
Bab 4 ~ Rencana lvan & Calvin
Membujuk Nabila
"Kamu sebaiknya menenangkan dirimu di
tempatku? Kamarku kebetulan juga berada di
area ini," tanya lvan ke Nabila.
Mereka semua meninggalkan kamar hotel
Daryl yang sudah berantakan karena perkelahian
tadi
Ivan dan Nabila jalan berdampingan,
sedangkan Calvin yang berada di punggung
Jafin sedang tertawa lepas bersama bawahan
lvan.
"Aku tidak ingin berada di hotel ini lagi,"
jawab Nabila sambil menunduk sedih, matanya
kembali berkaca-kaca karena mengingat
kejadian yang baru saja menimpanya.
Melihat itu Ivan menjadi panik, dia mengira
jika Nabila sudah menganggapnya pria
berengsek yang ingin mengambil keuntungan
karena mengajak wanita yang baru saja ia
tolong ke kamarnya
"Ah sialan, mengapa aku mengajak dia ke
kamarku, pasti dia mengira aku juga pria
berengsek," umpatnya dalam hati.
"A... aku tidak bermaksud yang tidak-tidak,
aku benar-benar tulus ingin mengajakmu ke
kamarku, ah... maksudku agar kamu bisa
menenangkan dirimu," kata lvan terbata-bata,
wajahnya memerah karena malu dengan
sikapnya sendiri.
Kedua bawahannya yang mengikuti mereka
bersama Calvin tertawa kecil, baru kali ini
mereka berdua melihat Tuan Muda mereka
gugup seperti itu.
Nabila yang melihat sikap lvan tersenyum, "
Tuan lvan, aku tidak berpikir seperti itu tentang
Anda, alasan aku menolak karena aku takut
Tuan lvan terkena masalah karena sudah
menyerang Daryl," kata Nabila.
Ivan mengernyitkan alisnya, dia penasaran
dengan apa yang baru saja Nabila katakan.
"Aku terkena masalah?" tanya lvan
penasaran.
"Daryl berasal dari keluarga Mahendra, aku
tahu jika keluarga Mahendra merupakan salah
satu keluarga pemilik saham di hotel ini," jawab
Nabila.
Ivan tertawa, dia tidak menyalahkan Nabila
yang berpikir seperti itu, "Baiklah, jika kamu
menolak beristirahat di kamarku, izinkan aku
mengantarmu dan Calvin pulang ke rumah
kalian "
Nabila terdiam, dia tampak kesulitan
menjawab perkataan lvan, hal itu membuat lvan
kembali kebingungan
"Kakek dan Nenek bukan orang yang baik,
mereka selalu menyalahkan ibu dan berkata
kasar kepada ibu, mungkin karena itu ibu tidak
bisa menjawab perkataan paman." Calvin yang
juga mendengar ucapan lvan tadi ikut
menjelaskan kepada lvan alasan ibunya terdiam.
"Calvin..." ucap Nabila yang menegur Calvin
dengan tatapannya, hal itu membuat Calvin
menunduk dan meminta maaf kepada ibunya.
"Maaf ibu," kata Calvin menunduk lesu.
__ADS_1
Ivan yang mendengar ucapan Calvin terdiam,
dia tidak menyangka jika Calvin dan Nabila
memiliki permasalahan rumit seperti itu.
Dia berpikir sejenak, tiba-tiba sebuah ide
muncul dikepalanya.
"Calvin kemarilah," kata lvan memanggil
Calvin yang sedang dibawa oleh Jafin di
punggungnya.
Calvin menurut, dia lalu turun dari punggung
Jafin dan menghampiri lvan yang berjalan
beberapa langkah di depannya.
Ivan memegang tangan Calvin, dia berkata, "
Calvin aku sudah menyelamatkan ibumu, untuk
itu aku
aku ingin menerima bayaranku," kata lvan
sambil mengedipkan mata kanannya memberi
kode ke Calvin.
Ivan tahu jika Calvin adalah anak yang
cerdas, dia yakin Calvin tahu jika dirinya tidak
memiliki niat buruk kepada ibunya.
Nabila dan kedua bawahan lvan yang
mendengar itu tampak terkejut, mereka tidak
menyangka jika lvan meminta bayaran atas apa
yang sudah dia lakukan.
"Tentu saja, paman sudah membantu ibuku
sudah sepantasnya jika paman menerima
bayaran untuk jasa paman," kata Calvin yang
langsung mengerti arti kedipan mata lvan.
Nabila dan dua bawahan Ivan kembali
.avavo tidak n
terkejut, mereka
terke
menyetujui ucapan lvan.
"Sebagai bayaran atas jasaku tadi, aku akan
karena aku sedikit lelah dan butuh istirahat,
bagaimana jika makan siangnya di adakan di
rumahku," kata lvan sambil tersenyum kepada
Calvin.
udk menyangka jika Calvin
"Apakah mereka berdua merencanakan ini?"
batin Nabila, dia sangat terkejut mendengar
ucapan lvan dan sikap Calvin yang seakan sudah
mengetahui rencana lvan.
"Hah... mau bagaimana lagi, aku dan ibu
terpaksa harus makan siang di rumah paman,"
balas Calvin sambil seolah-olah tertunduk lesu.
Melihat akting Calvin dua pengawal lvan
kompak membalikkan badan mereka karena
menahan tawa, mereka tidak menyangka jika
Calvin memiliki karakter seperti tuan Muda
mereka dulu.
Nabila tampak gelisah, dia menjadi dilema.
"Hah... sepertinya tidak berhasil, batin Ivan,
melihat reaksi Nabila, Ivan yakin rencananya
tidak akan berhasil.
Namun Calvin berpikir lain, dengan cepat
tangan kanannya memegang tangan Nabila lalu
berkata, "bu sering mengajariku agar menjadi
anak yang tahu berterima kasih, paman sudah
menolong kita berdua, sudah sepantasnya kita
berterima kasih dengan menerima tawaran
paman."
Dengan mata berbinar-binar, Calvin
menatap wajah Nabila, hal itu membuat Nabila
merasa tidak tega dan akhirnya menerima
__ADS_1
permintaan lvan.
"Baiklah, lbu setuju untuk makan siang di
tempat Paman lvan," kata Nabila pasrah,
senyuman lembut tampak di wajahnya ketika
mengatakan itu kepada Calvi.
Calvin tersenyum bahagia, dia menoleh ke
Ivan, dan dengan cepat mengajak lvan kembali
beradu telapak tangan untuk merayakan
keberhasilannya m
Tap!
nya membujuk Nabila
"Kita berhasil paman!" teriak Calvin.
"Kamu memang hebat," jawab lvan yang ikut
terbawa suasana
Mata Nabila melotot tajam memandangi
Calvin dan Ivan yang beradu telapak tangan.
"Kalian berdua!" protes Nabila, dia tidak
menyangka jika lvan dan Calvin bekerja sama
untuk membujuknya.
Calvin dengan cepat melepaskan tangannya
yang menggenggam tangan Nabila, seakan
sudah saling mengerti lvan langsung menarik
tangan Calvin, mereka berdua lalu lari sambil
berpegangan tangan meninggalkan Nabila dan
dua bawahan lvan.
"Ayo lari, rencana kita ketahuan," kata lvan
sambil tertawa.
Sambil berlari meninggalkan Nabila mereka
berdua terus tertawa, hal itu membuat Nabila
ikut tertawa karena melihat kelakuan mereka.
"Apakah mereka berdua benar-benar baru
bertemu? tanya Nabila kepada Jafin dan Billy
yang ikut tertawa melihat kelakuan lvan dan
Calvin.
"lya Nona, kami berdua adalah saksinya,
saat Calvin meminta bantuan Tuan lvan, itu
pertama kalinya mereka berdua bertemu," jawab
Billy
"Tapi itu tidak tampak seperti mereka baru
pertama kali bertemu," balas Nabila sambil
menunjuk lvan dan Calvin yang berada di depan
mereka.
"Hahaha, kami berdua juga berpikir begitu,
siapa pun yang melihat mereka tidak akan
percaya jika mereka berdua baru saja bertemu
beberapa saat yang lalu." balas Jafin sambil
tertawa.
Sepertinya Tuan Muda dan Calvin menuju
kekamarnya, mungkin Tuan Muda akan
mengambil beberapa barangnva sebelum pulang
e rumah, silahkan Nona, kami akan menemani
Nona menuju kamar Tuan lvan," kata Jafin
dengan sopan kepada Nabila.
Mereka bertiga lalu menyusul Ivan dan
Calvin, dalam perjalanan menuju kamar lvan,
Jafin dan Billy menceritakan kepada Nabila awal
pertemuan Calvin dan lvan.
Nabila sangat terkejut ketika mengetahui
jika Calvin memanggil Ivan dengan sebutan ayah
untuk menarik perhatian van.
Dia akhirnya mengerti mengapa lvan
tertawa saat memperkenalkan dirinya kepada
Daryl sebagai ayah Calvin.
"Calvin benar-benar anak yang cerdas, Nona
sangat beruntung memiliki putra yang
__ADS_1
pemberani dan cerdas seperti Calvin," kata Jafin
memuji Calvin.