
G-gue pergi aja ya, nanti kalau lu udah selesai, gue jemput." Rangga segera berjalan keluar. Berniat untuk kabur, tetapi tak semudah itu! Shela menahan tangan Rangga sekarang.
"Eits! Lo gak boleh pergi Kak, lagian bukan lo doang cowok disini!" tetap saja Rangga tak bisa menghindar dari Shela. Ah menyebalkan!
"Lho, Nura kok tidur?" tanya Shela yang melihat Nura tertidur pulas, dan jangan lupa dengan dengkuran khasnya, air luirnya mengalir seperti air terjun. Jeyjiyk guys!
"Dia capek mungkin, biarin aja dah dia istirahat dulu," ucap salah satu teman Shela. Wajahnya pernah kulihat di sekolah, tetapi hanya namanya yang tidak ku ketahui.
"Hay semua. Kenalin ini Kakak gue, namanya Rangga." Sapa Shela pada ketiga cowok yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ketiganya nampak tersenyum ke arah Rangga, Rangga pun membalas senyuman mereka.
"Gue Davi."
"Gue Bisma."
"Gue Alfin."
Ketiganya mengahmpiri Rangga dan menjabat tangan Rangga untuk berkenalan, begitupun para teman Shela yang perempuan.
"Gue Risa."
"Gue shofi."
"Dian, Kak."
Setelah selesai dengan perkenalan, kini semua membagi tugas untuk membuat pesta perkumpulan mereka, dan Rangga juga ikut-ikutan dengan mereka. Ya karna tidak bisa menolak dari Shela kang maksa!
"Okeh, gue udah putusin! Davi, Shela, sama Kak Rangga, akan buat kuenya ... Dian, sama shofi, masak makanannya. Dan Bisma, Alfin, sama Risa siapin tempat pestanya, oke?" Semuanya langsung mengangguk, lalu bubar untuk mempersiapkan pestanya.
'Ya Allah, kenapa engkau berikan aku cobaan ini?" Ingin rasanya Rangga mengutuk mereka semua menjadi batu. Tapi sayang, Rangga bukan Ibu mereka, bukannya? Hanya Ibu yang bisa mengutuk seseorang menjadi batu? Ah lupakan saja!
Shela menyerahkan celemek biru muda, dan renda dileher dan ujung-ujungnya. Rangga hanya menahan tawa memakai celemek cute ini. Hehe.
Shela melemparkan buku kecil kearah Rangga, kubaca buku tersebut. Kurasa ini adalah bahan-bahan untuk membuat kue.
"Buruan kumpulkan bahannya! Habis itu kita buat sama-sama!" Shela sekarang seperti majikan, dan Rangha adalah babunya. Bodohnya, Rangga selalu menuruti semua suruhannya! Inilah akibat Mami selalu memanjakan Shela, hingga berani menyuruh Kakaknya yang tampan ini.
"Oke, pertama harus ambil telur dulu," Rangga melangkah ke arah kulkas, dan mengambil beberapa butir telur. Shela mengambil mangkuk berukuran kecil, lalu memberikan kepada Rangga. Kutahu, ini tidak mudah, tapi Rangga harus memecahkannya. Rangga menutup mata, lalu mengambil pisau untuk memecahkannya. CEPLEK!
"Aaaa!!" Rangga berteriak sekencang-kencangnya. Menatap telur yang sudah pecah dan jatuh pada tempatnya. Azzeekk Gue berhasil. Baru pertama kali Rangga memecahkan telur, dan berhasil! Seperti kata Dora, berhasil! Berhasil berhasil!
"Kak, kenapa!?" Shela menghampiriku, mungkin dia terkejut dengan teriakan Rangga tadi. Dian dan Shofi pun menghampiri, menanyakan apa yang terjadi. Rangga hanya nyengir kuda.
"Gapapa kok, hehe." Semua nampak menggeleng, lalu kembali mengerjakan aktivitas masing-masing. Shela memukul lengan Rangga, mungkin kesal karena terkejut tadi.
Setelah beberapa menit, Shela dan Davi mencampur bahannya. Nampak mereka sempat bertatapan lalu tersenyum, apa mereka saling menyukai? Ah, nanti saja aku tanyakan pada Shela.
Sudah 2 jam berlalu, kini kami semua berkumpul pada pondokan di belakang rumah Risa. aku lagi berada di rumah Risa. Angin berhembus kencang, suasananya cukup menenangkan disini. Semua makanan, minuman, beserta kue sudah terkumpul. Nyam ... kelihatannya sangat enak, baunya menusuk masuk ke dalam hidung, ya kali masuk mulut.
"Hooaam!" Kami semua sontak menatap ke arah sesosok kuntilanak, eh maksudnya sesosok Nura. Dia sudah terbangun, dan Rangga akan tamat hari ini, dia berjalan ke arah kami, lalu menatap ke arah Rangga.
"Pangeran, ternyata kau disini." Ucapnya sambil menunjuk Rangga, semua sontak menatap kearah Rangga. Nura tersenyum, lalu menghampiri Rangga, dan jatuh ke pelukan Rangga. Rangga terdiam, tak bisa bergerak.
"Dia ngigau lagi," ucap Dian dan Shofi bersamaan. Shela menanggapinya slow, pasti dia akan bertanya padaku nantinya. Hadeh!
Setelah beberapa menit berada di pelukan Rangga, Nura kembali tersadar, lalu duduk. Semuanya masih terdiam, mungkin tak percaya dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
HENING!
"Udah, udah. Kita mulai aja yuk!" Shela memecahkan keheningan, semuanya pun menuruti ucapan Shela. Jantungku berdisko sekarang, Rangga menarik nafas lega.
"Oke, kita mulai pestanya!" Shela bersorak ria, diikuti oleh semuanya, begitu pun Rangga. Rangga hanya mengikuti mereka saja.
"Eum, masakan lo enak bett dah," Alfin memuji makanan yang dibuat oleh Dian dan Shofi. Keduanya nampak tersenyum, sementara Risa terus menatap ke arah Rangga, ketika Rangga melihatnya balik, Risa pasti mengalihkan pandangannya. Aneh!
"Eum enak!" Nura makan dengan kecepatan kilat! Semuanya nampak terbiasa, ya karena mereka adalah teman, mungkin?
Dia makan tanpa suara, aku terus saja menatapnya. Gadis itu terlihat lucu ketika memakan mie, pipinya mengembung karena penuh dengan makanan.
Kikikikikikik!
Rangga sedikit tertawa, dan nyaris semua orang menatap Rangga sejenak, lalu melanjutkan kembali aktivitas makan mereka.
Setelah selesai makan, Shela dan para temannya akan bermain TOD. Tau kan? Truth or Dare, ya begitulah.
"Gue--"
"Lo harus ikut!" Shela memotong pembicaraan Rangga. Apa dia bisa membaca pikiranku? Ah sudahlah!
Shela mulai memutar botol, dalam hati Rangga berkata. 'Semoga bukan aku! Semoga bukan aku!' Rangga menutup mata rapat-rapat.
"Rangga kena!" Seketika aku mendatarkan wajahku. Menyebalkan! Kenapa hari ini sungguh menyebalkan? Kenapa?!
"Truth or Dare?" Rangga berfikir sejenak. Jika aku jujur, aku akan menjawab pertanyaan dengan jujur. Dan Rangga tidak mau itu.
"Dare!" jawab Rangga dengan malas, tak lupa memutar bola mata sepuluh kali. Kebanyakan!
Semua nampak tersenyum psycopath. Mati aku!
Rangga menutup matanya, lalu segera menarik tubuh Nura, dan mencium bibirnya. Oh mamak! Frist kissku diambil! Rangga membuka mata perlahan, menatap manik mata gadis itu. Jantungnya berdisko sekarang!
Rangga sedang asik menggeser-geser beranda di facebook. Sedikit membosankan, tapi cukup seru untuk nya yang saat ini sedang gabut. Memang begitu banyak pesan yang masuk, hingga ponsel Rangga tak pernah berhenti bergetar.
[Abang, sayang]
Busett! Rangga dikejutkan dengan pesan dari Nura di whatsapp, gadis ini mungkin sudah kerasukan setan. Rangga segera membuka dan membalas pesannya.
[Iya sayang?]
Rangga mengetik dengan tawa yang menggelegar, jiwa buaya Rangga keluar sekarang.
[Haha, kena lo!]
Vangke!
Rangga mendatarkan wajah nya, ketika melihat balasannya. Ternyata bukan Nura, melainkan Arya, ia mungkin sedang menjahili Rangga sekarang.
[Wah, awas lo!]
Entah apa yang merasuki Rangga, hingga berani mengetik kata-kata mengancam untuk Arya. Ya bodo amatlah!
"Kak!" Rangga menghempaskan ponselnya, sesekali mengusap dada karena terkejut oleh teriakan Mak lampir, siapa lagi? Kalau bukan Shela, yang tiba-tiba memasuki kamar Rangga.
__ADS_1
"Huft ... Bisa nggak sih, kalau masuk itu izin dulu?!" tanya Rangga, dengan nada sedikit tinggi. Shela memutar bola matanya malas, lalu melipat tangannya.
"To the point aja! Lo mau ngapain?" tanya Rangga dengan malas.
"Lo pacaran ya, sama Nura?"
Ukhuk! Ukhuk! Ukhuk!
Rangga langsung terbatuk. Yang benar saja? Rangga kira Shela akan melupakan kejadian siang tadi. Tenang Rangga, tenang! Lo harus bersikap tenang!
"Apaan sih, s-siapa yang pacaran? Seharusnya gue yang nanya sama lo. Lo pacaran kan sama Davi?" sontak Shela salting mendengar pertanyaan Rangga. Haha, mampus!
"G-gue ...,"
"Ga! Temen kamu dateng tuh!" Rangga langsung bangkit dari duduknya, ketika mendengar teriakan Mami. Rangga segera keluar dari kamar, menuruni anak tangga satu-persatu dan menemui ketiga kurcaci yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Ngapain kalian malem-malem kesini?" tanya Rangga langsung.
PLAK!
Mami langsung menjitak kepala Rangga. Tatapan tajam ia keluarkan, Rangga hanya mengusap kepala nya yang terkena jitakannya.
"Kamu ini! Temen datang, malah kayak gitu!" Rangga menghembuskan nafas, lalu tersenyum ke arah Mami.
"Iya, Mi, iya. Jangan marah-marah mulu dong, nanti keriput lho," ucap Rangga lembut. Mami hanya menggeleng lalu berlalu pergi.
"Hihihi, makanya jangan kek gitu, Ga." Ketiganya tertawa kecil. Rangga mendatarkan wajah nya, lalu ikut duduk.
"Ada apa kalian kesini?" tanya Rangga, mereka hanya menggeleng.
"Cuma pengen main aja, gabut dirumah," jawab Farell. Sambil meminum jus jeruk yang sudah dihidangkan oleh Mami tadi.
"Kak, pinjem HP!" tiba-tiba saja Shela datang menghampiri Rangga.
"Ukhuk! Ukhuk!" Kulirik Farell yang sedang terbatuk, Rian yang sedang menganga, hingga air yang ia minum keluar habis dari mulutnya, nyamuk ataupun lalat yang lewat, mungkin akan masuk, sementara Arga tak pernah berhenti menatap Shela. Seperti inikah, mereka ketika melihat gadis cantik?
Shela tersenyum ke arah ketiganya. Apa Shela tidak mengenal mereka lagi? Padahal saat kecil, Shela dan ketiganya sering bermain.
"Lo nggak inget mereka?" Shela mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap mereka, dan sedikit berpikir.
"Astoge! Gue lupa! Kak Farell, Kak Rian, dan Kak Arga, kan?" Shela tersenyum seraya duduk.
"Busset! Shela cantik bett," Farell berbisik di telinga Rangga. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu.
***
Rangga sudah siap untuk bersekolah. Rangga pun menuruni tangga satu-persatu menuju ruang makan untuk sarapan, semua anggota keluarga sudah berkumpul sekarang.
"Morning semua," sapa Rangga, sambil mencium pipi Mami dan Papi. Biasa, mencari perhatian Mami dan Papi, karena sejak kemarin Mami hanya terus memarahi Rangga karena kesalahan Rangga, jadi, Rangga akan memperbaiki kesalahannya. Hehe, anak solleh gitu.
"To, sayang," jawab Mami dan Papi. Ehe, senangnya Rangga mendapat perhatian mereka.
"Tumben, pagi-pagi ceria amat," ucap Shela. Rangga menjulurkan lidah mengejeknya. Hello! Rangga juga kesayangan mereka keless!
"Ya serah gue lah! Masbulo?" tanya Rangga sewot, lalu duduk dan mengambil roti.
__ADS_1
"Udah-udah, jan bertengkar," kini, Papi membuka suaranya. Sementara, Rangga dan Shela ngeyel, dan terus saja saling melototi, bahkan saling menjulurkan lidah.
#Bersambung