Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 18


__ADS_3

Hari sudah sore, Nura pun pamit untuk pulang dijemput oleh Arya. Arya mungkin baru pulang dari perkemahannya.


"Dadah Abang! I love you sekarung," pamitnya, sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Rangga dan langsung memasuki mobil.


Rangga pun ikut melambai-lambaikan tangannya seraya tersenyum, sampai mobil tersebut melaju. Setelah itu, Rangga pun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


"Ga, kamu ada waktu nggak?" Rangga menyerinyitkan kening nya, mendengar pertanyaan Gea.


"Eum ... jadi gini, nanti malem ada acara ulang tahun temen aku, kamu mau kan temenin aku?" melihat wajahnya, membuat Rangga tak kuasa untuk menolak, tapi, Rangga harus berusaha untuk tidak terlalu dekat dengannya.


"Tap ...,"


"Pliss, kamu mau ya?" Gea menyatukan tangannya memohon kepada Rangga. Rangga menghela nafas, lalu menganggukinya.


"Makasih," Gea berhambur kepelukan Rangga, membuat Rangga hanya kaku dengan mata membulat. Harus kalian ketahui, umur Gea bahkan lebih tua dari Rangga, ya Rangga dan Gea hanya beda satu tahun saja. Dia dulunya kakak kelas Rangga sejak SD.


"Aku pulang dulu, ya. Bye!" pamitnya, lalu berjalan keluar. Setelah sosok Gea tak terlihat lagi, Rangga pun terduduk lemas di atas lantai.


"Aaaa!" teriak Rangga frustasi.


"Capek ya? Makanya jadi cowok tuh jangan play boy! Tuh kan dapet azab," celoteh Shela sambil berjalan menaiki tangga.


...


Malam harinya, Rangga sudah siap dengan pakaian rapi untuk kepesta. Rasanya malas sekali, tapi apa boleh buat? Diri Rangga baru saja akan bangkit, namun terjatuh kembali dengan adanya masa lalu yang cukup rumit.


"Rangga! Dicariin tu sama Gea!" sesekali Rangha ingin menutup telinga nya mendengar teriakan Mami. Rangga berjalan gontai menuruni tangga satu persatu, tak lupa, Rangga pun juga pamit pada Mami dan meminta izin.


"Pakai mobil aku aja, oke?" kuturuti saja permintaan gadis ini, dan langsung saja Rangga melajukan mobilnya.


Beberapa menit berlalu, Rangga dan Gea sampai disebuah hotel yang sudah dipenuhi banyak mobil beserta motor.


Gea menggandeng tangan Rangga dan memasuki tempat itu. "Happy brithday!" Gea memeluk tubuh seorang gadis berkulit putih dengan rambut sebahu tersebut. Apa dia teman barunya Gea?


"Thank's, ya." ucap gadis itu ketika Gea memberikan sebuah kotak kado kecil. Dia beralih menatap Rangga, lalu mengulurkan tangannya.


"Gue Sinta," ucapnya, Rangga pun menjabat tangannya.


"Rangga," balas Rangga, lalu segera melepas jabatan tangan tersebut. Ketika memasuki ruang pestanya, bau alkohol pun menusuk di hidung Rangga. Apa seperti inikah mereka berpesta? Anehnya, Rangga tak melihat orang tua dari gadis bernama Sinta itu, saat pemotongan kue pun, Sinta memberikan kue pertamanya pada Gea.


Acara berlanjut dengan musik, semua orang ditempat ini menari. Menurutk Rangga, ini seperti club, bukan pesta ulang tahun.


"Nih," Gea memberikan Rangga segelas minuman, Rangga agak ragu untuk meminumnya, tetapi Gea terus meyakinkan Rangga dan memaksanya. Rangga teguk minuman tersebut sampai habis, ini bukan jus, melainkan alkohol. Bodohnya aku, sampai Rangga terus meminta minuman itu lagi kepada Gea.


Kepala Rangga pusing, pengelihatannya tiba-tiba buram, dan kesadaran Rangga ... sepertinya kesadarannya akan hilang sekarang.


Nanti saja Rangga akan membuat perhitungan pada Gea, kenapa dia memberikanku minuman itu.


"Menarilah, Beby!" teriak Gea, sambil mengelus pipi Rangga.


...


Mata Rangga terbuka perlahan, menatap kesekeliling ruangan. Rangga langsung bangkit, kepalanya masih sangat sakit dan berat.


"Aghh! Kok gue bisa disini sih? Apa yang terjadi semalam?" entahlah, Rangga sepertinya tak ingat apa-apa. Kenapa Rangga berada di kamar hotel? Gea, gadis itu kemana?

__ADS_1


Rangga berusaha berdiri, kulihat tubuhnya tak memakai baju. Segera Rangga mengambil bajunua dan memakainya, bau parfum wanita sangat menyengat di baju Rangga.


Rangga tak peduli, pikirannya saat ini hanya satu, yaitu pulang kerumah dan beristirahat. Pulang pun, Rangga harus menaiki taxi. Sungguh menyebalkan!


Selang beberapa menit, Rangga sampai dirumah, tapi anehnya, ada mobil Gea disisini. Baguslah, Rangga bisa membuat perhitungan dengannya hari ini juga.


Terdengar suara debatan dari dalam, tanpa pikir panjang, Rangga langsung masuk dan menghampiri mereka. Keluarga Gea pun ada disini, ada masalah apa ini?


PLAK!


Rangga langsung memegangi pipinya yang ditampar oleh Papi. Baru kali ini Rangga mendapat pukulan dari Papinya yang bahkan sangat penyayang itu.


"Papi kecewa sama kamu! Beginikah didikan Papi selama ini?!" Rangga tak paham dengan ucapannya. Apa salahku?


"Maksud, Papi?"


PLAK!


Tamparan itu kembali melayang di wajah Rangga. "Jangan pura-pura tidak tahu! Perbuatanmu sudah melampaui batas! Kamu sudah menodai seorang perempuan!"


DEG!


Bak tersambar petir disiang bolong, mata Rangga membulat sempurna. Rangga tatap Gea yang terisak, Rangga langsung memegang pundaknya.


"Gea, apa-apaan ini?! Kita nggak berbuat apa-apa kan semalam?" Gea menggeleng, lalu berdiri menatap Rangga.


"Saat itu, kamu mabuk berat. Dan memaksaku untuk melakukan hal itu," jelasnya disertai tangisan.


"Lo pasti salah? Gue nggak berbuat apa-apa, Gea! Kok lo bohong sih, sama mereka!" Rangga mengguncang tubuh gadis itu.


"Cukup! Keputusan Papi sudah bulat, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! Sebentar lagi, kalian akan menikah!" ujar Papi, dan langsung berlalu pergi dari hadapan Rangga. Begitu pun keluarga Gea.


Rangga terduduk lemas, kenapa ini harus terjadi? Hidup Rangga hancur saat ini juga. Bagaimana Rangga bisa menjelaskan pada semua orang? Dan, apa Rangga akan meninggalkan Nura? Gadis yang sudah mengisi hari-hari Rangga dan membuat keterpurukannya hilang.


"Kakak jahat! Shela juga kecewa sama Kakak!" Shela pun begitu, ia meninggalkan Rangga sendirian disini.


Rangga berjalan gontai menuruni tangga, melewati keluarga yang sedang sarapan. Semangat Rangga telah lenyap, Rangga sangat malas melakukan apapun, nafsu makan pun tak ada walau seenak apapun makanan itu.


"Kak, nggak sarapan?" tanya Shela. Rangga hanya menggeleng, dan berjalan dengan tatapa kosong kedepan. Apa yang harus Rangga katakan pada Nura dan teman-temannya?


Setelah sampai, Rangga langsung berlari kearah lapangan, untuk barbaris. Upacara bendera pun dimulai, terik matahari cukup menyengat hari ini, apalagi perut Ramgga yang terasa kosong, dan ditambah dengan kepala yang terasa sakit.


Ku pejamkan saja matanya itu, tubuh Rangga serasa ingin jatuh, tetapi, Rangga berusaha untuk bertahan sampai upacara selesai.


...


Rangga membuka mata nya perlahan, menatap seisi ruangan. Ini bukan kelas mau pun lapangan, tapi ini ruang UKS. Apa aku pingsan?


"Nura," ucap Rangga, ketika melihat sosok Nura tertidur di samping ranjang. Apa dia menungguku?


Rangga mengelus pipi dan rambutnya, ia sangat lugu dan lucu. "Eum ...." Nura terusik, ia pun melihat kearah Rangga dan langsung terbangun.


"Abang udah sadar? Alhamdulillah, Nura seneng banget!" soraknya. Tangan mungilnya, mengambil mangkuk di atas meja.


"Kata Om dokter, Abang itu harus makan biar sehat. Nih, Nura suapin," Nra menyodorkan ke Rangga sesendok bubur. Rangga pun membuka mulutnya, dan makan. Dan melakukannya berulang kali.

__ADS_1


'Ya Allah, apa gue sejahat itu, sampai harus menyakiti cewek kek Nura? Gimana gue mau ngomong?' batin Rangg. Sungguh, melihat wajahnya saja, raga ini tak ingin jauh darinya. Dia adalah obat ketika aku merasakan sakitnya luka.


"Abang kok diem-diem bae?" Nura melambaikan tangannya, tepat di depan wajah Rangga.


"Nura, kalau minsalnya gue pergi, dan nggak bisa ketemu lo lagi, gimana?" Nura terdiam, senyum yang tadinya terukir pun pudar. Nura menatap Rangga cukup lama.


"Huaa! Nura nggak mau Abang pergi!" Nura berhambur kepelukan Rangga, ia menenggelamkan wajahnya di tubuh Rangga.


"Nanti, kalau Abang pergi, yang jagain Nura siapa? Yang temenin Nura siapa?" sambungnya lagi dengan isakannya. Ada rasa nyeri di dalam hati mendengar ucapannya, Rangga juga sudah berjanji untuk selalu bersamanya.


"Terus, yang traktirin Nura siapa?" Rangga mendatarkan wajahnya, bisa-bisanya disaat yang seperti ini dia bicara begitu?


"I-iya, iya. Kan gue cuman nanya aja, Ra, gitu aja nangis lo!" ledek Rangga, Nura melepas pelukannya lalu menatap Rangga.


"Awas aja kalau Abang pergi, Nura bakalan gigit Abang!" ocehnya, seraya memanyunkan bibirnya lima senti. Rangga terkekeh, gadis ini memang mampu membuat Rangga tertawa.


"My love!" Farell berteriak, lalu berlari memeluk Rangga.


"Gimana keadaan lo?" tanya Arga.


"Alhamdulillah, masih bisa nafas," jawab Rangga.


"Ya ampun, gue khawatir banget sama lo, lo kok tiba-tiba pingsan? Gue sebagai temen terbaik lo merasa kehilangan, tau nggak?" Rangga mendatarkan wajah, sedikit geli dengan tingkah Rian kali ini.


"Lebay, jir! Jijik gue!" oceh Rangga. Rian hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rangga.


...


Bel pulang berbunyi, Rangga dan teman-temannya keluar dari kelas dan berjalan menuju parkiran.


"Kakak!" Rangga menghentikan langkah nya, lalu berbalik dan mendapati Shela yang berlari kearah Rangga.


"Lo kenapa sih?" Shela mengatur nafasnya terlebih dahulu. "I-itu, Nura diajak pergi sama Kak Gea. Mereka tadi kesana!" Rangga membulatkan mata, lalu berlari dan menyambar helmnya. Segera Rangga lajukan motornya. Jangan sampai Gea mengatakan hal itu pada Nura.


Rangga melihat mobil Gea terparkir disebuah taman, dimana tempat yang biasa Rangga dan Nura jalan-jalan. Rangga berlari kencang, mencari keberadaan keduanya.


Tubuh Rangga kaku, melihat Nura yang sudah dibanjiri dengan air mata. Beserta Gea yang tersenyum kearah Rangga, seakan ia memenangkan sebuah permainan.


"Nura, lo kenapa? Kenapa lo nangis?" tangan Rangga mencoba meraih pipinya, namun Nura menepis tangan Rangga.


"Abang jahat! Kenapa Abang nyakitin Nura?! Nura benci sama Abang!" Nura berlari pergi dari tempat itu.


"Nura!" Nura tak menoleh, ia terus berlari sampai tubuhnya tak terlihat lagi.


Tatapan Rangga beralih pada Gea, segera kutarik tangan Gea, dan meremas pundaknya, sampai ia meringis kesakitan.


"L-lepasin, Ga. S-sakit!" ringisnya, namun Rangga tak peduli. Dia sudah kelewatan batas.


"Apa yang lo omongin sama Nura?" tanya Rangga penuh emosi.


"Aku cuman bilang, kalau kita akan menikah, dan sebentar lagi kamu akan pergi dari hidup dia. Udah gitu aja," jawabnya.


"Apa? Apa yang lo mau dari gue, Gea?! Kenapa lo selalu hancurin hidup gue?! Gue capek, Gea, capek! Setiap hari gue selalu terluka karna lo! Kenapa lo harus kembali dihidup gue lagi? Kenapa?!" Rangga beteriak. Melepaskan semua kata yang selama ini terpendam. Gea menangis, dia pun memeluk Rangga.


"Tapi, aku sayang sama kam--"

__ADS_1


"Gue nggak sayang ama lo! *****!" ucap Rangga, lalu segera pergi dari hadapannya, namun, tangan Rangga tertahan olehnya. Dia memeluk Rangga dari belakang.


"Apa kamu lupa sama janji kamu? Kamu akan selalu nungguin aku, kapan pun aku kembali, dan kamu juga janji kan, akan terus bersamaku?" Rangga terdiam, dia membuatku, seakan-akan terjebak dalam janji dimasa lalu.


__ADS_2