
'Peluk, nggak ya? Peluk nggak?' cukup roma aku tak tahan. Segera Rangga tarik tangan Nura, dan membawanya ke KUA, eh maksudnya ke dekapannya, tak lupa sesekali meniup tangannya agar hangat.
Setelah beberapa menit, hujan berhenti turun, tubuh Nura tak bergerak sama sekali.
"Nura, bangun. Hujannya udah reda nih." ucap Rangga dengan lembut, Nura tertidur pulas dalam dekapan Rangga. Rangga mengukir senyum tipis, mencubit pipinya gemas. Ternyata imut juge hehe, dicium boleh kagak ya? Eh, Rangga singkirkan pikiranmu itu! Ayolah, jangan ketularan aneh seperti Nura.
"Achim!" Nura langsung tersadar, mengusap hingus yang keluar dari hidungnya. Apa gadis ini sakit? Rangga letakkan tangannya di keningnya.
OMAIGOT!
Tubuhnya panas, ah yang benar saja! Segera Rangga ajak dia pulang, agar kondisinya tidak semakin buruk. Rangga, apa pedulimu? Sudahlah!
***
"Ya Ampyun! Non Nura!" Seorang wanita paruh baya menghampiri kami, raut wajahnya terlihat khawatir. Dari penampilannya, dia adalah seorang pembantu dirumah Nura.
"Bibi khawatir, sama kamu. Yaudah, ayo masuk, Non," Nura menatap Rangga lalu tersenyum, dan memperlihatkan lesung pipinya. Jan senyum, diabetes gue weyy!
"Makasih, udah anterin Nura,"
CUP!
Emak! Pipiku ternodai karena gadis itu! Nura masuk kedalam rumahnya, setelah mencium pipi Rangga. Pembantu tersebut nampak terkejut, sampai tidak berkedip.
Kenapa Bi? Mau cium juga? Hehe.
Rangga kembali menaiki motor, melajukannya hingga sampai di depan rumah. Rangga memasukinya, seperti biasa, berjalan hati-hati agar tidak ketahuan Mami.
"Rangga! Kenapa kamu basah, Nak? Kamu gapapa?" Mami menghampiri Rangga, memutar tubuh Rangga beberapa kali, hingga membuat Rangga pusing tujuh keliling.
"Mami! Jan puter-puter! Rangga kan jadi pusing!" Mami menempelkan punggung tangannya di kening Rangga, lalu memukul lengan Rangga.
Sakit ... sakit ...sakitnya tuh disini ....
Tuhkan keterusan nyanyi! Yaelah.
"Ya Allah, kamu ini dibilangin ngeyel banget sih! Kalau langit sudah mendung, pulang cepetan!"
"Dan kalau hujan sudah jatuh, jangan larang ia jatuh kebumi ...."
PLAK!
Rangha meringis kesakitan, tatkala mendapat jitakan dari Mami. Mami menatap Rangga tajam, menarik tangannya, dan berjalan menuju kamar Rangga.
Mami menghempaskan tubuh Rangga kekasur. Mami tega! Sakit ey, tulangku serasa remuk. Beginilah jadinya, kalau melawan monster, apalagi monster betina. Untung saja Mami tidak PMS, jika PMS mungkin Rangga akan dijadikan sate untuk makan malam nanti. Ngeeeerrriiii!
"Ganti baju! Habis itu makan, minum obat, dan istirahat! Kamu nggak boleh keluar kamar, kalau belum istirahat! Kalau keluar juga, Mami jadiin kamu pepes!"
"Mi, jangan galak-galak dong. Nanti cepet tua, baru tau rasa, Papi gak bakalan tertarik lagi sama Mami, mau?" ucap Rangga. Bukannya berhenti marah, Mami malah semakin mengamuk.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Tua?! Hello, gini-gini Mami juga pernah bikin Papi kamu ngejar-ngejar Mami. Dan, kalau pun Papi cari yang lain, Mami bakalan bunuh Papi beserta kamu!"
Duuaaarrr!
Mami menuntup dengan keras pintu kamar Rangga. Galaknya minta ampyuun. Hehe, maapkeun anakmu yang tampan ini, Mami.
Setelah beberapa menit, Mami datang kembali, membawa makanan dan minuman. Mami duduk di kursi samping ranjang, menyendok nasi, kemudian memasukkannya kedalam mulut Rangga.
Nyam ... Suapan Ibu emang nggak tertandingi dah pokoknya. Walaupun pakai sendok, tapi tetep nikmat. Hehe.
"Ga, kapan dewasanya sih? Udah gede juga, masih aja kek bocah." Ucap Mami dengan lembut. Enak banget kalau Mami perhatian dan nggak marah-marah seperti biasa.
"Ya, tunggu besok pagi aja, pasti Rangga dewasa kok," Mami menggelengkan kepalanya, sambil terus menyuapi Rangga. Setelah itu, Mami membereskannya, dan keluar dari kamar Rangga, kemudian kembali lagi membawa obat. Apa?! Obat!
"Minum obatnya!" Inilah hal yang paling tidak kusukai. Minum obat? Pahit guys, seperti percintaan Rangga, apa lagi obatnya besar-besar. Rasanya seperti anda menjadi ironman. Ngakak!
"Nggak mau!" Spontan Rangga menutup mulutnya dengan kedua tangan. Namun, usaha Rangga sia-sia ketika Mami mengancam.
"Kalau kamu nggak minum obat, Mami potong uang jajan kamu!" Jangan Roma!
***
"Tuhan tolong Rangga ... tolong jaga dia ... tuhan Rangga sayang, dia ...." suara lantunan gitar menenangkan hatinya, apalagi dengan suara Arga dan Rian yang bagus seperti artis.
Eeeaaakk.
Mereka semua bernyanyi di dalam kamar Rangga. Sementara, Rangga terbaring di ranjang, mendengarkan mereka bernyanyi.
BujuBusyett!
Rangga tertawa melihatnya. Yap, begitulah mereka, walaupun nyebelin, gila, dan bobrok, tetapi mereka mampu membuat Rangga tertawa di saat Rangga bersedih.
Yap, itulah sahabat. Orang yang mampu membuatmu tertawa ketika sedih, dan tidak meninggalkanmu ketika kamu banyak masalah. Dan! Bukan mereka yang datang di saat butuh, dan pergi disaat bahagia.
Fucek itu mah!
"Aku akan mencintaimu, pada waktunya" ~Rangga Wijaya.
"Ga, bangun! Udah subuh ini!" Rangga terbangun mendengar suara cempreng dari Mami, segera Rangga menutup ketiga eh maksudnya kedua telinga dengan bantal.
"Lima menit lagi, Mi," berat rasanya untuk sekedar membuka mata. Maka dari itu, pilihan terbaik adalah kembali tidur.
Kalian tahu kan? Shalat subuh datang tatkala manusia sedang beristirahat, tatkala mereka sedang dalam kondisi tenang, dan menginginkan untuk tetap berada di atas tempat tidur mereka. Maka berat bagi sebagian jiwa untuk bangun dari tempat tidurnya dan mengerjakannya.
Tapi, tahukan kalian? Rasulallah pernah bersabda yang artinya ....
"Barang siapa yang mengerjakan shalat subuh, dan shalat ashar, dia pasti akan masuk surga."
Jadi, paham kan?
__ADS_1
"Bangun, Ga. Kita sholat berjama'ah, ayok!" Rangga pun bangkit dari tidur nya, mengumpulkan kesadaran yang belum terkumpul.
"Mmm ... iya, Mi,"
"Yasudah, Mami tunggu di musholla." Mami berjalan keluar dari kamar Rangga, Rangga pun segera beranjak dari tempat tidur nya.
.
Selesai sholat subuh, Rangga pun bersiap-siap untuk bersekolah. Rangga menuruni anak tangga satu-persatu menuju ruang makan untuk sarapan.
"Morning Mami!" Rangga mencium pipi Mami, lalu duduk di kursi. Mami menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah Rangga. Hehe.
"Shela sama Papi kemana?" tanya Rangga, yang tak melihat sesosok Shela dan Papi.
"Udah jalan duluan. Katanya, Shela males berantem sama kamu pagi-pagi," jelas Mami. Rangga mengangguk-angguk paham.
Terlihat Bi Astri yang sedang berjalan kearah kami, gombalin aahh.
"Bi, mundur-mundur!" Bi Astri menyerinyitkan dahinya. Lalu memundurkan langkahnya, menuruti perintah Rangga.
"Emangnya kenapa, Den?" tanyanya.
"Cantiknya kelewatan."
Ciiaahh!
Bi Astri tersipu malu guys, sampai-sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kamu ini, gombal mulu. Ntar kalau Bi Astri baper gimana? Emangnya, kamu mau nikahin Bi Astri?" tanya Mami sambil menahan tawanya.
Bujubusyett!
Apa jadinya jika Rangga, cowok tertampan disekolah akan menikah dengan pembantu nya sendiri.
Breaking news!
Seorang pelajar tampan, telah membuat pembantu dirumahnya menyukainya dengan gombalan mautnya, dan terpaksa harus menikahinya.
Vangke!
Ngadi-ngadi aja nih pikiran.
Setelah selesai sarapan, Rangga pun pamit pada Mami tercuinta, kemudian berjalan keluar, menaiki motornya dan melajukannya pelan.
"STOP!" Rangga menghentikan motornya, ketika segerombolan kaum hawa menghalangi jalan Rangga. Kalian tau siapa? Mantan pacar Rangga beserta para gebetan yang mungkin tak terima, harus menjauh dari Rangga.
Mampus!
''Mau puter balik nggak mungkin, mau lanjut juga nggak mungkin, sial bett sih!' Rangga mengoceh dalam batin.
__ADS_1
"Aaaa!!"