Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 12 Meluapkan Perasaan


__ADS_3

Selama beberapa menit Nabila terus


menangis dalam dekapan lvan, dia


menumpahkan semua air matanya bersama


rasa sakit yang dia pendam.


Setelah mengatakan isi hatinya kepada


Nabila, Ivan tidak lagi berkata-kata, dia terdiam


membiarkan Nabila meluapkan semua emosinya.


Perlahan suara isak tangis Nabila mulai


menghilang, lvan melepaskan pelukannya dari


Nabila.


"Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya


Ivan sambil menyeka air mata yang membasahi


pipi Nabila dengan ibu jarinya.


Sambil mengangguk pelan Nabila


tersenyum, dia memandangi wajah lvan yang


sedang menyeka air mata, "Hmm iya, maafkan


aku karena tiba-tiba menangis seperti ini." lirih


Nabila.


Ivan hanya tersenyum, lalu beranjak dari


duduknya.


"Tunggu, aku akan kembali.." ujarnya lalu


pergi menuju pantri yang berada di lantai dua.


Nabila yang sudah tenang menatap langit


yang dipenuhi bintang.


"Benar yang dikatakan lvan.." gumam Nabila


tersenyum kecil.


Kini hatinya terasa begitu lega setelah dia


menangis sejadi-jadinya.


Sambil menunggu lvan kembali, dia


menekuk kakinya di kursi lalu meletakkan


dagunya di lutut.


"Dan, kenapa aku bisa begitu lepas


meluapkannya bersama lvan.?" pikir Nabila, dia


tidak mengerti mengapa dia bisa menangis


seperti itu di dada pria yang baru saja dia temui


hari ini.


Beberapa saat kemudian, Ivan kembali


membawa dua cangkir teh hijau, Nabila yang


melihat lvan sontak berdiri dari kursinya dan


menghampiri lvan.


"Ivan kenapa kamu tidak bilang kalau ingin


membuat teh, aku bisa membuatkannya


untukmu.." protes Nabila pelan sambil meraih


cangkir teh hijau yang berada dari tangan lvan.


"Nabila, kamu itu tamu di rumahku, mana


mungkin aku membiarkan tamuku menyajikan


teh buatku." balas lvan.


Nabila kembali tersenyum, lalu kembali


duduk di kursi panjang dan meletakkan cangkir


berisi teh hijau yang baru saja lvan buat di meja.


Karena Nabila tidak lagi menangis, Ivan pun


kembali menuju kursi yang berada di samping


Nabila, belum sempat dia duduk. Nabila melihat


Ivan, "Hmm..lvan, bisakah kamu duduk di


sampingku..??" tanya Nabila dengan wajah


memerah.


Deg


Ivan tersenyum dan mengikuti permintaan


Nabila, dia duduk di samping Nabila sambil


meneguk teh hangat yang berada di tangannya.


"Aku sudah menceritakan tentang diriku,


sekarang giliranmu?" seru Nabila menatap langit


dan sedikit menoleh ke arah lvan.


Ivan meletakkan cangkir teh yang berada di


tangannya ke meja lalu bersandar di kursi.


"Hmm.mungkin ini akan sedikit


membosankan, aku harap kamu tidak tertidur


setelah mendengarkan ceritaku..." ucap lvan


bercanda yang langsung disambut tawa kecil


oleh Nabila.


"Aku bernama lvan Barata, putra kedua dari


Gunnadi Barata pemilik Grup Barata Cipta Abadi,"


kata lvan membuka pembicaraan.


Nabila sontak terkejut ketika mendengar


Ivan memperkenalkan dirinya, dia sendiri sudah


sering mendengar tentang Grup Barata Cipta


Abadi, sebuah grup yang memiliki puluhan


perusahaan besar di bawahnya.


Daryl juga sering menyombongkan diri jika


keluarganya berteman dengan keluarga Barata


yang merupakan pemilik grup itu.


Nabila juga akhirnya menyadari mengapa


Ivan terlihat tenang ketika Nabila mengatakan


jika Daryl adalah pemilik saham di The Barritz


Hotel.


Status lvan yang tidak biasa membuatnya


paham, mengapa lvan dengan begitu


gampangnya mengeluarkan keluarga Mahendra


sebagai pemilik saham di The Barritz Hotel.


Nabila terperangah, dia terus menatap lvan


dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut. Dia


tidak menyangka jika pria yang


menyelamatkannya adalah Tuan Muda dari


keluarga Barata.


"Kamu benar-benar luar biasa," puji Nabila


tulus.


Ivan tersenyum mendengar pujian dari


Nabila.


"Tidak juga, karena semua prestasi itu


adalah hasil kerja keras ayahku, aku sama sekali


belum berbuat sesuatu yang bisa membuatku di


sebut luar biasa." ucap lvan dengan senyuman


manisnya, begitu tenang sambil menatap langit


berbintang.


Melihat sikap lvan seperti itu, dalam hati


Nabila semakin mengagumi lvan, tidak hanya


baik dan ramah, Ivan juga tidak menampik jika


apa yang dia miliki saat ini adalah hasil kerja


keras ayahnya.


"Saat ini aku menjadi anak tunggal, sama


sepertimu, saudaraku yang berumur beberapa


tahun lebih tua dariku juga sudah meninggal


dalam sebuah insiden kecelakaan," kata lvan


pelan.


Walaupun Ivan tersenyum saat mengatakan


itu, ekspresi kesedihan bisa tergambar jelas di


wajahnya.


"Apa hubungan kalian berdua dekat...2"


tanya Nabila penasaran.


"Dia Kakak yang merepotkan, suka


bertindak semaunya, bahkan dulu dia dengan


tegas mengatakan jika dia tidak akan mewarisi


bisnis milik keluargaku, kedua orang tuaku


benar-benar sangat marah saat dia mengatakan


itu," Jawab lvan sambil tertawa kecil mengingat


kelakuan mendiang Kakak laki-lakinya.


"Walaupun dia bertingkah seperti itu, dia


tetap Kakak yang sangat kukagumi, dia


mengajarkanku banyak hal, mulai dari pelajaran,


bela diri, sampai sopan santun dan etika ketika


berinteraksi dengan orang lain, dia mengajariku


semua itu, dia adalah idolaku," sambung Ivan


sambil tersenyum.


Nabila bisa merasakan kedekatan antara


Ivan dan mendiang Kakaknya, dia sendiri juga


seperti itu dengan Kakak perempuannya.


"Jadi hubungan mendiang Kakakmu dengan

__ADS_1


kedua orang tuamu tidak begitu bagus?" tanya


Nabila penasaran.


"Hahaha, tidak... keluargaku tidak seperti itu,


walaupun ayah dan ibuku sempat marah, namun


itu tidak berlangsung lama, mendiang Kakakku


sangat lihat mengambil hati kedua orang tuaku,


dengan sabar dia menjelaskan keinginannya dan


alasannya yang tidak ingin menjalankan bisnis


keluargaku kepada kedua orang tuaku, akhirnya


setelah seminggu, kedua orang tuaku pun


menerima permintaannya," terang lvan sambil


tertawa lepas.


"Hufftt... itu sama persis seperti Kakakku,


saat kedua orang tuaku mengetahui dia hamil,


kedua orang tuaku benar-benar sangat marah


karena Kakak tidak mau memberitahu siapa


ayah dari janin yang berada di perutnya, dia tidak


menyerah, dengan sabar dia membujuk kedua


orang tuaku agar mau menerima keadaannya


saat itu, dan benar, hanya dalam seminggu


kedua orang tuaku juga luluh kepada mendiang


Kakakku," keluh Nabila bercanda.


Ivan dan Nabila kemudian saling bertatapan,


mereka terdiam beberapa detik dan kompak


tertawa bersamaan.


"Kita berdua memiliki Kakak yang


merepotkan," ucap lvan sambil tertawa lepas.


Nabila juga tertawa lepas, itu karena sifat


kedua Kakak mereka benar-benar mirip.


Kemudian mereka melanjutkan obrolan


mereka, kali ini dengan topik yang cukup


beragam sambil menikmati secangkir teh


hangat yang lvan siapkan.


Beberapa menit berlalu dengan cepat,


waktu telah menunjukkan pukul 12 dini hari


lewat yang berarti hari telah berganti.


Mereka berdua masih asyik berbicara,


suasana di balkon kediaman lvan di malam yang


berbintang itu benar-benar terasa ceria dengan


suara tawa dari keduanya.


serius.


Ivan menatap Nabila dengan ekspresi wajah


"Na-Nabila, hmmm...bagaimana dengan


permintaanku tadi?" ucap lvan pelan.


Nabila menoleh ke lvan, lalu memiringkan


sedikit kepalanya karena merasa bingung


dengan pertanyaan lvan.


"Permintaan?" tanya Nabila balik dengan


wajah bingungnya.


"Ah... itu tentang.." wajah lvan semakin


memerah, dia sangat gugup untuk melanjutkan


perkataannya.


Nabila memandangi lvan yang terlihat gugup,


setelah mereka saling berbagi cerita dan


tertawa bersama, dia menyadari jika lvan adalah


orang yang bisa dia jadikan teman dekat.


Nabila meraih tangan lvan, "Ivan...??" tanya


Nabila lembut menanti apa yang ingin lvan


katakan.


Begitu tangan Nabila menyentuh tangannya,


lvan langsung kembali menatap wajah Nabila.


"Nabila, apa kamu masih ingat apa yang aku


bisikkan di telingamu ketika tadi kamu


menangis di dalam pelukanku.?" tanya lvan


dengan rinci kejadian tadi.


Alis Nabila


mengingat momen ketika dia menangis dalam


pelukan lvan.


Blusshh


mengernyit, dia kembali


akhirnya mengingat ucapan Ivan.


Dengan menarik nafas kecil,"Biar aku ulangi


apa yang tadi aku katakan, Nabila.. biarkan aku


masuk ke dalam hidupmu, biarkan aku yang


menjagamu dan Calvin, akan kubalas air


matamu yang saat ini tumpah dengan


kebahagiaan, Nabila... sepertinya aku jatuh cinta


kepadamu.." ucap lvan dengan lembut yang kini


memegang tangan Nabila.


Nabila tersipu dengan wajah kemerahan, dia


memalingkan wajahnya dari lvan. Dia


melepaskan tangan Ivan, namun Ivan dengan


cepat kembali meraih tangannya.


"I-ivan... maaf..." balas Nabila lemah.


Ivan menunduk lesu mendengar jawaban


Nabila. Dan tersenyum, sudah berkali-kali dia


menolak wanita yang ingin menjalin hubungan


dengannya, dia tidak menyangka jika hari ini dia


juga akan merasakan sakitnya penolakan.


"Ahh..Ternyata seperti ini rasanya ketika


cinta ditolak..!" pikir lvan tersenyum miris.


Nabila sendiri tentu saja merasa senang


ketika Ivan mengutarakan perasaannya, dicintai


oleh pria seperti Ivan membuatnya merasa


bahagia, namun dia sadar jika saat ini dia


berstatus sebagai tunangan Daryl, dia tidak bisa


begitu saja membatalkan pertunangannya yang


bisa membuat keluarganya marah dan semakin


membenci dirinya dan juga putranya.


"Hmm... cintaku ternyata bertepuk sebelah


tangan, maaf kalau aku membuatmu merasa


tidak nyaman Nabila, aku jamin besok aku akan


bersikap seperti biasanya.." ucap lvan lembut


sambil tersenyum memandangi Nabila. Kembali


menenangkan perasaannya.


Mendengar itu Nabila langsung


menggenggam tangan lvan dengan erat, dia


menatap lvan yang sedang tersenyum


kepadanya.


"Ivan, bu-bukan itu maksudku." sela Nabila


cepat.


"Tidak apa-apa, aku mengerti maksudmu,


aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku,


aku berjanji akan bersikap seperti pertanyaanku


tadi tidak pernah terjadi." balas lvan. Yang


membuat dara Nabila berdesir. Kenapa


mendengar lvan berkata seperti membuatnya


terluka.


Karena walaupun lvan berkata seperti itu,


ekspresi wajahnya mengatakan hal berbeda,


Nabila bisa melihat dengan jelas ekspresi


kekecewaan di balik senyuman lvan.


Dengan sedikit keberanian.


"Ivan, aku juga menyukaimu, hanya saja


statusku saat ini adalah tunangan Daryl, aku


tidak bisa memutuskan semuanya seorang diri,


kamu tahu jika saat ini aku dan Calvin


bergantung kepada keluargaku, aku tidak ingin


keluargaku membenciku dan juga membenci


Calvin karena keegoisanku jadi tolong jangan


salah paham..." jujur Nabila dengan satu kali


tarikan nafas.


Nabila terusa berbicara, namun lvan tidak


lagi mendengarkan penjelasan Nabila yang


masih berbicara panjang lebar di depannya,


otaknya hanya menyimpan ucapan Nabila yang


berkata, 'Ivan aku juga menyukaimu'

__ADS_1


Saat Nabila masih berbicara, lvan dengan


cepat memeluk tubuh Nabila, hal itu membuat


Nabila sontak terkejut, namun Nabila sama


sekali tidak menunjukkan gestur tubuh


keberatan dengan lvan yang tiba-tiba memeluk


tubuhnya.


"lvan?" gumam Nabila yang merasa heran


dengan sikap lvan.


"Aku sangat senang saat kamu mengatakan


jika kamu juga menyukaiku, Nabila.." seru lvan


yang masih memeluk tubuh Nabila.


"van... tapi-" sela Nabila. Namun langsung


dipotong oleh lvan


"Nabila, aku tidak peduli dengan semua


alasanmu, akan kubuktikan kepadamu jika aku


benar-benar serius dengan perasaanku


kepadamu, aku tahu saat ini kamu masih


berstatus tunangan dari keluarga Mahendra, dan


dari ceritamu, aku tahu jika kamu terpaksa


melakukan itu.


"Aku tidak akan memaksamu menjalin


hubungan denganku saat ini, aku akan


menunggu dan terus memperjuangkanmu


sampai saatnya tiba di mana aku akan


menjadikanmu milikku seutuhnya..." tegas lvan.


Deg


Nabila terdiam, matanya berkaca-kaca,


untuk pertama kali dalam hidupnya seorang pria


mengatakan perasaan dengan tulus kepadanya.


Walaupun dia memiliki paras yang cantik,


dia tahu saat seorang pria mendekatinya, itu


hanya karena kecantikannya dan hanya untuk


bersenang-senang dengannya, tak sekalipun ada


pria yang berniat menjadikannya istri dengan


statusnya sebagai ibu dari seorang putra yang


tidak jelas ayahnya siapa.


Daryl juga bersikap sama, awalnya dia


mendekati Nabila karena kecantikannya dan


sama sekali tidak berniat menjadikan Nabila


istrinya, namun karena Paman Nabila dan


Ayahnya bersahabat, Daryl akhirnya mengetahui


jika Calvin bukanlah putra kandung dari Nabila.


Hal itu pula yang membuat Daryl langsung


menerima saat Ayahnya berniat


menjodohkannya dengan Nabila.


"lvan.. aku.."


"Nabila... biar kutanyakan sekali lagi, apakah


kamu juga menyukaiku?" sela lvan yang melepas


pelukannya dan langsung menatap Nabila


dengan serius.


Nabila tersenyum kepada lvan, dia


menganggukkan kepalanya pelan dan berkata, "


lya, aku juga menyukaimu..lvan.." dengan wajah


merona.


Ivan tersenyum sumringah, dia mengangkat


kedua tangannya.


"Yessss!" teriak lvan yang langsung di


sambut tawa kecil oleh Nabila.


"Ivan, bagaimana dengan Calvin? Tadi kamu


berbicara hanya tentang diriku dan tidak


menyebut tentang Calvin sama sekali." tanya


Nabila menggoda lvan.


"Oh my...!!. Bagaimana bisa aku melupakan


jagoan kecilku itu.!" balas lvan sambil menepuk


jidatnya sendiri.


"Dia pasti akan protes jika mendengar apa


yang baru saja aku katakan.." sambung lvan


yang langsung membuat Nabila tertawa.


Ivan dengan lembut memegang tangan


Nabila menuju kamar tamu tempat Calvin


berada.


Saat mereka berdua tiba di depan pintu


kamar, Ivan memandangi Nabila, "Nabila.. hmm.


selamat tidur dan sampai jumpa besok..." ucap


lvan singkat.


Nabila mengangguk pelan sambil


tersenyum lembut kepada lvan.


Ivan menatap Nabila, senyumannya


membuat jantung lvan berdegup cepat, tepat


ketika Nabila berbalik dan hendak membuka


pintu, lvan dengan cepat menarik lengan Nabila


dan mencium bibir Nabila yang terlihat begitu


mempesona di matanya.


Cup.


Ivan mendaratkan ciuman yang begitu


lembut di bibir Nabila. Di sesapnya bibir bawah


dan atas Nabila. Sedangkan Nabila yang terkejut


hanya diam dan mengepal tangannya.


Tidak mendapatkan balasan dari Nabila,


Ivan melepaskan ciumannya.


"Nabila.. ma-maaf kamu terlihat sangat


cantik itu membuatku tidak bisa menahan diri


untuk mencium bibirmu.." ucap lvan terbata-bata,


dia lagi-lagi mengutuk dirinya yang tidak bisa


menahan diri ketika melihat senyuman Nabila.


Nabila yang masih terkejut karena lvan


tiba-tiba menciumnya hanya terdiam, dia lalu


tersenyum kepada lvan dan berkata, "Selamat


malam lvan, sampai jumpa besok."


Mata lvan membelalak tak percaya dengan


apa yang baru saja dia dengar dan saksikan.


Bukan hanya karena Nabila yang tidak


mempermasalahkan perbuatannya, Nabila juga


tersenyum kepadanya seakan ciumannya tadi


bukanlah masalah besar.


"lya," jawab lvan singkat.


Nabila lalu membuka pintu dan masuk ke


dalam kamar, tepat setelah Nabila menutup


pintu, lvan mengangkat kedua tangannya dan


kembali melakukan selebrasi tanpa suara.


"Yess..!! teriaknya dalam hati.


Ceklek..


"lvan... terima ka...." Pintu kamar Nabila yang


baru saja tertutup kembali terbuka, sesaat


setelah dia menutup pintu, dia baru mengingat


jika dia belum mengucapkan terima kasih


kepada lvan yang sudah membantunya hari ini.


"Ah... Nabila... ada apa?" tanya lvan yang


perlahan menurunkan kedua lengannya dan


langsung mengusap rambutnya dengan kedua


lengannya.


Nabila yang sempat terperangah melihat


selebrasi lvan kembali tertawa.


"Hahaha, Ivan... maaf... aku hanya ingin


mengucapkan terima kasih untuk hari ini," kata


Nabila yang terus tertawa karena mengingat


ekspresi lvan saat dia membuka pintu.


"lya, kalau begitu sampai jumpa besok," kata


Ivan singkat, dia benar-benar merasa sangat


malu karena Nabila melihat selebrasi konyol


yang dia lakukan.


Nabila yang terus tertawa lalu menutup


pintunya, samar-samar lvan yang berada di luar


kamar masih bisa mendengar suara tawa Nabila.


"Hah... aku pasti terlihat sangat memalukan,"


keluh lvan.


Dia lalu meninggalkan tempat itu menuju

__ADS_1


kamarnya untuk beristirahat.


__ADS_2