Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 1 Ayah....Tolong Ibu.....


__ADS_3

"Dasar wanita tidak tahu diri!" hardik Daryl


yang langsung menampar pipi Nabila.


Plakk!


Tubuh Nabila langsung terhempas ke lantai,


di kamar Presidential Suite hotel mewah bintang


5 itu, Daryl terlihat sangat murka, sudah


berkali-kali dia meminta Nabila untuk


berhubungan **** dengannya, tapi wanita itu


terus menolaknya.


Tidak ada kata yang terucap dari bibir Nabila,


hanya air mata berderai yang bisa


menggambarkan sakit hatinya karena perlakuan


yang dia terima dari tunangannya.


Namun dia tidak bisa melawan,


perjodohannya dengan Daryl sudah diatur oleh


keluarganya untuk menyelamatkan kondisi


ekonomi keluarganya yang sedang berada di


ambang kehancuran.


"Nabila, aku adalah tunanganmu, keluarga


Mahendra ku juga sudah membantu keluargamu


berulang kali, kita juga nantinya akan menikah,


jadi untuk apa kamu terus menolak


permintaanku." Nafas Daryl memburu cepat,


wajahnya terlihat merah, dia sudah sangat


terbakar amarah.


"A-aku hanya minta kamu bersabar sampai


kita resmi menikah," ucap Nabila terisak, dia


menyeka airmata yang membasahi pipinya


dengan kedua tangannya, di wajahnya tampak


bekas tamparan Daryl tercetak jelas di pipi putih


milik Nabila.


"Bersabar! Apa bedanya nanti dengan


sekarang, jika kamu masih tetap menolak, aku


terpaksa akan memaksamu," kata Daryl dengan


nada tinggi, dia perlahan mendekati Nabila yang


sedang terduduk di lantai kamar itu.


Nabila yang melihat ekspresi menjijikkan


dari wajah Daryl mulai ketakutan, dia beranjak


dan hendak berlari menuju pintu, namun apa


daya Daryl yang sudah sangat bernafsu


langsung menangkapnya, dengan kasar dia


melempar tubuh Nabila ke atas ranjang.


Nabila mencoba memberontak, namun


terlambat, Daryl sudah mengunci badannya,


dengan penuh nafsu, Daryl pun mulai menciumi


wajah Nabila.


"Hentikan Daryl, jika tidak aku akan teriak,"


ancam Nabila sambil memalingkan wajahnya tak


mau di sentuh oleh Daryl.


Mendengar ancaman dari Nabila, Daryl


tertawa sinis, dia berkata, "Teriak saja!


Keluargaku salah satu pemilik saham hotel ini,


apakah kamu kira akan ada yang menolongmu?"


bentak Daryl sambil tertawa dengan jumawa.


Deg


"Apa yang harus aku lakukan saat ini...?"


batin Nabila.


Nabila terdiam, dia sadar apa yang


dikatakan Daryl benar adanya, bahkan saat Daryl


melakukan aksi bejatnya, Daryl tidak mengunci


pintu kamarnya karena yakin tidak akan ada


yang mengganggunya di hotel itu.


Saat Nabila sudah mulai kehilangan harapan,


tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang


berteriak.


"Lepaskan ibuku Pria Jahat!" Teriak Calvin


putra Nabila yang tiba-tiba masuk ke kamar


hotel.


Calvin berlari menuju Daryl yang sedang


memegang tangan Nabila di tempat tidur, dia


lalu memukul badan Daryl dengan sekuat


tenaganya.


Daryl tidak bergeming, serangan bocah


berumur 6 tahun sama sekali hanya seperti


pijatan lembut bagi tubuh atletisnya.

__ADS_1


"Cih, Anak haram ini benar-benar


mengganggu," umpat Daryl sambil mendengus


kesal.


Tanpa pandang bulu, Daryl langsung


menendang Calvin yang sedang memukuli


tubuhnya.


Dukk!


"Ackk!" pekik Calvin meringis kesakitan,


tubuh kecilnya tersungkur ke lantai, hal itu


membuat Nabila kembali memberontak.


"Dasar biadab! Beraninya kamu menendang


putraku!" teriak Nabila meronta-ronta, dia


seakan mendapat kekuatan baru saat melihat


putra kecilnya tersungkur dengan bekas sepatu


di baju kemeja putihnya.


Daryl yang tadi sudah hampir berhasil


melakukan aksinya semakin kesal, karena bocah


itu, Nabila kembali memberontak dengan sekuat


tenaga.


"Yanto! Di mana kamu!" teriak Daryl


memanggil bawahannya yang sedang berjaga di


pintu.


Tak... tak... tak...


Terdengar langkah kaki cepat menghampiri,


tampak seorang pria bertubuh kekar menunduk


dengan sopan kepada Daryl.


"Maaf Tuan Muda, ada apa?" tanya Yanto


yang seakan tidak memedulikan keadaan Nabila


dan Calvin.


"Mengapa kamu biarkan anak haram ini


menggangguku! Bawa dia keluar!" hardik Calvin


sambil terus menahan Nabila yang berusaha


melepaskan dirinya.


"Baik Tuan Muda," jawab Yanto yang


langsung mengangkat tubuh kecil Calvin yang


memegangi perutnya karena tendangan Daryl.


"Lepaskan putraku biadab!" teriak Nabila,


dia mencoba melepaskan diri dari Daryl, tapi


Daryl yang rajin berolahraga di Gym milik


keluarganya.


Plakk! Plak!


Daryl kembali menampar Nabila dengan


tujuan agar Nabila bungkam, namun usahanya


sia-sia, Nabila terus saja meronta dan mencoba


melepaskan diri dari Daryl.


"Jika kamu terus memberontak, aku akan


membunuh putramu," ancam Daryl dengan


suara tinggi.


Mendengar itu Nabila terdiam, dia


memandangi wajah Daryl yang sangat marah,


perlawanannya mulai melemah, dia takut jika


Daryl benar-benar akan melukai putranya.


Daryl yang melihat ekspresi Nabila


tersenyum sinis, dia akhirnya menemukan


kelemahan wanita itu, perlahan dia melepaskan


kedua tangan Nabila yang dia pegangi.


Tidak ada pergerakan dari Nabila, itu


membuatnya tersenyum puas, dengan penuh


nafsu dia mulai melucuti pakaiannya sendiri


satu persatu sambil menatap tubuh Nabila.


"Akhirnya aku bisa merasakan tubuh indah


wanita cantik yang menjadi tunangaku ini..!!"


pikir Daryl dengan tersenyum smirk.


Di luar kamar, Yanto sedang memegang


tubuh Calvin yang masih meringis kesakitan,


area itu merupakan area yang diperuntukkan


untuk keluarga Daryl, sehingga dia yakin tidak


akan ada orang yang akan mengganggunya,


meskipun bocah di tangannya menangis histeris.


Calvin melirik Yanto, walaupun dia masih


kesakitan, kepalanya terus memikirkan cara


untuk menolong ibunya,"Berpikir..berpikir..!!"


gumam Calvin dalam hati.


Dan ketika dia merasa pegangan Yanto


cukup lemah, dengan cepat dia menggigit

__ADS_1


tangan Yanto sekuat tenaganya.


"Acck!" pekik Yanto yang langsung


melempar tubuh Calvin ke lantai.


"Akkhhh!!" ringis Calvin menahan sakit.


Calvin yang terlempar cukup jauh dari Yanto


segera bangkit, dengan sekuat tenaga dia berlari


menjauh dari tempat Yanto yang sedang


memegangi tangannya yang baru saja digigit


oleh Calvin.


"Bocah sialan," hardik Yanto, ketika dia


menoleh dia mendapati Calvin yang sudah


berlari cukup jauh darinya.


Dia ingin mengejar Calvin, namun dia yang


diberi tugas oleh Daryl untuk menjaga pintu


masuk terlihat dilema, dia takut Daryl akan


marah ketika dia tidak ada di tempat saat Daryl


memanggilnya.


"Aku akan mencari bocah itu nanti, lagi pula


apa yang bisa dilakukan dengan bocah kecil


seperti itu...!" batin Yanto sambil mengibaskan


tangannya yang terasa perih.


Yanto tidak terlihat khawatir sama sekali, itu


karena Area Presidential Suite hotel ini di jaga


oleh bawahan keluarga Mahendra milik Daryl, dia


hanya perlu menghubungi temannya yang


berjaga untuk menangkap Calvin yang berlari


menuju Lobby.


------


Calvin terus berlari menuju Lobby Hotel


mewah itu, dia sedikit bernafas lega karena


Yanto tidak mengejarnya, sambil berlari dia terus


berharap bisa menemukan seseorang untuk


membantunya, namun sayangnya tidak banyak


orang yang lewat di area itu, hal itu membuat


Calvin mempercepat larinya menuju hotel.


"Mau ke mana kamu?" kata seorang pria


yang tiba-tiba menangkap tangannya.


Begitu Calvin melihat sosok pria itu,


wajahnya tampak putus asa, dari seragam yang


dia kenakan, dia bisa langsung mengetahui jika


pria yang menangkapnya adalah teman Yanto


yang berjaga di depan pintu kamar hotel tadi.


"Kamu tidak boleh kemana-mana lagi, aku


akan menahanmu di sini sampai Yanto


menjemputmu," kata Pria itu yang tidak


mengetahui alasan Yanto memintanya


menangkap bocah yang berlari menuju lobby.


Calvin menunduk, matanya mulai


berkaca-kaca, dia merasa putus asa karena


tidak bisa membantu ibunya yang sedang dalam


bahaya.


"Ibu.." lirih Calvin mengingat Ibunya yang


saat ini sedang di sakiti.


Calvin tidak menangis bahkan setelah


menerima tendangan dari Daryl, namun saat ini


matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa menolong


ibunya, hal itulah yang membuatnya sedih, tanpa


sadar anak tangguh itu menitikkan airmatanya.


"Hikss..."


"Selamat siang Tuan Muda," kata Pria yang


memegang tangannya.


Mendengar itu Calvin mendongakkan


kepalanya dia melihat tiga orang pria lewat di


dekatnya, dari tiga orang itu, Calvin menatap pria


tampan yang mengenakan setelan jas mewah,


karena pria itu berjalan di depan, dan sikap pria


yang memegangnya terlihat sangat


menghormati pria itu, Calvin dengan cepat bisa


menebak jika pria itu adalah bos dari kedua


orang yang berjalan di belakangnya.


"Ini saatnya ..!!" pikir Calvin.


Calvin menarik nafasnya dalam-dalam,


setelah menghembuskan nafasnya Calvin


berteriak,


"Ayah! Tolong ibu!"

__ADS_1


__ADS_2