
Keesokan harinya.
Daryl yang sedang murka langsung pergi
menemui Winarto untuk melampiaskan
kekesalannya, dia sangat marah karena Winarto
tidak berhasil menyelesaikan permasalahan
yang terjadi antara dirinya dan Ivan Barata yang
berakibat di keluarkannya keluarga mahendra
sebagai pemilik saham The Barritz Hotel.
"Dasar tua bangka sialan! Dia benar-benar
berani karena mengabaikan perintahku.!" umpat
Daryl dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.
Sepanjang perjalanan dia terus mengumpat
dan mengutuk Winarto, Yanto yang sedang
bersamanya hanya bisa menunduk, dia tidak
berani menatap Daryl karena takut menjadi
objek pelampiasan kekesalan Daryl.
Beberapa saat kemudian mobil mereka
akhirnya tiba di pelataran The Barritz Hotel, Daryl
sendiri masih tetap bersikap arogan seperti
biasanya, dengan gaya berjalan yang terlihat
angkuh, dia melangkahkan kakinya menuju
lobby hotel itu.
"Winarto!! Di mana kamu berengsek!" teriak
Daryl yang sontak membuat semua orang yang
berada di lobby hotel terkejut.
Beberapa tamu hotel tampak menjauhi
tempat Daryl, sedangkan pihak keamanan hotel
mulai berdatangan setelah menerima informasi
dari karyawan resepsionis hotel yang melihat
kejadian itu.
Winarto yang juga mengetahui hal tersebut
segera meninggalkan ruangannya, dengan
berlari kecil, dia pergi menemui Daryl yang
sedang mencarinya.
"Bawa Winarto ke depanku!" bentak Daryl ke
pada salah satu petugas keamanan hotel itu.
"Maaf Tuan Daryl, ada baiknya jika Tuan
tidak membuat keributan seperti ini.!" Petugas
itu dengan tenang mencoba menenangkan Daryl
yang terus berbicara dengan nada tinggi.
"Oh... kamu sekarang berani menentangku,
apakah kamu lupa siapa aku...?" bentak Daryl
kembali kepada petugas itu.
"Tuan maaf... ini-"
Saat petugas itu terus mencoba
menenangkan Daryl, Winarto yang sudah tiba di
lokasi segera menghampiri mereka.
"Maaf jika anda hanya ingin membuat
keributan sebaiknya tinggalkan saja hotel kami..!"
seru Winarto tegas.
Daryl segera menoleh, begitu dia melihat
Winarto emosinya semakin menjadi-jadi, dengan
cepat dia meraih kerah jas Winarto.
"Kamu bereng...
Namun semua tidak berjalan sesuai
keinginan Daryl, tepat sebelum dia menyentuh
kerah jas Winarto, dua orang petugas keamanan
segera menghalau dirinya.
"Perhatikan sikap anda.!!" seru petugas itu
sambil menatap Daryl tajam.
Daryl menjadi semakin emosi, harga dirinya
tidak menerima perlakuan petugas keamanan
hotel ini, dia yang selalu diperlakukan layaknya
raja di hotel ini tidak bisa menerima begitu
petugas keamanan hotel berani menentang
perintahnya.
"Kalian bereng."
"Berhentilah bersikap konyol, keluargamu
bukan lagi pemilik saham hotel ini, jika kamu
terus mencari masalah, aku terpaksa mengambil
tindakan sesuai dengan aturan hotel ini.."
ancam Winarto tegas.
Deg..
Mendengar ancaman Winarto, Daryl
akhirnya tersadar jika statusnya saat ini bukan
siapa-siapa di hotel ini, tatapan senmua karyawan
kepadanya juga sangat tidak bersahabat, sangat
berbeda ketika keluarganya masih berstatus
pemegang saham hotel ini.
Yanto yang melihat situasi semakin kurang
bagus untuk mereka berdua bergegas menarik
lengan Daryl.
"Tuan Daryl, sebaiknya kita pergi
meninggalkan tempat ini," bisik Yanto yang juga
mulai cemas dengan kehadiran petugas
keamanan hotel yang semakin banyak.
"Arggg..!." teriak Daryl.
Dia sendiri sebenarnya tidak mau mundur
dan terus ingin mempermalukan Winarto di
depan seluruh bawahannya, namun dia sadar
jika kondisinya saat ini tidak berpihak kepadanya,
selain karena petugas keamanan yang semakin
banyak, dia juga sadar jika Winarto mungkin
memiliki bukti kelakuan tidak senonoh yang
telah dia lakukan di hotel ini.
Tanpa berkata-kata dia berbalik dan segera
__ADS_1
melangkah pergi meninggalkan Winarto dengan
ekspresi wajah yang sangat marah, Yanto yang
berada di belakangnya segera mengikuti Daryl,
mereka berdua menuju mobil mereka dan pergi
meninggalkan hotel itu.
"Aku akan membalas perbuatan keluarga
Barata, khususnya si berengsek yang bernama
lvan itu!" umpat Daryl sambil mengepalkan
tinjunya.
"Bos, bagaimana jika kamu mengajukan
komplain ke keluarga Nabila, biar bagaimana
pun juga dia tetap kekasihmu, jadi..." Yanto
segera tersenyum sinis sambil melirik Daryl
tanpa menyelesaikan ucapannya.
Melihat tatapan Yanto, berbagai ide seakan
terus bermunculan di kepala Daryl, dia sadar jika
dia bisa menjalankan berbagai cara untuk
membuat Ivan kesal melalui keluarga Nabila.
"Hahaha... kamu benar Yanto.. aku bisa
menekan keluarga Nabila untuk melampiaskan
kekesalan ku.!" ucapnya sambil tertawa.
Inah terus tertawa kecil melihat ekspresi
wajah yang ditunjukkan oleh lvan saat ini.
Bagaimana tidak, bukannya menyantap
sarapan yang disiapkan, lvan yang sedang
bertopang dagu, terus menatap Nabila yang
sedang menyuapi Calvin, dia juga tampak
sesekali tersenyum sambil memainkan roti yang
berada di piring menggunakan garpu yang
sedang dia pegang dengan tangan kanannya.
"Dia benar-benar cantik.." ucap Inah
menggoda lvan.
"lya dia sangat cantik." kata lvan
membenarkan Inah.
"Dia pasti cocok menjadi istri anda," ucap
Inah lagi sambil menahan tawanya.
"Tentu saja, dia pilihan terbaik untuk
kujadikan istri..." jawab lvan spontan yang
seakan terhipnotis memandangi kecantikan
wajah Nabila.
"Pasti anak-anak anda akan terlihat begitu
menggemaskan," sambung Inah kembali
menggoda lvan.
"Tentu saja, jika aku memiliki putra dia akan
setampan diriku dan Calvin, dan jika aku
memiliki putri aku yakin dia akan secantik Nabila
.. " jawab lvan lagi, tanpa sadar dia terus
membalas ucapan Inah.
Wajah Nabila semakin memerah, dia tentu
hanya berpura-pura tidak mendengar ucapan
Ivan yang terus memandangi dirinya.
"lbu.." protes Calvin begitu Nabila
mengarahkan sendok berisi sereal ke hidung
Calvin.
"Ah... maaf" ucap Nabila panik, dia lalu
mengambil tisu dan membersihkan hidung dan
wajah Calvin yang terkena tumpahan sereal.
"Hahaha, kalian berdua memang pasangan
yang serasi...!" seru Inah sambil menepuk
pundak lvan.
Mendapat tepukan yang cukup keras di
pundaknya, membuat kesadaran lvan kembali.
Dia akhirnya sadar jika Inah sedari tadi terus
menggodanya, wajahnya juga memerah, dia
menunduk sambil menyantap hidangan yang
berada di piringnya.
Tuti yang baru saja tiba merasa sedikit aneh
melihat sikap lvan dan Nabila, mereka berdua
tampak menunduk dengan wajah kemerahan.
"Pssst Inah, apa yang terjadi?" tanya Tuti
sambil berbisik kepada Inah.
Inah mendekatkan wajahnya ke telinga Tuti,
dia lalu menjelaskan apa yang baru saja terjadi
diantara lvan dan Nabila.
"Kejadiannya seperti ini.." bisik Inah
menjelaskan.
Tuti langsung tertawa begitu mendengar
penjelasan Inah. Tuti tidak menyembunyikan
tawanya sama sekali, dia yang sudah bekerja
puluhan tahun di keluarga Barata tampak santai
menertawakan kelakuan lvan dan Nabila.
Mendengar tawa lepas Tuti, lvan dan Nabila
saling melirik dan langsung tersenyum dengan
wajah yang memerah.
Calvin yang sedang disuapi oleh Nabila
tampak mengernyitkan alisnya, dia bisa melihat
gelagat aneh dari Ibunya dan lvan.
Dia sadar jika telah terjadi sesuatu antara
Ivan dan lbunya ketika dia tidur, naluri
detektifnya bangkit, dia berniat mencari tahu
penyebab ibunya dan lvan bersikap seperti itu.
Beberapa saat kemudian, mereka telah
selesai sarapan, lvan juga sedang bersiap untuk
berangkat kerja.
"Nabila, apakah Calvin tidak bersekolah hari
ini...?" tanya Ivan begitu melihat Calvin menuju
__ADS_1
ruangan tempat dia menyimpan koleksi action
figurenya.
"Dia seharusnya bersekolah hari ini, tap.."
Nabila tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia
terlihat berat mengucapkan alasannya kepada
lvan
"Ada apa?" tanya lvan penasaran.
Nabila masih terdiam, alasannya sederhana,
semua perlengkapan sekolah Calvin berada di
rumah pamannya tempat dia dan Calvin tinggal,
setelah kejadian kemarin dia tahu jika Daryl tidak
akan melepaskannya dan akan segera mengadu
ke paman dan Bibinya.
"Ayo ikut aku, kamu mungkin tidak merasa
nyaman membicarakan ini disini..." ajak lvan.
Ivan yang melihat itu segera bangkit dari
duduknya, dia meraih tangan Nabila dan
menuntunnya menuju teras rumahnya.
Nabila terdiam, dia tidak menolak dan
mengikuti Ivan yang sedang memegang
tangannya dengan lembut.
Ivan lalu meminta Nabila duduk dikursi, dia
lalu menarik kursi kosong yang berada di
dekatnya ke depan Nabila.
Ivan dan Nabila duduk berhadapan, lutut
mereka berdua sangat dekat sampai hampir
bersentuhan.
Ivan meraih kedua tangan Nabila, "Nabila,
aku tidak bermain-main dengan ucapanku
semalam, aku siap menjadi ayah sambung
Calvin, jadi kumohon ceritakan semuanya
kepadaku..." ucap lvan dengan lembut.
Nabila menghela nafasnya beberapa kali, dia
tahu jika lvan sangat bersungguh-sungguh dan
tidak sekalipun dia meragukan perkataan Ivan.
"lvan, kamu tahu 'kan jika aku dan Calvin
saat ini tinggal di rumah paman dan bibiku?"
tanya Nabila yang langsung dibalas anggukan
kepala oleh lvan.
"Aku dan Calvin juga menggantungkan
hidupku dari uang pemberian mereka, kamu juga
sudah tahu tentang itu 'kan?" ujar Nabila lagi.
Ivan kembali menganggukkan kepalanya,
dia sudah mendengar cerita tentang itu
semalam dari Nabila.
"Setelah kejadian kemarin, aku takut Daryl
sudah melaporkan kejadian itu ke Paman dan
Bibiku, mereka berdua pasti sangat marah
kepadaku, untuk itu aku berencana menghadap
mereka berdua seorang diri terlebih dahulu, aku
tidak ingin Calvin melihat paman dan bibiku
marah kepadaku," jelas Nabila dengan ekspresi
wajah yang sedih.
Melihat ekspresi sedih wanita yang
dicintainya membuat hati lvan sakit. Dalam hati
dia mengutuk paman dan bibi Nabila.
"Nabila, kenaap kamu tidak bekerja? Jika
kamu sudah mendapatkan pekerjaan, kamu
tidak perlu lagi bergantung dengan uang
pemberian dari keluargamu, dengan begitu
kamu bisa meninggalkan rumah itu dan hidup
tenang tanpa tekanan bersama Calvin." ujar lvan.
Nabila tersenyum mendengar perkataan
Ivan, dia menggenggam balik kedua tangan Ivan.
"Aku hanya lulusan SMA, tidak banyak
pekerjaan yang bisa aku lamar dengan ijazah
yang aku miliki, dan lagi jika aku bekerja? siapa
yang akan menjaga Calvin, keluargaku sangat
membenci Calvin, aku tidak mungkin bisa
menitipkan putraku kepada orang-orang yang
membencinya.." terang Nabila sambil kembali
tersenyum lembut kepada lvan.
Ivan menunduk lesu, apa yang dikatakan
Nabila ada benarnya, sambil terus memegangi
tangan Nabila dia memikirkan cara untuk
membantu Nabila, setelah beberapa saat dia
kembali menatap wajah Nabila.
"Nabila, mulai sekarang bagaimana jika
kamu tinggal bersamaku?" seru lvan sambil
menatap tajam manik mata Nabila.
Mata Nabila langsung membelalak begitu
mendengar ucapan lvan, dia tidak pernah
menyangka jika lvan akan memintanya tinggal
bersama.
"Ivan, aku hargai keramahanmu tapi..."
"Nabila, aku tahu ini begitu tiba-tiba, tapi
kumohon percaya kepadaku, aku akan
membantumu dan Calvin, aku akan
menunjukkan keseriusanku menjadi ayah Calvin,"
sela Ivan memotong ucapan Nabila.
"Paman Ivan mau menjadi ayahku...??!!" seru
Calvin yang tiba-tiba muncul. Wajahnya tampak
berseri-seri menatap Nabila dan lvan yang saling
berpegangan tangan.
Nabila dan lvan sontak menoleh ke Calvin,
mereka berdua kompak berkata, "Calvin?"
__ADS_1