Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 7 Calon Istri


__ADS_3

"Pak Winarto," panggil Daryl sambil


tersenyum.


Winarto yang baru saja mengantar lvan ke


mobilnya langsung menoleh ke Daryl, "Hmm.


tidak biasanya orang ini memanggilku dengan


menyematkan kata 'Pak' di depan namaku,"


batinnya.


"Ada apa Tuan lvan?" balas Winarto sopan.


"Ah... Pak Winarto tidak perlu memanggilku


dengan sopan seperti itu, Bapak berusia sama


seperti ayahku, cukup panggil namaku saja,"


kata Daryl sambil kembali tersenyum.


Winarto sedikit terkejut mendengar itu, dia


merasa aneh dengan sikap sopan yang di


tunjukkan Daryl, dia pun tiba-tiba teringat pesan


lvan yang ingin menendang keluarga Mahendra


dari pemegang saham di Hotel ini.


Winarto langsung menebak jika alasan Daryl


bersikap sopan ada kaitannya dengan


permintaan lvan.


"Baiklah, jadi apa yang bisa aku bantu?"


Daryl kembali tersenyum, dia lalu merangkul


pundak Winarto, "Begini Pak Winarto, karena


sesuatu hal, aku baru saja terlibat sedikit


masalah dengan lvan dari keluarga Barata, aku


harap Pak Winarto akan membantuku


menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi


antara aku dan lvan," terang Daryl.


Dugaan Winarto benar, karena status


keluarga Mahendra masih pemegang saham


hotel ini, dia pun menerima permintaan Daryl!.


"Anda tenang saja, aku akan membantu


Anda," jawab Winarto.


Daryl menepuk-nepuk halus pundak Winarto,


dia tahu Winarto adalah kacung yang bisa


diandalkan, Tak sekalipun Winarto berani


menegurnya walau dia terus berbuat onar di


hotel itu, karena itulah dia meminta Winarto


untuk menyelesaikan masalah ini.


"Terima kasih atas bantuanmu, aku akan


meminta ayahku untuk memperhatikanmu di


masa depan," ucap Daryl sambil tertawa.


Setelah menyampaikan permintaannya dia


pun pergi meninggalkan hotel itu bersama Yanto.


Begitu mobil Daryl meninggalkan Hotel,


Winarto langsung mengambil ponselnya, dia lalu


menghubungi ayah lvan yang bernama Gunnadi


Barata.


Tut...


"Halo Winarto," jawab Gunnadi.


"Halo Tuan Gunnadi, sebelumnya maaf


karena aku mengganggu waktu Anda," balas


Winarto sopan.


"Hahaha, tidak apa-apa, aku juga sedang


tidak sibuk, jadi ada perlu apa kamu


menghubungiku?" tanya Gunnadi.


"Aku bermaksud menyampaikan pesan dari


Tuan lvan kepada Anda.


"Pesan dari lvan?" Gunnadi sangat


kebingungan ketika mendengar ini, putranya


bisa langsung menghubunginya, jadi sangat


aneh jika Putranya meminta Winarto untuk


menyampaikan pesan kepadanya.


"lya Tuan, sebelum pulang tadi, Tuan Ivan


berpesan agar keluarga Mahendra di keluarkan


sebagai pemilik saham hotel ini," jelas Winarto.


"Hoo... ini menarik, apakah kamu tahu


alasan mengapa lvan ingin mengeluarkan


keluarga Mahendra?" tanya Gunnadi.


"Aku tidak tahu pasti mengenai hal itu, tapi


aku menduga ini ada hubungannya dengan Tuan


Muda dari keluarga Mahendra yang bernama


Daryl."


"Daryl?" tanya Gunnadi lagi, dia benar-benar


merasa asing dengan nama yang baru saja


Winarto sebutkan.


"lya Tuan, jika tidak keberatan aku akan


sedikit menjelaskan tentang kelakuan Daryl di


Hotel ini," kata Winarto.


Dia yang sudah muak dengan kelakuan


Daryl akhirnya mulai menceritakan apa saja yang


telah dilakukan Daryl di Hotel ini, mulai dari tidak


bersikap sopan kepada manajemen Hotel,


sampai dengan menggunakan fasilitas hotel


semaunya untuk bersenang-senang dengan


wanita.


"Berengsek, dia pikir dia siapa berani


berbuat seperti itu di hotelku, Winarto mengapa


kamu baru memberitahuku ini sekarang," tanya


Gunnadi, dia sedikit marah karena Winarto tidak


pernah memberitahu ini kepadanya.


"Maafkan aku Tuan Gunnadi, posisiku tidak


begitu bagus jika harus berurusan dengan

__ADS_1


keluarga Mahendra, aku baru berani


menyampaikan ini setelah Tuan lvan ingin


mengeluarkan keluarga Mahendra," jawab


Winarto.


"Hah... Aku rasa kamu benar, mungkin


karena itulah putraku memintamu


menyampaikan hal ini kepadaku, itu karena


kamu lebih mengetahui watak Daryl dari pada


putraku," kata Gunnadi.


"Baiklah, sekarang umumkan kepada


seluruh manajemen Hotel, mulai detik ini,


keluarga Mahendra bukan lagi pemilik saham di


hotel milikku, jika dia berani berbuat onar di


tempatku, kalian bisa menindak dia sesuai


peraturan yang berlaku, aku sendiri yang akan


menyuruh keluarga Mahendra untuk


melepaskan saham mereka di hotelku," tegas


Gunnadi.


"Siap Tuan Gunnadi," jawab Winarto


mengakhiri pembicaraan mereka.


ini


Setelah menutup telepon, Winarto meminta


salah satu karyawannya untuk mengumpulkan


semua orang di ruang meeting, dia akan


mengumumkan tentang keluarga Mahendra


yang tidak lagi menjadi pemilik saham di hotel


Beberapa saat kemudian Daryl akhirnya tiba


di rumah orang tuanya, dengan santai dia


berjalan masuk ke dalam rumahnya, begitu dia


membuka pintu, ayahnya yang bernama Henry


Mahendra langsung melemparnya dengan surat


kabar.


Tak!!


"Oucch," pekik Daryl begitu surat kabar itu


mendarat di wajahnya.


"Dasar anak bodoh! Kamu benar-benar


sudah membuatku malu! Beraninya kamu


berbuat onar di hotel, kamu bahkan berani


mengganggu Putra Tuan Gunnadi!" hardik Henry


yang terlihat sangat kesal.


"A...Ayah ada apa ini?" tanya Daryl.


"Kamu masih berani bertanya? Dasar kamu.


" ketika Henry hendak menampar wajah Daryl,


istrinya yang bernarma Meiysa Mahendra


tiba-tiba muncul dan menahan tangannya.


"Suamiku, sudah cukup, tenangkan dirimu,"


kata Meisya.


anak ini terus saja membuat masalah," keluh


Henry, setelah itu dia pergi meninggalkan ruang


tamu menuju ruang kerjanya dengan ekspresi


yang sangat marah.


"Ibu apa yang terjadi?" tanya Daryl yang


berpura-pura tidak mengerti. Dalam hati dia


terus mengutuk Winarto yang tidak


menyelesaikan masalahnya dengan Ivan.


"Keluarga Mahendra terpaksa menjual


sahamnya di The Barritz Hotel, Gunnadi Barata


sendiri yang menyuruh ayahmu melakukan itu,"


jelas Meiysa kepada Daryl.


"Apa!" terik Daryl tidak percaya, dia terus


mengutuk Winarto yang dia rasa tidak becus


mengurus masalahnya.


"Winarto berengsek, besok aku akan datang


dan membuat perhitungan denganmu,"


umpatnya dalam hati.


Nabila langsung terperangah begitu tiba di


kediaman lvan yang berada di pondok Indah.


Rumah mewah bergaya moderen milik lvan


semakin membuatnya bertanya-tanya tentang


identitas lvan yang sebenarnya.


"Wow, rumah Paman besar sekali," seru


Calvin bersemangat.


"Apakah kamu menyukainya?" tanya lvan


sambil tertawa melihat kepolosan Calvin.


"lya Paman, rumah Paman bahkan jauh lebih


besar dari rumah Kakek dan Nenek," jawab


Calvin sambil terus memandangi rumah bergaya


moderen itu.


Terlihat dua wanita paruh baya langsung


menyambut mereka ketika mereka turun dari


mobil.


"Selamat datang Tuan Muda," kata salah


satu wanita yang merupakan pelayan di rumah


lvan


"Terima kasih Bi Tuti, dan Bi Inah," balas


lvan sambil tersenyum.


"Biar, kuperkenalkan mereka berdua, anak


lucu ini bernama Calvin, dan wanita cantik ini


bernama Nabila Ibu dari Calvin," ucap lvan


memperkenalkan Nabila dan Calvin.


"Salam kenal, Nona Nabila dan Calvin, kami


berdua adalah pelayan Tuan Muda lvan," kata


Tuti sopan memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Salam kenal bibi," jawab Nabila sopan.


"Mereka berdua akan makan malam


bersamaku, jadi tolong hidangkan masakan yang


enak andalan Bi Tuti dan Bi Inah," jelas lvan.


"Oh.. tentu saja Tuan Muda, serahkan itu


kepada kami," balas Inah.


Ivan tersenyum, dia lalu menoleh ke Calvin


yang terus memegang tangannya.


"Calvin, paman akan menunjukkan sesuatu


yang bagus kepadamu," seru lvan bersemangat.


"Benarkah paman?"


"Tentu saja, pegang tanganku dengan erat,


kita akan berlari ke ruangan rahasiaku," kata


Ivan


"Oke Paman!" seru Calvin. Dia lalu


menggenggam tangan lvan dengan erat, setelah


itu mereka berdua berlari masuk ke dalam


rumah.


"Tunggu.." teriak Nabila memanggil lvan


dan Calvin, tapi percuma saja, mereka berdua


sudah pergi menjauh dari tempatnya.


"Hah... mereka berdua itu," keluh Nabila


sambil menghela nafasnya


Tuti dan Inah tertawa melihat kelakuan lvan


dan Calvin, mereka berdua sudah bisa menebak


apa yang ingin lvan tunjukkan kepada Calvin.


Inah lalu menghampiri Nabila, dia meraih


tangan Nabila dan berkata, "Tuan Muda


benar-benar hebat bisa menemukan calon istri


seperti Anda.


"Calon istri?"


Mendengar ucapan inah, wajah Nabila


memerah, "ah... a... aku bukan..


"lya, Tuan Muda lvan sangat tampan, dan


Nona Nabila sangat cantik, kalian berdua akan


menjadi pasangan yang serasi,"' ucap Tuti yang


ikut memuji kecantikan Nabila.


Wajah Nabila semakin memerah, dia


bingung harus menjelaskan statusnya yang


bukan siapa-siapa lvan.


"Bibi, aku sudah memiliki putra jadi-" belum


a menyelesaikan ka


Sempat Nabl


mpat Na


kalimatnya, Inah


kembali memotong dengan berkata.


"Tuan lvan sepertinya menyukai putra Nona


Nabila, aku sudah bekerja dengan keluarga Tuan


Ivan cukup lama, aku yakin kedua orang tua


Tuan lvan tidak ak


akan mempermasalahkan status


Nona Nabila yang sudah memiliki seorang putra,


malah mereka mungkin akan senang karena


mereka tidak hanya mendapatkan menantu, tapi


juga mendapatkan seorang cucu yang sudah


Tuti yang mendengar perkataan Inah


tampak menganggukkan kepalanya, dia lalu


berkata, "Aku setuju, Tuan Gunnadi dan Nyonya


Cintami pasti akan senang melihat calon istri


Tuan lvan."


Nabila yang wajahnya semakin memerah


terlihat sangat bingung menjelaskan statusnya,


kedua pelayan lvan benar-benar tidak


memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.


"Hah...terima kasih Bibi," kata Nabila pasrah,


dia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan


statusnya kepada mereka.


"Sambil menunggu kami memasak, Nona


Nabila bisa beristirahat di kamar tamu, kami


akan menunjukkan kamar Nona Nabila di lantai


dua," kata Inah sambil menarik lembut tangan


Nabila.


"Ka... kamar?"


mereka impikan sejak dulu, jadi Nona Nabila


tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu."


Tuti yang mendengar perkataan Inah


tampak menganggukkan kepalanya, dia lalu


berkata, "Aku setuju, Tuan Gunnadi dan Nyonya


Cintami pasti akan senang melihat calon istri


Tuan Ivan."


Nabila yang wajahnya semakin memerah


terlihat sangat bingung menjelaskan statusnya,


kedua pelayan lvan benar-benar tidak


memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.


"Hah.. terima kasih Bibi," kata Nabila pasrah,


dia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan


statusnya kepada mereka.


"Sambil menunggu kami memasak, Nona


Nabila bisa beristirahat di kamar tamu, kami


akan menunjukkan kamar Nona Nabila di lantai


dua," kata Inah sambil menarik lembut tangan


Nabila.


"Ka... kamar?"

__ADS_1


__ADS_2