Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 14


__ADS_3

Rangga bingung harus menjawab apa, bagaimana mungkin mulut lucknat Rangga ini memgeluarkan perkataan, yang mungkin tak bisa kutepati.


Sial!


"Eum ... I-iya beneran," jawab Rangga. Nura mengusap air mata yang berada di pipinya, lalu kembali tersenyum.


Kurasakan setetes air terjatuh mengenai hidung mancung Rangga, awan berubah menjadi mendung. Satu hal yang Rangga pikirkan saat ini, yaitu harus pulang. Kalau tidak, hujan akan membasahi kami sekarang.


Rangga tarik tangan mungil Nura, kemudian langsung menaiki motornya. "Ra, pegangan yang erat ya, gue mau ngebut!" Nura mengangguk, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rangga. Rangga pun melajukan motornya dengan cepat, sesuai perkataan Rangga tadi.


"AAUUOOO!" Nura berteriak dengan kencang, hingga membuat Rangga sedikit terperanjat. Teriakannya seperti tarzan lagi, hingga membuat Rangga ingin ngakak berguling-guling.


"Jan teriak, bego! Suara lo kek toa masjid!" Rangga ikut berteriak, jujur telinga Rangga sakit rasanya. Nih bocah apa setan sih? Ampun suaranya nyaring banget.


"Suka suka aing lah!" Sinis Nura, membuat Rangga terkekeh. Rintik demi rintik terjatuh mengenai kami, dan berubah menjadi hujan yang cukup lebat.


__


Baju Rangga sedikit basah ketika sudah berada di rumah. Dengan langkah cepat, Rangga menarik tangan Nura masuk kedalam rumah.


"Ya Allah, Ga. Kemana saja kamu? Kok kalian basah gini sih?" baru saja melangkah masuk, Rangga sudah dibanjiri dengan pertanyaan Mami.


"Eum ... anu, Mi anu," Rangga menggaruk kepala yang tak gatal, bingung harus menjawab Apa.


"Anu kenapa? Nura, kepala kamu kenapa, sayang?" Mami beralih menatap Nura.


"Mami, Nura kedinginan," lirih Nura dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Tapi bagus juga sih, bisa mengalihkan pertanyaan Mami yang berjibun.


Hamsok!


"Yaudah, Ga. Ambilin baju Shela buat Nura sana!" apa Rangga tak salah dengar? Mami lebih peduli dengan Nura dari pada Rangga yang anak kandungnya sendiri.


Rangga memanyunkan bibir nya. "Kenapa kamu manyun-manyunin bibir lima senti? Udah sana ambilin!" Rangga mendengkus kesal, sembari berjalan keatas mengambilkan baju untuk Nura.


___


"Ampun, gue lupa lagi! Tugas gue belom gue kerjain lagi!" Rangga segera berjalan meninggalkan Nura yang sedang menonton drama indosiar. Berjalan menuju ruang belajar di samping ruang keluarga.


"Abang, Nura ikut!" Rangga menarik nafas panjang, apa gadis ini akan selalu mengikutiku terus? Bahkan Rangga sudah merasa seperti induk ayam yang selalu diikuti anaknya.

__ADS_1


"Gue mau belajar, emang lo mau ikut?" Nura mengangguk, lalu mengikuti Rangga masuk ke dalam ruangan tersebut.


Rangga mulai mengerjakan soal-soal, sementara Nura, ntah apa yang ia tulis dibuku Rangga.


"Hooaam, Nura ngantuk!" Rangga melirik sejenak, melihat Nura menguap lalu menidurkan kepalanya di atas meja. Mungkin dia lelah? Atau dia bosan menunggu Rangga yang sedang mengerjakan tugas.


"Yaudah, lo tidur aja," suruh Rangga, dan kembali terfokus mengerjakan tugas sekolah Rangga.


"Hm, Nura tidur dulu ya," ucapnya lalu menutup matanya, dan mendengkur halus. Memang gadis aneh, tapi unik juga. Hehe.


"Selesai!" Rangga menutup buku tulisnya, kemudian, menatap kearah Nura yang sudah tertidur pulas. Rangga tersenyum, lalu memasang posisi seperti Nura, dan menatap wajah cantik, nan lugunya.


'Kalau dilihat-lihat, nih cewek cantik juga, imut lagi,' batin Rangga. Lama-lama kuperhatikan wajahnya, membuat Rangga semakin mengantuk, secara pelan Ramgga pun memejamkan matanya.


__


Rangga terbangun, menatap kearah Nura yang masih terlelap. Rangga tersenyum, mengelus pipinya dan menciumnya. Jujur, Rangga sudah tak tahan melihat wajah imutnya ini.


Nura sedikit terusik, lalu membuka matanya perlahan, dan tersenyum menatap Rangga. Nura mengusap lembut kepala Rangga, membuat Rangga terasa aneh dengan sikapnya.


"Nura, sayang Abang. Jangan tinggalin Nura sendirian," Nura mendekat kearah Rangga, lalu memeluk Rangga erat.


DOR!


Rangga langsung terperanjat, mendengar suara tembakan dari arah luar. Rangga dan Nura segera berlari keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi disana.


Tubuh Rangga mendadak melemas, lututnya seakan tak mampu untuk berdiri. Rangga terjatuh, kenapa ini terjadi? Siapa, siapa yang melakukan semua ini?! Mami, dan Papi, sesosok orang yang Rangga sayang, saat ini sudah tergeletak di lantai dengan bersimpuh darah. Sementara, pelakunya sudah berlari keluar.


Dengan sekuat tenaga, Rangga berlari kearah keduanya. Menangis dengan sekencang-kencangnya, memeluk tubuh keduanya.


___


Rangga membuka mata perlahan, mendapati diri berada di ruangan serba putih nan bersih ini. Rangga tatap ada Ketiga temannya, sedang berdiri di samping Rangga. Rangga langsung berlari keluar, mencari keberadaan kedua orang tua ku.


"Nura, Mami gue mana? Papi gue juga mana?" Rangga bertanya tanpa henti. Nura segera berlalu kepelukan Rangga, membuat Rangga terdiam.


"Mami sama Papinya Abang lagi ...," Nura menghentikan ucapannya, ketika terdengar isakan darinya.


"K-kenapa? Mami kenapa?" Nura mendongak kearah Rangga. "Mereka lagi diurus, kita nunggu aja ya. Semoga mereka bisa terselamatkan," Rangga menitikkan air mata. Tuhan, kenapa? Kenapa ini terjadi padaku.

__ADS_1


Nura menghapus air mata Rangga, sejak kapan gadis ini berubah dewasa? Kemana ia bawa sikap polosnya itu? Nura tersenyum kearah Rangga.


"Yaudah, nura ketoilet bentar ya. Nanti Nura nyusul ke ruangan kamu," Nura berjalan meninggalkan Rangga. Rangga pun segera kembali kedalam ruangan itu. Entah sejak kapan ada luka di kepala Rangga.


Rangga melihat teman-temanku sedang terduduk dengan pipi yang basah. Mungkin mereka turut merasakannya.


"Siapa yang ngelakuin ini sama mereka!?" Farell bertanya penuh emosi, tangannya berkepal.


"Gue juga gak tau, orangnya langsung pergi ketika lihat gue. Pokoknya gue akan balas perbuatan mereka!" geram Rangga. Ketiganya mengangguk, lalu menepuk pundak Rangga bersamaan.


"Ga, gimana sama Nura? Lo mau masih bertahan?" Mereka membicarakan hal lain, mungkin sengaja agar Rangga sedikit lebih melupakan apa yang terjadi.


"Gue juga gak tau, gue mau terus bertahan apa nggak. Nura cuman pacar tantangan dari kalian kan? Ntahlah, gue gak tau," jawab Rangga. Sedikit tak rela jika kehilangan gadis itu.


BRAK!


Kami semua sontak menatap kearah Nura yang sedang berdiri, menjatuhkan sebuah napan berisi makanan. Nura nampak berkaca-kaca, bulir bening jatuh melintasi pipinya.


"J-jadi, selama ini kalian jadiin Nura sebuah objek tantangan? Nura pernah buat salah apa sama kalian? Kenapa kalian tega sama Nura? Nura benci kalian!" Nura berlalu pergi meninggalkan kami yang masih tertegun. Merasa bersalah dengan apa yang telah Rangga lakukan.


"Gimana ini? Kalau Nura kenapa-kenapa gimana?" Gue langsung bangkit, berlari kembali mengejear Nura. Gadis mungil itu terus berlari.


"Nura, tunggu!" Nura tak menghiraukan teriakan Rangga.


Rintik-rintik berjatuhan, mengenai diri Rangga yang masih berlari. Rangga menahan tangan Nura, Nura memberontak ketika Rangga memeluknya erat.


"Lepasin Nura! Nura benci kamu!" ucapnya dengan isakan.


"Dengerin gue dulu, Ra!" Nura berhenti menangis.


"Awas!" Nura melepas pelukannya, dan mendorong tubuh Rangga menjauh darinya.


Rangga memegangi kepalanya, darah segar mengalir dari kepala Rangga. Kepala Rangga terbentur akibat Nura mendorong Rangga dengan keras.


BRUK!


Rangga membulatkan mata sempurna ketika mobil menabrak, hingga membuat tubuh Nura terpental.


"NURA!"

__ADS_1


__ADS_2