Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 4 Rencana Ivan & Calvin


__ADS_3

Bab 4 ~ Rencana lvan & Calvin


Membujuk Nabila


"Kamu sebaiknya menenangkan dirimu di


tempatku? Kamarku kebetulan juga berada di


area ini," tanya lvan ke Nabila.


Mereka semua meninggalkan kamar hotel


Daryl yang sudah berantakan karena perkelahian


tadi


Ivan dan Nabila jalan berdampingan,


sedangkan Calvin yang berada di punggung


Jafin sedang tertawa lepas bersama bawahan


lvan.


"Aku tidak ingin berada di hotel ini lagi,"


jawab Nabila sambil menunduk sedih, matanya


kembali berkaca-kaca karena mengingat


kejadian yang baru saja menimpanya.


Melihat itu Ivan menjadi panik, dia mengira


jika Nabila sudah menganggapnya pria


berengsek yang ingin mengambil keuntungan


karena mengajak wanita yang baru saja ia


tolong ke kamarnya


"Ah sialan, mengapa aku mengajak dia ke


kamarku, pasti dia mengira aku juga pria


berengsek," umpatnya dalam hati.


"A... aku tidak bermaksud yang tidak-tidak,


aku benar-benar tulus ingin mengajakmu ke


kamarku, ah... maksudku agar kamu bisa


menenangkan dirimu," kata lvan terbata-bata,


wajahnya memerah karena malu dengan


sikapnya sendiri.


Kedua bawahannya yang mengikuti mereka


bersama Calvin tertawa kecil, baru kali ini


mereka berdua melihat Tuan Muda mereka


gugup seperti itu.


Nabila yang melihat sikap lvan tersenyum, "


Tuan lvan, aku tidak berpikir seperti itu tentang


Anda, alasan aku menolak karena aku takut


Tuan lvan terkena masalah karena sudah


menyerang Daryl," kata Nabila.


Ivan mengernyitkan alisnya, dia penasaran


dengan apa yang baru saja Nabila katakan.


"Aku terkena masalah?" tanya lvan


penasaran.


"Daryl berasal dari keluarga Mahendra, aku


tahu jika keluarga Mahendra merupakan salah


satu keluarga pemilik saham di hotel ini," jawab


Nabila.


Ivan tertawa, dia tidak menyalahkan Nabila


yang berpikir seperti itu, "Baiklah, jika kamu


menolak beristirahat di kamarku, izinkan aku


mengantarmu dan Calvin pulang ke rumah


kalian "


Nabila terdiam, dia tampak kesulitan


menjawab perkataan lvan, hal itu membuat lvan


kembali kebingungan


"Kakek dan Nenek bukan orang yang baik,


mereka selalu menyalahkan ibu dan berkata


kasar kepada ibu, mungkin karena itu ibu tidak


bisa menjawab perkataan paman." Calvin yang


juga mendengar ucapan lvan tadi ikut


menjelaskan kepada lvan alasan ibunya terdiam.


"Calvin..." ucap Nabila yang menegur Calvin


dengan tatapannya, hal itu membuat Calvin


menunduk dan meminta maaf kepada ibunya.


"Maaf ibu," kata Calvin menunduk lesu.

__ADS_1


Ivan yang mendengar ucapan Calvin terdiam,


dia tidak menyangka jika Calvin dan Nabila


memiliki permasalahan rumit seperti itu.


Dia berpikir sejenak, tiba-tiba sebuah ide


muncul dikepalanya.


"Calvin kemarilah," kata lvan memanggil


Calvin yang sedang dibawa oleh Jafin di


punggungnya.


Calvin menurut, dia lalu turun dari punggung


Jafin dan menghampiri lvan yang berjalan


beberapa langkah di depannya.


Ivan memegang tangan Calvin, dia berkata, "


Calvin aku sudah menyelamatkan ibumu, untuk


itu aku


aku ingin menerima bayaranku," kata lvan


sambil mengedipkan mata kanannya memberi


kode ke Calvin.


Ivan tahu jika Calvin adalah anak yang


cerdas, dia yakin Calvin tahu jika dirinya tidak


memiliki niat buruk kepada ibunya.


Nabila dan kedua bawahan lvan yang


mendengar itu tampak terkejut, mereka tidak


menyangka jika lvan meminta bayaran atas apa


yang sudah dia lakukan.


"Tentu saja, paman sudah membantu ibuku


sudah sepantasnya jika paman menerima


bayaran untuk jasa paman," kata Calvin yang


langsung mengerti arti kedipan mata lvan.


Nabila dan dua bawahan Ivan kembali


.avavo tidak n


terkejut, mereka


terke


menyetujui ucapan lvan.


"Sebagai bayaran atas jasaku tadi, aku akan


karena aku sedikit lelah dan butuh istirahat,


bagaimana jika makan siangnya di adakan di


rumahku," kata lvan sambil tersenyum kepada


Calvin.


udk menyangka jika Calvin


"Apakah mereka berdua merencanakan ini?"


batin Nabila, dia sangat terkejut mendengar


ucapan lvan dan sikap Calvin yang seakan sudah


mengetahui rencana lvan.


"Hah... mau bagaimana lagi, aku dan ibu


terpaksa harus makan siang di rumah paman,"


balas Calvin sambil seolah-olah tertunduk lesu.


Melihat akting Calvin dua pengawal lvan


kompak membalikkan badan mereka karena


menahan tawa, mereka tidak menyangka jika


Calvin memiliki karakter seperti tuan Muda


mereka dulu.


Nabila tampak gelisah, dia menjadi dilema.


"Hah... sepertinya tidak berhasil, batin Ivan,


melihat reaksi Nabila, Ivan yakin rencananya


tidak akan berhasil.


Namun Calvin berpikir lain, dengan cepat


tangan kanannya memegang tangan Nabila lalu


berkata, "bu sering mengajariku agar menjadi


anak yang tahu berterima kasih, paman sudah


menolong kita berdua, sudah sepantasnya kita


berterima kasih dengan menerima tawaran


paman."


Dengan mata berbinar-binar, Calvin


menatap wajah Nabila, hal itu membuat Nabila


merasa tidak tega dan akhirnya menerima

__ADS_1


permintaan lvan.


"Baiklah, lbu setuju untuk makan siang di


tempat Paman lvan," kata Nabila pasrah,


senyuman lembut tampak di wajahnya ketika


mengatakan itu kepada Calvi.


Calvin tersenyum bahagia, dia menoleh ke


Ivan, dan dengan cepat mengajak lvan kembali


beradu telapak tangan untuk merayakan


keberhasilannya m


Tap!


nya membujuk Nabila


"Kita berhasil paman!" teriak Calvin.


"Kamu memang hebat," jawab lvan yang ikut


terbawa suasana


Mata Nabila melotot tajam memandangi


Calvin dan Ivan yang beradu telapak tangan.


"Kalian berdua!" protes Nabila, dia tidak


menyangka jika lvan dan Calvin bekerja sama


untuk membujuknya.


Calvin dengan cepat melepaskan tangannya


yang menggenggam tangan Nabila, seakan


sudah saling mengerti lvan langsung menarik


tangan Calvin, mereka berdua lalu lari sambil


berpegangan tangan meninggalkan Nabila dan


dua bawahan lvan.


"Ayo lari, rencana kita ketahuan," kata lvan


sambil tertawa.


Sambil berlari meninggalkan Nabila mereka


berdua terus tertawa, hal itu membuat Nabila


ikut tertawa karena melihat kelakuan mereka.


"Apakah mereka berdua benar-benar baru


bertemu? tanya Nabila kepada Jafin dan Billy


yang ikut tertawa melihat kelakuan lvan dan


Calvin.


"lya Nona, kami berdua adalah saksinya,


saat Calvin meminta bantuan Tuan lvan, itu


pertama kalinya mereka berdua bertemu," jawab


Billy


"Tapi itu tidak tampak seperti mereka baru


pertama kali bertemu," balas Nabila sambil


menunjuk lvan dan Calvin yang berada di depan


mereka.


"Hahaha, kami berdua juga berpikir begitu,


siapa pun yang melihat mereka tidak akan


percaya jika mereka berdua baru saja bertemu


beberapa saat yang lalu." balas Jafin sambil


tertawa.


Sepertinya Tuan Muda dan Calvin menuju


kekamarnya, mungkin Tuan Muda akan


mengambil beberapa barangnva sebelum pulang


e rumah, silahkan Nona, kami akan menemani


Nona menuju kamar Tuan lvan," kata Jafin


dengan sopan kepada Nabila.


Mereka bertiga lalu menyusul Ivan dan


Calvin, dalam perjalanan menuju kamar lvan,


Jafin dan Billy menceritakan kepada Nabila awal


pertemuan Calvin dan lvan.


Nabila sangat terkejut ketika mengetahui


jika Calvin memanggil Ivan dengan sebutan ayah


untuk menarik perhatian van.


Dia akhirnya mengerti mengapa lvan


tertawa saat memperkenalkan dirinya kepada


Daryl sebagai ayah Calvin.


"Calvin benar-benar anak yang cerdas, Nona


sangat beruntung memiliki putra yang

__ADS_1


pemberani dan cerdas seperti Calvin," kata Jafin


memuji Calvin.


__ADS_2