Hanya ada Nura, Resti dan Sinta.
"Tadi, Shela duluan, Kak." Jawab Resti.
"Yaudah, kita pulang yuk! Perut gue dah keroncongan ini!" terdengar suara perut keroncongan dari arah Rian dan Farell. Mungkin mereka sudah kelaparan sekarang.
"Yaudah, yuk!" Arga yang sedari tadi diam, langsung membuka suaranya.
Kami berempat pun berjalan menuju parkiran. Rangga pun menaiki motor nya, tunggu! Aku langsung menoleh kearah belakang. Mendapati sesosok Nura yang sudah menaiki motor Rangga. Kenapa bisa? Apa dia jin? Setan? Kuntilanak? Atau wewe gombal, eh gombel?
"Lo ngapain naik, Jubaedah!?" tanya Rangga dengan wajah datar. Nura menoleh kebelakang, kekiri, dan kekanan.
"Abang nanyain siapa? Jubaedah siapa?" Rangga menepuk jidat nya mendengar pertanyaan polosnya.
"Lo ngapain naik, Nura?" tanya Rangga ulang.
"Kak Arya gak bisa jemput Nura, Nura juga lupa bilangin sopir buat jemput Nura. Kata Kak Arya, Nura hanya boleh pulang sama Abang aja." Ucapnya, sambil memakan cokelat.
__ADS_1
Bujubusyett!
"Yaelah, gitu aja ribet lu! Bonceng aja napa!" teriak Farell di dalam mobilnya. Rangha hanya bisa apa? Rangga hanya bisa menurutinya, tenang Rangga. Tinggal 1 setengah bulan saja, kau akan terbebas dari gadis jelmaan kuntilanak ini.
"Nih, pakai helmnya!"
.
"Abang! Helmnya gak bisa lepas!" rengeknya pada Rangga sambil terus berusaha melepas helmnya. Merepotkan sekali!
"Iya iya, bentar!" Setelah Rangga membuka helm, Rangga segera membukakannya juga.
"Cepetan!" Farell mendorong tubuh Rangga dan ....
Cup!
Reflek Rangga membulatkan matanya, ketika bibir Rangga menempel dibibir Nura, kepala Rangha pun terbentur dengannya. Mami! Rangga mencium bibirnya dua kali! Huaaa!
Rangga segera melepas ciumannya, lalu mengusap bibirnya. Merasa kesal, Rangga pun melemparkan helm kearah Farell, hingga mengenai punggungnya.
"Woy, anj*r! Sakit tau, salah gue apa coba?" tanyanya kesal, dan kembali melemparkan helm tersebut, namun Rangga segera menghindar.
Buk!
Buk!
Ria memegangi kepalanya, lalu pingsan. Kami semua pun berhambur menghampiri Rian.
"Rian bangun! Jangan tinggalin aku!" dalam situasi seperti ini, Farell sempat-sempatnya memainkan drama dengan lebay.
"Jan banyak drama napa! Kita bawa Rian kedalam aja," ucap Arga. Kami pun membawa tubuh Rian kedalam rumah Rangga.
...
Brush!
"AAA EMAK!" Rian langsung terbangun, ketika Farell menyemburkan air kepadanya. Ya, tidak ada cara lain selain itu, Rian tak kunjung bangun sedari tadi.
"Uwek! Kok ada bau-bau gitu ya?" ujar Rian sambil menutup hidungnya. Farell nyengir onta, sambil menggaruk tengkuraknya.
__ADS_1
"Ya, mangap! Tadi gue makan jengkol, jadinya mulut gue bau deh, hehe." Jawab Farell.
"ARGA!" Vino berteriak seraya melototkan matanya, hingga hampir copot. Copot eh copot! Sementara, Rangga hanya terdiam sedari tadi.
"Hehe, ampun bang jago!" Arga berlari sekencang-kencangnya, lalu Rian pun mengejarnya, mereka sudah seperti Tom and Jery aja.
"Awas ya lo! Jangan kabur lo!" kesal Rian.
"Udah nape! Mendingan kita masak aja, gue udah laper bett, sumpah!" ajak Rangga seraya berjalan kearah dapur.
"Ha? Masak!?" tanya ketiganya bersamaan. Rangga memutar bola mata nya malas, perut Rangga sedari tadi keroncongan karena menunggu Rian sadar.
"Kita yang masak? Tante kemana?" tanya mereka bersamaan.
"Udah ye, jangan banyak omong! Mami ada urusan, jadi Mami gak sempat masak. Lebih baik, kita kedapur, masak, dan cuss kita makan," ketiganya hanya mengangguk dan berjalan malas mengikuti Rangga.
"Yeeyy! Telurnya pecah!" Sesekali Rangga mengusap dada mendengar teriakan Nura. Begitupun ketiga teman Rangga.
"Nih cewek, kenapa lagi?" Farell menghembuskan napasnya.
Rangga menepuk jidat. "Ra, ngapain?" tanya Rangga dengan datar, Nura menoleh kearah Rangga sambil tersenyum.
"Nura tadi mecahin telur, dan Nura berhasil mecahin telurnya, hebat kan?" Kami berempat saling bertatapan, menepuk jidat dengan kompak. Ia berteriak senang, hanya karna memecahkan telur? Oh, astaga!
Tanpa pikir panjang, kami pun memulai untuk memasak, ayam goreng dan nasi goreng. Hanya itu saja yang bisa kami masak, masak aja dulu, soal rasa belakangan.
"Ternyata, memecahkan telur sangat sulit, seperti melupakan mantan," drama Farell.
"Maafkan aku, wahai daging ayam! Kau akan ku potong, maafkan aku!" kini Rian yang ketularan Farell. Jadi pengen nyeburin mereka di got, tapi dosa.
"Kok disini ada bedak bayi?" tanya Arga melihat tepung di baskom. Greget, ingin rasanya Rangga menelan mereka hidup-hidup.
"Itu tepung, Arga. Bukan bedak bayi!" ucap Rangga dengan menekan setiap kata yang ku ucapkan.
"Abang, kok pisaunya gak bisa motong sih?" Rangga menghampiri Nura yang bertugas memotong wortel.
"Ya Allah, itu pisaunya kebalik markonah! Seharusnya hadap sini," aku membalik pisau yang sedari tadi terbalik, sambil menuntun tangan Nura untuk memotong-motong wortel dan lainnya.
Sorot mata Rangga, tak sengaja melirik kearah Nura, aku tersenyum lalu sedikit mengusap keringat yang membasahinya. Nura pun menatap kearah Rangga, kini tatapan kita bertemu, hingga membuat jantung Rangga berdetak lebih cepat. Apa ini?
__ADS_1