
"Dasar wanita tidak tahu diri!" hardik Daryl
yang langsung menampar pipi Nabila.
Plakk!
Tubuh Nabila langsung terhempas ke lantai,
di kamar Presidential Suite hotel mewah bintang
5 itu, Daryl terlihat sangat murka, sudah
berkali-kali dia meminta Nabila untuk
berhubungan **** dengannya, tapi wanita itu
terus menolaknya.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Nabila,
hanya air mata berderai yang bisa
menggambarkan sakit hatinya karena perlakuan
yang dia terima dari tunangannya.
Namun dia tidak bisa melawan,
perjodohannya dengan Daryl sudah diatur oleh
keluarganya untuk menyelamatkan kondisi
ekonomi keluarganya yang sedang berada di
ambang kehancuran.
"Nabila, aku adalah tunanganmu, keluarga
Mahendra ku juga sudah membantu keluargamu
berulang kali, kita juga nantinya akan menikah,
jadi untuk apa kamu terus menolak
permintaanku." Nafas Daryl memburu cepat,
wajahnya terlihat merah, dia sudah sangat
terbakar amarah.
"A-aku hanya minta kamu bersabar sampai
kita resmi menikah," ucap Nabila terisak, dia
menyeka airmata yang membasahi pipinya
dengan kedua tangannya, di wajahnya tampak
bekas tamparan Daryl tercetak jelas di pipi putih
milik Nabila.
"Bersabar! Apa bedanya nanti dengan
sekarang, jika kamu masih tetap menolak, aku
terpaksa akan memaksamu," kata Daryl dengan
nada tinggi, dia perlahan mendekati Nabila yang
sedang terduduk di lantai kamar itu.
Nabila yang melihat ekspresi menjijikkan
dari wajah Daryl mulai ketakutan, dia beranjak
dan hendak berlari menuju pintu, namun apa
daya Daryl yang sudah sangat bernafsu
langsung menangkapnya, dengan kasar dia
melempar tubuh Nabila ke atas ranjang.
Nabila mencoba memberontak, namun
terlambat, Daryl sudah mengunci badannya,
dengan penuh nafsu, Daryl pun mulai menciumi
wajah Nabila.
"Hentikan Daryl, jika tidak aku akan teriak,"
ancam Nabila sambil memalingkan wajahnya tak
mau di sentuh oleh Daryl.
Mendengar ancaman dari Nabila, Daryl
tertawa sinis, dia berkata, "Teriak saja!
Keluargaku salah satu pemilik saham hotel ini,
apakah kamu kira akan ada yang menolongmu?"
bentak Daryl sambil tertawa dengan jumawa.
Deg
"Apa yang harus aku lakukan saat ini...?"
batin Nabila.
Nabila terdiam, dia sadar apa yang
dikatakan Daryl benar adanya, bahkan saat Daryl
melakukan aksi bejatnya, Daryl tidak mengunci
pintu kamarnya karena yakin tidak akan ada
yang mengganggunya di hotel itu.
Saat Nabila sudah mulai kehilangan harapan,
tiba-tiba terdengar suara anak kecil yang
berteriak.
"Lepaskan ibuku Pria Jahat!" Teriak Calvin
putra Nabila yang tiba-tiba masuk ke kamar
hotel.
Calvin berlari menuju Daryl yang sedang
memegang tangan Nabila di tempat tidur, dia
lalu memukul badan Daryl dengan sekuat
tenaganya.
Daryl tidak bergeming, serangan bocah
berumur 6 tahun sama sekali hanya seperti
pijatan lembut bagi tubuh atletisnya.
__ADS_1
"Cih, Anak haram ini benar-benar
mengganggu," umpat Daryl sambil mendengus
kesal.
Tanpa pandang bulu, Daryl langsung
menendang Calvin yang sedang memukuli
tubuhnya.
Dukk!
"Ackk!" pekik Calvin meringis kesakitan,
tubuh kecilnya tersungkur ke lantai, hal itu
membuat Nabila kembali memberontak.
"Dasar biadab! Beraninya kamu menendang
putraku!" teriak Nabila meronta-ronta, dia
seakan mendapat kekuatan baru saat melihat
putra kecilnya tersungkur dengan bekas sepatu
di baju kemeja putihnya.
Daryl yang tadi sudah hampir berhasil
melakukan aksinya semakin kesal, karena bocah
itu, Nabila kembali memberontak dengan sekuat
tenaga.
"Yanto! Di mana kamu!" teriak Daryl
memanggil bawahannya yang sedang berjaga di
pintu.
Tak... tak... tak...
Terdengar langkah kaki cepat menghampiri,
tampak seorang pria bertubuh kekar menunduk
dengan sopan kepada Daryl.
"Maaf Tuan Muda, ada apa?" tanya Yanto
yang seakan tidak memedulikan keadaan Nabila
dan Calvin.
"Mengapa kamu biarkan anak haram ini
menggangguku! Bawa dia keluar!" hardik Calvin
sambil terus menahan Nabila yang berusaha
melepaskan dirinya.
"Baik Tuan Muda," jawab Yanto yang
langsung mengangkat tubuh kecil Calvin yang
memegangi perutnya karena tendangan Daryl.
"Lepaskan putraku biadab!" teriak Nabila,
dia mencoba melepaskan diri dari Daryl, tapi
Daryl yang rajin berolahraga di Gym milik
keluarganya.
Plakk! Plak!
Daryl kembali menampar Nabila dengan
tujuan agar Nabila bungkam, namun usahanya
sia-sia, Nabila terus saja meronta dan mencoba
melepaskan diri dari Daryl.
"Jika kamu terus memberontak, aku akan
membunuh putramu," ancam Daryl dengan
suara tinggi.
Mendengar itu Nabila terdiam, dia
memandangi wajah Daryl yang sangat marah,
perlawanannya mulai melemah, dia takut jika
Daryl benar-benar akan melukai putranya.
Daryl yang melihat ekspresi Nabila
tersenyum sinis, dia akhirnya menemukan
kelemahan wanita itu, perlahan dia melepaskan
kedua tangan Nabila yang dia pegangi.
Tidak ada pergerakan dari Nabila, itu
membuatnya tersenyum puas, dengan penuh
nafsu dia mulai melucuti pakaiannya sendiri
satu persatu sambil menatap tubuh Nabila.
"Akhirnya aku bisa merasakan tubuh indah
wanita cantik yang menjadi tunangaku ini..!!"
pikir Daryl dengan tersenyum smirk.
Di luar kamar, Yanto sedang memegang
tubuh Calvin yang masih meringis kesakitan,
area itu merupakan area yang diperuntukkan
untuk keluarga Daryl, sehingga dia yakin tidak
akan ada orang yang akan mengganggunya,
meskipun bocah di tangannya menangis histeris.
Calvin melirik Yanto, walaupun dia masih
kesakitan, kepalanya terus memikirkan cara
untuk menolong ibunya,"Berpikir..berpikir..!!"
gumam Calvin dalam hati.
Dan ketika dia merasa pegangan Yanto
cukup lemah, dengan cepat dia menggigit
__ADS_1
tangan Yanto sekuat tenaganya.
"Acck!" pekik Yanto yang langsung
melempar tubuh Calvin ke lantai.
"Akkhhh!!" ringis Calvin menahan sakit.
Calvin yang terlempar cukup jauh dari Yanto
segera bangkit, dengan sekuat tenaga dia berlari
menjauh dari tempat Yanto yang sedang
memegangi tangannya yang baru saja digigit
oleh Calvin.
"Bocah sialan," hardik Yanto, ketika dia
menoleh dia mendapati Calvin yang sudah
berlari cukup jauh darinya.
Dia ingin mengejar Calvin, namun dia yang
diberi tugas oleh Daryl untuk menjaga pintu
masuk terlihat dilema, dia takut Daryl akan
marah ketika dia tidak ada di tempat saat Daryl
memanggilnya.
"Aku akan mencari bocah itu nanti, lagi pula
apa yang bisa dilakukan dengan bocah kecil
seperti itu...!" batin Yanto sambil mengibaskan
tangannya yang terasa perih.
Yanto tidak terlihat khawatir sama sekali, itu
karena Area Presidential Suite hotel ini di jaga
oleh bawahan keluarga Mahendra milik Daryl, dia
hanya perlu menghubungi temannya yang
berjaga untuk menangkap Calvin yang berlari
menuju Lobby.
------
Calvin terus berlari menuju Lobby Hotel
mewah itu, dia sedikit bernafas lega karena
Yanto tidak mengejarnya, sambil berlari dia terus
berharap bisa menemukan seseorang untuk
membantunya, namun sayangnya tidak banyak
orang yang lewat di area itu, hal itu membuat
Calvin mempercepat larinya menuju hotel.
"Mau ke mana kamu?" kata seorang pria
yang tiba-tiba menangkap tangannya.
Begitu Calvin melihat sosok pria itu,
wajahnya tampak putus asa, dari seragam yang
dia kenakan, dia bisa langsung mengetahui jika
pria yang menangkapnya adalah teman Yanto
yang berjaga di depan pintu kamar hotel tadi.
"Kamu tidak boleh kemana-mana lagi, aku
akan menahanmu di sini sampai Yanto
menjemputmu," kata Pria itu yang tidak
mengetahui alasan Yanto memintanya
menangkap bocah yang berlari menuju lobby.
Calvin menunduk, matanya mulai
berkaca-kaca, dia merasa putus asa karena
tidak bisa membantu ibunya yang sedang dalam
bahaya.
"Ibu.." lirih Calvin mengingat Ibunya yang
saat ini sedang di sakiti.
Calvin tidak menangis bahkan setelah
menerima tendangan dari Daryl, namun saat ini
matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa menolong
ibunya, hal itulah yang membuatnya sedih, tanpa
sadar anak tangguh itu menitikkan airmatanya.
"Hikss..."
"Selamat siang Tuan Muda," kata Pria yang
memegang tangannya.
Mendengar itu Calvin mendongakkan
kepalanya dia melihat tiga orang pria lewat di
dekatnya, dari tiga orang itu, Calvin menatap pria
tampan yang mengenakan setelan jas mewah,
karena pria itu berjalan di depan, dan sikap pria
yang memegangnya terlihat sangat
menghormati pria itu, Calvin dengan cepat bisa
menebak jika pria itu adalah bos dari kedua
orang yang berjalan di belakangnya.
"Ini saatnya ..!!" pikir Calvin.
Calvin menarik nafasnya dalam-dalam,
setelah menghembuskan nafasnya Calvin
berteriak,
"Ayah! Tolong ibu!"
__ADS_1