
"Pak Winarto," panggil Daryl sambil
tersenyum.
Winarto yang baru saja mengantar lvan ke
mobilnya langsung menoleh ke Daryl, "Hmm.
tidak biasanya orang ini memanggilku dengan
menyematkan kata 'Pak' di depan namaku,"
batinnya.
"Ada apa Tuan lvan?" balas Winarto sopan.
"Ah... Pak Winarto tidak perlu memanggilku
dengan sopan seperti itu, Bapak berusia sama
seperti ayahku, cukup panggil namaku saja,"
kata Daryl sambil kembali tersenyum.
Winarto sedikit terkejut mendengar itu, dia
merasa aneh dengan sikap sopan yang di
tunjukkan Daryl, dia pun tiba-tiba teringat pesan
lvan yang ingin menendang keluarga Mahendra
dari pemegang saham di Hotel ini.
Winarto langsung menebak jika alasan Daryl
bersikap sopan ada kaitannya dengan
permintaan lvan.
"Baiklah, jadi apa yang bisa aku bantu?"
Daryl kembali tersenyum, dia lalu merangkul
pundak Winarto, "Begini Pak Winarto, karena
sesuatu hal, aku baru saja terlibat sedikit
masalah dengan lvan dari keluarga Barata, aku
harap Pak Winarto akan membantuku
menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi
antara aku dan lvan," terang Daryl.
Dugaan Winarto benar, karena status
keluarga Mahendra masih pemegang saham
hotel ini, dia pun menerima permintaan Daryl!.
"Anda tenang saja, aku akan membantu
Anda," jawab Winarto.
Daryl menepuk-nepuk halus pundak Winarto,
dia tahu Winarto adalah kacung yang bisa
diandalkan, Tak sekalipun Winarto berani
menegurnya walau dia terus berbuat onar di
hotel itu, karena itulah dia meminta Winarto
untuk menyelesaikan masalah ini.
"Terima kasih atas bantuanmu, aku akan
meminta ayahku untuk memperhatikanmu di
masa depan," ucap Daryl sambil tertawa.
Setelah menyampaikan permintaannya dia
pun pergi meninggalkan hotel itu bersama Yanto.
Begitu mobil Daryl meninggalkan Hotel,
Winarto langsung mengambil ponselnya, dia lalu
menghubungi ayah lvan yang bernama Gunnadi
Barata.
Tut...
"Halo Winarto," jawab Gunnadi.
"Halo Tuan Gunnadi, sebelumnya maaf
karena aku mengganggu waktu Anda," balas
Winarto sopan.
"Hahaha, tidak apa-apa, aku juga sedang
tidak sibuk, jadi ada perlu apa kamu
menghubungiku?" tanya Gunnadi.
"Aku bermaksud menyampaikan pesan dari
Tuan lvan kepada Anda.
"Pesan dari lvan?" Gunnadi sangat
kebingungan ketika mendengar ini, putranya
bisa langsung menghubunginya, jadi sangat
aneh jika Putranya meminta Winarto untuk
menyampaikan pesan kepadanya.
"lya Tuan, sebelum pulang tadi, Tuan Ivan
berpesan agar keluarga Mahendra di keluarkan
sebagai pemilik saham hotel ini," jelas Winarto.
"Hoo... ini menarik, apakah kamu tahu
alasan mengapa lvan ingin mengeluarkan
keluarga Mahendra?" tanya Gunnadi.
"Aku tidak tahu pasti mengenai hal itu, tapi
aku menduga ini ada hubungannya dengan Tuan
Muda dari keluarga Mahendra yang bernama
Daryl."
"Daryl?" tanya Gunnadi lagi, dia benar-benar
merasa asing dengan nama yang baru saja
Winarto sebutkan.
"lya Tuan, jika tidak keberatan aku akan
sedikit menjelaskan tentang kelakuan Daryl di
Hotel ini," kata Winarto.
Dia yang sudah muak dengan kelakuan
Daryl akhirnya mulai menceritakan apa saja yang
telah dilakukan Daryl di Hotel ini, mulai dari tidak
bersikap sopan kepada manajemen Hotel,
sampai dengan menggunakan fasilitas hotel
semaunya untuk bersenang-senang dengan
wanita.
"Berengsek, dia pikir dia siapa berani
berbuat seperti itu di hotelku, Winarto mengapa
kamu baru memberitahuku ini sekarang," tanya
Gunnadi, dia sedikit marah karena Winarto tidak
pernah memberitahu ini kepadanya.
"Maafkan aku Tuan Gunnadi, posisiku tidak
begitu bagus jika harus berurusan dengan
__ADS_1
keluarga Mahendra, aku baru berani
menyampaikan ini setelah Tuan lvan ingin
mengeluarkan keluarga Mahendra," jawab
Winarto.
"Hah... Aku rasa kamu benar, mungkin
karena itulah putraku memintamu
menyampaikan hal ini kepadaku, itu karena
kamu lebih mengetahui watak Daryl dari pada
putraku," kata Gunnadi.
"Baiklah, sekarang umumkan kepada
seluruh manajemen Hotel, mulai detik ini,
keluarga Mahendra bukan lagi pemilik saham di
hotel milikku, jika dia berani berbuat onar di
tempatku, kalian bisa menindak dia sesuai
peraturan yang berlaku, aku sendiri yang akan
menyuruh keluarga Mahendra untuk
melepaskan saham mereka di hotelku," tegas
Gunnadi.
"Siap Tuan Gunnadi," jawab Winarto
mengakhiri pembicaraan mereka.
ini
Setelah menutup telepon, Winarto meminta
salah satu karyawannya untuk mengumpulkan
semua orang di ruang meeting, dia akan
mengumumkan tentang keluarga Mahendra
yang tidak lagi menjadi pemilik saham di hotel
Beberapa saat kemudian Daryl akhirnya tiba
di rumah orang tuanya, dengan santai dia
berjalan masuk ke dalam rumahnya, begitu dia
membuka pintu, ayahnya yang bernama Henry
Mahendra langsung melemparnya dengan surat
kabar.
Tak!!
"Oucch," pekik Daryl begitu surat kabar itu
mendarat di wajahnya.
"Dasar anak bodoh! Kamu benar-benar
sudah membuatku malu! Beraninya kamu
berbuat onar di hotel, kamu bahkan berani
mengganggu Putra Tuan Gunnadi!" hardik Henry
yang terlihat sangat kesal.
"A...Ayah ada apa ini?" tanya Daryl.
"Kamu masih berani bertanya? Dasar kamu.
" ketika Henry hendak menampar wajah Daryl,
istrinya yang bernarma Meiysa Mahendra
tiba-tiba muncul dan menahan tangannya.
"Suamiku, sudah cukup, tenangkan dirimu,"
kata Meisya.
anak ini terus saja membuat masalah," keluh
Henry, setelah itu dia pergi meninggalkan ruang
tamu menuju ruang kerjanya dengan ekspresi
yang sangat marah.
"Ibu apa yang terjadi?" tanya Daryl yang
berpura-pura tidak mengerti. Dalam hati dia
terus mengutuk Winarto yang tidak
menyelesaikan masalahnya dengan Ivan.
"Keluarga Mahendra terpaksa menjual
sahamnya di The Barritz Hotel, Gunnadi Barata
sendiri yang menyuruh ayahmu melakukan itu,"
jelas Meiysa kepada Daryl.
"Apa!" terik Daryl tidak percaya, dia terus
mengutuk Winarto yang dia rasa tidak becus
mengurus masalahnya.
"Winarto berengsek, besok aku akan datang
dan membuat perhitungan denganmu,"
umpatnya dalam hati.
Nabila langsung terperangah begitu tiba di
kediaman lvan yang berada di pondok Indah.
Rumah mewah bergaya moderen milik lvan
semakin membuatnya bertanya-tanya tentang
identitas lvan yang sebenarnya.
"Wow, rumah Paman besar sekali," seru
Calvin bersemangat.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya lvan
sambil tertawa melihat kepolosan Calvin.
"lya Paman, rumah Paman bahkan jauh lebih
besar dari rumah Kakek dan Nenek," jawab
Calvin sambil terus memandangi rumah bergaya
moderen itu.
Terlihat dua wanita paruh baya langsung
menyambut mereka ketika mereka turun dari
mobil.
"Selamat datang Tuan Muda," kata salah
satu wanita yang merupakan pelayan di rumah
lvan
"Terima kasih Bi Tuti, dan Bi Inah," balas
lvan sambil tersenyum.
"Biar, kuperkenalkan mereka berdua, anak
lucu ini bernama Calvin, dan wanita cantik ini
bernama Nabila Ibu dari Calvin," ucap lvan
memperkenalkan Nabila dan Calvin.
"Salam kenal, Nona Nabila dan Calvin, kami
berdua adalah pelayan Tuan Muda lvan," kata
Tuti sopan memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Salam kenal bibi," jawab Nabila sopan.
"Mereka berdua akan makan malam
bersamaku, jadi tolong hidangkan masakan yang
enak andalan Bi Tuti dan Bi Inah," jelas lvan.
"Oh.. tentu saja Tuan Muda, serahkan itu
kepada kami," balas Inah.
Ivan tersenyum, dia lalu menoleh ke Calvin
yang terus memegang tangannya.
"Calvin, paman akan menunjukkan sesuatu
yang bagus kepadamu," seru lvan bersemangat.
"Benarkah paman?"
"Tentu saja, pegang tanganku dengan erat,
kita akan berlari ke ruangan rahasiaku," kata
Ivan
"Oke Paman!" seru Calvin. Dia lalu
menggenggam tangan lvan dengan erat, setelah
itu mereka berdua berlari masuk ke dalam
rumah.
"Tunggu.." teriak Nabila memanggil lvan
dan Calvin, tapi percuma saja, mereka berdua
sudah pergi menjauh dari tempatnya.
"Hah... mereka berdua itu," keluh Nabila
sambil menghela nafasnya
Tuti dan Inah tertawa melihat kelakuan lvan
dan Calvin, mereka berdua sudah bisa menebak
apa yang ingin lvan tunjukkan kepada Calvin.
Inah lalu menghampiri Nabila, dia meraih
tangan Nabila dan berkata, "Tuan Muda
benar-benar hebat bisa menemukan calon istri
seperti Anda.
"Calon istri?"
Mendengar ucapan inah, wajah Nabila
memerah, "ah... a... aku bukan..
"lya, Tuan Muda lvan sangat tampan, dan
Nona Nabila sangat cantik, kalian berdua akan
menjadi pasangan yang serasi,"' ucap Tuti yang
ikut memuji kecantikan Nabila.
Wajah Nabila semakin memerah, dia
bingung harus menjelaskan statusnya yang
bukan siapa-siapa lvan.
"Bibi, aku sudah memiliki putra jadi-" belum
a menyelesaikan ka
Sempat Nabl
mpat Na
kalimatnya, Inah
kembali memotong dengan berkata.
"Tuan lvan sepertinya menyukai putra Nona
Nabila, aku sudah bekerja dengan keluarga Tuan
Ivan cukup lama, aku yakin kedua orang tua
Tuan lvan tidak ak
akan mempermasalahkan status
Nona Nabila yang sudah memiliki seorang putra,
malah mereka mungkin akan senang karena
mereka tidak hanya mendapatkan menantu, tapi
juga mendapatkan seorang cucu yang sudah
Tuti yang mendengar perkataan Inah
tampak menganggukkan kepalanya, dia lalu
berkata, "Aku setuju, Tuan Gunnadi dan Nyonya
Cintami pasti akan senang melihat calon istri
Tuan lvan."
Nabila yang wajahnya semakin memerah
terlihat sangat bingung menjelaskan statusnya,
kedua pelayan lvan benar-benar tidak
memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
"Hah...terima kasih Bibi," kata Nabila pasrah,
dia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan
statusnya kepada mereka.
"Sambil menunggu kami memasak, Nona
Nabila bisa beristirahat di kamar tamu, kami
akan menunjukkan kamar Nona Nabila di lantai
dua," kata Inah sambil menarik lembut tangan
Nabila.
"Ka... kamar?"
mereka impikan sejak dulu, jadi Nona Nabila
tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal itu."
Tuti yang mendengar perkataan Inah
tampak menganggukkan kepalanya, dia lalu
berkata, "Aku setuju, Tuan Gunnadi dan Nyonya
Cintami pasti akan senang melihat calon istri
Tuan Ivan."
Nabila yang wajahnya semakin memerah
terlihat sangat bingung menjelaskan statusnya,
kedua pelayan lvan benar-benar tidak
memberikannya kesempatan untuk menjelaskan.
"Hah.. terima kasih Bibi," kata Nabila pasrah,
dia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan
statusnya kepada mereka.
"Sambil menunggu kami memasak, Nona
Nabila bisa beristirahat di kamar tamu, kami
akan menunjukkan kamar Nona Nabila di lantai
dua," kata Inah sambil menarik lembut tangan
Nabila.
"Ka... kamar?"
__ADS_1