Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 5 Identitas Ivan


__ADS_3

Nabila perlahan membuka matanya, dia


sontak terkejut saat melihat selimut putih


menutupi tubuhnya, terlebih lagi dia saat ini


sudah berada di tempat tidur, dengan panik dia


segera bangun dan melihat di balik selimut


untuk mengecek pakaiannya.


"Hah.. Apa yang aku pikirkan, Ivan bukanlah


orang seperti," gumamnya saat menyadari jika


pakaiannya masih tetap utuh, dia sedikit merasa


bersalah karena sempat berpikir yang tidak-tidak


mengenai lvan.


Dia lalu mengamati keadaan di sekitarnya,


samar-samar terdengar suara putranya sedang


tertawa.


Nabila beranjak dari tempat tidur, dengan


perlahan dia menuju ke arah suara Calvin yang


sedang tertawa.


Dia langsung tersenyum ketika melihat lvan


yang sedang menyuapi Calvin di dekat Sofa


tempatnya tadi tertidur, dia mulai mengagumi


Ivan, tidak hanya menolongnya, Ivan juga


menyuapi Calvin ketika dia tertidur.


"Ivan benar-benar pria yang baik," batinnya


memuji lvan.


Saat dia sedang asyik memandangi mereka


berdua, tiba-tiba Calvin menunjuk salah satu


hidangan di meja, Calvin yang berkata,"Paman!


Aku mau sayur itu."


"Sayur?" Nabila sangat terkejut mendengar


itu, dia tahu jika Calvin sangat tidak menyukai


sayuran. Sangat aneh baginya ketika melihat


Calvin sendiri yang meminta di berikan sayuran.


Dengan rasa penasaran, dia segera


menghampiri Calvin dan lvan.


"Calvin bukankah kamu tidak menyukai


sayuran?" tanya Nabila yang tiba-tiba muncul.


lvan dan Calvin sedikit terkejut ketika


mengetahui Nabila sudah bangun dari tidurnya,


Sayuran di sini enak ibu,!" seru Calvin sambil


mengacungkan jempolnya.


Ivan tertawa kecil mendengar perkataan


Calvin, sementara Nabila mengambil sendok dan


ikut mencicipi sayuran yang berada di meja.


"Ini benar-benar enak !" kata Nabila sambil


mengunyah sayuran itu dimulutnya.


"Ah... ma-maaf," sambungnya setelah


menyadari jika lvan sedang menatapnya sambil


tertawa kecil.


"Tidak apa-apa, kamu juga sebaiknya makan


" balas lvan sambil tersenyum hangat, dia lalu


mempersilakan Nabila duduk di kursi yang


berada tepat di sampingnya.


"Terima kasih," jawab Nabila pelan. Dia lalu


ikut menyantap hidangan yang berada di atas


meja.


Di kamar yang juga berada di Hotel itu, Daryl


yang sudah sadar terus mengumpat Yanto


karena membiarkan seseorang masuk ke dalam


kamarnya saat dia ingin bersenang-senang


dengan Nabila.


"Kamu benar-benar tidak becus dalam


bekerja, mengapa kamu membiarkan pria tadi


masuk!" hardik Daryl sambil mengompres


pipinya yang lebam karena pukulan lvan.


"Maafkan aku bos, orang itu memiliki dua


pengawal yang berbodi kekar, dua pengawal itu


yang menghajarku di luar," jawab Yanto yang


wajahnya juga babak belur karena dipukuli oleh


bawahan Ivan.


"Di mana pria itu dan Nabila, cari mereka,


aku akan membalas pria itu," kata Daryl


berdecak kesal.


"Dia masih berada di hotel ini, keamanan


yang bertugas di hotel ini tadi datang dan

__ADS_1


memberitahu jika Pria itu dan Nona Nabila masih


berada di salah satu kamar Hotel ini," jawab


Yanto.


"Kurang ajar! Tidak hanya menghajarku dan


mengganggu waktuku dengan Nabila, dia


bahkan mengajak Nabila ke kamarnya.


"Yanto! Panggil semua petugas keamanan


di sini, aku akan membalas perbuatan pria tadi,"


teriak lvan memberi perintah, emosinya semakin


memuncak tatkala mengetahui jika Nabila


sedang berada di kamar pria itu.


Daryl lalu menyambar pakaiannya dan


segera mengenakannya, ketika dia sudah


berganti pakaian dan hendak menuju pintu


kamar, Yanto tiba-tiba menarik tangannya.


"Bos, sebaiknya kita tidak mengganggu pria


itu," kata Yanto dengan ekspresi wajah cemas.


Daryl menyipitkan matanya menatap Yanto,


dengan nada tinggi dia berkata, "Yanto, apakah


kamu lupa siapa aku? Aku adalah putra


pemegang saham Hotel ini"


Yanto menunduk tak berani menatap wajah


Daryl yang sudah sangat marah, walau begitu dia


harus tetap menyampaikan alasan mengapa


Daryl tidak boleh mengganggu pria tadi.


"Maaf Bos, alasan mengapa Bos Daryl tidak


boleh mengganggu pria itu, karena pria itu


bernama lvan Barata, dia berasal dari keluarga


Barata, yang merupakan pemilik Grup Barata


Cipta Abadi yang memiliki Hotel ini dan


beberapa perusahaan besar lainnya." Balas


Yanto.


Daryl sangat tercengang ketika mengetahui


identitas Pria yang menolong Nabila, dia kembali


menuju sofa dan langsung duduk menenangkan


dirinya. Keluarganya memang pemilik saham di


Hotel ini, walau begitu keluarganya tidak bisa di


bandingkan dengan keluarga Barata, alasannya


karena keluarga Barata adalah pemegang saham


"Bagaimana bisa Nabila mengenal pria dari


keluarga Barata." Daryl mengusap wajahnya, dia


lalu mengeluarkan sebatang rokok dan


meletakkannya di bibirnya.


Yanto segera maju dan menyalakan rokok


Daryl dengan korek api yang dia bawa.


Sambil menatap langit-langit kamar itu,


Daryl berkata, "Ini benar-benar bahaya, ayahku


akan sangat marah jika mengetahui aku sudah


terlibat masalah dengan orang dari keluarga


Barata."


"Apakah kita harus meminta maaf ke Pria


itu?" tanya Yanto.


"Tidak, jika aku ke sana sekarang, itu hanya


akan membuat situasi menjadi semakin rumit,"


kata Daryl sambil menghembuskan asap rokok


dari mulutnya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan Bos?"


Daryl terdiam sejenak, dia lalu mematikan


rokonya di asbak dan beranjak dari duduknya.


"Ayo, kita harus menemui Winarto yang


menjadi Presiden Direktur hotel ini, aku akan


menyuruhnya menyampaikan ke lvan jika yang


terjadi tadi hanyalah kesalahpahaman," ucap


Daryl.


Yanto mengangguk pelan, mereka berdua


meninggalkan kamar itu menuju ruangan


Winarto.


Ivan sudah selesai mengerjakan dokumen


dan proposal yang tadi berada di mejanya, dia,


Calvin dan Nabila sedang berjalan menuju Lobby


Hotel, rencananya dia akan menyerahkan


dokumen-dokumen yang berada di tangannya


kepada Winarto di tempat itu.


Nabila sedikit cemas ketika melihat

__ADS_1


beberapa petugas keamanan Hotel berada di


depan pintu yang membatasi antara Lobby dan


area Presidential Suite Hotel itu.


Hal yang membuatnya cemas tentu saja


karena dia mengetahui jika Daryl adalah pemilik


saham Hotel ini, dia takut jika petugas


keamanan yang berada di hotel itu akan


menahan mereka, dan membuat Ivan yang


sudah menolong mereka terlibat masalah serius


dengan keluarga Daryl.


Ivan yang sedang memegang tangan Calvin


tentu saja menyadari perubahan ekspresi wajah


Nabila. Dia lalu menarik pelan tangan Calvin,


setelah Calvin menoleh kepadanya, dia


mengedipkan matanya ke Calvin sambil


menunjuk tangan Nabila.


Calvin yang cerdas langsung bisa


mengetahui maksud Ivan, dia meraih tangan


ibunya, kini dia berjalan di tengah sambil


memegang tangan lvan dan juga tangan Nabila.


Nabila sedikit terkejut ketika Calvin meraih


tangannya, dia lalu tersenyum, dengan Calvin


memegang tangannya entah mengapa dia


merasa tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan


petugas keamanan hotel itu.


Ketika mereka melewati petugas keamanan


Hotel itu, Nabila kembali terkejut, para petugas


hotel yang ada di sana dengan sangat sopan


menyapa mereka, salah seorang dari petugas itu


bahkan memandu mereka menuju Lobby Hotel.


Dalam hati dia kembali bertanya-tanya


tentang identitas Ivan yang baru saja


menolongnya beberapa waktu yang lalu.


Sesampainya di Lobby, Winarto yang


menjabat Presiden Direktur Hotel itu segera


menghampiri mereka dengan tersenyum, Ivan


lalu menyerahkan dokumen yang berada di


tangannya kepada Winarto.


Setelah sedikit berbincang mengenai isi


dokumen itu, Ivan lalu mohon pamit kepada


Winarto, dia kembali memegang tangan Calvin,


dan berjalan menuju pelataran Hotel di mana


mobil pribadinya sudah terparkir di depan Hotel


itu.


Tepat sebelum dia meninggalkan hotel, lvan


tiba-tiba berhenti dan berbalik ke Winarto yang


juga ikut mengantar mereka ke pelataran.


"Ah, Pak Winarto aku hampir lupa hal yang


penting," kata lvan.


"Hal yang penting Tuan?" tanya Winarto


penasaran.


"Tentang keluarga Mahendra yang memiliki


saham di hotel ini, tolong sampaikan kepada


Ayahku untuk menendang mereka sebagai


pemilik saham dari Hotel ini, aku tidak ingin


sampah seperti Daryl mengotori Hotel ini


dengan kelakuan busuknya," perintah lvan.


"Menendang keluarga Mahendra?" batin


Nabila yang sangat terkejut mendengar ucapan


Ivan.


Jika lvan bisa menendang keluarga Daryl


hanya dengan ucapan, itu berarti status lvan


jauh lebih tinggi dari pada Daryl pikirnya.


Winarto langsung tersenyum bahagia


mendengar perintah lvan, dia memang sangat


tidak menyukai sikap Daryl yang semaunya di


Hotel ini.


"Tentu Tuan, akan kusampaikan hal itu


kepada Ayah Tuan lvan," kata Winarto Tegas.


Ivan tersenyum, dia lalu kembali berjalan


menuju mobilnya.


"Ivan siapa kamu sebenarnya?" tanya Nabila.


"Aku tidak akan menyembunyikan apapun


darimu, aku akan menjelaskan siapa aku saat

__ADS_1


nanti kita sampai dirumahku," balas lvan sambil


tersenyum lembut kepada Nabila.


__ADS_2