
Begitu tiba di kediaman lvan, Jafin segera
membawa ke empat koper milik Nabila ke kamar
tamu, kamar ini rencanannya akan menjadi
kamar milik Nabila dan Calvin selama mereka
tinggal di rumah lvan.
Calvin melompat kegirangan begitu melihat
semua barang-barang miliknya, dia begitu
senang karena tidak harus kembali lagi ke
rumah Kakek dan Neneknya.
"Terima kasih Paman Jafin," teriak Calvin
sambil memeluk Jafin yang baru saja selesai
membawa koper ke kamarnya.
"Sama-sama Tuan kecil," balas Jafin sambil
mengelus kepala Calvin.
"Calvin, Ibu harus pergi untuk menemui
Paman Ivan, kamu jangan nakal selama ibu pergi
ya.," ucap Nabila lembut kepada putranya.
"Siap lbu, Calvin janji akan menjadi anak
baik dan juga mendengar perkataan Bi Inah,"
jawabnya.
"Bi Inah, aku titip Calvin lagi," ujar Nabila ke
Inah yang berdiri di samping Calvin.
"lya Nona, Calvin anak yang baik, jadi Nona
Nabila tidak perlu khawatir." balas Inah dan
tersenyum hangat kepada Nabila.
Nabila tersenyum, lalu sedikit menunduk
untuk mengecup kening Calvin, setelah itu dia
dan Jafin kembali ke mobil dan pergi
meninggalkan kediaman lvan menuju Tower
Barata Corp.
Nabila mulai merasa gugup, ini pertama
kalianya dia mengunjungi perusahaan untuk
mengurus pekerjaan, dia terus melihat map
berwarna coklat yang berisi ijazahnya, berbagai
hal mulai muncul dikepalanya.
Beberapa saat kemudian mobil mereka
akhirnya tiba di depan Tower Barata Corp, Nabila
dibuat takjub melihat kemegahan bangunan 20
lantai berwarna hitam itu, dia pun menjadi
semakin qugup.
Setelah memarkir mobil, Jafin turun dari
mobil, dia lalu membuka pintu dan
mempersilakan Nabila turun dari mobil.
"Silahkan Nona Nabila." seru Jafin.
"Terima kasih Jafin," balas Nabila sembari
tersenyum.
Jafin dan Nabila lalu memasuki gedung
kantor Ivan, di meja resepsionis, seorang wanita
cantik dengan rambut sebahu langsung
menyapa mereka.
"Selamat siang Pak Jafin, apakah anda ingin
menemui Tuan lvan?" tanya Wanita itu sambil
tersenyum.
"Selamat siang Cindy... Aku sedang
mengantar Nona ini untuk bertemu dengan Tuan
Ivan, apa Tuan lvan sudah selesai meeting?"
tanya Jafin.
"Tunggu sebentar Pak," jawab Cindy.
Cindy lalu mengangkat gagang pesawat
telepon dan menghubungi seseorang, setelah
menutup telepon, Cindy kembali menoleh ke
Jafin.
"Tuan lvan sudah selesai meeting, dia
sedang berada di ruangannya bersama beberapa
tamu yang baru saja dia temui." jelas Cindi"Hmm, baiklah kalau begitu. Aku akan
mengantar Nona ini ke ruangan Tuan lvan,
Terima kasih Cindy.. " balas Jafin yang lalu
melangkah menuju lift yang berada tak jauh dari
meja resepsionis.
Nabila tersenyum sambil menundukkan
sedikit kepalanya ke Cindy, setelah itu dia
mengikuti Jafin menuju pintu lift.
Jantungnya berdebar cepat, dia semakin
merasa gugup.
Ting!
Pintu lift terbuka, Jafin langsung tersenyum
begitu melihat beberapa pria mengenakan
setelan jas yang berada di dalam lift itu
Di dalam lift itu, lvan sedang bersama
beberapa pria paruh baya yang baru saja dia
temui untuk membicarakan proyek kerjasama
mereka.
"Nabila!" seru lvan sambil tersenyum begitu
melihat Nabila yang berdiri di belakang Jafin.
Dengan cepat lvan menghampiri Nabila.
"y-.."
Grep
Ivan langsung memeluk tubuh Nabila.
Nabila tidak bisa menyelesaikan ucapannya,
dia sedikit terkejut karena lvan tiba-tiba
memeluknya. Anehnya, entah mengapa semua
perasaan gugup dan cemas seakan sirna begitu
Ivan memeluk tubuhnya.
Ivan melepaskan pelukannya, dia lalu
memegang kedua bahu Nabila.
"Bagaimana urusanmu? Apakah sudah
selesai?" tanya Ivan bersemangat.
"lya..." jawab Nabila singkat sambil
tersenyum lembut kepada lvan.
"Yes! ini perlu dirayakan..." teriak Ivan
senang.
Tiga pria paruh baya yang berada di
belakang lvan tampak bertanya-tanya, hal apa
yang telah membuat CEO muda ini terlihat
sangat gembira.
"Pak lvan, apakah Nona ini salah satu rekan
__ADS_1
kerjasama anda?" tanya salah satu pria berjas
hitam.
"lya, aku penasaran urusan apa yang
membuat Pak lvan terlihat begitu gembira, jika
ini menyangkut proyek kerjasama lainnya, kami
juga ingin terlibat dengan proyek itu.. " sela pria
berjas lainnya.
Mendengar pertanyaan dari tamu lvan, Jafin
perlahan menundukkan kepalanya, dia menahan
tawa dalam diam karena para tamu lvan sudah
salah paham mengira jika urusan Nabila ada
hubungannya dengan proyek bisnis lvan.
Ivan melepaskan tangannya dari pundak
Nabila lalu berbalik ke tiga orang itu, sambil
menggaruk kepalanya sendiri dia berkata,
Urusan yang aku maksud tadi tentang pindah
rumah."
Ketiga orang itu langsung tertawa
terbahak-bahak.
"Hahaha, Pak lvan, saat kita baru saja
selesai menandatangi kontrak kerjasama
bernilai 7 Trilyun ekspresi wajah anda tampak
biasa saja, aku tidak menyangka jika anda bisa
terlihat begitu gembira hanya karena urusan
pindah rumah Nona ini..!!"seru pria itu sambil
tertawa.
Badan Jafin yang sedang menunduk
menahan tawa tampak bergetar, sedang Nabila
ikut menunduk dengan wajah kemerahan.
"Sepertinya kita sudah mengetahui calon
pendamping putra Tuan Gunnadi, Pak lvan, anda
tidak perlu mengantar kami, sampaikan salam
kami kepada kedua orang tua anda.." ucap Pria
lainnya yang juga ikut tertawa.
Mereka bertiga berpamitan kepada lvan dan
Nabila lalu pergi meninggalkan lvan yang
tersenyum canggung.
Begitu ketiga tamu lvan pergi Jafin yang
sedari tadi menahan tawanya akhirnya tertawa
lepas.
"Hahaha, Tuan lvan, kamu benar-benar tidak
tahu situasi..!" seru Jafin sambil terus tertawa.
Ivan menyikut pelan perut Jafin, "Sialan..
berhenti menertawai ku.!" keluh lvan sambil
ikut tertawa.
Melihat interaksi Ivan dan Jafin membuat
Nabila ikut tertawa, akhirnya rasa gugup yang
dia rasakan benar-benar menghilang
sepenuhnya.
"Nabila, ayo kita ke ruangan ku," ajak lvan
lembut sambil menarik pelan tangan Nabila.
Nabila mengangguk pelan, dia mengikuti
Ivan masuk ke dalam Lift.
"Tuan Ivan, aku akan undur diri," Jafin yang
lvan tersenyum, "Terima kasih Jafin karena
sudah membantu Nabila." ucap lvan sambil
menepuk halus pundak Jafin.
"Siap Tuan..!" balas Jafin sambil
menundukkan sedikit kepalanya.
Pintu lift menutup, lvan menekan tombol 8
yang berada di panel lift yang merupakan lantai
dimana ruang kerja lvan berada.
Dia terus memegangi tangan Nabila,
senyuman tampak terus menghiasi wajahnya.
Ting!
Lift sudah tiba di lantai delapan, lvan dan
Nabila melangkah keluar lift.
Ivan menuntun Nabila menuju ruang
kerjanya, begitu masuk ke dalam ruangannya,
lvan mempersilakan Nabila duduk di kursi,
sementara lvan duduk di kursi kerjanya.
"Jadi Nona Nabila, haruskah kita mulai sesi
wawancara mu?" tanya lvan dengan ekspresi
wajah serius.
". lya Pak," jawab Nabila yang terkejut
dengan perubahan sikap lvan. Dia menyerahkan
kelengkapan berkasnya kepada lvan.
Ivan menerima berkas Nabila, dia lalu mulai
membaca berkas itu, sambil menganggukkan
kepalanya beberapa kali.
"Oke..! Aku sudah membaca berkasmu, dan
sekarang aku akan menanyakan beberapa hal
kepadamu.." ucap lvan sambil meletakkan
berkas milik Nabila di atas mejanya.
"Baik Pak," jawab Nabila gugup. Tangannya
mengepal dengan kuat.
"Apa makanan favoritmu?" tanya lvan
dengan ekspresi datar.
"Hah?" Nabila terperangah, dia sangat
terkejut mendengar pertanyaan Ivan.
"Makanan favoritmu?" tanya lvan lagi tetapi
dengan ekspresi wajah serius.
"Tunggu dulu, apakah ini." tanya Nabila
yang lagi-lagi terpotong.
"Nona Nabila, kita sedang sesi wawancara
Tolong jawab pertanyaan saya dengan serius...!"
tegas lvan memotong ucapan Nabila.
Nabila terdiam, dengan gugup dia menjawab,
"Rendang Pak,"
"Selanjutnya, apa minuman favoritmu?"
tanya lvan lagi.
Nabila semakin kebingungan, dia tidak
pernah menjalani sesi wawancara sebelumnya,
dalam hati dia bertanya-tanya apakah memang
seperti ini jika sedang melakukan wawancara
pekerjaan.
__ADS_1
"Hmm.. Jus.. jus jeruk Pak," jawab Nabila
gugup.
Ilvan terus bertanya kepada Nabila, namun
pertanyaan yang lvan tanyakan sama sekali tidak
ada hubungannya dengan pekerjaan, warna
kesukaan, hobi, golongan darah, sampai zodiak
Ivan tanyakan kepada Nabila, hal itu membuat
Nabila menghela nafasnya beberapa kali.
"Baiklah pertanyaan terakhir, apakah kamu
bersedia menjadi istriku?" seru lvan dengan
tersenyum lembut.
Deg deg deg
Nabila shock dengan pertanyaan lvan yang
tiba-tiba seperti itu.
"Maaf lvan..." jawab Nabila sambil
menunduk, tangannya dia remas dengan erat.
Dengan raut wajah sedih.
Mendengar jawaban dan ekspresi dari
Nabila membuat Ivan menjadi panik sendiri, "Ah..
itu...Nabila.."
"Aku bukannya tidak bersedia, saat ini
statusku belum mengizinkanku untuk menjawab
iya, jadi... " sela Nabila.
Ivan menghela nafas lega, jawaban Nabila
mengisyaratkan jika Nabila tidak setuju karena
statusnya yang masih sebagai tunangan Daryl.
"Huffttt... Kamu hampir membuatku
jantungan Nabila, aku kira kamu tidak bersedia
menjadi calon istriku..!" seru lvan bernafas lega.
Nabila tertawa kecil sembari meletakkan
telapak tangannya menutup mulutnya, "Pak Ivan
Hmmm..wawancaranya..??" Nabila
mengingatkan lvan tentang sesi wawancara.
"Ah... maaf..!!" balas Ivan sambil
memperbaiki posisi duduknya.
"Baiklah, aku akan mengubah pertanyaanku,
Nabila..maukah kamu menjadi kekasihku?"
tanya lvan dengan senyuman manis di wajahnya.
Nabila tersenyum, sambil menganggukkan
kecil kepalanya.
"lya.. aku bersedia lvan.." jawab Nabila.
Ivan langsung berdiri dari duduknya, lalu
mengulurkan tangannya ke Nabila, yang
langsung disambut oleh Nabila.
Ivan memandangi wajah cantik Nabila yang
sedang berjabat tangan dengannya, dengan
tegas dia berkata, "Selamat Nabila kamu
diterima..!!"
Wajah Nabila yang sedang tersenyum
tiba-tiba terlihat sedih, dia lalu menarik
tangannya dan beranjak dari kursinya.
"Itu berarti.. jika aku menolak menjadi
kekasihmu, kamu juga tidak akan menerimaku
sebagai sekretarismu, aku kira kamu tidak akan
membawa alasan pribadi ke dalam pekerjaan,
ternyata..." ketus Nabila memandang van
dengan wajah kesalnya.
Ucapan Nabila membuat Ivan gelagapan,
sejak awal, dia memang sudah menerima Nabila,
pertanyaan tadi hanya akal-akalannya untuk bisa
menjadi kekasih Nabila, dia bahkan sudah
bersiap jika Nabila menolaknya.
Dengan cepat dia meninggalkan kursinya
dan menghampiri Nabila. Dia lalu memeluk
tubuh Nabila yang sedang berdiri
membelakanginya.
"Nabila.. tunggu.!! Aku tidak bermaksud
seperti itu, a-aku..." bisik lvan gugup.
"Bagaimana rasanya dikerjai seperti itu?"
sela Nabila memotong perkataan lvan.
"Eh...!?" van terperangah, dia akhirnya
sadar jika Nabila mengerjai dirinya balik.
"Ja-jadi...kamu tidak marah???" tanya lvan
yang masih dengan wajah kebingungan.
"Hmm...ya.." jawab Nabila menahan
tawanya.
"Sungguh?" tanya lvan lagi.
Nabila mengangguk pelan mengiyakan
pertanyaan lvan.
Ivan lalu memajukan wajahnya, kini pipi
mereka berdua bersentuhan sambil lvan terus
memeluk tubuh Nabila dari belakang.
"Itu artinya aku sudah resmi menjadi
kekasihmu, benar 'kan?" tanya lvan memastikan.
Tanpa menoleh ke lvan,"Hmm.. iya lvan.."
jawab Nabila dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih... sayang..," bisik lvan sambil
mengecup pipi kiri Nabila dengan mesra.
Kemudian lvan membalikkan tubuh Nabila
hingga mereka berdua saling berhadapan.
" love you...Nabila.." ucap lvan lembut dan
memegang dagu Nabila.
Cup
Ivan mengecup dengan lembut bibir Nabila.
Nabila tidak lagi kaget seperti ciuman
tiba-tiba lvan semalam.
Kini Nabila mulai membalas ciuman hangat
Ilvan yang begitu lembut.
"Thank you lvan..." ucap Nabila di sela
ciuman mereka.
Tangan kanan lvan memeluk erat pinggang
Nabila dan melepaskan ciumannya. Dan
merapatkan kening mereka berdua.
Deru nafas mereka saling berhembus.
"I love you..." ucap mereka bersamaan.
Membuat mereka tersenyum dan lvan
__ADS_1
mendekap tubuh Nabila dalam pelukannya.