
Rangga masih setia mondar-mandir didalam kamarnya, hati Rangga merasa sangat tidak tenang. Setelah 2 hari berlalu, ketiganya tak pernah menghubungi Rangga, entah mereka bisa atau tidak, karena harapan Rangga hanya mereka sekarang.
"Duh, mereka gimana sih? Kasih kabar kek, atau apalah!" Rangga sangat-sangat khawatir, mungkin beberapa jam lagi, Rangga sudah menjadi suaminya Geea. Rangga mengambil ponsel dan mencoba menghubungi mereka, namun selalu saja ada perempuan yang berbicara.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi." Rangga melempar ponselnya keatas ranjang, dan mengacak rambut frustasi.
"Ga, kamu udah siap-siap?" tanya Mami dari arah pintu.
"Iya, Mi. Ini Rangga mau siap-siap!" balas Rangga.
"Cepetan ya, ada orang yang mau ketemu sama kamu," Rangga menyerinyitkan dahi, siapa? Siapa yang ingin bertemu dengan Rangga sepagi ini? Dengan cepat, Rangga memakai setelan baju putih, dan jas hitam tersebut. Rangga tatap dirinya dipantulan cermin.
"Maafin gue, Nura. Gue udah berusaha untuk mencegah pernikahan ini, gue nggak tau akhirnya kek gimana," lirih Rangga beserta nafas berat yang Rangga hembuskan. Kembali Rangga keluar kamar, menuruni anak tangga untuk menemui seseorang tersebut. Kira-kira siapa ya?
Diruang tamu tidak ada, berarti orang itu berada diluar, pikir Rangga. Rangga membuka pintu keluar, hatinya kembali merasa nyeri, melihat sesosok gadis polos sedang berpelukan dengan Mami. Dengan langkah perlahan, Rangga menghampiri mereka, Melihat kehadiran Rangga, Mami pun bangkit dari duduknya, dan berjalan masuk.
Kini hanya tinggal Rangga dengannya, ragaku, ingin sekali memeluknya, jujur saja, Rangga sangat merindukannya. Rangga terduduk disampingnya, menatap lekat matanya. Nura mengusap air matanya, lalu tersenyum kearah Rangga.
"H-hai A-abang," sapanya.
"Hai juga," entah sejak kapan keadaannya menjadi canggung. Rangga tak bisa berkata-kata lagi.
"Nura benci sama Abang, tapi kata Kak Arya, Nura gak boleh kek gitu. Nura boleh minta sesuatu nggak?" tanyanya dengan wajah polosnya.
"Boleh, Nura mau minta apa?" tanya Rangga lagi.
"Boleh gak Nura lihat wajah Abang untuk terakhir kalinya?"
DEG!
Serasa tersambar petir di siang bolong, terakhir? Kenapa harus terakhir? Nura menatap wajahku, satu senyuman membentuk dibibir mungilnya itu.
"Terakhir gimana?" tanya Rangga.
"Nura disini cuman mau pamit sama Abang dan Mami. Katanya, Kak Arya marah sama Abang karna gak bisa jagain Nura, bahkan Kak Arya pengen mukulin Abang, tapi Nura gak mau lihat kalian bertengkar! Jadi Nura gak bolehin," jelasnya.
"Orang tua Nura pun udah berpisah, sekarang Mamanya Nura udah sayang sama Nura, dia bilang, kalau dia minta maaf atas perlakuannya sama Nura. Makanya itu, Nura dan Kak Arya akan pindah dari sini,"
DEG!
__ADS_1
Lagi-lagi hati Rangga merasakan nyeri, ternyata Nura akan pergi, dan Rangga takkan pernah melihat wajahnya lagi.
"Yaudah, Nura pergi dulu ya Abang." Nura bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi. Tangan Rangga segera menahan tangannya, ia terdiam, Rangga pun ikut bangkit dan membawanya kepelukannya. Tangis Nura pecah.
"Lo gak boleh pergi, Nura. Maafin gue Nura, gue gak tau harus berbuat apa, gue bingung," Rangga tak bisa menahan apa yang selama ini Rangga tahan.
"Gue sayang sama lo! Tapi, gue gak tau harus gimana," jelas Rangga. Nura memberontak dalam pelukan Rangga.
"Kita tetap berteman," ucapnya.Setelah pelukan tersebut ku lepas, Nura segera berlari kecil dan melambai-lambaikan tangannya kearah Rangga.
Rangga hanya bisa kaku, dengan perasaan bersalahnya. Rangga mencintainya, tapi Rangga juga harus melepaskannya.
...
Mobil terparkir di halaman rumah Gea, rumah tersebut sangat ramai dipenuhi para tamu, rumahnya pun terhiasi dengan berbagai hiasan.
Rangga masuk kedalam rumah megah nan besar tersebut, didampingi oleh kedua orang tua nya dan Shela. Rangga pun terduduk di hapadan penghulu, hati Rangga merasa tak tenang. Semua sorot mata menatap kearah Gea yang sedang menuruni tangga, wajahnya cukup cantik dengan make up. Gea duduk disamping Rangga dan melemparkan senyumnya.
Acara ijab qobul pun dimulai, Rangga menjabat tangan penguhulunya. Setelah penghulunya mengucapkan kata-katanya, kini tinggal Rangga.
"S-saya terima nikahnya, Gea binti David Revindra dengan seperangkat alat sholat di bayar ...," Rangga tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Gea binti David Revandra, dengan seperangkat alat sholat dibayar--"
"BERHENTI!"
Rangga terkejut, mendengar teriakan tersebut. Semua orang ditempat itu pun menoleh kearah sumber suara. Rian, Farell, dan Arga disana, dengan membawa seorang pria dan teman Gea yang bernama Sinta. Gea sempat menutup mulutnya, mungkin dia tak percaya dan terkejut.
"Pernikahan ini gak bisa dilanjutkan! Karena pada dasarnya, sahabat gue gak bersalah atas Gea!" Farell membuka percakapannya, ternyata mereka berhasil.
"Nak, ada apa ini? Siapa yang kamu bawa?" tanya Mami.
"Seharusnya, yang nikah sama Gea itu dia, bukan Rangga," ucap Rian menjelaskan.
"Apa-apaan ini?! Kenapa kalian merusak pernikahanku?!" teriak Gea tak terima, ia pun berdiri dengan tangannya yang menggenggam. Rangga pun ikut berdiri dan menepuk pundaknya.
"Ini adalah kebenarannya Gea, gue udah tau semuanya atas rencana yang lo buat!" tegas Rangga seraya tersenyum miring bak psytopat, eh psycopath.
"Apa-apaan ini?! Apa semua ini? Jangan menggunakan orang lain untuk lari dari tanggung jawabmu!" gertak Om Dav sambil menunjuk Rangga. Tapi, ini semua bukan salahku kan?
__ADS_1
"Kalau Om gak percaya, kami ada rekaman CCTV di hotel tersebut, karena gadis ini sendiri yang memasangnya," ujar Farell.
"Kami juga punya rekaman, dimana Gea dan cowok ini sedang berbicara disebuah cafe, kemarin mereka bertemu dan membicarakannya," sahut Rian.
"Kami berdua sudah melakukan hal yang sangat kelewatan batas, saya hanya takut untuk bertanggung jawab. Izinkan saya untuk menebus kesalahan saya," jelas pria itu.
"Kalau Om gak percaya lagi, silahkan tanyakan kepada anak Om," sahut Rangga. Om Dav menatap kearah Gea, meminta penjelasan gadis licik itu.
"Apa bener? Jawab Papa?!" gertak Om Dav.
"M-maafin Gea, ini semua benar," ungkap Gea disertai tangisannya. Om Dv menghela nafasnya.
"Huft, pernikahan Rangga dan Gea akan dibatalkan, namun pernikahan Gea denganmu harus dilaksanakan," ucap Om Dav seraya menatap pria tinggi tersebut. Lega, hati Rangga sungguh lega, mereka memang terbaik.
"Woii, dugong! Lo kok diem aja, kejar Nura sonoh!" Rangga mengangguk mendengar ucapan Arga, segera Rangga berlari keluar.
"Pinjem mobil lo!" Arga memberikan kunci mobilnya, dan Rangga pun langsung pergi. Semoga saja Rangga sempat mencegah kepergian Nura.
Mobilnya kulajukan dengan cepat menuju rumah bercat putih tersebut, Rangga benar-benar ingin memeluknya sekarang. Oh gadis polosku, tunggu aku.
Setelah sampai, Rangga pun keluar dari mobil tersebut. Pagarnya tertutup rapat, apa dia sudah pergi?
"NURA!" teriak Rangga, namun tak ada ada sahutan darinya. Tidak! Dia tidak boleh pergi! Rangga terus saja berteriak, sampai ada seorang pembantu keluar dari rumah tersebut.
"Maaf, Den. Kamu cari Non Nura?" Rangga mengangguk, sang pembantu terlihat menghembuskan nafasnya berat. "Non Nura udah pergi 1 jam yang lalu, katanya mau pindah, tapi saya nggak tau pindahnya kemana," jelasnya.
Rangga kaku, penyesalan kini menyelimuti dirinya. Ingatan bersamanya kembali berputar dikepala Rangga, apa ini akhir dari segalanya? Aku bodoh!
...
Rangga berjalan gontai memasuki rumah, seharian ini Rangga mencari keberadaan Nura, namun tak pernah ada hasil sama sekali. Dengan tatapan kosong, Rangga memasuki rumah tersebut.
"Gimana?" tanya Arga yang terduduk di sofa. Rangga menghempaskan tubuhnya di sofa, dan menggeleng pelan.
"Gue udah terlambat, Nura udah pergi dan gue gak tau kemana. Gue udah cari diberbagai tempat, tapi gak ketemu," jelas Rangga frustasi. Semua adalah salahku, aku terlalu jahat untuknya.
"Kita semua bakalan bantuin lo buat cari Nura sampai ketemu," ucap Rian, dan diangguki oleh afarell dan Arga.
'Nura, lo kemana sih? Gue kangen ama lo,' batin Rangga.
__ADS_1