Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 2 Ivan & Calvin


__ADS_3

Ivan Barata baru saja selesai meeting


dengan beberapa relasinya untuk membicarakan


mega proyek yang akan dia jalankan.


Sambil berbincang-bincang dengan dua


pengawal pribadinya, dia menuju kamar


Presidential Suite miliknya untuk beristirahat,


saat berada di area presidential suite hotel itu,


dia tiba-tiba di kejutkan dengan suara anak kecil


yang memanggilnya ayah.


"Ayah! Tolong ibu!"


Ivan sontak menoleh ke arah suara tersebut,


dia lalu menoleh ke pengawalnya untuk


memastikan jika anak kecil itu benar memanggil


dirinya dan bukan kedua pengawalnya.


Melihat itu kedua pengawal lvan tertawa,


salah satu dari mereka berkata, "Tuan Muda aku


tidak menyangka jika kamu sudah memiliki


seorang putra."


Kedua pengawal itu tertawa, van tersenyum


dan membalas mereka dengan berkata, "Apa


yang kamu katakan, kamu tahu 'kan aku


bukanlah pria berengsek yang suka


bermain-main dengan wanita."


Setelah mengatakan itu, dia kembali


menoleh ke anak itu, karena mengira anak itu


sedang bercanda, dia hanya melempar


senyuman ke anak itu lalu kembali berjalan


menuju kamarnya


"Ayah kumohon tolong ibu!" teriak anak itu


dengan suara bergetar, Ivan dan kedua


pengawalnya kembali berhenti.


Ketika lvan menoleh kembali ke anak itu,


matanya tiba-tiba menyipit tajam memandangi


kemeja putih yang di kenakan anak itu.


"Bukankah itu bekas sepatu," batinnya saat


melihat cetakan sepatu Daryl di kemeja Calvin.


Awalnya dia mengira jika cetakan itu hanya


motif biasa, namun setelah memperhatikan itu


dengan seksama dia sadar jika itu adalah bekas


sepatu dari orang dewasa.


Ivan menghampiri Calvin, dia meraih


tangannya yang sedang di pegang oleh bawahan


Daryl.


Sambil berjongkok di depan Calvin dia


berkata, "Maafkan paman yang tidak sopan


menanyakan ini, tapi bisakah paman melihat


bagian ini di tubuhmu," ucaprnya sambil


menunjuk cetakan sepatu Daryl di kemeja Calvin.


Calvin mengangguk pelan, dia lalu mulai


membuka kancing bajunya satu persatu hingga


terlihatlah memar berwarna merah di bagian


dada dan perut Calvin.


Kedua pengawal lvan yang melihat itu


langsung melayangkan tinjunya ke bawahan


Daryl yang memegang tangan Calvin.


Bukk!


Acck! Pekik Pria itu yang langsung


tersungkur setelah menerima pukulan dari Jafin


bawahan lvan.


"Biadab! Bisa-bisanya kamu melakukan itu

__ADS_1


kepada anak kecil," hardik Billy bawahan lvan


yang satunya.


"Tunggu Tuan, bukan aku pelakunya, tanya


saja anak itu jika tuan tidak percaya," sanggah


pria itu sambil memegang pipinya yang lebam.


Ivan menoleh ke anak itu, "Apa benar bukan


dia pelakunya?" tanya lvan sembari memasang


kancing baju anak itu satu persatu.


"lya paman, bukan dia pelakunya," jawab


Calvin yang tampak terkejut melihat pria yang


tadi memegang tangannya begitu tidak berdaya


di depan bawahan lvan.


Calvin tiba-tiba teringat sesuatu yang lebih


penting, "Ah... Paman, ini bukan saatnya kita


membahas itu, ibuku sedang dalam bahaya


tolong selamatkan ibuku," seru Calvin dengan


ekspresi wajah yang terlihat panik, dia lalu


menarik tangan lvan menuju kamar hotel tempat


ibunya dan Daryl berada.


"Tunggu Nak, aku tidak bisa ikut campur


jika ibumu sedang bersama ayahmu," balas Ivan


yang terpaksa mengikuti Calvin karena


tangannya di tarik paksa oleh Calvin.


Dia berusaha menjelaskan kepada Calvin


jika dia tidak bisa ikut campur dalam masalah


rumah tangga orang lain, berbeda dengan


bawahan Daryl tadi, dia langsung mengetahui


jika pria yang memegang tangan Calvin tadi


adalah pegawai di hotel itu, hanya dengan


melihat seragam yang pria itu kenakan.


"Dia bukan ayahku, pria jahat itu tunangan


ibuku di tempat tidur dan dia mencoba mencium


ibuku, aku tidak tahu apa yang orang itu ingin


lakukan, tapi aku tahu ibuku tidak menyukainya,


itu karena ibuku terus menangis dan berusaha


melepaskan diri," ucap Calvin menjelaskan


dengan mata berkaca-kaca, namun dia terus


berjalan sambil menarik tangan lvan yang


mengikutinya dari belakang.


Ivan sontak terkejut mendengar ucapan


Calvin, dia berhenti dan menarik balik tangan


kecil Calvin ke arahnya.


"Nak, apakah dia juga pria yang telah


menendangmu?" tanya lvan dengan ekspresi


e cerius


wajah yang


Calvin menganggukkan kepalanya, sambil


mengusap airmatanya yang tumpah dia berkata,


"lya paman, dia yang menendangku sewaktu aku


mencoba menyelamatkan ibuku."


Mendengar itu lvan langsung berjongkok,


dia meminta Calvin untuk naik ke punggungnya.


"Naiklah, akan lebih cepat jika paman


membawamu ke sana," ucapnya sambil


tersenyum kepada Calvin.


"Tuan Muda biar aku saja yang membawa


anak itu." kata Jafin menawarkan diri.


Billy pengawal pribadi Ivan yang satunya


juga tampak maju menawarkan diri.


"Kalian berdua tahu jika aku adalah yang

__ADS_1


tercepat dan terkuat di antara kita bertiga, jadi


biar aku saja yang membawa anak ini," kata lvan


sambil tersenyum kepada kedua pengawalnya.


Kedua pengawalnya hanya bisa tersenyum,


itu karena setiap latih tanding beladiri, tak


sekalipun mereka pernah mengalahkan lvan.


"Siapa namamu 'Nak? Tanya lvan.


"Namaku Calvin, Paman."


"Calvin pegangan yang erat, kita akan


menyelamatkan ibumu," tegas lvan.


"Baik Paman.!" jawab Calvin.


Setelah mengatakan itu, dia langsung


melesat dengan cepat, dibantu Calvin yang


menunjukkan arah, kamar Daryl pun dengan


cepat sudah berada di depan mata mereka.


"Siapa kamu?" Yanto langsung menghardik


Ivan yang baru saja tiba, dia merasa tidak


senang karena melihat Calvin berada di


punggung pria asing yang tidak dia kenali.


"Apakah ini kamarnya?" tanya Ilvan yang


tidak memedulikan pertanyaan Yanto.


"lya paman," jawab Calvin sambil


mengangguk pelan.


Ivan kemudian membantu Calvin turun dari


punggungnya, Yanto yang tidak di gubris


menjadi naik pitam, ketika dia ingin menarik


kerah jas yang di kenakan lvan, Billy dan Jafin


yang baru bisa menyusul lvan langsung


menabrak Yanto yang langsung membuat Yanto


terlempar dan menabrak vas bunga yang berada


di dekat pintu kamar Daryl.


Bukk!


Prankkk!


"Hah... kalian tidak perlu menghancurkan


barang-barang di hotel ini," keluh lvan.


"Maaf tuan muda, kami tidak bisa berhenti,


kebetulan saja kami melihat pria bongsor yang


mencoba menyentuh tuan muda, karena melihat


badannya cukup besar, kami pun memutuskan


untuk menjadikannya bantalan untuk mengerem


laju kami,"jawab Billy sambil tertawa.


Calvin juga ikut tertawa, dia tidak


menyangka jika Yanto yang bertubuh besar bisa


langsung pingsan hanya karena di tabrak oleh


dua bawahan Ivan yang berlari kencang.


"Calvin kamu tunggulah di sini bersama


paman Jafin dan Paman Billy, biar aku yang


menolong ibumu," kata lvan sambil mengelus


kepala Calvin. Dia takut jika pria yang bersama


ibunya sedang melakukan aksi yang kurang


pantas untuk dilihat oleh anak kecil, karena


itulah dia meminta Calvin untuk menunggu


bersama bawahannya.


Calvin mengangguk pelan mengiyakan


perkataan dari lvan.


Perlahan lvan membuka pintu kamar Daryl,


suasana kamar begitu tenang, dia pun menuju


ke bagian kamar tidur, ketika dia melihat ke


tempat tidur, mata lvan langsung melotot tajam.


"Berengsek"

__ADS_1


__ADS_2