Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 15


__ADS_3

Nura terbaring dengan selang infus ditangannya, juga selang oksigen di hidungnya. Kepala dan tangannya masih diperban, sudah dua hari ini Nura tak kunjung sadar. Rangga tak bisa melihatnya dengan keadaan seperti itu, apalagi semua ini karena Rangga. Tuhan, apa Aku terlalu jahat telah memperlakukannya seperti itu? Sekarang Rangga menyesali semuanya.


"Kak," aku menoleh, mendapati Shela yang berlari dan memeluk Rangga erat. Terdengar isakan tangis darinya, ada apa ini? Kenapa dia menangis?


"Kak, Mami ...," Shela memotong ucapannya. Suaranya bergetar, seperti tidak mampu untuk bicara. Rangga mengelus kepalanya, mencoba untuk menenangkannya.


"Mami, Kak ... Mami sama Papi udah ninggalin kita!" Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Rangga langsung melemas, dan terjatuh begitu saja. Air mata tak terbendung lagi, dan kini membasahi pipi Rangga. Apa ini mungkin? Kenapa? Kenapa!?


"Gak, ini gak mungkin!" Shela semakin kencang dalam tangisnya. Rangga segera berdiri, meraih tangan Shela agar ikut berdiri. Dan dengan cepat, berlari keruangan tempat Mami dan Papi.


___


Rangga tak henti menitikkan air mata, Rangga terduduk lesu, mengusap lembut batu nisan yang bertulis nama kedua orang tua nya. Hidup Rangga hancur, tak lagi berarti.


"L-lo yang sabar yah," ketiga teman Rangga menepuk pundak Rangga.


Rangga kembali bangkit, menuntun Shela untuk kembali lagi kerumah sakit. Bagaimana pun Nura masih membutuhkan seseorang di sampingnya.


Rangga masuk kedalam ruangan Nura, menggenggam tangannya erat.


"Maafin gue, Ra. Gue mohon, lo bangun sekarang, gue mohon," lirih Rangga. Rangga sangat berharap ia bangun sekarang, Rangga ingin meminta maaf sebesar-besarnya untuk kesalahan yang Rangga perbuat padanya.


Ketiga temannya beserta Shela turut berada diruangan itu.


"Iya, Ra. Lo bangun, jangan tinggalin gue,apa lo gak mau nemenin sahabat lo ini?" ucap Shela yang berada di samping Rangga.


Sedikit demi sedikit, tangan mungilnya bergerak, Rangga mengusap sisa-sisa air matanya. Perlahan, mata Nura terbuka, Rangga bersyukur, terima kasih Tuhan.


Mata indah Nura menatap sekeliling, sesekali meringis kesakitan, karena lukanya. Ia menatap kami, mulutnya perlahan bergerak.


"Kalian siapa?"

__ADS_1


DEG!


Rangga berjalan perlahan, menaiki tangga satu persatu menuju atap rumah sakit tersebut. Pandangan Rangga lurus kedepan, tanpa peduli apa yang akan Rangga lakukan. Jujur, Rangga sangat lelah dengan semua ini, satu pikiran Rangha sekarang, ialah bunuh diri dan menyusul mereka. Beginikah rasanya kehilangan? Rangga sungguh menyesali semua perbuatannya.


Rangga alihkan pandangan kebawah, dimana para motor dan mobil berlalu lalang tanpa henti. Rangga tersenyum getir, apa ini jalan yang terbaik?


"Kakak!"


"RANGGA!" Rangga menatap kearah sumber suara, disana sudah ada beberapa pihak rumah sakit, Shela dan para teman-temannya.


"Kak, jangan tinggalin Shela, Shela mohon ...." lirih Shela dengan sesegukan.


"Ga, lo harus tenangin dulu diri lo!" hari ini Rangga tak peduli. Jangan menghalangiku sekarang.


"Jangan dekat-dekat! Gue titip Shela, gue bakalan pergi sekarang, gue mohon, jangan hentikan gue." Rangga tersenyum kearah mereka, kemudian menjatuhkan tubuh ini.


"Kakak!"


Rangga langsung terbangun, ketika kepala ini berhasil menyentuh lantai. Nafas Rangga tak teratur, keringat dingin bercucuran, dan jantung yang masih tak karuan berdetak.


Rangga memegangi wajahnya, mencubitnya dan membuat Rangga kesakitan. Kenapa aku ada dirumah? Apa tadi hanya mimpi? Bukannya aku sudah mati?


"Kalau beneran mimpi berarti ... Mami! Nura!" Rangga langsung berlari keluar mencari keberadaan dua wanita yang Rangga sayangi. Eh, jujur saja Rangga benar-benar menyayangi Nura sekarang.


"Mami!" Rangga berlalu kepelukan Mami, kemudian menangkup kedua pipi Mami Rangga yang tercuinta ini.


"Alhamdulillah, Mami masih hidup,"


PLAK!


Rangga memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat jitakan Mami.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Kesambet apaan kamu?" Mami menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tak apa, asalkan Mami masih hidup uyy!


"NURA!" Rangha berlari kearah Nura yang berjalan menghampiri kami dengan beberapa cemilan ditangannya.


Rangga memeluknya, mengusap pipinya, dan memutar-mutar tubuhnya. Apa dia baik-baik saja?


"Ra, gue siapa?" Nura menyerinyitkan keningnya.


"Abang Rangga," bahagianya Rangga, terima kasih Tuhan. Aku benar-benar bahagia.


"Kakak kenapa dah?" tanya Shela sambil sibuk menuruni tangga. Rangga nyengir onta, karena tak tempe harus menjawab apa.


Terdengar klakson mobil berbunyi, itu pasti Papi, pikir Rangga. Secepat kilat, Rangga pun langsung berlari keluar. Papi dengan gagah keluar dari mobil, ditambah kaca mata hitam yang ia pakai. Wah tampannya Papi Rangga, pantas saja Rangga juga sangat tampan, ya kan para readers?


Rangga langsung berlalu kepelukan Papi, Papi pun mengusap lembut punggung Rangga. "Papi baik-baik aja kan?" tanya Rangga. Papi hanya mengangguk dan tersenyum.


"Tumben kamu kek gini, kenapa sih?" tanya Papi. Mungkin Papi heran dengan tingkah Rangga.


"Lihat tu anakmu, Pi. Aneh banget sikapnya, tadi aja tiba-tiba meluk Mami," Rangga nyengir onta mendengar penuturan Mami.


Papi dan Rangga berjalan menghampiri Mami, Shela dan Nura yang berdiri di depan pintu.


"Niatnya sih, kalau Papi pulang, Mami yang bakalan meluk. Eh, malah kamu yang meluk duluan," Rangha terkekeh mendengar ucapan Mami. Rangga pun merangkul keduanya, sungguh aku tak ingin kehilangan mereka.


"Maafin anakmu yang tampan ini, ya. Emangnya Rangga gak boleh meluk kalian?" Mami dan Papi tersenyum, lalu memeluk Rangga. Ah sungguh indah dan nyamannya pelukan seorang Ayah dan Ibu.


"Shela cuman jadi nyamuk nih?" Mami dan Papi terkekeh, lalu merentangkan tangan dan Shela pun langsung berhambur kepelukan. Mami pun ikut merentangkan tangannya kearah Nura, Nura tersenyum lalu berhambur kepelukan kami semua.


#Bersambung


Note: Bryan hanya mimpi guys, bukan beneran. Jadi, yang merasa salah faham, bisa baca part sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2