
Selama beberapa menit Nabila terus
menangis dalam dekapan lvan, dia
menumpahkan semua air matanya bersama
rasa sakit yang dia pendam.
Setelah mengatakan isi hatinya kepada
Nabila, Ivan tidak lagi berkata-kata, dia terdiam
membiarkan Nabila meluapkan semua emosinya.
Perlahan suara isak tangis Nabila mulai
menghilang, lvan melepaskan pelukannya dari
Nabila.
"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya
Ivan sambil menyeka air mata yang membasahi
pipi Nabila dengan ibu jarinya.
Sambil mengangguk pelan Nabila
tersenyum, dia memandangi wajah lvan yang
sedang menyeka air mata, "Hmm iya, maafkan
aku karena tiba-tiba menangis seperti ini." lirih
Nabila.
Ivan hanya tersenyum, lalu beranjak dari
duduknya.
"Tunggu, aku akan kembali.." ujarnya lalu
pergi menuju pantri yang berada di lantai dua.
Nabila yang sudah tenang menatap langit
yang dipenuhi bintang.
"Benar yang dikatakan lvan.." gumam Nabila
tersenyum kecil.
Kini hatinya terasa begitu lega setelah dia
menangis sejadi-jadinya.
Sambil menunggu lvan kembali, dia
menekuk kakinya di kursi lalu meletakkan
dagunya di lutut.
"Dan, kenapa aku bisa begitu lepas
meluapkannya bersama lvan.?" pikir Nabila, dia
tidak mengerti mengapa dia bisa menangis
seperti itu di dada pria yang baru saja dia temui
hari ini.
Beberapa saat kemudian, Ivan kembali
membawa dua cangkir teh hijau, Nabila yang
melihat lvan sontak berdiri dari kursinya dan
menghampiri lvan.
"Ivan kenapa kamu tidak bilang kalau ingin
membuat teh, aku bisa membuatkannya
untukmu.." protes Nabila pelan sambil meraih
cangkir teh hijau yang berada dari tangan lvan.
"Nabila, kamu itu tamu di rumahku, mana
mungkin aku membiarkan tamuku menyajikan
teh buatku." balas lvan.
Nabila kembali tersenyum, lalu kembali
duduk di kursi panjang dan meletakkan cangkir
berisi teh hijau yang baru saja lvan buat di meja.
Karena Nabila tidak lagi menangis, Ivan pun
kembali menuju kursi yang berada di samping
Nabila, belum sempat dia duduk. Nabila melihat
Ivan, "Hmm..lvan, bisakah kamu duduk di
sampingku..??" tanya Nabila dengan wajah
memerah.
Deg
Ivan tersenyum dan mengikuti permintaan
Nabila, dia duduk di samping Nabila sambil
meneguk teh hangat yang berada di tangannya.
"Aku sudah menceritakan tentang diriku,
sekarang giliranmu?" seru Nabila menatap langit
dan sedikit menoleh ke arah lvan.
Ivan meletakkan cangkir teh yang berada di
tangannya ke meja lalu bersandar di kursi.
"Hmm.mungkin ini akan sedikit
membosankan, aku harap kamu tidak tertidur
setelah mendengarkan ceritaku..." ucap lvan
bercanda yang langsung disambut tawa kecil
oleh Nabila.
"Aku bernama lvan Barata, putra kedua dari
Gunnadi Barata pemilik Grup Barata Cipta Abadi,"
kata lvan membuka pembicaraan.
Nabila sontak terkejut ketika mendengar
Ivan memperkenalkan dirinya, dia sendiri sudah
sering mendengar tentang Grup Barata Cipta
Abadi, sebuah grup yang memiliki puluhan
perusahaan besar di bawahnya.
Daryl juga sering menyombongkan diri jika
keluarganya berteman dengan keluarga Barata
yang merupakan pemilik grup itu.
Nabila juga akhirnya menyadari mengapa
Ivan terlihat tenang ketika Nabila mengatakan
jika Daryl adalah pemilik saham di The Barritz
Hotel.
Status lvan yang tidak biasa membuatnya
paham, mengapa lvan dengan begitu
gampangnya mengeluarkan keluarga Mahendra
sebagai pemilik saham di The Barritz Hotel.
Nabila terperangah, dia terus menatap lvan
dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut. Dia
tidak menyangka jika pria yang
menyelamatkannya adalah Tuan Muda dari
keluarga Barata.
"Kamu benar-benar luar biasa," puji Nabila
tulus.
Ivan tersenyum mendengar pujian dari
Nabila.
"Tidak juga, karena semua prestasi itu
adalah hasil kerja keras ayahku, aku sama sekali
belum berbuat sesuatu yang bisa membuatku di
sebut luar biasa." ucap lvan dengan senyuman
manisnya, begitu tenang sambil menatap langit
berbintang.
Melihat sikap lvan seperti itu, dalam hati
Nabila semakin mengagumi lvan, tidak hanya
baik dan ramah, Ivan juga tidak menampik jika
apa yang dia miliki saat ini adalah hasil kerja
keras ayahnya.
"Saat ini aku menjadi anak tunggal, sama
sepertimu, saudaraku yang berumur beberapa
tahun lebih tua dariku juga sudah meninggal
dalam sebuah insiden kecelakaan," kata lvan
pelan.
Walaupun Ivan tersenyum saat mengatakan
itu, ekspresi kesedihan bisa tergambar jelas di
wajahnya.
"Apa hubungan kalian berdua dekat...2"
tanya Nabila penasaran.
"Dia Kakak yang merepotkan, suka
bertindak semaunya, bahkan dulu dia dengan
tegas mengatakan jika dia tidak akan mewarisi
bisnis milik keluargaku, kedua orang tuaku
benar-benar sangat marah saat dia mengatakan
itu," Jawab lvan sambil tertawa kecil mengingat
kelakuan mendiang Kakak laki-lakinya.
"Walaupun dia bertingkah seperti itu, dia
tetap Kakak yang sangat kukagumi, dia
mengajarkanku banyak hal, mulai dari pelajaran,
bela diri, sampai sopan santun dan etika ketika
berinteraksi dengan orang lain, dia mengajariku
semua itu, dia adalah idolaku," sambung Ivan
sambil tersenyum.
Nabila bisa merasakan kedekatan antara
Ivan dan mendiang Kakaknya, dia sendiri juga
seperti itu dengan Kakak perempuannya.
"Jadi hubungan mendiang Kakakmu dengan
__ADS_1
kedua orang tuamu tidak begitu bagus?" tanya
Nabila penasaran.
"Hahaha, tidak... keluargaku tidak seperti itu,
walaupun ayah dan ibuku sempat marah, namun
itu tidak berlangsung lama, mendiang Kakakku
sangat lihat mengambil hati kedua orang tuaku,
dengan sabar dia menjelaskan keinginannya dan
alasannya yang tidak ingin menjalankan bisnis
keluargaku kepada kedua orang tuaku, akhirnya
setelah seminggu, kedua orang tuaku pun
menerima permintaannya," terang lvan sambil
tertawa lepas.
"Hufftt... itu sama persis seperti Kakakku,
saat kedua orang tuaku mengetahui dia hamil,
kedua orang tuaku benar-benar sangat marah
karena Kakak tidak mau memberitahu siapa
ayah dari janin yang berada di perutnya, dia tidak
menyerah, dengan sabar dia membujuk kedua
orang tuaku agar mau menerima keadaannya
saat itu, dan benar, hanya dalam seminggu
kedua orang tuaku juga luluh kepada mendiang
Kakakku," keluh Nabila bercanda.
Ivan dan Nabila kemudian saling bertatapan,
mereka terdiam beberapa detik dan kompak
tertawa bersamaan.
"Kita berdua memiliki Kakak yang
merepotkan," ucap lvan sambil tertawa lepas.
Nabila juga tertawa lepas, itu karena sifat
kedua Kakak mereka benar-benar mirip.
Kemudian mereka melanjutkan obrolan
mereka, kali ini dengan topik yang cukup
beragam sambil menikmati secangkir teh
hangat yang lvan siapkan.
Beberapa menit berlalu dengan cepat,
waktu telah menunjukkan pukul 12 dini hari
lewat yang berarti hari telah berganti.
Mereka berdua masih asyik berbicara,
suasana di balkon kediaman lvan di malam yang
berbintang itu benar-benar terasa ceria dengan
suara tawa dari keduanya.
serius.
Ivan menatap Nabila dengan ekspresi wajah
"Na-Nabila, hmmm...bagaimana dengan
permintaanku tadi?" ucap lvan pelan.
Nabila menoleh ke lvan, lalu memiringkan
sedikit kepalanya karena merasa bingung
dengan pertanyaan lvan.
"Permintaan?" tanya Nabila balik dengan
wajah bingungnya.
"Ah... itu tentang.." wajah lvan semakin
memerah, dia sangat gugup untuk melanjutkan
perkataannya.
Nabila memandangi lvan yang terlihat gugup,
setelah mereka saling berbagi cerita dan
tertawa bersama, dia menyadari jika lvan adalah
orang yang bisa dia jadikan teman dekat.
Nabila meraih tangan lvan, "Ivan...??" tanya
Nabila lembut menanti apa yang ingin lvan
katakan.
Begitu tangan Nabila menyentuh tangannya,
lvan langsung kembali menatap wajah Nabila.
"Nabila, apa kamu masih ingat apa yang aku
bisikkan di telingamu ketika tadi kamu
menangis di dalam pelukanku.?" tanya lvan
dengan rinci kejadian tadi.
Alis Nabila
mengingat momen ketika dia menangis dalam
pelukan lvan.
Blusshh
mengernyit, dia kembali
akhirnya mengingat ucapan Ivan.
Dengan menarik nafas kecil,"Biar aku ulangi
apa yang tadi aku katakan, Nabila.. biarkan aku
masuk ke dalam hidupmu, biarkan aku yang
menjagamu dan Calvin, akan kubalas air
matamu yang saat ini tumpah dengan
kebahagiaan, Nabila... sepertinya aku jatuh cinta
kepadamu.." ucap lvan dengan lembut yang kini
memegang tangan Nabila.
Nabila tersipu dengan wajah kemerahan, dia
memalingkan wajahnya dari lvan. Dia
melepaskan tangan Ivan, namun Ivan dengan
cepat kembali meraih tangannya.
"I-ivan... maaf..." balas Nabila lemah.
Ivan menunduk lesu mendengar jawaban
Nabila. Dan tersenyum, sudah berkali-kali dia
menolak wanita yang ingin menjalin hubungan
dengannya, dia tidak menyangka jika hari ini dia
juga akan merasakan sakitnya penolakan.
"Ahh..Ternyata seperti ini rasanya ketika
cinta ditolak..!" pikir lvan tersenyum miris.
Nabila sendiri tentu saja merasa senang
ketika Ivan mengutarakan perasaannya, dicintai
oleh pria seperti Ivan membuatnya merasa
bahagia, namun dia sadar jika saat ini dia
berstatus sebagai tunangan Daryl, dia tidak bisa
begitu saja membatalkan pertunangannya yang
bisa membuat keluarganya marah dan semakin
membenci dirinya dan juga putranya.
"Hmm... cintaku ternyata bertepuk sebelah
tangan, maaf kalau aku membuatmu merasa
tidak nyaman Nabila, aku jamin besok aku akan
bersikap seperti biasanya.." ucap lvan lembut
sambil tersenyum memandangi Nabila. Kembali
menenangkan perasaannya.
Mendengar itu Nabila langsung
menggenggam tangan lvan dengan erat, dia
menatap lvan yang sedang tersenyum
kepadanya.
"Ivan, bu-bukan itu maksudku." sela Nabila
cepat.
"Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu,
aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku,
aku berjanji akan bersikap seperti pertanyaanku
tadi tidak pernah terjadi." balas lvan. Yang
membuat dara Nabila berdesir. Kenapa
mendengar lvan berkata seperti membuatnya
terluka.
Karena walaupun lvan berkata seperti itu,
ekspresi wajahnya mengatakan hal berbeda,
Nabila bisa melihat dengan jelas ekspresi
kekecewaan di balik senyuman lvan.
Dengan sedikit keberanian.
"Ivan, aku juga menyukaimu, hanya saja
statusku saat ini adalah tunangan Daryl, aku
tidak bisa memutuskan semuanya seorang diri,
kamu tahu jika saat ini aku dan Calvin
bergantung kepada keluargaku, aku tidak ingin
keluargaku membenciku dan juga membenci
Calvin karena keegoisanku jadi tolong jangan
salah paham..." jujur Nabila dengan satu kali
tarikan nafas.
Nabila terusa berbicara, namun lvan tidak
lagi mendengarkan penjelasan Nabila yang
masih berbicara panjang lebar di depannya,
otaknya hanya menyimpan ucapan Nabila yang
berkata, 'Ivan aku juga menyukaimu'
__ADS_1
Saat Nabila masih berbicara, lvan dengan
cepat memeluk tubuh Nabila, hal itu membuat
Nabila sontak terkejut, namun Nabila sama
sekali tidak menunjukkan gestur tubuh
keberatan dengan lvan yang tiba-tiba memeluk
tubuhnya.
"lvan?" gumam Nabila yang merasa heran
dengan sikap lvan.
"Aku sangat senang saat kamu mengatakan
jika kamu juga menyukaiku, Nabila.." seru lvan
yang masih memeluk tubuh Nabila.
"van... tapi-" sela Nabila. Namun langsung
dipotong oleh lvan
"Nabila, aku tidak peduli dengan semua
alasanmu, akan kubuktikan kepadamu jika aku
benar-benar serius dengan perasaanku
kepadamu, aku tahu saat ini kamu masih
berstatus tunangan dari keluarga Mahendra, dan
dari ceritamu, aku tahu jika kamu terpaksa
melakukan itu.
"Aku tidak akan memaksamu menjalin
hubungan denganku saat ini, aku akan
menunggu dan terus memperjuangkanmu
sampai saatnya tiba di mana aku akan
menjadikanmu milikku seutuhnya..." tegas lvan.
Deg
Nabila terdiam, matanya berkaca-kaca,
untuk pertama kali dalam hidupnya seorang pria
mengatakan perasaan dengan tulus kepadanya.
Walaupun dia memiliki paras yang cantik,
dia tahu saat seorang pria mendekatinya, itu
hanya karena kecantikannya dan hanya untuk
bersenang-senang dengannya, tak sekalipun ada
pria yang berniat menjadikannya istri dengan
statusnya sebagai ibu dari seorang putra yang
tidak jelas ayahnya siapa.
Daryl juga bersikap sama, awalnya dia
mendekati Nabila karena kecantikannya dan
sama sekali tidak berniat menjadikan Nabila
istrinya, namun karena Paman Nabila dan
Ayahnya bersahabat, Daryl akhirnya mengetahui
jika Calvin bukanlah putra kandung dari Nabila.
Hal itu pula yang membuat Daryl langsung
menerima saat Ayahnya berniat
menjodohkannya dengan Nabila.
"lvan.. aku.."
"Nabila... biar kutanyakan sekali lagi, apakah
kamu juga menyukaiku?" sela lvan yang melepas
pelukannya dan langsung menatap Nabila
dengan serius.
Nabila tersenyum kepada lvan, dia
menganggukkan kepalanya pelan dan berkata, "
lya, aku juga menyukaimu..lvan.." dengan wajah
merona.
Ivan tersenyum sumringah, dia mengangkat
kedua tangannya.
"Yessss!" teriak lvan yang langsung di
sambut tawa kecil oleh Nabila.
"Ivan, bagaimana dengan Calvin? Tadi kamu
berbicara hanya tentang diriku dan tidak
menyebut tentang Calvin sama sekali." tanya
Nabila menggoda lvan.
"Oh my...!!. Bagaimana bisa aku melupakan
jagoan kecilku itu.!" balas lvan sambil menepuk
jidatnya sendiri.
"Dia pasti akan protes jika mendengar apa
yang baru saja aku katakan.." sambung lvan
yang langsung membuat Nabila tertawa.
Ivan dengan lembut memegang tangan
Nabila menuju kamar tamu tempat Calvin
berada.
Saat mereka berdua tiba di depan pintu
kamar, Ivan memandangi Nabila, "Nabila.. hmm.
selamat tidur dan sampai jumpa besok..." ucap
lvan singkat.
Nabila mengangguk pelan sambil
tersenyum lembut kepada lvan.
Ivan menatap Nabila, senyumannya
membuat jantung lvan berdegup cepat, tepat
ketika Nabila berbalik dan hendak membuka
pintu, lvan dengan cepat menarik lengan Nabila
dan mencium bibir Nabila yang terlihat begitu
mempesona di matanya.
Cup.
Ivan mendaratkan ciuman yang begitu
lembut di bibir Nabila. Di sesapnya bibir bawah
dan atas Nabila. Sedangkan Nabila yang terkejut
hanya diam dan mengepal tangannya.
Tidak mendapatkan balasan dari Nabila,
Ivan melepaskan ciumannya.
"Nabila.. ma-maaf kamu terlihat sangat
cantik itu membuatku tidak bisa menahan diri
untuk mencium bibirmu.." ucap lvan terbata-bata,
dia lagi-lagi mengutuk dirinya yang tidak bisa
menahan diri ketika melihat senyuman Nabila.
Nabila yang masih terkejut karena lvan
tiba-tiba menciumnya hanya terdiam, dia lalu
tersenyum kepada lvan dan berkata, "Selamat
malam lvan, sampai jumpa besok."
Mata lvan membelalak tak percaya dengan
apa yang baru saja dia dengar dan saksikan.
Bukan hanya karena Nabila yang tidak
mempermasalahkan perbuatannya, Nabila juga
tersenyum kepadanya seakan ciumannya tadi
bukanlah masalah besar.
"lya," jawab lvan singkat.
Nabila lalu membuka pintu dan masuk ke
dalam kamar, tepat setelah Nabila menutup
pintu, lvan mengangkat kedua tangannya dan
kembali melakukan selebrasi tanpa suara.
"Yess..!! teriaknya dalam hati.
Ceklek..
"lvan... terima ka...." Pintu kamar Nabila yang
baru saja tertutup kembali terbuka, sesaat
setelah dia menutup pintu, dia baru mengingat
jika dia belum mengucapkan terima kasih
kepada lvan yang sudah membantunya hari ini.
"Ah... Nabila... ada apa?" tanya lvan yang
perlahan menurunkan kedua lengannya dan
langsung mengusap rambutnya dengan kedua
lengannya.
Nabila yang sempat terperangah melihat
selebrasi lvan kembali tertawa.
"Hahaha, Ivan... maaf... aku hanya ingin
mengucapkan terima kasih untuk hari ini," kata
Nabila yang terus tertawa karena mengingat
ekspresi lvan saat dia membuka pintu.
"lya, kalau begitu sampai jumpa besok," kata
Ivan singkat, dia benar-benar merasa sangat
malu karena Nabila melihat selebrasi konyol
yang dia lakukan.
Nabila yang terus tertawa lalu menutup
pintunya, samar-samar lvan yang berada di luar
kamar masih bisa mendengar suara tawa Nabila.
"Hah... aku pasti terlihat sangat memalukan,"
keluh lvan.
Dia lalu meninggalkan tempat itu menuju
__ADS_1
kamarnya untuk beristirahat.