
Rangga berjalan keluar dari kamar mandi, mengambil seragam sekolah nya, lalu bersiap untuk capcus kesekolah. Senyum tak pernah hilang dari bibir merah sexy Rangga. Bahkan nyamuk yang lewat pun akan pingsan melihatnya. Hihi.
Setelah semua sudah terpasang, Rangga pun segera mengambil sisir, dan menyisir rambut hitamnya.
"Perfeck, Rangga! Sumpah, lu ganteng banget kek Mphii Bities," pujinya melihat pantulan diri Rangga di cermin. Rangga sungguh-sunggu berterima kasih kepada Tuhan, karena sudah menciptakan manusia setampan, dan sekeren diri nya.
Pede Amat!
Setelah selesai dengan semuanya, Rangga segera menuruni anak tangga satu persatu, dengan senandung khas nya.
"Morning, Mami, Papi," Rangga mencium pipi keduanya secara bergantian, kemudian duduk di samping adik nya yang jelmaan kuntiberanak ini.
"Morning to," jawab Mami dan Papi bersamaan. Tangan Rangga dengan sigap, mengambil segelas susu putih yang sudah tersedia, lantas meminumnya sampai tak ada yang bersisa.
"Ga, pelan-pelan minumnya!" tegas Mami, menatap Rangha dengan tajam.
"Yaudah, Rangga berangkat dulu ya," Rangga meraih tangan Mami dan Papi, lalu capcuss berangkat sekolah.
"Kok nggak sarapan?!" tanya Mami sambil berteriak kencang.
"Nanti aja, Mi!" Balas Rangga.
___
Rangga lajukan motor nya pelan, bukan menuju kesekolah, melainkan menuju rumah gadis polos berlesung pipi tersebut. Entahlah, Rangga ingin sekali berangkat sekolah bersamanya hari ini.
Motornya berhenti di depan rumahnya, kebetulan Nura belum berangkat, karena mobil Arya masih terparkir rapi di garansinya.
Senyum Rangga terlukis, tatkala Nura dan Arya keluar dari pintu rumah tersebut. 1 detik kemudian, senyum Rangga kembali pudar melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi juga ikut keluar dengan senyum yang melekat di bibirnya.
Cih! Lebih ganteng gue sih!
Bibir laki-laki itu nampak bergerak, entah apa yang ia bicarakan dengan Nura. Laki-laki tersebut menaiki motornya, lalu disusul oleh Nura.
What!
"Eh, ada Abang. Yaudah yuk, kita berangkat sama-sama!" seru Nura, Rangga mengangguk lalu menaiki kembali motornya.
Ciuh! Senyum dibibir Nura, seolah-olah tak mengerti apa yang ku rasa. Kumenangiss, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.
Malah nyanyi!
Rangga pun mengikuti Nura dari belakang, dengan kekesalan yang masih ada.
___
Sampai di sekolah, laki-laki tersebut menggandeng tangan Nura untuk masuk, dan meninggalkan Rangga yang baru saja hendak melepas helm.
Rangga kembali berjalan, membuntuti keduanya. Setelah sampai di depan kantor guru, laki-laki itu masuk kedalam. Nura beralih menatap Rangga, lalu menarik tangan Rangga.
"Dia siapa?" tanya Rangga dengan cepat. Pikiran Rangga entah kemana-mana, apa mereka pacaran? Atau tunangan?
__ADS_1
Ah yang benar saja!
"Nanti dulu nanyanya. Nura udah laper bett, ntar di kantin Nura cerita," ucap Nura sambil terus berjalan.
Sesampainya dikantin, Nura langsung duduk dan memesan makanan, begitupun Rangga. Makanan sudah datang, Nura pun langsung menyambar sendok dan makan. Huh! Kadang Rangga ingin sekali membuangnya di dasar laut. Bagaimana mungkin? Dia bilang, dia akan menceritakan semuanya setelah sampai di kantin, namun, melihat makanan sedikit saja ia sudah lupa.
Vangke.
'Nih anak bikin gue emosi aja, katanya mau cerita, gimana sih!' alhasil Rangga hanya mengumpat di dalam hati.
"Nura bakalan cerita kok, Abang. Tunggu Nura habisin ini dulu," Rangga terkejut. Bagaimana mungkin dia tau apa yang Rangga ucapkan dalam hati? Apa dia bisa membaca pikiran Rangga?
"Ra, cowok yang tadi siapa?" Nura berhenti makan setelah mendengar ucapan Rangga yang sedikit kesal.
"Oh itu, dia itu namanya, Bisma. Kemaren malam Nura ketemu dia, waktu Nura keluar buat beli cokelat, dianya pengen bunuh diri tapi gak jadi," cerita Nura panjang kali lebar.
"Terus dia kesini ngapain?" tanya Rangga lagi.
"Katanya, dia mau sekolah disini. Dia udah janji bakalan jadi sahabat Nura, dan selalu sama Nura."
Ukhuk ukhuk!
Rangga yang tadinya makan mendengar ceritanya, pun terbatuk. Bagaimana mungkin? Mereka sahabatan tapi sampai bergandengan tangan dan melupakan Rangga tadi. Dan, pria itu akan selalu bersama Nura? Tidak! Ini tidak boleh terjadi!
___
Kelas sebentar lagi mulai, Rangga dengan malas menyembunyikan kepalanya di lipatan tangan yang kutaruh di atas meja. Semangat Rangga hilang seketika, karena laki-laki bernama Bisma itu!
Sudah kuduga! Pasti itu adalah Bisma, orang yang telah merusak mood Rangga. Dia memang sangat tampan, dengan senyum yang terbilang manis itu.
Awas saja kau! Kau takkan pernah mendapat ampunan dariku Verguuzzoo!!
Harusnya, aku yang disana ... dampingimu, dan bukan dia ....
Ah, lagu ini memang pas, dengan situasi dan prasaanku sekarang. Kesal? Oh saking kesalnya, Rangga jadi ingin menelan seseorang hidup-hidup. Rasa apakah ini? Ada rasa nyeri di ulu hati.
Apa kalian bertanya, kenapa aku bisa kesal? Huft, bagaimana mungkin Rangga tak kesal, sementara, Rangga sekarang menjadi nyamuk diantara Nura dan Bisma si murid baru, yang sudah merusak mood Rangga hari ini.
"Gimana? Enak kan?" Nura dan Bisma sedang memakan es krim di sebuah bangku panjang dekat taman. Rangga pun ada disana, tetapi Rangga hanya menjadi nyamuk diantara mereka.
Bahkan, Rangga seperti nyamuk yang terkena semprotan baigon. Rasanya, seperti anda menjadi ironman.
"Yah, udah habis. Kita beli lagi yuk, Bang!" Dasar gadi lukc*at! Bisa, bisanya ia tak peduli dengan kehadiran Rangga sedari tadi.
Kenapa? Apa Rangga cemburu dengan kedekatan mereka? Ah menyebalkan.
"Yaudah, gaskeunlah," ucap Bisma dengan melemparkan senyum manisnya, yang semanis buah pare.
Bisma bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya mengajak Nura untuk bangkit. Dengan wajah lugu nan polosnya, Nura meraih tangan Bisma, dan berjalan pergi.
Kubuang sisa ice krim ditangan Rangga, berlari kecil kearah Nura, lalu menarik tangannya saat ia sudah cukup jauh. Satu kendala lagi, tangan Bisma masih menggenggam erat tangan Nura.
__ADS_1
"Lepasin tangan Nura!" peringat Rangga dengan nada tinggi.
"Apaan sih? Gue sama Nura mau beli es krim," balas Bisma, tapi suaranya sedikit halus dan lembut.
"Nura pacar gue! Jadi lo, lepasin tangannya Nura sekarang juga!" Bisma nampak terkejut, menatap Nura sekilas, lalu melepas genggamannya. Rangha menatapnya sinis, lalu membawa Nura pergi dari hadapannya.
"Abang kenapa?" tanyanya, tapi Rangga terus menarik tangannya jauh dari Bisma.
Rangga sampai di atas atap sekolah. Ku kunci pergerakan Nura, lalu menatapnya kesal. Nura beberapa kali mengerjapkan matanya, menatap Rangga dengan tatapan polos tanpa dosa.
Rangga memejamkan matanya, lalu mencium bibir mungilnya. Oh Tuhan, dosakah aku mencium dia yang bukan mahromku? Tentu saja dosa! Rangga, kau ini bodoh!
'Maafkan hambamu yang tampan ini," batin Rangga. Rangga kembali menatapnya, Nura nampak terkejut.
"Ra, gue nggak suka lo abaikan gue kek gitu! Lo bisa mikir gak sih?! Apa perlu gue bilang dulu, baru lo akan sadar!" bentak Rangga. Sungguh, Rangga masih sangat kesal dengan kejadian tadi.
"Kok, Abang bentak Nura?! Nura gak suka dibentak!" matanya berkaca-kaca, lalu mendorong tubuh Rangga menjauh darinya.
"Nura benci, Abang!" Nura berlari meninggalkan Rangga. Apa kata-kataku menyakitinya? Rangga mengacak rambut nya frustasi.
"Nura, dengerin gue!" Rangga berlari mengejarnya. Rangga tahu betul sikap seorang wanita. Hey, ayolah! Rangga bahkan mempertahankan banyak wanita dalam waktu yang sama, dengan caraku sendiri.
"Busett, ni bocah kemane sih? Dia ngambek kali, yah?" Rangga terus mondar mandir mencari keberadaan Nura. Kemana gadis itu? Kenapa dia cepat sekali untuk menghilang? Bahkan, Rangga sampai meragukan kalau dia itu manusia.
Samar-samar terdengar suara isakan, disertakan hingus yang hirup kembali.
"Sepertinya, suaranya berasal di sini deh ...." segera Rangga cari sumber suaranya. Dan ketemulah dia, didalam botol, eh, maksudnya di bawah pohon rindang didekat sebuah kolam berwarna biru tersebut.
Nura menyembunyikan wajahnya, di lipatan tangan dan lututnya. Rangga dekati dirinya, dan duduk disampinya, sesekali menghela nafas, dan merasakan kesejukan angin yang datang lalu pergi. Ah, tempat ini menenangkan.
Rangga melipat tangannya diatas lutut, dan menepuk pundak Nura. "Masih, marah?" tanya Rangga dengan suara pelan.
"Pergi sana! Nura gak mau lihat wajah Abang lagi!" baru kali ini Rangga mendengar bentakan dari Nura. Jadi, beginilah dia ketika marah?
"Huft ... yaudah iya, gue ngaku salah. Lo jangan nangis dong, ntar wajah lo jelek tau!" ledek Rangga. Nura masih terisak, rasanya, Rangga seperti seorang Ayah yang sedang membujuk anaknya. Hadeuh!
Bujubusyet!
Segera kurangkul tubuh Nura, lalu mengacak rambutnya pelan. "Sebagai perminta maafan gue, lo mau nggak? Jalan-jalan sama gue? Gue janji dah, bakalan beliin lo es krim, cokelat, gula kapas, dan semua yang lo mau." Rangga yakin, caranya ini akan berhasil dengan sukses.
"Semuanya?" Nura langsung menoleh kearah Rangga, dengan mata berbinar. Ck, cepat sekali dia ketika mendengar, nama makanan yang ia suka.
"I-iya, beneran,"
"Cokelat, es krim, gula kapas, dan boneka juga boleh?" tanyanya lagi.
"Hm," jawab Rangga dengan deheman. Nura langsung bersorak riang, dan memeluk leher Rangga. Rasanya nafas Rangga terhenti karena pelukannya yang terlalu erat.
"G-gue s-sesak woii!" Nura terdiam sejenak, lalu melepas tangannya dari leher Rangga. Huft, Rangga hampir saja mati dibuatnya.
"Tapi, lo harus janji bakalan maafin gue dulu!"
__ADS_1
"Hm, janji!" balas Nura disertai cengiran khasnya.