Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 13


__ADS_3

Makanan sudah terhidangkan di atas meja, dengan cepat, kami semua pun langsung duduk dan menyantap makanan buatan kami sendiri. Waktunya untuk memberi makan cacing pita, uhuuy!


"Wah, rasanya seperti anda menjadi ironman!" ucap Farell di sela-sela mengunyah makanannya.


"Yoi, siapa dulu yang masak? Gue gitu lho," ucap Rian kepedean. So what? Sedari tadi kami masak, hanya akulah yang paling repot, dan dengan mudahnya Rian bilang masakannya? Keterlaluan kau Roma!


"Kalian jan pada banyak omong napa! Makan ya makan!" kesal Rangga, hingga membuat mereka bungkam.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara langkahan kaki masuk kedalam rumah. Suara cemprengnya itu, menunjukkan bahwa ia adalah Mami Rangga tercuinta.


"Wa'alaikumussalam ... kebetulan Tante baru pulang, ayo Tan, kita makan sama-sama," ajak Arga sok manis, dengan senyum yang memperlihatkan gigi ginsulnya.


"Iya, Tan. Ini semua kita yang masak," sahut Farell.


"Maaf ya, Sayang-sayangnya Mami yang paling kyud, dan handsome, Tante sekarang lagi diet, jadi gak mau makan yang berlemak-lemak." Rangga langsung terbatuk mendengar ucapan Mami, kulirik ketiga kutu kupret tersebut yang menganga, sampai makanan yang mereka makan keluar kembali.


"Diet? Diet itu apa? Makanan kah?" Rangga menepuk jidat mendengar pertanyaan polosnya itu. Diet? Apa dia tidak tau? Seharusnya, gadis seumuran dia, tak akan sepolos ini.


"Eh, sayang. Kamu nggak tau?" Nura menggeleng. "Diet itu, seperti menurunkan berat badan gitu, sayang," Nura mengangguk-angguk paham.


"Aduh, Mami. Gak usah diet kalik, gini yah, walaupun Mami gendut kek sapi pun, Papi gak bakalan berpaling kok," Mami langsung melotot mendengar perkataan Rangga. Tatapannya, seperti ingin menerkam Rangga hidup-hidup, semoga saja nggak beneran.


"Enak aja kamu, bilangin Mami kek sapi! Mau Mami kutuk kamu jadi batu, kek Maling Kondangan?" Ampun neng jago!


"Malin Kundang, Tan. Bukan Maling kondangan," kini Farell membenarkan perkataan Mami yang bisa di bilang salah. "Oh iya, itu. Malin Kundang maksudnya," ucap Mami membenarkan perkataannya.


"Eh, jangan dong, Mi. Kalau Rangga dikutuk jadi batu gak ada manfaatnya, mendingan dikutuk jadi emas aja, kan bisa dijual!" Mami menepuk jidatnya, sesekali menghembuskan nafas kasar. Mungkin sudah lelah dengan sikap kami yang sudah seperti orang gila ini.


"Dah ye, Mami masuk dulu. Dari pada Mami ladenin kalian, yang bisa buat Mami gila, kan gak ada faedahnya," Mami berjalan pergi menaiki anak tangga, langkahnya terdengar sampai ia sudah berada diatas.


Setelah memperhatikan Mami yang sudah pergi, Rangga berbalik menyantap makanan. Omaigot! Omaino! Omaiwhay! Dengan sekejap, makanan banyak yang tadinya tersedia dimeja, kini sudah habis pesat dimakan oleh keempat human ini. Sementara, Rangga? Rangga baru saja memakan sesendok nasi dan satu potong ayam.


Vangke.


...


Rangga berjalan menaiki tangga, berniat untuk mengganti seragam sekolah nya yang sudah penuh dengan keringat berbau masam. Ketiga teman Rangga sedang bersantai diluar, dan Rangga meminta mereka untuk menunggu nya. Satu persatu ku lepaskan kancing baju Rangga, lalu melempar seragam nya entah kemana.


Ceklek!

__ADS_1


"Aaaa!" Sontak aku menutup dada Rangga dengan kedua tangan yang menyilang. Menatap kearah gadis polos yang sedang berdiri dengan mata yang tak perkedip.


"L-lo ngapain masuk!?" tanya Rangga. Nura tak menjawab, ia malah berjalan lebih dekat. Telunjuk mungilnya tampak menyentuh perut Rangga.


"Ini, apa? Kok kayak roti? Abang habis nelen Roti ya?" tanyanya. Oh ayolah, itu roti sobek Rangga, apa dia tidak pernah melihatnya.


"Wah, hebat! Apa boleh dimakan?" Geram, kesal, greget. Ingin sekali Rangga memakannya hidup-hidup. Sedari tadi ia hanya berpikir makan, makan, dan makan. No! Ini tidak bisa dimakan markonah!


Rangga kembali menuruni tangga, dengan baju yang sudah diganti. Bau parfum khas korea melekat di baju Rangga, lalat yang lewat pun bisa pingsan menciumnya.


Eeaak.


Bujubusyett!


Rangga membulatkan mata sempurna, melihat ketiga teman nya terikat, dan Nura menyuapinya makanan ringan. Ingin tertawa, tetapi kasihan juga. Ditambah dengan rambut yang disisir kedepan, dan bedak bayi setebal tembok, beserta lipstik di pipi dan bibir mereka.


"Busett, lo apain temen gue, Markonah?" Nura menatap Rangga, seraya tersenyum.


"Tadi Nura bosen. Biasanya, kalau Nura bosen, Nura bakalan main boneka. Tapi, disini nggak ada boneka, jadinya Nura main ama mereka," Nura menunjuk ketiga teman Rangga, mulut mereka penuh dengan makanan. Ha, rasakan itu!


"Tolongin, kita woy!" ucap Farell walaupun mulutnya penuh dengan makanan.


"Gue pergi dulu ya, pay pay," Rangga melambaikan tangan sebelum Rangga pergi. Ketiganya tampak sangat kesal, sambil memberikan tatapan tajamnya, setajam omongan tetangga.


"Awas ya lo! Lepasin dulu nih!" Rangga tak menghiraukan ucapan mereka. Biarkan mereka tau rasanya ketika bersama Nura.


Hahaii, seneng gue!


...


Rangga menghentikan motor nya didepan gerbang rumah Nura. Nura segera menuruni motor Rangga, dan langsung memasuki rumahnya, tanpa ia sadari, kalau helm yang Nura kenakan belum ia lepas.


"Eh, tunggu-tunggu!" Nura membalikkan badannya menghadap Rangga. "Helmnya belum lo lepas, Nura." Sambung Rangga.


"Oh iya. Lupa, hehe," Nura nyengir onta tidak jelas, lalu kembali berjalan menghampiri Rangga. Rangga geleng-geleng kepala, lalu melepas kan helm yang ia kenakan. Kau tau kan? Nura tak bisa melepas helm.


Setelah itu, Nura kembali berjalan masuk kedalam rumahnya. Suasana rumah bercat putih ini sangat sepi, tak seperti rumah Rangga.


Rangga mengambil helm nya lalu memakainya, saat hendak menyalakan motor Rangga, tiba-tiba saja terdengar kericuhan.

__ADS_1


PRANG!


BRUK!


Suara benda pecah terdengar dari arah rumah Nura, ada apa disana? Rangga berusaha tidak peduli, dan menepis pikiran yang tidak-tidak.


PRANG!


Sungguh, prasaan Rangga selalu teringat akan gadis itu. Apa dia baik-baik saja disana? Tanpa pikir panjang, Rangga pun segera berlari kecil masuk kedalam rumah tersebut. Tanpa Rangga pedulikan, ini rumah siapa, dan siapa Rangga.


"NURA!" perkecohan itu langsung terhenti. Wanita dan pria paruh baya itu menatap kearah Rangga. Rangga kaku, sementara Nura, terduduk dilantai, sambil memegangi pipinya. Apa dia ditampar? Keningnya pun sedikit merah, apa dia terbentur?


"Siapa kau? Kenapa kau ada disini?" pria paruh baya berpakaian kantor tersebut bertanya pada Rangga. Rangga tak menjawab, kaki melangkah begitu saja kearah Nura.


Nura terisak, ia menangis sejadi-jadinya. Entahlah, Rangga tak tega melihatnya menangis seperti ini. Aku kenapa? Kenapa aku sepeduli ini?


"Lo gapapa, kan?" bagaimana mungkin pertanyaan ini keluar dari mulut Rangga. Padahal sangat jelas Nura terluka. Bego!


"Beraninya kau masuk kedalam rumahku! Berhenti kau!" Rangga tak peduli, segera Rangga membantu Nura berdiri.


"Kenapa kalian, melukai anak kalian sendiri? Apa salahnya?" tanya Rangga.


"Apa pedulimu? Lagi pula, aku tak pernah menginginkan anak dari wanita ini!" pria tersebut, menunjuk wanita yang berada didepannya. Wanita tersebut terlihat berkecamuk dengan amarahnya.


"Aku juga tak pernah menginginkan, menikah dengan pria sepertimu!" suara wanita itu terdengar meninggi. Ah Rangga tak peduli, Rangga pun segera menarik tangan Nura pergi dari rumah bak neraka ini.


...


Rangha melajukan motornya jauh dari tempat itu. Kurasakan Nura memeluk Rangga sangat erat, punggung Rangga terasa basah, mungkin ini akibat hingus atau air matanya.


"Huaa! Sakit!" Nura berteriak, ketika Rangga menempelkan handsaplas dikeningnya. Apa yang telah diperbuat kedua orang tuanya, hingga anaknya seperti ini.


"Iya ini, udah. Jan nangis lagi ya, cup cup cup," Rangga mengusap kepala Nura agar dia berhenti menangis. Biasanya anak kecil akan berhenti menangis ketika diperlakukan lembut.


"Abang, Nura takut!" Nura berhambur kedalam pelulan Rangga. Rangga terkejut, tapi, mau tak mau Rangga harus membalas pelukannya, Rangga tau dia sedang takut sekarang.


"Nura jan takut dong, kan ada Abang. Abang bakalan jagain lo kok," Nura mendongak menatap Rangga, Rangga menutup mulut nya. Kenapa Rangga mengeluarkan perkataan itu?


"Beneran?"

__ADS_1


__ADS_2