
Rangga berdiri di ambang pintu kelas. Sontak, semua orang di kelas menatap kearah Rangga, mungkin mereka terkejut melihat penampilan nya, yang sudah seperti orang gila.
Vangke.
Penampilan yang tadinya rapi bak pangeran, kini berubah menjadi ironmen, eh maksudnya orang gila. Semua ini karena para gadis atau mantan yang menghalangi jalan Rangga, mereka menampar pipi Rangga, dan mengacaukan penampilan nya.
Galteng gue!
Farell, Rian, menghampiri Rangga, mungkin mereka akan menyerbu dengan beribu pertanyaan.
"Lo Rangga 'kan?" tanya Farell, sambil memutar tubuh Rangga, beberapa kali.
"Yan, lo kenapa? Pipi, sama telinga lo kok merah?" Kini Rian yang bertanya.
"Astoger lu kenapa? Kok bisa gini? Dan ini ...." Arga memegang kerah baju Rangga. Rangga mendatarkan muka, kekesalan masih berkecamuk di dalam hati.
Tanpa pikir panjang, segera Rangga sambar sweeter milik Arga, dan berlalu pergi menuju tolilet, eh toilet untuk mengganti baju. Tidak mungkin kan, Rangga memakai baju yang saat ini di penuhi oleh lipstik merah.
Hansyim!
***
Jam istirahat telah tiba, hore ... hore ... hore. Ck, malah nyanyi.
Rangga, Farell, Rian, dan Arga berada di kantin, memesan makanan dan menceritakan kejadian yang menimpa Rangga tadi pagi, ck.
"Bhahaha." Ketiganya tertawa lepas mendengar cerita Rangga. Sialan! Mereka malah menertawai Rangga.
Jahat kau Roma!
"Lagian, siapa suruh lo nembak mereka semua, bahaha." Ucap Rian dengan sisa-sisa tawanya.
"Tanggung sendiri akibatnya," sahut Farell.
"Ciiaahh, lo nggak tau apa. Tangan cewek emang lembut, tapi kalau nampar rasanya sakit bett!" ucap Arga. Rangga setuju dengan pendapat Arga, pipi Rangga saja masih memerah akibat tamparan mereka.
"Gini nih, kalau punya temen nggak ada akhlak! Orang lagi kena musibah malah diketawain!" Kesal Rangga sambil memanyunkan bibir lima senti.
"Uluh, uluh. Intan payung marah," Rian mencuil dagu Rangga, kemudian kembali tertawa.
"Ciiah, ngambek dia," Rangga mendatarkan wajahnya, sesekali mencari keberadaan Nura, apakah gadis itu ada dikantin atau tidak.
"Kak!" Rangga menutup telinga nya, mendengar teriakan dari kuntilanak cempreng. Siapa lagi? Kalau bukan Shela.
"Diem lo! Bisa-bisa nih sekolah ambruk akibat teriakan lo! Lagian ada apa sih?!" tanya Rangga kesal.
"Nura masuk rumah sakit!"
__ADS_1
GUBRAK!
"Rumah sakit? Nura? Kok bisa?"
"Nggak tau sebabnya apa, yang pasti, kita harus ngejengukin dia, sehabis pulang sekolah!" Hah! Kenapa aku harus memikirkan gadis itu? Apa pedulimu, Ga?
***
Sepulang sekolah, Rangga segera berlari kearah parkiran, mengambil motornya dan melajukannya cepat. Sengaja Rangga pergi lebih dahulu, malas jika harus bersama Shela.
Entahlah, Rangga merasa bersalah dengan Nura, apa karena hujan kemarin? Atau karena hal lain?
Beberapa menit berlalu, Rangga segera masuk kedalam rumah sakit, bertanya pada saus tar-tar eh maksudnya suster, dimana ruangan tempat dirawatnya Nura.
Terlihat Nuri, dan pembantunya Nura di depan ruangan, anehnya, Rangga tak melihat kedua orang tua Nura dan Arya.
"Bagus lo dateng, dari tadi Nura nyariin lo. Nura nggak mau ketemu siapa-siapa selain lo!" Jelas Arya. Rangga segera masuk kedalam ruangan serba putih tersebut. Nura, gadis itu terbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi Rangga.
"Nura, lo kenap-"
"Abang!"
Nura menarik tubuh Rangga kedalam pelukannya, Rangga begitu terkejut dengan tingkahnya ini. Ayolah! Jangan membuat jantungku berdisko.
Samar-samar terdengar isakan dari gadis ini. Kenapa ia menangis? Apa ia punya masalah?
Jijyiikk!
"Abang, Nura takut," Nura kembali memeluk Rangga, kini ia menangis dengan keras. Tanpa kusadari, tangan Rangga kini membalas pelukan Nura.
Met malem, maaf nggak pernah next. Ada yang kangen nggak? Pasti nggak ada kan?
"Jangan menggunakan seseorang, untuk melupakan seseorang:v"~Rangga Wijaya
Rangga melangkah keluar dari toilet. Perasaan Rangga masih kesal, entah apa yang ingin di katakan Nura. Yang pasti, saat Nura ingin mengatakannya, Shela dan teman-teman Rangha tiba-tiba datang, parahnya Shela mendorong tubuh Rangga. Bikin kezzeeel!
Rangga berjalan memasuki ruangan Nura, terlihat Shela sedang menyodorkan sesendok nasi ke arah Nura. Namun, Nura membungkam mulutnya, sambil menggeleng-gelengkan kelapanya, eh kepalanya. Sementara, trio kadal tersebut sibuk dengan ponselnya, ada juga yang sempat mengupil.
"Nura, lo harus makan!" bujuk Shela yang mulai terlihat kesal. Segera ku hampiri Shela, lalu mengambil alih piring di tangannya.
"Biar gue aja! Gitu aja nggak becus!" ketus Rangga.
"Yee, kayak lo bisa aja!" balas Shela. Hihi, suka deh bikin dia kesel.
"Nura, gue janji. Kalau lo sembuh, gue bakalan traktir lo sepuasnya yang lo mau," Nura menatap manik mata Rangga, Nura terlihat imut sekali, ingin rasanya aku mencubit ginjalnya. Eh.
"Beneran? Es krim juga boleh?" tanyanya sambil mengedipkan matanya berkali-kali, seperti boneka.
__ADS_1
Rangga bukan boneka ... boneka ... boneka. Ck! Malah nyanyi kek kekeiy.
"I-iya, beneran," Rangga menaikkan kedua alisnya. Nura dengan cepat membuka mulutnya, Rangga pun segera menyuapi makanannya.
.
Hari sudah sore, sudah berjam-jam kami menemani Nura. Katanya, Nura dibolehkan pulang hari ini, anehnya, Nura tak mau pulang walau di bujuk berulang kali oleh Arya.
"Nura, ayo kita pulang, Dek." Bujuk Arya, sementara, Nura masih bersembunyi di balik selimut.
"Nggak mau! Nura nggak mau pulang kerumah, Nura takut!" tolaknya, dengan suara isakan seperti anak kecil.
"Yaudah, lo tinggal di rumah gue aja, gimana?"
Duaarr!
Kami semua sontak menatap ke arah Shela. Nura dengan cepat bangkit, seraya mengusap hingusnya.
"Beneran?" tanyanya.
"Iya, beneran ... iya 'kan, Kakak?" Shela menyenggol lengan Rangga, sambil melontarkan senyum palsu plus tajam.
Ngerii!
"I-ya." Rangga mengangguk seraya tersenyum.
"Horee!" Nura meloncat-loncat di ranjangnya kegirangan, kalau ia jatuh, mungkin bisa gawat darurat.
Nura memasuki mobil Farell, sementara, Rangga dan Shela menaiki motor Rangga. Pengennya sih sama si ekhem, tapi malah sama si kuntilanak. Canda woy!
.
Kami semua sampai di kediaman keluarga Wijaya, alias kediaman Rangga.
"Gue pamit dulu ya ... jangan sampai di apa-apain tu anak orang." Bisik Farell, lalu menepuk pundak Rangga.
Vangke.
"Gue juga pamit ... hati-hati ya, nanti buwung lo lepas sangkar." Bisik Rian, sambil menurun-naikkan alisnya.
"Udah, jangan dipikirin ucapan mereka ... tapi, lo harus tetep hati-hati." Rangga mendatarkan wajah nya, sesekali menjitak kepala Arga.
Vangke. Lu kira gue cowok apaan bambang!
Farell, Rian, dan Arga berjalan pergi dari rumah Rangga. Kami semua pun berjalan masuk kedalam rumah Rangga.
"ABANG SAYANG!"
__ADS_1
DEG!