Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 14 Kamu Diterima


__ADS_3

"Calvin?" Ivan dan Nabila kompak menyebut


nama Calvin begitu melihat Calvin yang tiba-tiba


muncul di dekat mereka.


"Ibu, apakah itu benar? Paman lvan akan


menjadi ayahku?" tanya Calvin mencoba


memperjelas apa yang baru saja dia dengar.


Nabila buru-buru menarik tangannya yang


sedang di genggam oleh lvan.


"Hitu..." Nabila tampak kesulitan


menjelaskan apa yang terjadi, walaupun lvan


sudah menyatakan perasaannya dan niatnya


untuk menjadi ayah sambung Calvin, dia tidak


mau memberi harapan palsu kepada putranya,


dia sendiri sadar jika statusnya saat ini masih


menjadi tunangan Daryl.


Ivan tersenyum, dia menarik tangan Calvin


dan mendudukkan Calvin di pangkuannya.


"Itu benar, Paman ingin menjadi ayahmu,"


ucap lvan sambil mengelus lembut kepala Calvin


yang duduk di pangkuannya.


"Aku sangat senang, akhirnya aku akan


memiliki avah seperti teman-temanku, mereka


tidak bisa lagi mengejekku karena tidak memiliki


seorang ayah..!!!" seru Calvin kegirangan sambil


tertawa bahagia.


Nabila terperangah mendengar perkataan


Calvin, dari apa yang baru saja putranya ucapkan,


dia akhirnya mengetahui jika putranya


mengalami masa sulit saat bersama


teman-temannya karena tidak memiliki seorang


ayah.


Ivan pun sama, dia sedikit terkejut


mendengar jawaban polos dari Calvin tentang


tindakan tidak menyenangkan yang Calvin


terima karena tidak memiliki seorang ayah.


"Pasti ada alasan mengapa Calvin di Bully


hanya karena tidak memiliki seorang ayah..."


batin lvan.


Nabila sendiri menjadi dilema, di satu sisi


dia ingin agar Calvin tidak terlalu berharap lebih


kepada lvan karena statusnya yang masih


tunangan Daryl, namun disisi lain dia tidak ingin


menghancurkan kebahagiaan yang dirasakan


putranya saat ini.


Ivan menyadari kegelisahan Nabila, dia


dengan tenang mencoba menjelaskan kepada


Calvin tentang rumitnya status Nabila saat ini.


"Sayangnya paman belum bisa menjadi


ayahmu, ibumu harus menyelesaikan beberapa


hal terlebih dahulu.."ucap lvan lembut.


"Kenapa paman?" tanya Calvin tidak


mengerti. Wajahnya sedikit menunduk lesu


mendengar apa yang baru saja lvan katakan


kepadanya.


"Calvin apakah kamu tahu jika ibumu sudah


memiliki tunangan?" tanya lvan sambil melihat


Calvin.


Calvin mengangguk pelan, dia sendiri


menemani ibunya di acara pertunangan ibunya


dengan Daryl beberapa bulan yang lalu, sehingga


dia mengetahui maksud pertanyaan lvan


kepadanya.


"lya, aku menemani ibu saat acara itu, lalu


kenapa jika ibu memiliki tunangan?" tanya Calvin


dengan polosnya.


Ivan tersenyum, dia kembali menjelaskan


kepada Calvin dengan bahasa yang mudah


dipahami oleh Calvin "Itu artinya, ibumu sudah


memiliki calon ayah untukmu, jadi paman tidak


bisa seenaknya langsung memutuskan untuk


menjadi ayahmu."


"Itu berarti calon ayahku adalah paman


Daryl? Paman aku tidak mau dia menjadi ayahku,


dia sangat jahat kepadaku dan juga kepada


ibuku, dia juga sering menyakiti ibu bersama


kakek dan nenek, aku hanya ingin paman lvan


menjadi ayahku.!" teriak Calvin dengan nada


tinggi.


Wajahnya menekuk dia sangat marah


mengetahui jika calon ayahnya saat ini adalah


Daryl yang selalu menyakiti ibunya.


Nabila menunduk, wajahnya menjadi sedih


mendengar perkataan putranya, melihat itu, Ivan


segera meraih tangan Nabila, di genggamnya


dengan erat sambil tersenyum dia mengedipkan


satu matanya kepada Nabila dan meminta Nabila


untuk tetap tenang.


"Karena itulah Calvin harus bersabar, paman


berjanji akan terus berjuang sampai paman bisa


menjadi ayahmu, selama paman berjuang, kamu


harus berjanji kepada paman untuk selalu


mendengarkan ibumu dan menjaga ibumu,"


ucap lvan sambil kembali mengelus kepala


Calvin.


Wajah Calvin yang tadinya bersedih kembali


berseri-seri, dia turun dari pangkuan lvan dan


langsung memeluk lvan.


"Paman, aku berjanji akan mendengarkan


ibuku, dan aku berjanji akan menjaga ibuku,

__ADS_1


paman juga harus berjanji agar bisa menjadi


ayahku.!" seru Calvin sambil memeluk erat


tubuh lvan.


lvan dan Nabila saling menatap, mereka


berdua saling melemparkan senyuman, dengan


begini lvan berhasil menjelaskan status Nabila


yang begitu rumit kepada Calvin yang masih


berusja 6 tahun.


"lya, paman berjanji akan berusaha menjadi


ayahmu, lagipula paman dan ibumu sudah saling


menyayangi seperti paman yang juga


menyayangi kamu.." ucap lvan sambil


tersenyum manis kepada Nabila.


Mata Nabila melotot, alisnya mengernyit


tajam menatap lvan, dia tidak percaya dengan


apa yang dikatakan lvan kepada putranya.


Calvin melepas pelukannya, dia


memandangi wajah lvan, "Benarkah Paman?"


tanyanya dengan tatapan berbinar.


"lya...kalau tidak percaya, kamu bisa


tanyakan itu kepada ibumu?" balas lvan sambil


melirik ke arah Nabila yang sedang menatapnya


tajam.


Calvin menoleh ke lbunya, "bu juga


menyayangi paman lvan?" tanya Calvin dengan


tatapn puppy eyesnya.


Nabila langsung mengubah ekspresi


wajahnya, dia yang sedang melotot menatap


Ilvan langsung tersenyum begitu memandangi


wajah polos Calvin.


"-iya Ibu juga menyayangi paman lvan


seperti dirimu..," jawab Nabila setengah


terpaksa karena dijebak oleh lvan.


"Yeey..!" seru Calvin. Wajahnya terlihat


sangat bahagia, dia lalu meletakkan kedua


tangannya di leher Nabila dan lvan dan memeluk


mereka berdua.


"Aku juga menyayangi kalian berdua,"


ucapnya sambil tertawa bahagia.


Nabila dan lvan sontak terkejut, mereka


berdua membalas pelukan Calvin, tanpa sadar


mata Nabila kembali berkaca-kaca.


"Kamu bisa lanjut bermain, paman dan


ibumu akan membicarakan tentang sekolahmu,"


kata lvan begitu Calvin melepaskan pelukannya.


Calvin mengangguk pelan, sambil tetap


tersenyum dia lalu pergi meninggalkan Nabila


dan lvan.


"I love you too.." bisik lvan menggoda Nabila


yang sedang memandangi Calvin yang berjalan


Nabila menoleh ke lvan, dia kembali


mengernyitkan alisnya, lalu mencubit pelan


pinggang lvan karena sudah menjebaknya


dengan menggunakan putranya sebagai alasan.


"Kamu sangat jahil karena menggunakan


putraku.!" protes Nabila.


"Aduh..!" pekik lvan sambil tertawa bahagia.


Dia yang terus memegangi tangan Nabila


tak bisa menahan tawanya begitu melihat wajah


menggemaskan Nabila yang sedang


menatapnya.


"Haha, maafkan aku, kamu juga tahu jika


putra kita itu anak yang cerdas jadi.."


"Putra kita?" potong Nabila yang kembali


menatap tajam lvan.


Ivan kembali tertawa, wajah Nabila yang


menatapnya tajam sangat menggemaskan


dimatanya.


"Haha... maksudku nanti, putra kita berdua


nanti..." ucapnya mengoreksi ucapan


sebelumnya.


Nabila menghela nafasnya, dia tersenyum,


Ivan yang terus menggodanya membuat hatinya


merasakan kehangatan yang tidak pernah dia


rasakan sebelumnya.


"Nabila.. bagaimana dengan saranku


sebelumnya?" tanya lvan.


"Tentang tinggal bersamamu?" tanya Nabila


kembali.


Ivan mengangguk pelan. Menunggu


jawaban dari Nabila.


"Tuan lvan, ternyata anda disini..!" sela


Jafin yang tiba-tiba muncul dengan nafas


Tersengal-sengal.


Nabila segera menarik tangannya yang


sedang dipegangi oleh Ivan, hal itu membuat


Ivan sedikit kesal dan mengutuk Jafin yang


tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Ah... si berengsek ini benar-benar tidak


tahu waktu yang tepat.!" batinnya mengumpat


Jafin.


"Ada apa bereng.. ah maksudku Jafin..?!"


tanya lvan dengan mata melotot menatap Jafin.


Jafin terperangah dia sadar jika lvan baru


saja hendak mengumpat dirinya. "Tuan, apakah


kamu ingin menyebutku berengsek?" tanya Jafin


tidak percaya.


"Tida.. mana mungkin aku menyebutmu


seperti itu..." kilah Ivan menahan diri sambil

__ADS_1


tersenyum canggung.


"Tapi mengapa matamu seakan


mengatakan itu..?!" protes Jafin.


"Mata ku perih, makanya seperti ini.!" balas


Ivan yang terlihat sangat kesal karena kehadiran


Jafin yang mengganggu waktunya bersama


Nabila.


"Tidak.!! aku yakin jika kamu ingin


menyebutku berengsek," desak Jafin.


"Baiklah berengsek, apa tujuanmu datang


menemuiku!" bseru lvan sambil memasang


ekspresi wajah tersenyum kecut.


Nabila tertawa mendengar percakapan lvan


dan Jafin, dia menutup mulutnya dengan telapak


tangan kirinya.


"Lihatlah Nona Nabila, Tuan lvan baru saja


memanggilku dengan sebutan berengsek..!"


protes Jafin mencari pembelaan lewat Nabila.


Nabila kembali tertawa, sikap lvan dan


bawahannya memang sangat berbeda dengan


sikap Daryl kepada bawahannya, itu


menunjukkan jika lvan memang orang yang


sangat baik.


"Hah... lihatlah dirimu, sekarang kamu berani


menggunakan Nabila sebagai tameng..?!" seru


Ivan sambil menghela nafasnya pelan.


"Jadi apa tujuanmu datang kemari?" tanya


lvan.


Jafin segera menghampiri lvan, dia


menyerahkan beberapa berkas ditangannya


kepada lvan.


"Tuan lvan, apa kamu lupa jika hari ini kamu


sudah memiliki jadwal untuk bertemu dengan


beberapa orang?" ujar Jafin.


lvan yang sedang melihat berkas itu


langsung menepuk jidatnya, "Oh my.! Aku


benar-benar melupakan ini.!" keluh lvan.


"Jadi bagaimana sekarang? Tuan besar


pasti akan marah jika Tuan lvan membatalkan


rencana hari ini," ujar Jafin mengingatkan.


Ivan menghela nafasnya, jadwalnya


benar-benar padat, dia melirik jam tangannya,


dia sudah melewatkan waktu untuk bertemu


dengan 4 orang partner kerja salah satu


perusahaannya di bidang properti.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana?


Aku sudah melewatkan jadwal bertemu dengan 4


orang, di jam ini harusnya aku bertemu dengan


orang yang lain lagi, aku benar-benar benci


dengan jadwal padat hari ini.!" keluh lvan


sambil bersandar di kursinya.


Nabila mengambil berkas yang baru saja di


letakkan lvan di atas meja, dia membaca jadwal


yang berada di berkas lalu mengambil pena yang


berada di saku kemeja lvan.


Nabila lalu mengambil kertas kosong yang


berada di tumpukan berkas itu, dengan serius


dia mulai menulis di kertas kosong sambil


sesekali melihat jadwal padat milik lvan.


Ivan dan Jafin saling menatap, mereka


berdua lalu melihat Nabila yang tampak serius


menulis di kertas kosong.


Beberapa saat kemudian, Nabila telah


selesai.


"Kemarilah lvan.." panggil Nabila kepada


Ivan untuk melihat apa yang baru saja dia tulis di


kertas kosong itu.


"Ini..?" seru lvan terperangah, dia tidak


percaya dengan apa yang baru saja Nabila catat.


"Ilya, ini jadwal untuk hari ini, untuk ke empat


orang ini kamu bisa menjadwalkan ulang di jam


ini, mereka bergerak di bidang yang sama jadi


tidak akan menjadi masalah jika menemui


mereka secara bersamaan, itu juga akan sangat


membantu karena mereka bisa jadi saling


mengerti tentang tugas mereka masing-masing,


untuk yang ini kamu bisa.."


Nabila terus menjelaskan jadwal yang baru


saja dia buat ulang kepada lvan, dia


mengelompokkan orang-orang itu berdasarkan


bidang pekerjaan mereka, dan juga


mengelompokkan orang-orang mana yang bisa


Ivan temui secara bersamaan untuk memangkas


waktu.


"Beberapa orang yang terakhir tidak perlu di


temui secara langsung, kamu bisa menghubungi


mereka lewat telepon, ataupun meminta


manajer yang berhubungan dengan bidang itu


untuk menemui mereka," ucap Nabila menutup


penjelasannya.


Ivan terperangah, hanya dengan sekali


melihat Nabila bisa mengatur ulang jadwalnya


agar tidak saling bertabrakan dan tumpang


tindih satu sama lainnya.


"Nabila, kamu diterima, mulai hari kamu


adalah Sekretarisku..!" tukas lvan dengan


wajah senangnya.


"Ehh...?!" balas Nabila sontak terkejut


mendengar ucapan lvan.

__ADS_1


__ADS_2