Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 17 Sesi Wawancara Ala Kvan


__ADS_3

Begitu tiba di kediaman lvan, Jafin segera


membawa ke empat koper milik Nabila ke kamar


tamu, kamar ini rencanannya akan menjadi


kamar milik Nabila dan Calvin selama mereka


tinggal di rumah lvan.


Calvin melompat kegirangan begitu melihat


semua barang-barang miliknya, dia begitu


senang karena tidak harus kembali lagi ke


rumah Kakek dan Neneknya.


"Terima kasih Paman Jafin," teriak Calvin


sambil memeluk Jafin yang baru saja selesai


membawa koper ke kamarnya.


"Sama-sama Tuan kecil," balas Jafin sambil


mengelus kepala Calvin.


"Calvin, Ibu harus pergi untuk menemui


Paman Ivan, kamu jangan nakal selama ibu pergi


ya.," ucap Nabila lembut kepada putranya.


"Siap lbu, Calvin janji akan menjadi anak


baik dan juga mendengar perkataan Bi Inah,"


jawabnya.


"Bi Inah, aku titip Calvin lagi," ujar Nabila ke


Inah yang berdiri di samping Calvin.


"lya Nona, Calvin anak yang baik, jadi Nona


Nabila tidak perlu khawatir." balas Inah dan


tersenyum hangat kepada Nabila.


Nabila tersenyum, lalu sedikit menunduk


untuk mengecup kening Calvin, setelah itu dia


dan Jafin kembali ke mobil dan pergi


meninggalkan kediaman lvan menuju Tower


Barata Corp.


Nabila mulai merasa gugup, ini pertama


kalianya dia mengunjungi perusahaan untuk


mengurus pekerjaan, dia terus melihat map


berwarna coklat yang berisi ijazahnya, berbagai


hal mulai muncul dikepalanya.


Beberapa saat kemudian mobil mereka


akhirnya tiba di depan Tower Barata Corp, Nabila


dibuat takjub melihat kemegahan bangunan 20


lantai berwarna hitam itu, dia pun menjadi


semakin qugup.


Setelah memarkir mobil, Jafin turun dari


mobil, dia lalu membuka pintu dan


mempersilakan Nabila turun dari mobil.


"Silahkan Nona Nabila." seru Jafin.


"Terima kasih Jafin," balas Nabila sembari


tersenyum.


Jafin dan Nabila lalu memasuki gedung


kantor Ivan, di meja resepsionis, seorang wanita


cantik dengan rambut sebahu langsung


menyapa mereka.


"Selamat siang Pak Jafin, apakah anda ingin


menemui Tuan lvan?" tanya Wanita itu sambil


tersenyum.


"Selamat siang Cindy... Aku sedang


mengantar Nona ini untuk bertemu dengan Tuan


Ivan, apa Tuan lvan sudah selesai meeting?"


tanya Jafin.


"Tunggu sebentar Pak," jawab Cindy.


Cindy lalu mengangkat gagang pesawat


telepon dan menghubungi seseorang, setelah


menutup telepon, Cindy kembali menoleh ke


Jafin.


"Tuan lvan sudah selesai meeting, dia


sedang berada di ruangannya bersama beberapa


tamu yang baru saja dia temui." jelas Cindi"Hmm, baiklah kalau begitu. Aku akan


mengantar Nona ini ke ruangan Tuan lvan,


Terima kasih Cindy.. " balas Jafin yang lalu


melangkah menuju lift yang berada tak jauh dari


meja resepsionis.


Nabila tersenyum sambil menundukkan


sedikit kepalanya ke Cindy, setelah itu dia


mengikuti Jafin menuju pintu lift.


Jantungnya berdebar cepat, dia semakin


merasa gugup.


Ting!


Pintu lift terbuka, Jafin langsung tersenyum


begitu melihat beberapa pria mengenakan


setelan jas yang berada di dalam lift itu


Di dalam lift itu, lvan sedang bersama


beberapa pria paruh baya yang baru saja dia


temui untuk membicarakan proyek kerjasama


mereka.


"Nabila!" seru lvan sambil tersenyum begitu


melihat Nabila yang berdiri di belakang Jafin.


Dengan cepat lvan menghampiri Nabila.


"y-.."


Grep


Ivan langsung memeluk tubuh Nabila.


Nabila tidak bisa menyelesaikan ucapannya,


dia sedikit terkejut karena lvan tiba-tiba


memeluknya. Anehnya, entah mengapa semua


perasaan gugup dan cemas seakan sirna begitu


Ivan memeluk tubuhnya.


Ivan melepaskan pelukannya, dia lalu


memegang kedua bahu Nabila.


"Bagaimana urusanmu? Apakah sudah


selesai?" tanya Ivan bersemangat.


"lya..." jawab Nabila singkat sambil


tersenyum lembut kepada lvan.


"Yes! ini perlu dirayakan..." teriak Ivan


senang.


Tiga pria paruh baya yang berada di


belakang lvan tampak bertanya-tanya, hal apa


yang telah membuat CEO muda ini terlihat


sangat gembira.


"Pak lvan, apakah Nona ini salah satu rekan

__ADS_1


kerjasama anda?" tanya salah satu pria berjas


hitam.


"lya, aku penasaran urusan apa yang


membuat Pak lvan terlihat begitu gembira, jika


ini menyangkut proyek kerjasama lainnya, kami


juga ingin terlibat dengan proyek itu.. " sela pria


berjas lainnya.


Mendengar pertanyaan dari tamu lvan, Jafin


perlahan menundukkan kepalanya, dia menahan


tawa dalam diam karena para tamu lvan sudah


salah paham mengira jika urusan Nabila ada


hubungannya dengan proyek bisnis lvan.


Ivan melepaskan tangannya dari pundak


Nabila lalu berbalik ke tiga orang itu, sambil


menggaruk kepalanya sendiri dia berkata,


Urusan yang aku maksud tadi tentang pindah


rumah."


Ketiga orang itu langsung tertawa


terbahak-bahak.


"Hahaha, Pak lvan, saat kita baru saja


selesai menandatangi kontrak kerjasama


bernilai 7 Trilyun ekspresi wajah anda tampak


biasa saja, aku tidak menyangka jika anda bisa


terlihat begitu gembira hanya karena urusan


pindah rumah Nona ini..!!"seru pria itu sambil


tertawa.


Badan Jafin yang sedang menunduk


menahan tawa tampak bergetar, sedang Nabila


ikut menunduk dengan wajah kemerahan.


"Sepertinya kita sudah mengetahui calon


pendamping putra Tuan Gunnadi, Pak lvan, anda


tidak perlu mengantar kami, sampaikan salam


kami kepada kedua orang tua anda.." ucap Pria


lainnya yang juga ikut tertawa.


Mereka bertiga berpamitan kepada lvan dan


Nabila lalu pergi meninggalkan lvan yang


tersenyum canggung.


Begitu ketiga tamu lvan pergi Jafin yang


sedari tadi menahan tawanya akhirnya tertawa


lepas.


"Hahaha, Tuan lvan, kamu benar-benar tidak


tahu situasi..!" seru Jafin sambil terus tertawa.


Ivan menyikut pelan perut Jafin, "Sialan..


berhenti menertawai ku.!" keluh lvan sambil


ikut tertawa.


Melihat interaksi Ivan dan Jafin membuat


Nabila ikut tertawa, akhirnya rasa gugup yang


dia rasakan benar-benar menghilang


sepenuhnya.


"Nabila, ayo kita ke ruangan ku," ajak lvan


lembut sambil menarik pelan tangan Nabila.


Nabila mengangguk pelan, dia mengikuti


Ivan masuk ke dalam Lift.


"Tuan Ivan, aku akan undur diri," Jafin yang


lvan tersenyum, "Terima kasih Jafin karena


sudah membantu Nabila." ucap lvan sambil


menepuk halus pundak Jafin.


"Siap Tuan..!" balas Jafin sambil


menundukkan sedikit kepalanya.


Pintu lift menutup, lvan menekan tombol 8


yang berada di panel lift yang merupakan lantai


dimana ruang kerja lvan berada.


Dia terus memegangi tangan Nabila,


senyuman tampak terus menghiasi wajahnya.


Ting!


Lift sudah tiba di lantai delapan, lvan dan


Nabila melangkah keluar lift.


Ivan menuntun Nabila menuju ruang


kerjanya, begitu masuk ke dalam ruangannya,


lvan mempersilakan Nabila duduk di kursi,


sementara lvan duduk di kursi kerjanya.


"Jadi Nona Nabila, haruskah kita mulai sesi


wawancara mu?" tanya lvan dengan ekspresi


wajah serius.


". lya Pak," jawab Nabila yang terkejut


dengan perubahan sikap lvan. Dia menyerahkan


kelengkapan berkasnya kepada lvan.


Ivan menerima berkas Nabila, dia lalu mulai


membaca berkas itu, sambil menganggukkan


kepalanya beberapa kali.


"Oke..! Aku sudah membaca berkasmu, dan


sekarang aku akan menanyakan beberapa hal


kepadamu.." ucap lvan sambil meletakkan


berkas milik Nabila di atas mejanya.


"Baik Pak," jawab Nabila gugup. Tangannya


mengepal dengan kuat.


"Apa makanan favoritmu?" tanya lvan


dengan ekspresi datar.


"Hah?" Nabila terperangah, dia sangat


terkejut mendengar pertanyaan Ivan.


"Makanan favoritmu?" tanya lvan lagi tetapi


dengan ekspresi wajah serius.


"Tunggu dulu, apakah ini." tanya Nabila


yang lagi-lagi terpotong.


"Nona Nabila, kita sedang sesi wawancara


Tolong jawab pertanyaan saya dengan serius...!"


tegas lvan memotong ucapan Nabila.


Nabila terdiam, dengan gugup dia menjawab,


"Rendang Pak,"


"Selanjutnya, apa minuman favoritmu?"


tanya lvan lagi.


Nabila semakin kebingungan, dia tidak


pernah menjalani sesi wawancara sebelumnya,


dalam hati dia bertanya-tanya apakah memang


seperti ini jika sedang melakukan wawancara


pekerjaan.

__ADS_1


"Hmm.. Jus.. jus jeruk Pak," jawab Nabila


gugup.


Ilvan terus bertanya kepada Nabila, namun


pertanyaan yang lvan tanyakan sama sekali tidak


ada hubungannya dengan pekerjaan, warna


kesukaan, hobi, golongan darah, sampai zodiak


Ivan tanyakan kepada Nabila, hal itu membuat


Nabila menghela nafasnya beberapa kali.


"Baiklah pertanyaan terakhir, apakah kamu


bersedia menjadi istriku?" seru lvan dengan


tersenyum lembut.


Deg deg deg


Nabila shock dengan pertanyaan lvan yang


tiba-tiba seperti itu.


"Maaf lvan..." jawab Nabila sambil


menunduk, tangannya dia remas dengan erat.


Dengan raut wajah sedih.


Mendengar jawaban dan ekspresi dari


Nabila membuat Ivan menjadi panik sendiri, "Ah..


itu...Nabila.."


"Aku bukannya tidak bersedia, saat ini


statusku belum mengizinkanku untuk menjawab


iya, jadi... " sela Nabila.


Ivan menghela nafas lega, jawaban Nabila


mengisyaratkan jika Nabila tidak setuju karena


statusnya yang masih sebagai tunangan Daryl.


"Huffttt... Kamu hampir membuatku


jantungan Nabila, aku kira kamu tidak bersedia


menjadi calon istriku..!" seru lvan bernafas lega.


Nabila tertawa kecil sembari meletakkan


telapak tangannya menutup mulutnya, "Pak Ivan


Hmmm..wawancaranya..??" Nabila


mengingatkan lvan tentang sesi wawancara.


"Ah... maaf..!!" balas Ivan sambil


memperbaiki posisi duduknya.


"Baiklah, aku akan mengubah pertanyaanku,


Nabila..maukah kamu menjadi kekasihku?"


tanya lvan dengan senyuman manis di wajahnya.


Nabila tersenyum, sambil menganggukkan


kecil kepalanya.


"lya.. aku bersedia lvan.." jawab Nabila.


Ivan langsung berdiri dari duduknya, lalu


mengulurkan tangannya ke Nabila, yang


langsung disambut oleh Nabila.


Ivan memandangi wajah cantik Nabila yang


sedang berjabat tangan dengannya, dengan


tegas dia berkata, "Selamat Nabila kamu


diterima..!!"


Wajah Nabila yang sedang tersenyum


tiba-tiba terlihat sedih, dia lalu menarik


tangannya dan beranjak dari kursinya.


"Itu berarti.. jika aku menolak menjadi


kekasihmu, kamu juga tidak akan menerimaku


sebagai sekretarismu, aku kira kamu tidak akan


membawa alasan pribadi ke dalam pekerjaan,


ternyata..." ketus Nabila memandang van


dengan wajah kesalnya.


Ucapan Nabila membuat Ivan gelagapan,


sejak awal, dia memang sudah menerima Nabila,


pertanyaan tadi hanya akal-akalannya untuk bisa


menjadi kekasih Nabila, dia bahkan sudah


bersiap jika Nabila menolaknya.


Dengan cepat dia meninggalkan kursinya


dan menghampiri Nabila. Dia lalu memeluk


tubuh Nabila yang sedang berdiri


membelakanginya.


"Nabila.. tunggu.!! Aku tidak bermaksud


seperti itu, a-aku..." bisik lvan gugup.


"Bagaimana rasanya dikerjai seperti itu?"


sela Nabila memotong perkataan lvan.


"Eh...!?" van terperangah, dia akhirnya


sadar jika Nabila mengerjai dirinya balik.


"Ja-jadi...kamu tidak marah???" tanya lvan


yang masih dengan wajah kebingungan.


"Hmm...ya.." jawab Nabila menahan


tawanya.


"Sungguh?" tanya lvan lagi.


Nabila mengangguk pelan mengiyakan


pertanyaan lvan.


Ivan lalu memajukan wajahnya, kini pipi


mereka berdua bersentuhan sambil lvan terus


memeluk tubuh Nabila dari belakang.


"Itu artinya aku sudah resmi menjadi


kekasihmu, benar 'kan?" tanya lvan memastikan.


Tanpa menoleh ke lvan,"Hmm.. iya lvan.."


jawab Nabila dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih... sayang..," bisik lvan sambil


mengecup pipi kiri Nabila dengan mesra.


Kemudian lvan membalikkan tubuh Nabila


hingga mereka berdua saling berhadapan.


" love you...Nabila.." ucap lvan lembut dan


memegang dagu Nabila.


Cup


Ivan mengecup dengan lembut bibir Nabila.


Nabila tidak lagi kaget seperti ciuman


tiba-tiba lvan semalam.


Kini Nabila mulai membalas ciuman hangat


Ilvan yang begitu lembut.


"Thank you lvan..." ucap Nabila di sela


ciuman mereka.


Tangan kanan lvan memeluk erat pinggang


Nabila dan melepaskan ciumannya. Dan


merapatkan kening mereka berdua.


Deru nafas mereka saling berhembus.


"I love you..." ucap mereka bersamaan.


Membuat mereka tersenyum dan lvan

__ADS_1


mendekap tubuh Nabila dalam pelukannya.


__ADS_2