Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 11


__ADS_3

BRUK!


Rangga terkejut, tatkala tubuh Nura pingsan seketika. Rangga pun segera menepuk-nepuk pipinya, berharap ia akan terbangun.


"Ra, bangun dong! Lo jan becanda deh, bangun woy!" Nura tak kunjung bangun, segera Rangga angkat tubuh mungilnya yang cukup berat itu. Sumpah! Sangat menyusahkan diriku, kapan Rangga akan terbebas darinya? Ahk!


...


"Mmm ...," Nura membuka matanya perlahan, menatap kearah Rangga yang sedang berdiri.


Jam pelajaran masih berlangsung, jadinya, hanya akulah yang menemaninya di ruang UKS. Ada faedahnya juga sih, hukuman pun sudah selesai. Guru yang tadinya menghukum Nura, langsung merasa bersalah, dan menuntaskan hukumannya.


Azzeekk!


Berrrrkkk!


Nura memegangi perutnya, mendongak kearah Rangga seperti seorang anak yang meminta makan.


To the point aja!


Rangga menepuk jidatnha. "Mau makan? Yaudah, kekantin," mata Nura berbinar. Ia pun bangkit lalu berjalan mengekori Rangga.


PLAK!


Rangga merasakan nyeri di punggungnya. Rangga berbalik, menatap ke arah Nura. Siapa lagi kalau bukan Nura pelakunya, pengen ditelen hidup-hidup kalik ya?


"Sakit, woy! Lo ngapain mukul gue?" tanya Rangga.


"Tadi, ada lalat nyantol di punggung Abang. Jadi Nura tepuk deh, tapi, lalatnya keburu kabur," ya toyba, yaa toybaa. Mau marah? Takutnya dia mewek, ahk! Semua salah lalat, sebelum berangkat pun, Rangga memakai parfum dari korea dan kenapa bisa nyantol?


Rangga dan Nura kembali melanjutkan perjalananan menuju kantin. Entah, apa lagi yang akan ia lakukan sekarang.


PLAK!


"Apa lagi sih, Ra!?" tanya Rangga, dengan nada tinggi. Jujur, aku sudah tak tahan dengannya.


Nura menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Tuh kan, salah lagi! Bisa-bisa Rangga dibuat gila olehnya.


'Ni cewek ngeselin amat ya Allah. Malahan, lebih ngeselin dari film Dora, ampun dah!' Rangga berteriak dalam batin.


"Cup cup cup, maafin Abang, ya. Abang yang salah, jan nangis dong," Rangga tersenyum ke arahnya. Nura mengangguk, dan tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya, yang mungkin membuat lalat lewat pingsan karena terlalu manis.


Eeaakk.


.

__ADS_1


Suasana kantin cukup sepi, hanya ada Rangga, Nura, dan para murid yang izin ketoilet, tapi nyasar ke kantin. Rangga, dan Nura segera memakan bakso pesanan kami. Bukan seperti cewek-cewek pada umumnya, yang makan dengan anggun dan sopan, berbeda dengan Nura, ia bahkan memakan bakso layaknya seperti bocah ingusan.


Suurrrttt!


Nura menyedot kuah bakso dengan sedotan. Lama-lama Rangga bisa gila dengan sikap kekanak-kanakannya. Apa gadis ini kurang waras?


"Nyam ... kenyang!" Nura mengusap-usap perutnya kekenyangan.


"Bakso, Bu minah emang the best! I love you!" teriak Nura dengan kencang.


"Lope yu tuu, Nura!" sahut Bu Minah. Hadeh, siapa sih yang ngajarin Ibu-Ibu seperti Bu Minah bahasa inggris? Ingin rasanya Rangga ngakak berguling-guling.


.


Selesai makan, Rangga dan Nura berjalan menuju taman sekolah yang amat luas tersebut. Setelah itu, duduk di sebuah bangku taman panjang. Kini, bel istirahat berbunyi, siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas.


"Rangga!" Aku terkejut setengah hidup, siapa yang berteriak menyebut namaku itu? Kulihat Lastri, si mantan bin setan itu berjalan kearah Rangga, dan diikuti geng-geng nya yang centil, cetar membahana tersebut. Entah apa yang membuat Rangga pacaran dengan gadis itu.


"Gue, disini menyatakan, kalau gue itu ...," Lastri menggantung ucapan tegas bak guru tersebut.


"Kalau gue itu, pengen balikan ama lo!" Seketika suara lantangnya berubah, menjadi suara permohonan.


"Aku masih sayang sama kamu, kenapa kamu lebih milih dia?!" Lastri menunjuk kearah Nura yang sedari tadi melongo melihat tingkah Lastri.


"I love you forever, my sweety, hany, beby, handsomeku! Aku tunggu jawaban kamu sepulang sekolah nanti." Entah apa yang merasuki gadis ini, sifatnya berubah 190°. Apa dia gila karena mencintaiku? Malu astagfirullah, punya mantan lebay kek dia.


Hidup Rangga tak tenang lagi. Bagaimana mungkin? Nura sedari tadi mengekori Rangga, mengikuti langkah Rangga kekiri dan kekanan. Saat Rangga menoleh, Nura akan ikut menoleh. Menyebalkan!


"Nura, berhenti niruin gue!"


"Nura, berhenti niruin gue!" Bahkan setiap perkataanku selalu ia ikuti.


"Lo itu-- ahk!" Rangga mengacak rambut frustasi.


"Lo itu-- ahk!" Nura mengikutiku lagi.


Vangke ni anak!


"Nura gila,"


"Nura gila," Rangga tersenyum menang. Hehe, akan kubalas kau Zubaedah!


"Nura mirip monyett!"


"Nura mirip monyet!" Ngakak euy! Ada faedahnya juga Nura mengikutiku. Haha, rasakan itu wahai Zubaedah!

__ADS_1


"Nura pendek, mirip tuyul!" ucap Rangga lagi.


"Nura pendek, mirip tuyul!" Nura terus saja meniru Rangga. Rangga dibuat ngakak saja olehnya.


Rangga menjulurkan lidah nya, Nura juga ikut. Untung tempatnya sepi, jadi tidak ada siswa-siswi yang melihat tingkah konyol Rangga ini.


Rangga tersenyum senang, memikirkan ide Rangga ini. Kuhitung sampai tiga, lalu aku pun berlari sekencang-kencangnya. Entah, gadis itu mengikuti Rangga atau tidak. Tapi, tidak ada suara dari gadis itu.


BRUK!


Rangga langsung merasakan nyeri di punggung nya, ketika Nura menabrak tubuh Rangga.


Tanpa kusadari, siswa-siswi kini menatap kearah Rangga dan Nura. Malu, astagfirullah. Dengan cepat Rangga pun menarik tangan Nura agar menjauh dari kerumunan siswa-siswi kang gosip tersebut.


Capek juga ya becanda dengan nura. Rangga sudah seperti orang gila ketika bersamanya.


"K-kenapa?" tanya Rangga ketika Nura terus saja memperhatikan Rangga.


"Abang keringetan," ucap Nura sambil mengusap kening Rangga yang basah dengan tangannya.


'Kalau dilihat-lihat, Nura cantik bett dah!" Rangga hanya membatin melihat wajah cantik Nura yang dipenuhi keringat.


"Woy!" Rangga tersentak kaget, ketika Rian, Farell, dan Arga datang secara tiba-tiba.


"Astoge, nih anak pacaran mulu kerjaannya! Kita cariin dari tadi keliling sekolah kagak ada. Di got gaada, di gua buaya pun kagak ada!" Rangga sesekali menjitak kepala Rian hingga si empu meringis kesakitan.


"Lo kira gue buaya apa!? Ada di gua buaya!" Rian terkikik mendengar ocehan Rangga.


"Lagian lu sih! Dari tadi kemana aja? Kita cari-cari dari tadi!" sahut Farell sambil memukul lengan Rangga. Rangga pun membalasnya kembali.


"Tau tu! Lo bawa kemana aja sahabat gue, ha!?" Shela memukul lengan Rangga secara tiba-tiba, ditambah dengan suara nyaringnya yang mungkin membuat telinga sakit berhari-hari.


"Sakit, Shel! Astaga! Lu jadi adek gaada akhlak ya, sama kakak sendiri!" Memang susah mempunyai adik seperti Shela, dikit-dikit di pukul, dikit-dikit dimarahin. Ini nih, akibat Mami selalu memanjakannya, hingga ia berani melawan kakaknya yang tamvan ini.


"Bodo amat!" Shela menarik tangan Nura pergi, sementara, Nura menoleh sampil melambai-lambaikan tangannya kearah Rangga.


"Dahlah, kita pergi aja!" Ketiga teman Rangga berlalu begitu saja, meninggalkan Rangga yang masih mematung di tempat.


"Woy! Tungguin gue!" Segera Rangga kejar ketiganya yang sudah hampir tak terlihat.


.


Bel pulang berbunyi, Rangga pun segera berjalan keluar dari kelas bersama ketiga temannya. "Lo langsung pulang, apa mau kerumah dulu?" tanya Rangga pada ketiganya.


"Kita, mampir kerumah lo dulu," Rangga mengangguk mengerti, kami pun kembali berjalan.

__ADS_1


"Rangga!" Rangga menutup telinga nya mendengar teriakan dari seseorang yang ku kenal.


__ADS_2