
Rangga dan Shela berjalan menuju ruang guru. Semua sorot mata menatap kearah kami berdua.
"Omaigot! Itu pacarnya Kak Rangga?"
"Astoge! Saingan gue cantik bett!"
"Demi Dora yang nggak tayang lagi di GTV! Itu pacarnya kah?"
"Eh, kemarin gue ngelihat mereka jalan bareng."
"Itu 'kan cewek yang kemarin jalan sama Kak Rangga."
"Kemarin Nura, sekarang ada yang baru lagi, gila gila!"
Begitulah ucapan dan gosipan yang terdengar, ketika Rangga melewati sekian banyaknya siswa-siswi. Satu sekolahan heboh guys! Gegara Rangga dan Shela yang dikatakan pacaran.
"Kenapa mereka ngelihatin kita?" Rangga menggeleng, pura-pura tidak tempe, walaupun Rangga tahu. Lah? Ngomong apa aku? Dahlah gaje.
"Morning." Rian, Farell, dan Arga menghampiri kami.
"To," jawab Rangga dan Shela bersamaan. Dan, jangan lupa dengan senyum manisnya.
"Cantik bett lo hari ini," Farell mendekati Shela.
"Ho'oh, manis lagi. Mama lu ngidam apaan sih? Sampe-sampe anaknya manis banget." Kini Rian menyahut, dan ikut mendekati Shela.
"Ngidam racun!" Sahut Rangga ketus. Alhasil, jitakan lah yang aku dapat dari Shela.
"Makasih," Shela tersenyum kearah keduanya. Sementara, Arga tersenyum manis kearah Shela, dan mendekat.
Cup!
Aku membulatkan mata sempurna, Rian dan Farell pun menganga. Tiada hujan, tiada petir, tiada gempa, tiada tsunami, tiada banjir, dan tiada sisir kalau sedang dicari. Tanpa permisi, Arga mengecup kening Shela, Shela hanya terdiam kaku. Sekarang, Rangga merasa gagal menjadi sesosok Kakak, hanya karena satu kecupan saja! Oh Tiiddaaakkkk Roma!
"Lo imut," setelah mengucap kata tersebut, Arga segera berlalu pergi begitu saja.
"Cubit gue! Ini pasti mimpi," Farell segera mencubit tangan Rian, hingga Rian meringis kesaktian, eh maksudnya kesakitan.
"Ahk! Sakit jir, cubitnya pelan-pelan dong!" Rian mengusap tangannya, yang baru saja dicubit oleh Farell.
"Lah, lo yang minta dicubit marjuki!" timpal Farell.
"Morning!" Riangga, Rian, Farell, dan Shela menutup telinga, ketika mendengar teriakan kuntilanak polos. Siapa lagi kalau bukan Nura.
"Bangun pagi ... Gosok gigi ... cuci muka, tak mandi!" Rangga segera menghampirinya, dan menutup mulutnya dengan tangan nya. Telinga Rangga rasanya sakit, dan ingin copot dari tempatnya. Sumpah! Suaranya cempreng mengalahkan toa masjid.
"Bisa diem nggak?!" Nura menggeleng, lalu melepas tangan Rangga paksa, kemudian menutup hidungnya dengan jari-jari tangannya yang mungil.
"Tangan Abang bau terasi, tau!" Terasi? Rangga segera mencium bau tangannya.
What the fu*k!
"Yeh malah dicium, Abang kena! Abang kena! Hiro." Nura bersorak ria, dan dengan cecikikan yang hampir mirip dengan mbak Kunti beranak. Semuanya pun ikut tertawa, terbahak-bahak.
'Ni bocah tengkil, malu-maluin gue aja! Awas aja nanti, gue kerjain balik baru tau rasa lu'
***
"Pagi, Anak-anak," seorang guru wanita memasuki kelas. Sontak, kelas yang tadinya ribut, kini berubah menjadi hening.
"Pagi juga, Bu," jawab mereka serentak.
Rangga menenggelamkan wajahnya di meja, kini kantuk menyerang. Apalagi hari ini, pelajaran matematika, ku ulangi! Matematika guys! Soal satu jawaban beranak.
Rangga sedikit memejamkan mata, dan terlelap.
Brak!
Rangga langsung terbangun, tatkala penghapus papan mendatar di kepala nya.
"Bangun! Ini baru jam pertama, kamu sudah ngantuk saja!" tegas Bu Ririn, guru galak bin kejam, yang selalu memberikan tugas setiap harinya.
__ADS_1
"Saya ngantuk, Bu. Saya kurang tidur karena ngerjain tugas yang Ibu berikan," jawab Rangga.
"Ya salah siapa, kamu ngerjainnya malem-malem!" bentaknya lagi.
"Ya salah Ibu lah, Bu Ririn yang kasih saya tugas numpuk, bikin kepala saya puyeng aja Bu! Saya kerjain tugasnya salah, nggak saya kerjain juga salah, emang ya, saya selau salah di kaki Ibu." Rangga seperti mengerap saja jika beralasan. Kulihat Farell dan Rian memberi jempol pada Rangga, sementara, Bu Ririn menarik nafas panjang, dan menghembuskannya pelan.
"Lama-lama saya bisa setres kalau terus mengajar di kelas ini!" Bu Ririn memijat keningnya pelan. Yes Berhasil!
"Makanya, Bu. Jangan ngajar disini lagi, kalau Ibu nggak mau setres," sahut Rian.
"Betul itu!" Sorak para siswa-siswi serempak.
"Seorang guru wanita, menjadi setres karena mengajar di salah satu kelas terberisik di salah satu sekolah! Emang Ibu mau masuk berita kek gitu?"
Brak!
Bu Ririn memukul meja keras. Menatap tajam setajam silet kearah kami semua, uhuyy takut!
"Sudah! Kerjakan soal halaman sepuluh sampai lima belas! Kalau belum selesai, Ibu hukum kalian semua!" bentak Bu Ririn lalu keluar dari kelas.
GUBRAK!
Niatnya supaya tidak dikasih tugas, ya malah sebaliknya, kurang asyem emang! Alhasil semuanya menatap tajam kearah Rangga. Hehe.
Setelah selesai mengerjakan, bel istirahat berbunyi, Rangga segera keluar dari kelas. Ketiga teman Rangga, pergi ke kantin dan meninggalkan Rangga seorang diri.
Vangke!
Terpaksa Rangga harus pergi kekantin sendiri, melewati jalan yang lain, supaya lebih cepat sampai ke arah kantin. Jujur saja, perut Rangga keroncongan dan ingin diisi saat ini.
PLAK!
Entah dari mana asal usulnya, tiba-tiba saja buah mangga jatuh ke kepala Rangga. Apa ada hantu? Segera kuberanikan diri mendongak ke atas.
"Aaaa!!"
"Aaaa!!"
JOROK!
"Lo ngapain disitu? Turun cepat!" Nura segera turun dari pohon, dan menghampiri Rangga.
"Abang, mau?" Ia menyodorkan buah mangga yang setengahnya sudah ia makan.
"M-makan aja," tolak Rangga dengan lembut. Nura pun memakannya kembali, setelah itu membuangnya sembarangan.
"Kekantin yuk!" Ajaknya setelah selesai menghabiskan mangga tersebut. Rangga menepuk jidatnya, mengambil sapu tangan dari saku celana Rangga, dan mengusap lembut bibir dan pipinya.
DEG!
'Jantung, kenapa kau konser sekarang? Oh ayolah! Rangga kenapa? Tenang Rangga tenang!'
Rangha menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan pelan. Setelah itu, memasukkan kembali sapu tangan nya.
"Tarik nafas ... buang nafas. Bentar lagi anaknya keluar, Pak." Rangha menutup mulut Nura, ketika ia berkata aneh dan sangat aneh.
"Gue bukan cewek, yang bisa melahirkan anak, Nura!" Sabar, oh ayolah Rangga! Kau harus sabar, ingat! Dia hanyalah gadis polos, hanya gadis polos.
"Terus bisanya apa?" Nura memiringkan kepalanya.
"Bikinin anak! Puas?!" Rangga segera menarik tangan Nura menuju kantin. Daripada harus stres dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Nura. Bikin pusing tujuh keliling.
"Jadi, Abang bisa bikin anak? Wah ... bikinin Nura anak dong!"
DEG!
Semua sorot mata menatap kearah Rangga. Malu guys! Segera Rangga hentikan langkahnya, dan berbalik menatap Nura.
"Nura, jangan ngomong sepatah kata pun, oke?" Nura mengangguk. Rangga menghela nafas lega, kemudian melanjutkan perjalanan ke kantin.
Terlihat, Shela, dan ketiga teman Rangga sedang mengobrol, raut wajah mereka terlihat serius, entah apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Rangga langsung duduk, dan diikuti oleh Nura. Keempat human tersebut langsung terdiam, dan berhenti bicara.
"Kok, lo bisa sama Kak Rangga?" tanya Shela. Nura menggeleng, Shela menyerinyitkan dahinya.
"Kok diem? Jawab dong," Nura menggeleng. Entah apa yang merasuki gadis ini, biasanya ia akan rusuh seperti ayam betina yang baru saja bertelur.
"Lo kok diem? Ngomong oy!" ucap Rangga yang mulai kesal dengannya.
"Tadi 'kan, Abang bilang, kalau Nura nggak boleh ngomong. Jadi, Nura diemlah."
GUBRAK!
Rangga menepuk jidatnya. Rangga hanya menyuruhnya untuk tidak berbicara sepatah kata yang aneh.
"Astoge, gue nggak nyuruh lo buat diem kek gitu, Nura!" Nura hanya nyengir kambing, kami semua ikut menggelengkan kepala.
"Ah laper, Ibu kantin! Nura pesen satu ember bakso!"
"Hah?!" ucap kami serentak, mendengar ucapannya.
"Eh salah! Maksudnya satu mangkuk bakso!" teriak Nura lagi.
Bujubusyett!
Setelah memesan makanan, Nura segera melahapnya, begitupun Rangga yang sedari tadi makan. Laper guys!
Nura meminum kuah bakso tersebut hingga habis. Rangga menganga sempurna, lima mangkuk bakso sekaligus.
DAEBAK!
"Nyam ... kenyang!" Rangga saja satu mangkuk belum habis. Dan dia? Lima mangkuk sudah habis.
***
Rangga mengemas buku dan peralatan lainnya, dan memasukkannya kedalam ransel. Setelah itu, Rangga keluar dari kelas, dan berjalan menuju parkiran.
"Abang, pulang bareng aku yuk!"
"Mundur-mundur, gantengnya kelewatan batas."
"Gantengnya, ya Allah."
"Ya ampyun, jodoh gue lewat!"
Begitulah teriakan histeris dari beberapa siswi, ketika melihat Rangga lewat. Biasa, holang ganteng gitu lho. Hehe.
[Kak, gue udah pulang bareng temen-temen]
Rangga memutar bola mata malas, ketika mendapat pesan dari Shela. Rangga pun menaiki motor nya, dan melajukannya pelan. Dari jauh, terlihat Nura berjalan sendirian, apa mungkin, kakaknya tidak dapat menjeputnya? Ah yang benar saja, apa aku harus mengajaknya pulang?
"Ajak, nggak ya?" Rangga berpikir sejenak.
"Kalau gue biarin, nanti dia kenapa-napa gimana?" tanpa pikir panjang, Rangga pun segera menghampirinya.
"Oy Pinkky! Ayo naik," Nura menatap kearah Rangga, lalu segera menaiki motor nya. Rangga pun melajukannya pelan. Bukan karena apa-apa, hanya saja Rangga kasihan. Ingat para readers! Rangga tidak akan jatuh cinta padanya, ingat itu!
Tik tik tik bunyi hujan di atas genteng, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok diluar sana ... orang pacaran bubar semua.
Nyanyi terooss!
Hujan turun dan membasahi Rangga dan Nura, terpaksa Rangga harus berhenti di sebuah halte.
Hujan semakin lebat, kek hutan. Nura terlihat kedinginan, dan menggigil. Apa yang harus aku lakukan? Rangga ingat kejadian bersama Gea, apa aku harus melakukan itu?
Segera Rangha melepas jaket yang membalut tubuhnya, lalu memakaikannya pada tubuh Nura. Pakaiannya basah, dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Jangan sampai jiwa mesumku kumat! Jangan sampai! Hehe.
"Nura kedinginan," ucapnya. Ia masih saja menggigil.
Bujubusyett!
Harus gimana aku? Ah saus tar-tar! Satu cara, yang mungkin akan membuat kedinginannya mereda. Pelukan! tapi, apa aku harus melakukannya? Bingung ey bingung. Yaudah deh peluk yang baca aja kalau mau. Hehe, sini peyuukk! Canda elah.
__ADS_1
'Peluk, nggak ya? Peluk nggak?'