
Aku berjalan masuk ke dalam rumah Nura yang bernuansa gold tersebut. Dindingnya dihiasi foto keluarga dan foto Nura, Arya yang masih kecil. Rangga tertawa kecil ketika melihat foto Nura yang sedang memakan ice krim, dan belepotan di mana-mana.
"Silahkan duduk," Arya mempersilahkan aku duduk. Segera, Rangga iyakan perintahnya.
"Adek gue nyusahin lo gak, dijalan?" tanya Arya sambil menatap Rangga.
"N-nggak kok," jawabku diiringi senyum pepsodent. Padahal dalam hati Rangga berkata. 'Nyusahin banget!'
"Alhamdulillah," Arya berucap syukur.
'Ting' aku melirik HP sejenak, lalu mendapati pesan dari Mamiku. Aku membulatkan mata sempurna, ketika mendapat pesan mematikan dari Mamiku sendiri. Kau tau apa isi pesannya?
[Rangga! Dimana kau?! Cepat pulang, atau Mami bunuh kamu!] begitulah pesannya. Jujur saja, Mami Rangga memang galak, bawel, operprotektif, dan satu lagi, sangat menakutkan.
"G-gue pulang dulu ya ... Assalamu'alaikum," Rangga segera pamit pada Arya, kemudian berlari keluar dari rumah tersebut.
***
Rangga mengendap-endap masuk kedalam rumahnya, menatap sekeliling, waspada atas keberadaan Mami. Setelah semua terasa aman, Rangga mengusap dada, dan bersyukur
"Alhamdulillah ... terima kasih ya Allah, kau telah menyelamatkanku dari kemarahan monster." Baru selangkah Rangga menaiki anak tangga, tiba-tiba ....
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud monster, sayang?!" Rangga membalik tubuhnya, dan mendapati sosok Mami yang sedang berdiri dan melipat tangannya. Mati aku!
"Eh, Mami. Sejak kapan disitu?" tanyaku, diiringi cengir kuda khasku. Mamiku tersenyum manis, lalu menghampiriku.
"Aaa, sakit sakit!" Rangga menjerit, ketika Mami tanpa kasihan menarik telinga Rangga.
"Ampun, Mi, ampun! Jan ditarik lagi, ntar copot telinga Rangga!" Rangga terus memohon pada Mami.
"Kemana aja kamu?! Pulang jam segini! Temen-temen kamu udah pada nunggu dari tadi!" Omel Mami. Dari atas, terlihat Arga dan Farell yang tertawa lepas melihatku.
"Iye, lepasin dulu nape! Sakit tau Mi!" Mami pun segera melepasnya.
Rangga terduduk sambil mengotak-atik HP nya. Tangan Rangga, kini sudah lelah, mengetik kata 'putus' pada pacar dan selingkuhannya. Rangga harus berdebat terlebih dahulu dengan mereka!
"Muka ganteng kek artis korea, dibilang kutu air! Mata lu katarak ya?" Rangga mendatarkan muka, mendengar ucapan Rian.
"Tau tuh! Lagian lu yang punya pacar, kenapa kita yang repot!" balas Farell tak kalah. Dasar temen pelit!
"Udah-udah, biar gue aja yang bantuin." Arga menghampiri Rangga. Wah, memang the best lah.
Lop lop untukmu!
__ADS_1
"Wah, lu emang sahabat gue yang ter ter terbaik dah, gak kayak mereka." Rangga memuji Arga, sambil menyodorkannya HP ku.
"Kok kasih gue HP?" Rangga menyerinyitkan dahi mendengar pertanyaannya.
"Kan lo mau bantuin gue," jawab Rangga sedikit heran.
"Iya, tapi bantuin ngelihat doang. Ya kali, gue mau ngetik!" Rangga mendatarkan wajahnya. Kenapa? Kenapa kau tega Roma!
"Bhahaha." Rian dan Farell tertawa lepas, sampai memegang perut dan berguling-guling.
"Tega kau Roma!" Dramaku dengan gaya lebay bin alay ala film jadul.
"Tidak Hani! Aku hanya malas ngetik Hani," Arga malah ikut memainkan drama. Wajahnya ia buat sedih, hingga membuatku menangis! Hehe.
"Sudah cukup kau beri aku harapan! Sekarang, pergi kau Roma! Aku tak mau melihat wajahmu lagi!" Drama terus berlanjut, hingga Rian menyahut.
"Roma kelapa." Sahut Rian.
"Ya Allah, kenapa gue harus punya sahabat kek mereka!" Rangga berteriak lebay.
"Seharusnya, lo bersyukur punya sahabat kek kita. Walaupun gak ada akhlak, bobrok, dan nyebelin, kita gak pernah tu, ninggalin lo disaat banyak masalah." Timpal Farell sok dewasa. Tapi, ada benarnya juga, mereka selalu ada walaupun tingkah mereka seperti orang gila bin kerusupan, eh maksudnya kesurupan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Allah, engkau telah memberikanku sahabat seperti mereka." ucap Rangga bersyukur.
"Nah, gitu dong."