
Ivan Barata baru saja selesai meeting
dengan beberapa relasinya untuk membicarakan
mega proyek yang akan dia jalankan.
Sambil berbincang-bincang dengan dua
pengawal pribadinya, dia menuju kamar
Presidential Suite miliknya untuk beristirahat,
saat berada di area presidential suite hotel itu,
dia tiba-tiba di kejutkan dengan suara anak kecil
yang memanggilnya ayah.
"Ayah! Tolong ibu!"
Ivan sontak menoleh ke arah suara tersebut,
dia lalu menoleh ke pengawalnya untuk
memastikan jika anak kecil itu benar memanggil
dirinya dan bukan kedua pengawalnya.
Melihat itu kedua pengawal lvan tertawa,
salah satu dari mereka berkata, "Tuan Muda aku
tidak menyangka jika kamu sudah memiliki
seorang putra."
Kedua pengawal itu tertawa, van tersenyum
dan membalas mereka dengan berkata, "Apa
yang kamu katakan, kamu tahu 'kan aku
bukanlah pria berengsek yang suka
bermain-main dengan wanita."
Setelah mengatakan itu, dia kembali
menoleh ke anak itu, karena mengira anak itu
sedang bercanda, dia hanya melempar
senyuman ke anak itu lalu kembali berjalan
menuju kamarnya
"Ayah kumohon tolong ibu!" teriak anak itu
dengan suara bergetar, Ivan dan kedua
pengawalnya kembali berhenti.
Ketika lvan menoleh kembali ke anak itu,
matanya tiba-tiba menyipit tajam memandangi
kemeja putih yang di kenakan anak itu.
"Bukankah itu bekas sepatu," batinnya saat
melihat cetakan sepatu Daryl di kemeja Calvin.
Awalnya dia mengira jika cetakan itu hanya
motif biasa, namun setelah memperhatikan itu
dengan seksama dia sadar jika itu adalah bekas
sepatu dari orang dewasa.
Ivan menghampiri Calvin, dia meraih
tangannya yang sedang di pegang oleh bawahan
Daryl.
Sambil berjongkok di depan Calvin dia
berkata, "Maafkan paman yang tidak sopan
menanyakan ini, tapi bisakah paman melihat
bagian ini di tubuhmu," ucaprnya sambil
menunjuk cetakan sepatu Daryl di kemeja Calvin.
Calvin mengangguk pelan, dia lalu mulai
membuka kancing bajunya satu persatu hingga
terlihatlah memar berwarna merah di bagian
dada dan perut Calvin.
Kedua pengawal lvan yang melihat itu
langsung melayangkan tinjunya ke bawahan
Daryl yang memegang tangan Calvin.
Bukk!
Acck! Pekik Pria itu yang langsung
tersungkur setelah menerima pukulan dari Jafin
bawahan lvan.
"Biadab! Bisa-bisanya kamu melakukan itu
__ADS_1
kepada anak kecil," hardik Billy bawahan lvan
yang satunya.
"Tunggu Tuan, bukan aku pelakunya, tanya
saja anak itu jika tuan tidak percaya," sanggah
pria itu sambil memegang pipinya yang lebam.
Ivan menoleh ke anak itu, "Apa benar bukan
dia pelakunya?" tanya lvan sembari memasang
kancing baju anak itu satu persatu.
"lya paman, bukan dia pelakunya," jawab
Calvin yang tampak terkejut melihat pria yang
tadi memegang tangannya begitu tidak berdaya
di depan bawahan lvan.
Calvin tiba-tiba teringat sesuatu yang lebih
penting, "Ah... Paman, ini bukan saatnya kita
membahas itu, ibuku sedang dalam bahaya
tolong selamatkan ibuku," seru Calvin dengan
ekspresi wajah yang terlihat panik, dia lalu
menarik tangan lvan menuju kamar hotel tempat
ibunya dan Daryl berada.
"Tunggu Nak, aku tidak bisa ikut campur
jika ibumu sedang bersama ayahmu," balas Ivan
yang terpaksa mengikuti Calvin karena
tangannya di tarik paksa oleh Calvin.
Dia berusaha menjelaskan kepada Calvin
jika dia tidak bisa ikut campur dalam masalah
rumah tangga orang lain, berbeda dengan
bawahan Daryl tadi, dia langsung mengetahui
jika pria yang memegang tangan Calvin tadi
adalah pegawai di hotel itu, hanya dengan
melihat seragam yang pria itu kenakan.
"Dia bukan ayahku, pria jahat itu tunangan
ibuku di tempat tidur dan dia mencoba mencium
ibuku, aku tidak tahu apa yang orang itu ingin
lakukan, tapi aku tahu ibuku tidak menyukainya,
itu karena ibuku terus menangis dan berusaha
melepaskan diri," ucap Calvin menjelaskan
dengan mata berkaca-kaca, namun dia terus
berjalan sambil menarik tangan lvan yang
mengikutinya dari belakang.
Ivan sontak terkejut mendengar ucapan
Calvin, dia berhenti dan menarik balik tangan
kecil Calvin ke arahnya.
"Nak, apakah dia juga pria yang telah
menendangmu?" tanya lvan dengan ekspresi
e cerius
wajah yang
Calvin menganggukkan kepalanya, sambil
mengusap airmatanya yang tumpah dia berkata,
"lya paman, dia yang menendangku sewaktu aku
mencoba menyelamatkan ibuku."
Mendengar itu lvan langsung berjongkok,
dia meminta Calvin untuk naik ke punggungnya.
"Naiklah, akan lebih cepat jika paman
membawamu ke sana," ucapnya sambil
tersenyum kepada Calvin.
"Tuan Muda biar aku saja yang membawa
anak itu." kata Jafin menawarkan diri.
Billy pengawal pribadi Ivan yang satunya
juga tampak maju menawarkan diri.
"Kalian berdua tahu jika aku adalah yang
__ADS_1
tercepat dan terkuat di antara kita bertiga, jadi
biar aku saja yang membawa anak ini," kata lvan
sambil tersenyum kepada kedua pengawalnya.
Kedua pengawalnya hanya bisa tersenyum,
itu karena setiap latih tanding beladiri, tak
sekalipun mereka pernah mengalahkan lvan.
"Siapa namamu 'Nak? Tanya lvan.
"Namaku Calvin, Paman."
"Calvin pegangan yang erat, kita akan
menyelamatkan ibumu," tegas lvan.
"Baik Paman.!" jawab Calvin.
Setelah mengatakan itu, dia langsung
melesat dengan cepat, dibantu Calvin yang
menunjukkan arah, kamar Daryl pun dengan
cepat sudah berada di depan mata mereka.
"Siapa kamu?" Yanto langsung menghardik
Ivan yang baru saja tiba, dia merasa tidak
senang karena melihat Calvin berada di
punggung pria asing yang tidak dia kenali.
"Apakah ini kamarnya?" tanya Ilvan yang
tidak memedulikan pertanyaan Yanto.
"lya paman," jawab Calvin sambil
mengangguk pelan.
Ivan kemudian membantu Calvin turun dari
punggungnya, Yanto yang tidak di gubris
menjadi naik pitam, ketika dia ingin menarik
kerah jas yang di kenakan lvan, Billy dan Jafin
yang baru bisa menyusul lvan langsung
menabrak Yanto yang langsung membuat Yanto
terlempar dan menabrak vas bunga yang berada
di dekat pintu kamar Daryl.
Bukk!
Prankkk!
"Hah... kalian tidak perlu menghancurkan
barang-barang di hotel ini," keluh lvan.
"Maaf tuan muda, kami tidak bisa berhenti,
kebetulan saja kami melihat pria bongsor yang
mencoba menyentuh tuan muda, karena melihat
badannya cukup besar, kami pun memutuskan
untuk menjadikannya bantalan untuk mengerem
laju kami,"jawab Billy sambil tertawa.
Calvin juga ikut tertawa, dia tidak
menyangka jika Yanto yang bertubuh besar bisa
langsung pingsan hanya karena di tabrak oleh
dua bawahan Ivan yang berlari kencang.
"Calvin kamu tunggulah di sini bersama
paman Jafin dan Paman Billy, biar aku yang
menolong ibumu," kata lvan sambil mengelus
kepala Calvin. Dia takut jika pria yang bersama
ibunya sedang melakukan aksi yang kurang
pantas untuk dilihat oleh anak kecil, karena
itulah dia meminta Calvin untuk menunggu
bersama bawahannya.
Calvin mengangguk pelan mengiyakan
perkataan dari lvan.
Perlahan lvan membuka pintu kamar Daryl,
suasana kamar begitu tenang, dia pun menuju
ke bagian kamar tidur, ketika dia melihat ke
tempat tidur, mata lvan langsung melotot tajam.
"Berengsek"
__ADS_1