Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 13 Keseriusan Ivan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Daryl yang sedang murka langsung pergi


menemui Winarto untuk melampiaskan


kekesalannya, dia sangat marah karena Winarto


tidak berhasil menyelesaikan permasalahan


yang terjadi antara dirinya dan Ivan Barata yang


berakibat di keluarkannya keluarga mahendra


sebagai pemilik saham The Barritz Hotel.


"Dasar tua bangka sialan! Dia benar-benar


berani karena mengabaikan perintahku.!" umpat


Daryl dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.


Sepanjang perjalanan dia terus mengumpat


dan mengutuk Winarto, Yanto yang sedang


bersamanya hanya bisa menunduk, dia tidak


berani menatap Daryl karena takut menjadi


objek pelampiasan kekesalan Daryl.


Beberapa saat kemudian mobil mereka


akhirnya tiba di pelataran The Barritz Hotel, Daryl


sendiri masih tetap bersikap arogan seperti


biasanya, dengan gaya berjalan yang terlihat


angkuh, dia melangkahkan kakinya menuju


lobby hotel itu.


"Winarto!! Di mana kamu berengsek!" teriak


Daryl yang sontak membuat semua orang yang


berada di lobby hotel terkejut.


Beberapa tamu hotel tampak menjauhi


tempat Daryl, sedangkan pihak keamanan hotel


mulai berdatangan setelah menerima informasi


dari karyawan resepsionis hotel yang melihat


kejadian itu.


Winarto yang juga mengetahui hal tersebut


segera meninggalkan ruangannya, dengan


berlari kecil, dia pergi menemui Daryl yang


sedang mencarinya.


"Bawa Winarto ke depanku!" bentak Daryl ke


pada salah satu petugas keamanan hotel itu.


"Maaf Tuan Daryl, ada baiknya jika Tuan


tidak membuat keributan seperti ini.!" Petugas


itu dengan tenang mencoba menenangkan Daryl


yang terus berbicara dengan nada tinggi.


"Oh... kamu sekarang berani menentangku,


apakah kamu lupa siapa aku...?" bentak Daryl


kembali kepada petugas itu.


"Tuan maaf... ini-"


Saat petugas itu terus mencoba


menenangkan Daryl, Winarto yang sudah tiba di


lokasi segera menghampiri mereka.


"Maaf jika anda hanya ingin membuat


keributan sebaiknya tinggalkan saja hotel kami..!"


seru Winarto tegas.


Daryl segera menoleh, begitu dia melihat


Winarto emosinya semakin menjadi-jadi, dengan


cepat dia meraih kerah jas Winarto.


"Kamu bereng...


Namun semua tidak berjalan sesuai


keinginan Daryl, tepat sebelum dia menyentuh


kerah jas Winarto, dua orang petugas keamanan


segera menghalau dirinya.


"Perhatikan sikap anda.!!" seru petugas itu


sambil menatap Daryl tajam.


Daryl menjadi semakin emosi, harga dirinya


tidak menerima perlakuan petugas keamanan


hotel ini, dia yang selalu diperlakukan layaknya


raja di hotel ini tidak bisa menerima begitu


petugas keamanan hotel berani menentang


perintahnya.


"Kalian bereng."


"Berhentilah bersikap konyol, keluargamu


bukan lagi pemilik saham hotel ini, jika kamu


terus mencari masalah, aku terpaksa mengambil


tindakan sesuai dengan aturan hotel ini.."


ancam Winarto tegas.


Deg..


Mendengar ancaman Winarto, Daryl


akhirnya tersadar jika statusnya saat ini bukan


siapa-siapa di hotel ini, tatapan senmua karyawan


kepadanya juga sangat tidak bersahabat, sangat


berbeda ketika keluarganya masih berstatus


pemegang saham hotel ini.


Yanto yang melihat situasi semakin kurang


bagus untuk mereka berdua bergegas menarik


lengan Daryl.


"Tuan Daryl, sebaiknya kita pergi


meninggalkan tempat ini," bisik Yanto yang juga


mulai cemas dengan kehadiran petugas


keamanan hotel yang semakin banyak.


"Arggg..!." teriak Daryl.


Dia sendiri sebenarnya tidak mau mundur


dan terus ingin mempermalukan Winarto di


depan seluruh bawahannya, namun dia sadar


jika kondisinya saat ini tidak berpihak kepadanya,


selain karena petugas keamanan yang semakin


banyak, dia juga sadar jika Winarto mungkin


memiliki bukti kelakuan tidak senonoh yang


telah dia lakukan di hotel ini.


Tanpa berkata-kata dia berbalik dan segera

__ADS_1


melangkah pergi meninggalkan Winarto dengan


ekspresi wajah yang sangat marah, Yanto yang


berada di belakangnya segera mengikuti Daryl,


mereka berdua menuju mobil mereka dan pergi


meninggalkan hotel itu.


"Aku akan membalas perbuatan keluarga


Barata, khususnya si berengsek yang bernama


lvan itu!" umpat Daryl sambil mengepalkan


tinjunya.


"Bos, bagaimana jika kamu mengajukan


komplain ke keluarga Nabila, biar bagaimana


pun juga dia tetap kekasihmu, jadi..." Yanto


segera tersenyum sinis sambil melirik Daryl


tanpa menyelesaikan ucapannya.


Melihat tatapan Yanto, berbagai ide seakan


terus bermunculan di kepala Daryl, dia sadar jika


dia bisa menjalankan berbagai cara untuk


membuat Ivan kesal melalui keluarga Nabila.


"Hahaha... kamu benar Yanto.. aku bisa


menekan keluarga Nabila untuk melampiaskan


kekesalan ku.!" ucapnya sambil tertawa.


Inah terus tertawa kecil melihat ekspresi


wajah yang ditunjukkan oleh lvan saat ini.


Bagaimana tidak, bukannya menyantap


sarapan yang disiapkan, lvan yang sedang


bertopang dagu, terus menatap Nabila yang


sedang menyuapi Calvin, dia juga tampak


sesekali tersenyum sambil memainkan roti yang


berada di piring menggunakan garpu yang


sedang dia pegang dengan tangan kanannya.


"Dia benar-benar cantik.." ucap Inah


menggoda lvan.


"lya dia sangat cantik." kata lvan


membenarkan Inah.


"Dia pasti cocok menjadi istri anda," ucap


Inah lagi sambil menahan tawanya.


"Tentu saja, dia pilihan terbaik untuk


kujadikan istri..." jawab lvan spontan yang


seakan terhipnotis memandangi kecantikan


wajah Nabila.


"Pasti anak-anak anda akan terlihat begitu


menggemaskan," sambung Inah kembali


menggoda lvan.


"Tentu saja, jika aku memiliki putra dia akan


setampan diriku dan Calvin, dan jika aku


memiliki putri aku yakin dia akan secantik Nabila


.. " jawab lvan lagi, tanpa sadar dia terus


membalas ucapan Inah.


Wajah Nabila semakin memerah, dia tentu


hanya berpura-pura tidak mendengar ucapan


Ivan yang terus memandangi dirinya.


"lbu.." protes Calvin begitu Nabila


mengarahkan sendok berisi sereal ke hidung


Calvin.


"Ah... maaf" ucap Nabila panik, dia lalu


mengambil tisu dan membersihkan hidung dan


wajah Calvin yang terkena tumpahan sereal.


"Hahaha, kalian berdua memang pasangan


yang serasi...!" seru Inah sambil menepuk


pundak lvan.


Mendapat tepukan yang cukup keras di


pundaknya, membuat kesadaran lvan kembali.


Dia akhirnya sadar jika Inah sedari tadi terus


menggodanya, wajahnya juga memerah, dia


menunduk sambil menyantap hidangan yang


berada di piringnya.


Tuti yang baru saja tiba merasa sedikit aneh


melihat sikap lvan dan Nabila, mereka berdua


tampak menunduk dengan wajah kemerahan.


"Pssst Inah, apa yang terjadi?" tanya Tuti


sambil berbisik kepada Inah.


Inah mendekatkan wajahnya ke telinga Tuti,


dia lalu menjelaskan apa yang baru saja terjadi


diantara lvan dan Nabila.


"Kejadiannya seperti ini.." bisik Inah


menjelaskan.


Tuti langsung tertawa begitu mendengar


penjelasan Inah. Tuti tidak menyembunyikan


tawanya sama sekali, dia yang sudah bekerja


puluhan tahun di keluarga Barata tampak santai


menertawakan kelakuan lvan dan Nabila.


Mendengar tawa lepas Tuti, lvan dan Nabila


saling melirik dan langsung tersenyum dengan


wajah yang memerah.


Calvin yang sedang disuapi oleh Nabila


tampak mengernyitkan alisnya, dia bisa melihat


gelagat aneh dari Ibunya dan lvan.


Dia sadar jika telah terjadi sesuatu antara


Ivan dan lbunya ketika dia tidur, naluri


detektifnya bangkit, dia berniat mencari tahu


penyebab ibunya dan lvan bersikap seperti itu.


Beberapa saat kemudian, mereka telah


selesai sarapan, lvan juga sedang bersiap untuk


berangkat kerja.


"Nabila, apakah Calvin tidak bersekolah hari


ini...?" tanya Ivan begitu melihat Calvin menuju

__ADS_1


ruangan tempat dia menyimpan koleksi action


figurenya.


"Dia seharusnya bersekolah hari ini, tap.."


Nabila tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia


terlihat berat mengucapkan alasannya kepada


lvan


"Ada apa?" tanya lvan penasaran.


Nabila masih terdiam, alasannya sederhana,


semua perlengkapan sekolah Calvin berada di


rumah pamannya tempat dia dan Calvin tinggal,


setelah kejadian kemarin dia tahu jika Daryl tidak


akan melepaskannya dan akan segera mengadu


ke paman dan Bibinya.


"Ayo ikut aku, kamu mungkin tidak merasa


nyaman membicarakan ini disini..." ajak lvan.


Ivan yang melihat itu segera bangkit dari


duduknya, dia meraih tangan Nabila dan


menuntunnya menuju teras rumahnya.


Nabila terdiam, dia tidak menolak dan


mengikuti Ivan yang sedang memegang


tangannya dengan lembut.


Ivan lalu meminta Nabila duduk dikursi, dia


lalu menarik kursi kosong yang berada di


dekatnya ke depan Nabila.


Ivan dan Nabila duduk berhadapan, lutut


mereka berdua sangat dekat sampai hampir


bersentuhan.


Ivan meraih kedua tangan Nabila, "Nabila,


aku tidak bermain-main dengan ucapanku


semalam, aku siap menjadi ayah sambung


Calvin, jadi kumohon ceritakan semuanya


kepadaku..." ucap lvan dengan lembut.


Nabila menghela nafasnya beberapa kali, dia


tahu jika lvan sangat bersungguh-sungguh dan


tidak sekalipun dia meragukan perkataan Ivan.


"lvan, kamu tahu 'kan jika aku dan Calvin


saat ini tinggal di rumah paman dan bibiku?"


tanya Nabila yang langsung dibalas anggukan


kepala oleh lvan.


"Aku dan Calvin juga menggantungkan


hidupku dari uang pemberian mereka, kamu juga


sudah tahu tentang itu 'kan?" ujar Nabila lagi.


Ivan kembali menganggukkan kepalanya,


dia sudah mendengar cerita tentang itu


semalam dari Nabila.


"Setelah kejadian kemarin, aku takut Daryl


sudah melaporkan kejadian itu ke Paman dan


Bibiku, mereka berdua pasti sangat marah


kepadaku, untuk itu aku berencana menghadap


mereka berdua seorang diri terlebih dahulu, aku


tidak ingin Calvin melihat paman dan bibiku


marah kepadaku," jelas Nabila dengan ekspresi


wajah yang sedih.


Melihat ekspresi sedih wanita yang


dicintainya membuat hati lvan sakit. Dalam hati


dia mengutuk paman dan bibi Nabila.


"Nabila, kenaap kamu tidak bekerja? Jika


kamu sudah mendapatkan pekerjaan, kamu


tidak perlu lagi bergantung dengan uang


pemberian dari keluargamu, dengan begitu


kamu bisa meninggalkan rumah itu dan hidup


tenang tanpa tekanan bersama Calvin." ujar lvan.


Nabila tersenyum mendengar perkataan


Ivan, dia menggenggam balik kedua tangan Ivan.


"Aku hanya lulusan SMA, tidak banyak


pekerjaan yang bisa aku lamar dengan ijazah


yang aku miliki, dan lagi jika aku bekerja? siapa


yang akan menjaga Calvin, keluargaku sangat


membenci Calvin, aku tidak mungkin bisa


menitipkan putraku kepada orang-orang yang


membencinya.." terang Nabila sambil kembali


tersenyum lembut kepada lvan.


Ivan menunduk lesu, apa yang dikatakan


Nabila ada benarnya, sambil terus memegangi


tangan Nabila dia memikirkan cara untuk


membantu Nabila, setelah beberapa saat dia


kembali menatap wajah Nabila.


"Nabila, mulai sekarang bagaimana jika


kamu tinggal bersamaku?" seru lvan sambil


menatap tajam manik mata Nabila.


Mata Nabila langsung membelalak begitu


mendengar ucapan lvan, dia tidak pernah


menyangka jika lvan akan memintanya tinggal


bersama.


"Ivan, aku hargai keramahanmu tapi..."


"Nabila, aku tahu ini begitu tiba-tiba, tapi


kumohon percaya kepadaku, aku akan


membantumu dan Calvin, aku akan


menunjukkan keseriusanku menjadi ayah Calvin,"


sela Ivan memotong ucapan Nabila.


"Paman Ivan mau menjadi ayahku...??!!" seru


Calvin yang tiba-tiba muncul. Wajahnya tampak


berseri-seri menatap Nabila dan lvan yang saling


berpegangan tangan.


Nabila dan lvan sontak menoleh ke Calvin,


mereka berdua kompak berkata, "Calvin?"

__ADS_1


__ADS_2