
"Calvin?" Ivan dan Nabila kompak menyebut
nama Calvin begitu melihat Calvin yang tiba-tiba
muncul di dekat mereka.
"Ibu, apakah itu benar? Paman lvan akan
menjadi ayahku?" tanya Calvin mencoba
memperjelas apa yang baru saja dia dengar.
Nabila buru-buru menarik tangannya yang
sedang di genggam oleh lvan.
"Hitu..." Nabila tampak kesulitan
menjelaskan apa yang terjadi, walaupun lvan
sudah menyatakan perasaannya dan niatnya
untuk menjadi ayah sambung Calvin, dia tidak
mau memberi harapan palsu kepada putranya,
dia sendiri sadar jika statusnya saat ini masih
menjadi tunangan Daryl.
Ivan tersenyum, dia menarik tangan Calvin
dan mendudukkan Calvin di pangkuannya.
"Itu benar, Paman ingin menjadi ayahmu,"
ucap lvan sambil mengelus lembut kepala Calvin
yang duduk di pangkuannya.
"Aku sangat senang, akhirnya aku akan
memiliki avah seperti teman-temanku, mereka
tidak bisa lagi mengejekku karena tidak memiliki
seorang ayah..!!!" seru Calvin kegirangan sambil
tertawa bahagia.
Nabila terperangah mendengar perkataan
Calvin, dari apa yang baru saja putranya ucapkan,
dia akhirnya mengetahui jika putranya
mengalami masa sulit saat bersama
teman-temannya karena tidak memiliki seorang
ayah.
Ivan pun sama, dia sedikit terkejut
mendengar jawaban polos dari Calvin tentang
tindakan tidak menyenangkan yang Calvin
terima karena tidak memiliki seorang ayah.
"Pasti ada alasan mengapa Calvin di Bully
hanya karena tidak memiliki seorang ayah..."
batin lvan.
Nabila sendiri menjadi dilema, di satu sisi
dia ingin agar Calvin tidak terlalu berharap lebih
kepada lvan karena statusnya yang masih
tunangan Daryl, namun disisi lain dia tidak ingin
menghancurkan kebahagiaan yang dirasakan
putranya saat ini.
Ivan menyadari kegelisahan Nabila, dia
dengan tenang mencoba menjelaskan kepada
Calvin tentang rumitnya status Nabila saat ini.
"Sayangnya paman belum bisa menjadi
ayahmu, ibumu harus menyelesaikan beberapa
hal terlebih dahulu.."ucap lvan lembut.
"Kenapa paman?" tanya Calvin tidak
mengerti. Wajahnya sedikit menunduk lesu
mendengar apa yang baru saja lvan katakan
kepadanya.
"Calvin apakah kamu tahu jika ibumu sudah
memiliki tunangan?" tanya lvan sambil melihat
Calvin.
Calvin mengangguk pelan, dia sendiri
menemani ibunya di acara pertunangan ibunya
dengan Daryl beberapa bulan yang lalu, sehingga
dia mengetahui maksud pertanyaan lvan
kepadanya.
"lya, aku menemani ibu saat acara itu, lalu
kenapa jika ibu memiliki tunangan?" tanya Calvin
dengan polosnya.
Ivan tersenyum, dia kembali menjelaskan
kepada Calvin dengan bahasa yang mudah
dipahami oleh Calvin "Itu artinya, ibumu sudah
memiliki calon ayah untukmu, jadi paman tidak
bisa seenaknya langsung memutuskan untuk
menjadi ayahmu."
"Itu berarti calon ayahku adalah paman
Daryl? Paman aku tidak mau dia menjadi ayahku,
dia sangat jahat kepadaku dan juga kepada
ibuku, dia juga sering menyakiti ibu bersama
kakek dan nenek, aku hanya ingin paman lvan
menjadi ayahku.!" teriak Calvin dengan nada
tinggi.
Wajahnya menekuk dia sangat marah
mengetahui jika calon ayahnya saat ini adalah
Daryl yang selalu menyakiti ibunya.
Nabila menunduk, wajahnya menjadi sedih
mendengar perkataan putranya, melihat itu, Ivan
segera meraih tangan Nabila, di genggamnya
dengan erat sambil tersenyum dia mengedipkan
satu matanya kepada Nabila dan meminta Nabila
untuk tetap tenang.
"Karena itulah Calvin harus bersabar, paman
berjanji akan terus berjuang sampai paman bisa
menjadi ayahmu, selama paman berjuang, kamu
harus berjanji kepada paman untuk selalu
mendengarkan ibumu dan menjaga ibumu,"
ucap lvan sambil kembali mengelus kepala
Calvin.
Wajah Calvin yang tadinya bersedih kembali
berseri-seri, dia turun dari pangkuan lvan dan
langsung memeluk lvan.
"Paman, aku berjanji akan mendengarkan
ibuku, dan aku berjanji akan menjaga ibuku,
__ADS_1
paman juga harus berjanji agar bisa menjadi
ayahku.!" seru Calvin sambil memeluk erat
tubuh lvan.
lvan dan Nabila saling menatap, mereka
berdua saling melemparkan senyuman, dengan
begini lvan berhasil menjelaskan status Nabila
yang begitu rumit kepada Calvin yang masih
berusja 6 tahun.
"lya, paman berjanji akan berusaha menjadi
ayahmu, lagipula paman dan ibumu sudah saling
menyayangi seperti paman yang juga
menyayangi kamu.." ucap lvan sambil
tersenyum manis kepada Nabila.
Mata Nabila melotot, alisnya mengernyit
tajam menatap lvan, dia tidak percaya dengan
apa yang dikatakan lvan kepada putranya.
Calvin melepas pelukannya, dia
memandangi wajah lvan, "Benarkah Paman?"
tanyanya dengan tatapan berbinar.
"lya...kalau tidak percaya, kamu bisa
tanyakan itu kepada ibumu?" balas lvan sambil
melirik ke arah Nabila yang sedang menatapnya
tajam.
Calvin menoleh ke lbunya, "bu juga
menyayangi paman lvan?" tanya Calvin dengan
tatapn puppy eyesnya.
Nabila langsung mengubah ekspresi
wajahnya, dia yang sedang melotot menatap
Ilvan langsung tersenyum begitu memandangi
wajah polos Calvin.
"-iya Ibu juga menyayangi paman lvan
seperti dirimu..," jawab Nabila setengah
terpaksa karena dijebak oleh lvan.
"Yeey..!" seru Calvin. Wajahnya terlihat
sangat bahagia, dia lalu meletakkan kedua
tangannya di leher Nabila dan lvan dan memeluk
mereka berdua.
"Aku juga menyayangi kalian berdua,"
ucapnya sambil tertawa bahagia.
Nabila dan lvan sontak terkejut, mereka
berdua membalas pelukan Calvin, tanpa sadar
mata Nabila kembali berkaca-kaca.
"Kamu bisa lanjut bermain, paman dan
ibumu akan membicarakan tentang sekolahmu,"
kata lvan begitu Calvin melepaskan pelukannya.
Calvin mengangguk pelan, sambil tetap
tersenyum dia lalu pergi meninggalkan Nabila
dan lvan.
"I love you too.." bisik lvan menggoda Nabila
yang sedang memandangi Calvin yang berjalan
Nabila menoleh ke lvan, dia kembali
mengernyitkan alisnya, lalu mencubit pelan
pinggang lvan karena sudah menjebaknya
dengan menggunakan putranya sebagai alasan.
"Kamu sangat jahil karena menggunakan
putraku.!" protes Nabila.
"Aduh..!" pekik lvan sambil tertawa bahagia.
Dia yang terus memegangi tangan Nabila
tak bisa menahan tawanya begitu melihat wajah
menggemaskan Nabila yang sedang
menatapnya.
"Haha, maafkan aku, kamu juga tahu jika
putra kita itu anak yang cerdas jadi.."
"Putra kita?" potong Nabila yang kembali
menatap tajam lvan.
Ivan kembali tertawa, wajah Nabila yang
menatapnya tajam sangat menggemaskan
dimatanya.
"Haha... maksudku nanti, putra kita berdua
nanti..." ucapnya mengoreksi ucapan
sebelumnya.
Nabila menghela nafasnya, dia tersenyum,
Ivan yang terus menggodanya membuat hatinya
merasakan kehangatan yang tidak pernah dia
rasakan sebelumnya.
"Nabila.. bagaimana dengan saranku
sebelumnya?" tanya lvan.
"Tentang tinggal bersamamu?" tanya Nabila
kembali.
Ivan mengangguk pelan. Menunggu
jawaban dari Nabila.
"Tuan lvan, ternyata anda disini..!" sela
Jafin yang tiba-tiba muncul dengan nafas
Tersengal-sengal.
Nabila segera menarik tangannya yang
sedang dipegangi oleh Ivan, hal itu membuat
Ivan sedikit kesal dan mengutuk Jafin yang
tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ah... si berengsek ini benar-benar tidak
tahu waktu yang tepat.!" batinnya mengumpat
Jafin.
"Ada apa bereng.. ah maksudku Jafin..?!"
tanya lvan dengan mata melotot menatap Jafin.
Jafin terperangah dia sadar jika lvan baru
saja hendak mengumpat dirinya. "Tuan, apakah
kamu ingin menyebutku berengsek?" tanya Jafin
tidak percaya.
"Tida.. mana mungkin aku menyebutmu
seperti itu..." kilah Ivan menahan diri sambil
__ADS_1
tersenyum canggung.
"Tapi mengapa matamu seakan
mengatakan itu..?!" protes Jafin.
"Mata ku perih, makanya seperti ini.!" balas
Ivan yang terlihat sangat kesal karena kehadiran
Jafin yang mengganggu waktunya bersama
Nabila.
"Tidak.!! aku yakin jika kamu ingin
menyebutku berengsek," desak Jafin.
"Baiklah berengsek, apa tujuanmu datang
menemuiku!" bseru lvan sambil memasang
ekspresi wajah tersenyum kecut.
Nabila tertawa mendengar percakapan lvan
dan Jafin, dia menutup mulutnya dengan telapak
tangan kirinya.
"Lihatlah Nona Nabila, Tuan lvan baru saja
memanggilku dengan sebutan berengsek..!"
protes Jafin mencari pembelaan lewat Nabila.
Nabila kembali tertawa, sikap lvan dan
bawahannya memang sangat berbeda dengan
sikap Daryl kepada bawahannya, itu
menunjukkan jika lvan memang orang yang
sangat baik.
"Hah... lihatlah dirimu, sekarang kamu berani
menggunakan Nabila sebagai tameng..?!" seru
Ivan sambil menghela nafasnya pelan.
"Jadi apa tujuanmu datang kemari?" tanya
lvan.
Jafin segera menghampiri lvan, dia
menyerahkan beberapa berkas ditangannya
kepada lvan.
"Tuan lvan, apa kamu lupa jika hari ini kamu
sudah memiliki jadwal untuk bertemu dengan
beberapa orang?" ujar Jafin.
lvan yang sedang melihat berkas itu
langsung menepuk jidatnya, "Oh my.! Aku
benar-benar melupakan ini.!" keluh lvan.
"Jadi bagaimana sekarang? Tuan besar
pasti akan marah jika Tuan lvan membatalkan
rencana hari ini," ujar Jafin mengingatkan.
Ivan menghela nafasnya, jadwalnya
benar-benar padat, dia melirik jam tangannya,
dia sudah melewatkan waktu untuk bertemu
dengan 4 orang partner kerja salah satu
perusahaannya di bidang properti.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana?
Aku sudah melewatkan jadwal bertemu dengan 4
orang, di jam ini harusnya aku bertemu dengan
orang yang lain lagi, aku benar-benar benci
dengan jadwal padat hari ini.!" keluh lvan
sambil bersandar di kursinya.
Nabila mengambil berkas yang baru saja di
letakkan lvan di atas meja, dia membaca jadwal
yang berada di berkas lalu mengambil pena yang
berada di saku kemeja lvan.
Nabila lalu mengambil kertas kosong yang
berada di tumpukan berkas itu, dengan serius
dia mulai menulis di kertas kosong sambil
sesekali melihat jadwal padat milik lvan.
Ivan dan Jafin saling menatap, mereka
berdua lalu melihat Nabila yang tampak serius
menulis di kertas kosong.
Beberapa saat kemudian, Nabila telah
selesai.
"Kemarilah lvan.." panggil Nabila kepada
Ivan untuk melihat apa yang baru saja dia tulis di
kertas kosong itu.
"Ini..?" seru lvan terperangah, dia tidak
percaya dengan apa yang baru saja Nabila catat.
"Ilya, ini jadwal untuk hari ini, untuk ke empat
orang ini kamu bisa menjadwalkan ulang di jam
ini, mereka bergerak di bidang yang sama jadi
tidak akan menjadi masalah jika menemui
mereka secara bersamaan, itu juga akan sangat
membantu karena mereka bisa jadi saling
mengerti tentang tugas mereka masing-masing,
untuk yang ini kamu bisa.."
Nabila terus menjelaskan jadwal yang baru
saja dia buat ulang kepada lvan, dia
mengelompokkan orang-orang itu berdasarkan
bidang pekerjaan mereka, dan juga
mengelompokkan orang-orang mana yang bisa
Ivan temui secara bersamaan untuk memangkas
waktu.
"Beberapa orang yang terakhir tidak perlu di
temui secara langsung, kamu bisa menghubungi
mereka lewat telepon, ataupun meminta
manajer yang berhubungan dengan bidang itu
untuk menemui mereka," ucap Nabila menutup
penjelasannya.
Ivan terperangah, hanya dengan sekali
melihat Nabila bisa mengatur ulang jadwalnya
agar tidak saling bertabrakan dan tumpang
tindih satu sama lainnya.
"Nabila, kamu diterima, mulai hari kamu
adalah Sekretarisku..!" tukas lvan dengan
wajah senangnya.
"Ehh...?!" balas Nabila sontak terkejut
mendengar ucapan lvan.
__ADS_1