Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 9


__ADS_3

"ABANG SAYANG!"


DEG!


Spontan Rangga menatap kearah Nura yang teriak cukup keras, kemudian berlari riang kearah Rangga.


"Dek, jangan teriak! Nggak baik tau!" tegas Arya. Nura hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


'Ni cewek nggak waras, apa beneran gila?'


.


"Ini Nura, temen Shela yang sering Shela ceritain itu, lho," ucap Shela. Nura tersenyum lalu mencium tangan Mami dengan takzim, kek mertua ama menantu, hehe. Ah ngawur aja kamu!


Pipipip calon mantu.


"Jadi ini to, yang namanya Nura. Cantik banget, jadi calon mantu Tante mau?" Rangga membulatkan mata sempurna, Nura? Calon mantu? Berarti harus nikah sama Rangga dong? Hayuklah gaskeun!


"Mau, Tante!"


Pingsanlah Rangga, so what? Bayangkan saja, satu hari saja Rangga sudah tak tahan dengan sikapnya, apalagi jika dia menjadi istri! Bisa-bisa mati Rangga.


"Tapi, Nura tau nggak, mantu itu apa?" tanya Mami. Mungkin saja wajah Nura sudah terpancarkan kepolosannya itu.


"Nggak tau, tapi Nura mau aja, hehe." Ku tepuk jidat, ia ingin menjadi menantu, tapi Nura tak tahu apa itu menantu?


Hamsok!


"Yaudahlah lupain, yang pasti Nura harus jadi menantunya Tante, dan menjadi anggota keluarga Wijaya! Bagaimana Shela?" Shela langsung mengangguk, begitu pun Arya.


"Setuju!" ucap Arya dan Shela bersamaan.


"Cucok banget dah, apalagi Kak Rangga sama Nura udah pacaran,"


DEG! DANGDUNGDUNGZERR!


Saat ini juga, Rangga ingin menutup mulut Shela dengan bola, bagaimana mungkin? Ia membocorkannya? Dan Rangga akan berpacaran hingga dua bulan saja.


"Rangga," Rangga menelan salivanya, melangkah lebih dekat ke Mami. Suara tajam setajam silet itu, mampu membuat Rangga takut setengah hidup.

__ADS_1


"I-iya, Mi?" tanya Rangga gugup.


Mami menarik telinga Rangga. "Sejak kapan kamu pacaran? Kenapa kamu nggak bilang sama Mami! Kalau kamu udah punya pacar? Dan kenapa nggak pernah kenalin ke Mami?! Mami juga pengen dong, lihat calon mantu Mami!" ocehan ala-ala Rapnya si Suga BTS keluar dari mulut Mami.


"Sakit, Mi!" Shela dan Arya hanya tertawa kecil, ditambah dengan juluran lidah dari Shela. Semua ini karena dia!


"Tante, berhenti dulu!" Mami menatap ke arah Nura.


"Kenapa?" tanya Mami.


Nura mengeluarkan ponselnya. "Nura harus vidioin, biar viral!"


Bujubusyett!


Parahnya, ya Allah. Kukira ia tak tahan melihat Rangga, ternyata ia hanya ingin merekamnya. Toge kepala jamur!


Setega itukah kau, Roma!


.


Rangga baru saja selesai mandi, wangi dari sabun impor dari Korea tercium wangi di tubuhnya. Rangga keluar, dan masih menggunakan handuk biru kesayangan Rangga.


"MAMI!" Rangga berteriak kencang, melihat sesosok gadis polos itu sedang terduduk di atas ranjang Rangga. Rangga tutup dada nya menggunakan kedua tangan, Nura menatap Rangga lalu berlari dan memeluk nya.


"L-lepasin woy!" Nura menggeleng, sambil terus mempererat pelukannya.


"Nggak mau, hehe. Nura nyaman dipelukan Abang." What? Nyaman? Apa Nura mulai nyaman denganku?


"Sayang Abang, muah!" ucapnya sambil terus memeluk Rangga.


Pelukan Nura mulai longgar, ia hampir terjatuh ke lantai, segera ku tangkap tubuh mungilnya.


Bujubusyett!


"Ni anak nyusahin bett! Kok bisa ya ni cewek langsung tidur?" Rangga mengangkat tubuh Nura seperti bridal stayle lalu membaringkannya di ranjang Rangga, malas saja untuk membawanya kekamarnya.


Setelah membaringkan tubuhnya, Rangga segera berjalan menuju sofa. Namun, Nura menahan tangan Rangga.


"Pangeran jangan pergi," lirihnya yang kemudian kembali mendengkur. Nura menarik tangan Rangga, hingga Rangga terbaring disampingnya, Nura memeluk Rangga erat.

__ADS_1


"Peluk aku pangeran," setelah melontarkan perkataannya, Nura kemudian tertidur pulas dengan dengkuran khasnya. Sekarang Rangga merasa seperti suaminya, tidur berdua? Oh tidak! Aku harus pergi.


Lampu tiba-tiba padam, beserta dengan kilat yang menyambar. Dug dah dig, jantung Rangga berdetak kencang. Jujur saja, Rangga takut dengan kegelapan, mengingat tentang hantu di film-film membuat Rangga bergidik ngeri. Tiada pilihan lain lagi selain diam ditempat dengan posisi dipeluk Nura.


Mami tolong!


.


"Astagfirullah, Rangga!" Rangga langsung terbangun tatkala mendengar teriakan yang amat keras.


"Kamu apain si Nura? Astagfirullahalazim. Sekarang! Ikut Mami! Kalian harus segera dinikahkan!" Rangga membulatkan mata sempurna, menikah? Dengan Nura?


Kulirik Nura yang tertunduk, kenapa dia tidak berbicara apa-apa? Ayolah jelaskan! Mami menarik tangan Rangga.


"Rangga nggak salah!" ucap Rangga bersikeras.


"Udah jelas-jelas kamu salah! Sekarang kalian ikut Mami, kalian harus menikah sekarang juga!" Mami menarik tangan Rangga.


"Tidak!"


Napas Rangga tak beraturan, kulirik Nura yang masih tertidur pulas, ku tepuk pipi. Apa tadi cuman mimpi? Ah syukurlah.


"Terima kasih, ya Allah," ucap Rangga bersyukur sehat walafiat, eh.


Segera Rangga bangunkan Nura yang sedang tertidur pulas. Gara-gara dia, Rangga harus bermimpi buruk, bukan buruk sih tapi belum siap aja dikasih mimpi kek gitu.


.


Rangga terdiam sambil menyantap makanan, kali ini Rangga benar-benar terdiam.


"Ga, kesambet apaan kamu? Kok diem-diem bae?" tanya Mami, sambil menyantap makanannya.


"Tumben amat? Biasanya lo yang paling ribut kek jangkrik," sahut Shela. Ah, mimpi itu terngiang-ngiang bergentayangan di pikiran Rangga.


"Abang kalau tidur lucu kek beruang!" sontak semua anggota keluarga menatap kearah Nura yang sedang menyantap makanannya.


Vangke.


Rangga menelan salivanya. Apa mereka curiga? Ingin rasanya ku tenggelamkan Nura di lautan biru.

__ADS_1


Hening! Tapi, tak lama kemudian, semuanya kembali menyantap makanan, Mami menatap Rangga dengan tajam.


Kumenangiss ... membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku.


__ADS_2