
"Dia benar-benar cantik," batin lvan sambil
menatap Nabila yang sedang tersenyum
menemani Calvin bermain action figure.
Ivan yang sudah tiba di depan ruangan,
langsung berhenti begitu melihat senyuman
Nabila yang begitu cantik.
Setelah memanjakan matanya dengan
kecantikan Nabila selama beberapa saat, dia pun
dengan lembut memanggil Nabila.
"Nabila..." panggil lvan lembut.
Nabila menoleh ke pintu ruangan itu, dia
melihat Ivan yang sudah berganti pakaian
sedang tersenyum kepadanya.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,"
kata lvan.
Nabila beranjak dari duduknya, lalu berjalan
menuju lvan
"Ada apa?" tanya Nabila penasaran.
"Aku ingin meminta nomor ponselmu,"
jawab Ivan santai.
Ivan ingin meminta nomor ponsel Nabila
dan memberikan nomor Nabila kepada
temannya yang bernama Clarissa yang
mempunyai beberapa butik di Jakarta.
Nabila yang sedikit terkejut karena Ivan
tiba-tiba meminta nomor ponselnya tampak
mengangkat kedua alisnya, dengan suara
lembut dia balik bertanya.
"Nomor ponsel?"
Melihat ekspresi bingung Nabila, lvan
menjadi salah tingkah. Dengan gugup lvan
menjelaskan alasan dia meminta nomor ponsel
Nabila.
"Ah.. itu aku mau memberikannya kepada
temanku," balas lvan.
"Menberikan nomor ponselku ke temanmu.
hmm," Nabila menyilangkan kedua tangannya,
alasan yang baru saja lvan katakan terdengar
cukup aneh di telinganya.
Ivan yang sadar sudah memberikan jawaban
yang kurang baik segera mengoreksi ucapannya.
"Maaf, bukan itu maksudku..."
"Tuan lvan ingin memberikan nomor ponsel
Nona Nabila ke temannya yang memilikį butik,
dia ingin membeli pakaian ganti untuk Nona
Nabila dan Tuan muda Calvin," sela Inah yang
sudah ada di belakang Ivan.
"Nah.. itu maksudku," ucap lvan sambil
tersenyum.
"Huftt..!" hela nafas lvan.
"Pffttt." Nabila tertawa kecil, siapapun akan
merasa aneh ketika mendengar jawaban Ivan
tadi.
Nabila yang sudah mengetahui alasan Ivan
yang sebenarnya meminta nomor ponselnya,
tidak langsung memberikan nomor ponselnya.
"lvan, kamu tidak harus melakukan itu, kami
berdua bisa tidur dengan pakaian kami yang
sekarang," ucap Nabila yang merasa tidak enak
dengan kebaikan yang terus diberikan lvan.
"Tidak apa-apa, kalian berdua akan merasa
tidak nyaman dengan pakaian seperti itu, dan
apakah kamu lupa jika pakaian Calvin kotor
karena bekas sepatu Daryl?" terang lvan.
Nabila mengangguk pelan, dia kembali
mengingat insiden kurang menyenangkan yang
tadi menimpa dirinya.
"Ah. itu..
"Nabila, kamu saat ini menginap di rumahku,
jadi tolong biarkan aku menjamu tamuku
__ADS_1
dengan baik." sela lvan.
Nabila menghela nafasnya pelan.
"Hmm..Baiklah," ucapnya sambil
memberikan nomor ponselnya kepada lvan.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Nabila,
dia lalu mengirim nomor Nabila ke Clarissa, tak
lupa lvan menjelaskan maksudnya yang ingin
membelikan pakaian untuk Nabila dan Calvin.
Sesaat setelah Ivan mengirim pesan, bunyi
notifikasi pesan masuk terdengar di ponsel
Nabila.
Setelah mengecek ponselnya, Nabila
langsung berbalas pesan dengan teman lvan
yang bernama Clarissa.
Clarissa meminta ukuran pakaian Nabila
dan Calvin, setelah mendapatkan semua
informasi yang dibutuhkan, Clarissa mengakhiri
dengan mengirim pesan yang berbunyi.
[Clarissal Kami akan mengirimkan pesanan
Ivan segera.
Setelah menerima pesan itu, Nabila kembali
bergabung dengan lvan dan Calvin, sambil
menunggu pesanannya tiba, mereka
menghabiskan waktu bersama menemani Calvin
yang terus tersenyum bahagia sambil
memainkan action figure kesukaannya.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil
putih dengan tulisan Clarissa Boutique, tiba di
kediaman Ivan, Inah pun bergegas memanggil
Nabila.
"Nona Nabila, pesanan Nona sudah tiba."
ucap Inah kepada Nabila.
"lya Bi Inah," jawab Nabila.
"Aku ke depan dulu ya.?" pamit Nabila
kepada Ivan dan diangguki oleh lvan.
Nabila segera beranjak dari duduknya, di
membawa pakaian yang dipesan oleh lvan.
"Mengapa sebanyak ini?" tanya Nabila yang
terkejut melihat beberapa paper bag bertuliskan
Clarissa Boutique.
Inah hanya bisa tertawa melihat ekspresi
wajah Nabila, setelah membantu Nabila
membawa paper bag ke ruang keluarga. Dia
langsung mohon pamit untuk kembali
melanjutkan tugasnya.
Nabila segera mengecek paper bag itu satu
persatu, total ada 20 pakaian untuk Calvin dan
juga 20 pakaian untuk Nabila.
Ada tiga piyama tidur untuknya, tujuh belas
pakaian lainnya adalah gaun indah yang bisa
dipakai sehari-hari, tak lupa beberapa dalaman
wanita juga ada diantara pakaian itu.
"Oh my.. dia tidak perlu membeli sebanyak
ini," ucap Nabila lirih ketika dia kembali
memandangi tumpukan pakaian itu.
"Apakah pakaiannya sudah tiba?" tanya lvan
yang ikut menyusul Nabila ke ruang keluarga.
"Ah..iya. Terima kasih.." kaget Nabila
dengan kemunculan lvan tiba-tiba.
"Tapi Ivan, bukankah ini berlebihan?" tanya
Nabila balik sambil menunjukkan tumpukan
pakaian yang berada di sampingnya.
"Hmmm. aku tidak tahu seperti apa
selaramu, makanya aku meminta temanku untuk
memilihkan beberapa pakaian untuk mu dan
Calvin."
Menepuk keningnya, "Aku benar-benar tidak
mengerti bagaimana cara berpikir orang kaya
sepertimu !" seru Nabila sambil mengangkat
paper bag berisi pakaian.
__ADS_1
Ivan segera membantu Nabila, mereka
berdua lalu berjalan menuju kamar tamu yang
dipersiapkan untuk Nabila dan Calvin.
Setelah menaruh semua pakaian itu di
kamar, Ivan lalu memanggil Calvin dan
mengantarnya ke kamar tamu tempat Nabila
berada.
Setelah itu dia kembali menuju ruang
keluarga untuk menonton televisi sambil
menunggu Nabila dan Calvin selesai berganti
pakaian.
Beberapa menit kemudian, Nabila dan
Calvin telah selesai mandi dan berganti pakaian,
mereka berdua terlihat kompak mengenakan
piyama berwarna putih.
Saat mereka berdua menuruni tangga, lvan
yang langsung menoleh ke arah mereka berdua
sontak terdiam, Nabila yang sudah berganti
pakaian terlihat sangat cantik walau tanpa
menggunakan riasan di wajahnya.
Calvin yang turun terlebih dahulu segera
berlari menuju lvan, dia lalu naik ke sofa di
sebelah kiri Ivan dan membaringkan tubuhnya di
sofa, dengan menggunakan paha lvan sebagai
alas kepalanya.
Ivan masih terus menatap Nabila yang
berjalan ke arahnya, hal itu membuat Nabila
sedikit kebingungan.
"Apakah pakaian ini tidak cocok untukku?"
tanya Nabila yang mengira jika pakaian itu tidak
begitu bagus dipakai olehnya.
Ivan menggelengkan kepalanya, sambil
terus menatap Nabila, dia tanpa sadar berkata. "
Nabila, kamu sangat cantik..!"
Deg
Nabila yang mendengar pujian spontan dari
lvan langsung tersipu malu dengan wajah
kemerahan. Dia tidak tahu bagaimana harus
bersikap mendengar pujian yang keluar dari
mulut van.
"Benar Paman, ibuku sangat cantik," seru
Calvin yang langsung membuat kesadaran lvan
kembali.
"Ah... Nabila maafkan aku, aku tidak
memiliki maksud apapun ketika mengatakan itu
kepadamu," ujarnya yang kembali gugup karena
menyadari ucapannya tadi.
Nabila yang wajahnya masih kemerahan
tersenyum lembut kepada lvan, dia lalu duduk
disamping lvan.
"Apa kita bisa menonton siaran kartun
Network ? Calvin sangat menyukai siaran itu,"
seru Nabila yang mencoba mencairkan suasana
canggung.
"lya Paman, aku ingin menonton siaran
kartun network !! seru Calvin bersemangat.
Nabila yang masih merasa malu mencoba
mengalihkan pembicaraan, dia juga tahu jika
Ivan tidak memiliki niat apapun saat memuji
kecantikannya.
"Hufftt..." kembali lvan menghela nafas.
Ivan bernafas lega karena Nabila tidak salah
paham dengan ucapannya tadi, dia lalu
mengambil remot dan mengganti saluran
televisi ke saluran kesukaan Calvin.
"Hari ini sepertinya aku terlalu banyak
menghembuskan nafas..!" batin Ivan.
Calvin yang sedang asyik menonton Televisi
perlahan mulai mengantuk, tidak lama kemudian
Calvin pun tertidur di samping lvan yang terus
__ADS_1
mengelus kepalanya dengan lembut.