Pacarku Polos Banget

Pacarku Polos Banget
part 21


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu dengan cepat, meninggalkan secuil kenangan yang sampai saat ini belum Rangga lupakan. Berbulan-bulan pun, Rangga tak bisa menemukan gadis polosnya itu, entah dimana dia sekarang.


Setelah Rangga menerima penghargaan sebagai siswa pintar tahun ini, Rangga pun segera menuruni panggung tesebut. Semua siswa-siswi berpelukan dan menangis, mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya.


"Rangga!" ketiga temannya berlari kearah Rangga dan menepuk pundaknya. Ketiganya tersenyum tipis.


"Lo lanjut dimana?" tanya Arga seraya menatap kami semua.


"Gue bakalan dikirim Papi ke London, huft," jawab Rangga dengan membuang nafas berat. Iya berat, berat menjauh dari keluarga dan ketiga sahabatnya ini. Rangga dan mereka sudah bersahabat sejak kecil, dan hari ini kita semua akan berpisah untuk masa depan masing-masing.


"Huaa! Gue gak bisa jauh dari kalian!" teriak Farell sambil memeluk Rian. Rian yang merasa risih pun, langsung mendorong tubuh Farell.


"Lebay, bego!" umpat Rian diiringi tatapan sinisnya. Rangga dan Arga hanya tertawa lepas melihat tingkah keduanya.


"Ini pelukan terakhir dari gue, sebelum gue pergi ke Amerika!" ungkap Farell.


"Strobery mangga gulali, sorry gak peduli," Farell dengan sigap menjitak kepala Rian yang sedari tadi membuatnya kesal.


"Sejak kapan lo pandai mantun?" tanya Rangga pada Rian, Rian beralih menatap Rangga.


"Sejak gue sering nonton Upin Ipin," jawab Rian enteng. Rangga tertawa kecil mendengar jawaban darinya.


Setelah acara selesai, kami bertiga pun langsung melajukan motor menuju cafe, tempat biasa kami berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.


Setelah memesan makanan dan minuman, kami berlanjut untuk membahas masa lalu dan masa depan.


"Btw, lo udah punya pacar, Rian?" tanya Farell. Rian tertawa lepas.

__ADS_1


"Jangankan pacar, gebetan aja gue kagak punya," wajah Rian langsung datar sedatar tembok.


"Lo, gimana? Udah punya calon masa depan?" tanya gue pada Arga yang sedang minum, sontak Arga terbatuk-batuk dong mendengar pertanyaan yang Rangga lontarkan.


"Gue? Gue 'kan bakalan jadi adek ipar lo," jawab Arga enteng. Tunggu! Apa?!


"Apa?!" tanya kami bertiga, sampai semua orang di cafe menatap kearah kami. Arga menutup mulutnya, seolah-olah keceplosan atas ucapannya.


"L-lo suka Sha? Sejak kapan? Apa lo udah pacaran ama dia?" Arga hanya mengangguk saat ditanya oleh Rangga. Memang dasar.


"Lo sendiri gimana?" Arga berbalik menatap Rangga, Rangga hanya tertegun. Memang banyak yang ingin berpacaran dengannya, namun Rangga seringkali menolak, karena masih berharap Nura akan kembali.


"Gue masih berharap supaya Nura kembali lagi di hidup gue," ujar Rangga enteng. Memang, Rangga belum bisa melupakan gadis polos nan menyebalkan itu. Sejak kejadian beberapa bulan lalu, Rangga jadi sangat malas untuk dekat dengan wanita lain.


"Yakin, lo mau nungguin Nura?" Rangga hanya mengangguk ketiga ditanya oleh Farell. Setelah menghabiskan makanan dan minuman, kami semua pun mengucapkan sebuah kata perpisahan. Kami semua saling merangkul sesama lain.


"Kita harus mempertahankan persahabatan kita, bagaimana pun caranya!" ujar Farell dan diangguki semuanya. Inilah perpisahan yang sangat berat bagi Rangga, 5 tahun atau lebih harus berada di negri orang.


...


Dua hari berlalu dengan cepat, Rangga mengemasi barang-barangnya dan menatap kamar ini untuk terakhir kalinya. Rangga menuruni tangga dan bersiap masuk kedalam mobil. Di London Rangga akan tinggal bersama Nenek dan Kakeknya, beserta Paman dan Bibinya.


Mobil dilajukan Ayah dengan pelan, sehingga sampai di bandara, Rangga mengambil penerbangan pagi.


Rangga berhamburan ke pelukan Mami, Mami tak henti-hentinya menangis dan mengecup keningnya beberapa kali. Percayalah, se-dewasa apapun seorang anak, ia tetaplah pangeran kecil dimata Ibunya.


"Nak, jaga kesehatan disana, ya. Kalau ada apa-apa kabari Mami, jangan sampai lupa!" Rangga mengangguk dan mengusap air mata Mami yang sedari tadi mengalir.

__ADS_1


"Mami tenang aja," ucap Rangga. Kembali Rangga berpamitan pada Papi. Papi mengusap kepalanya.


"Dengarkan Mami kamu, jangan sampai lupa ngabarin, oke?" Rangga mengangguk, dan beralih pada adik gak ada akhlak, siapa lagi kalau bukan Shela.


"Woi, bontot. Lu gak mau peluk Kakak lu ni?" Shela memalingkan wajahnya, beberapa detik kemudian, ia langsung memelukku dan terisak.


"Kenapa lo harus kuliah di luar negri sih?! Gue kan kangen berantem sama lo, rumah pasti bakalan sepi lagi!" ungkapnya, dan beberapa kali mencubit lengan Rangga.


"Sakit, dugong! Lagian cuman sebentar kok, btw jaga hubungan lo sama Arga ya. Ciee dah punya pacar, Haha," tawa Rangga lepas saat itu juga, pipi Shela memerah seketika.


Setelah penerbangan Rangga sudah tiba, Rangga pun segera berjalan meninggalkan mereka. Sesekali menghirup udara negara nya untuk terakhir kalinya.


'Nura, gue akan pergi, gue harap bisa bertemu lo lagi. Maafin gue,' lirih Rangga dalam batin.


"ABANG!" langkah Rangga terhenti, mendengar teriakan dari seseorang yang amat kurindukan itu. Rangga berbalik, menatap seorang gadis yang tengah berlari, Rangga tertegun, gadis itu berhambur kepelukannya.


"Abang, Nura kangen," ucapnya diiringi isakan darinya. Rangga membalas pelukan tersebut dengan erat.


"Lo kemana aja sih? Gue udah cari-cari lo sampe berbulan-bulan gue gak nemuin lo, kenapa lo ninggalin gue gitu aja?" Nura mendongak menatap Rangga.


"Maafin Nura, Nura udah ninggalin Abang. Tapi Nura sayang Abang," ungkapnya dan kembali memeluk Rangga.


"Lo tau? Gue juga sayang lo, tapi ini adalah terakhir lo ngelihat gue," ujar Rangga.


"Nura akan nungguin Abang, dan kapan pun Abang kembali Nura akan terus menunggu Abang," Rangga tersenyum tipis mendengar ucapannya. Rangga melepas pelukannya dan menatap wajah imutnya.


"Janji?" tanya Rangga, sambil melihatkan jari kelingking.

__ADS_1


"Janji!" Nura menautkan jari kelingkingnya dan kembali memeluk Rangga. Harapan Rangga kini sudah tercapai, Tuhan terima kasih karna menghadirkan kembali sosok gadis polosnya ini.


__ADS_2