
Nabila yang Cantik dan Calvin yang
benci Sayuran
"Paman akan mengambil tas dan beberapa
dokumen di dalam, setelah itu ita bisa
langsung berangkat ke rumah paman untuk
makan siang," kata lvan begitu mereka tiba di
depan kamar yang ditempati oleh lvan di Hotel
itu
"Oke Paman," seru Calvin bersemangat.
"Maaf Tuan Muda, sepertinya Anda harus
menunda makan siang Anda,' ucap Jafin yang
baru saja bergabung bersama mereka.
"Mengapa?"
gpa tanya lvan ke Jafin sambil
mengerutkan
Dia tidak mengerti mengapa dia harus
menunda jadwal makan siangnya bersama
Nabila dan Calvin.
"Bukankah ada beberapa dokumen yang
harus di selesaikan sekarang juga?" tanya Jafin
kembali mengingatkan lvan tentang
pekerjaannya.
Ivan menepuk jidatnya, dia baru teringat
dengan beberapa proposal yang harus segera
dia revisi.
"Aku hampir melupakan hal itu, terima kasih
Jafin karena sudah mengingatkanku," balas lvan
yang langsung di balas Jafin dengan senyuman.
Ivan lalu menoleh ke Nabila, "Nabila, maaf
tapi sepertinya kita harus menunda makan siang
kita, apakah tidak masalah jika kamu
menungguku menyelesaikan pekerjaanku
terlebih dahulu?" tanya Ivan.
Nabila tampak ragu menjawab pertanyaan
Ivan, dia takut Daryl akan kembali membuat
masalah jika dia tetap tinggal di hotel itu.
"Mungkin seba-"
Belum sempat Nabila menyelesaikan
ucapannya, Calvin yang sedang memegang
tangan lvan langsung menyela pembicaraan
mereka.
"Tentu saja tidak masalah Paman," seru
Calvin bersemangat.
Mengar ucapan Calvin, lvan langsung
membuka pintu kamarnya dan mempersilakan
Nabila dan Calvin masuk.
Dua pengawal lvan sendiri tidak ikut masuk
ke kamar lvan, mereka berdua duduk di sofa
yang berada di depan pintu masuk kamar lvan.
"Tungg-" Nabila hendak menghentikan
Calvin, sayangnya begitu pintu kamar terbuka,
Calvin langsung masuk ke dalam kamar lvan.
"Hah.. anak itu," keluh Nabila melihat Calvin
yang tanpa sungkan masuk ke dalam kamar lvan.
Hal itu membuanya mau tidak mau harus
ikut masuk ke dalam kamar lvan,
Nabila sangat terkejut ketika menginjakkan
kakinya ke dalam kamar Ivan
Walaupun kamar yang di tempat oleh lvan
sama dengan kamar yang di gunakan Daryl,
fasilitas dan ukuran kamar itu sangat jauh
berbeda.
Hal itu membuat Nabila mulai
bertanya-tanya tentang identitas lvan.
"Kalian bisa menungguku menyelesaikan
pekerjaanku di Sofa itu," ucap lvan sambil
menunjuk sofa putih yang berada di kamar itu.
Nabila mengangguk pelan, sedangkan
Calvin yang merasa sangat senang terlihat
__ADS_1
berlari mengelilingi kamar lvan.
"Calvin...jangan berlarian seperti itu, kamu
bisa mengganggu paman lvan yang lagi bekeria,"
Ivan tersenyum tipis, dia berkata, "Aku tidak
akan terganggu dari hal seperti itu," kata lvan
yang tidak melarang Calvin berlarian di
kamarnya.
lvan.
Tapi.." Nabila masih merasa tidak enak
kepada lvan, namun lvan kembali
menenangkannya dengan berkata."
"Tidak apa-apa, memang anak seusia Calvin
sudah sepantasnya bersikap seperti itu," jawab
"Hah... baiklah," kata Nabila sambil
menghela nafasnya pelan.
Ivan lalu pergi ke meja kerja yang juga
berada di kamar itu, sedangkan Nabila duduk di
Sofa yang tadi ditunjuk oleh lvan
Tak berselang lama, pintu kamar lvan di
ketuk oleh seseorang, ketika pintu kamar
terbuka, tampak seorang pelayan membawa
Troli makanan dengan berbagai hidangan di
atasnya.
Setelah menyerahkan Troli makanan kepada
Nabila, pelayan itu langsung izin pamit untuk
kembali bekerja.
Nabila ingin memanggil Ivan untuk
menyantap makanan, namun karena lvan terlihat
sangat serius bekerja, dia pun mengurungkarn
niatnya, sambil menemani Calvin yang sedang
asyik bermain, dia terlihat memandangi lvan dari
tempatnya duduk saat ini.
Rasa kantuk tiba-tiba datang
menghampirinya, tanpa sadar, Nabila akhirnya
tertidur di Sofa itu.
Beberapa saat kemudian, Calvin akhirnya
sampingnya, melihat itu, Calvin lalu
menghampiri lvan yang sedang bekerja.
"Paman," kata Calvin memanggil lvan.
Ivan menoleh ke Calvin, "Ada 'Nak?" tanya
Ivan dengan suara lembut.
"Maaf paman, sepertinya ibuku sedang
tertidur di Sofa,"
"Di sofa?" tanya lvan yang sedikit terkejut,
dia lalu menoleh ke tempat Nabila tertidur.
"Jam berapa sekarang?" gumamnya sambil
mengecek jam tangannya.
"Astaga..."' ucapnya, karena terlalu asyik
bekerja, ia sampai melupakan Calvin dan Nabila
yang juga berada di kamar itu.
"Paman, bagaimana jika kamu membawa
ibuku ke tempat tidur itu, dia sepertinya sangat
kelelahan," kata Calvin sambil menunjuk tempat
tidur Ilvan.
Ivan terdiam sejenak, dia tidak masalah
dengan permintaan Calvin, dia hanyantakut
Nabila berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya
jika Nabila terbangun saat dia menggendongnya,
namun karena terus di desak oleh Calvin, diapun
akhirnya pasrah dan mengiuti perkataan Calvin.
Dengan perlahan, dia menganggkat tubuh
Nabila yang sedang tertidur di Sofa, dia terus
berdoa semoga Nabila lelap dalam tidurnya dan
tidak terbangun saat dia membawanya ke Sofa.
Ditemani Calvin, lvan membawa Nabila
menuju tempat tidur.
Setelah membaringkan tubuh Nabila dengan
perlahan, lvan tampak memandangi wajah
Nabila dengan seksama.
__ADS_1
"Dia benar-benar cantik," batin lvan, namun
karena terus memandangi wajah Nabila, dia
akhirnya teringat kembali sewaktu dia menolong
Nabila.
Tubuh putih bersih Nabila yang hanya
menggunakan dalaman kembali terlintas di
benaknya, dia dengan cepat menggelengkan
kepalanya beberapa kali untuk menendang
pikiran itu jauh-jauh dari kepalanya.
"Calvin, apakah kamu sudah makan?" tanya
Ivan ke Calvin yang ikut bersamanya.
itu
Calvin menjawab dengan menggelengkan
kepalanya, melihat itu, Ivan langsung meraih
tangan Calvin dan menariknya menuju Troli
makanan.
"Sebaiknya kamu makan dulu," kata lvan
pelan, dia lalu mengatur hidangan yang berada di
Troli ke meja makan yang juga berada di kamar
Calvin yang melihat ada beberapa jenis
sayuran di meja langsung menutup mulutnya
dengan kedua tangannya.
"Pa... Paman aku belum lapar," kata Calvin
beralasan, dia memang tidak menyukai sayuran,
sangat berbanding terbalik dengan lvan yang
sangat menyukai sayuran.
Ivan menoleh ke Calvin dia tertawa kecil
melihat Calvin yang sedang menutup mulutnya
sambil menatap hidangan sayuran di meja.
"Walaupun kamu belum merasa lapar, kamu
tetap harus mengisi perutmu, ini sudah siang,
kamu bisa masuk angin jika kamu tidak mengisi
perutmu,"jelas lvan.
Calvin kembali terdiam matanya
memandang ke langit-langit, dia mencari ide
agar bisa terhindar dari memakan sayuran yang
terlihat begitu mengerikan di matanya.
"I.. Ibu, aku biasa di suapin oleh ibu,
bagaimana jika aku makan ketika ibu sudah
bangun," kata Calvin kembali memberikan
alasan.
Ivan tertawa dalam hati, dia sudah
mengetahui jika Calvin tidak menyukai sayuran
dari cara Calvin menatap hidangan di atas meja,
hal yang menurutnya lucu, karena Calvin
membawa ibunya sebagai alasannya.
"Kalau begitu, Paman yang akan
menyuapimu, sekarang kamu duduk di kursi,"
perintah lvan dengan nada lembut.
Calvin menunduk lesu, alasannya tidak
bekerja, dia terpaksa menuruti perintah lvan.
Ketika lvan mengarahkan sendok berisi
sayuran ke mulutnya, Calvin langsung menutup
matanya, namun setelah sayuran itu menyentuh
lidahnya mata Calvin membuka lebar, dia tidak
percaya dengan rasa sayuran yang baru saja
masuk di mulutnya.
"Paman, ini enak sekali," seru Calvin, dia
sangat terkejut karena sayuran bisa memiliki
rasa seenak itu.
Ivan tertawa kecil melihat ekspresi lucu
Calvin, sambil kembali menyuapi Calvin dia
berkata, "Sayuran tidak mengerikan bukan?"
Calvin mengangguk setuju, baru kali ini dia
memakan sayuran yang sesuai dengan selera
lidahnya, tentu saja itu semua berkat Koki yang
memasak sayuran itu, Ivan yang dulunya Juga
membenci sayuran akhirnya sekarang menyukai
sayuran berkat kelihaian Koki di hotel itu
__ADS_1
mengolah sayuran.