
Nabila perlahan membuka matanya, dia
sontak terkejut saat melihat selimut putih
menutupi tubuhnya, terlebih lagi dia saat ini
sudah berada di tempat tidur, dengan panik dia
segera bangun dan melihat di balik selimut
untuk mengecek pakaiannya.
"Hah.. Apa yang aku pikirkan, Ivan bukanlah
orang seperti," gumamnya saat menyadari jika
pakaiannya masih tetap utuh, dia sedikit merasa
bersalah karena sempat berpikir yang tidak-tidak
mengenai lvan.
Dia lalu mengamati keadaan di sekitarnya,
samar-samar terdengar suara putranya sedang
tertawa.
Nabila beranjak dari tempat tidur, dengan
perlahan dia menuju ke arah suara Calvin yang
sedang tertawa.
Dia langsung tersenyum ketika melihat lvan
yang sedang menyuapi Calvin di dekat Sofa
tempatnya tadi tertidur, dia mulai mengagumi
Ivan, tidak hanya menolongnya, Ivan juga
menyuapi Calvin ketika dia tertidur.
"Ivan benar-benar pria yang baik," batinnya
memuji lvan.
Saat dia sedang asyik memandangi mereka
berdua, tiba-tiba Calvin menunjuk salah satu
hidangan di meja, Calvin yang berkata,"Paman!
Aku mau sayur itu."
"Sayur?" Nabila sangat terkejut mendengar
itu, dia tahu jika Calvin sangat tidak menyukai
sayuran. Sangat aneh baginya ketika melihat
Calvin sendiri yang meminta di berikan sayuran.
Dengan rasa penasaran, dia segera
menghampiri Calvin dan lvan.
"Calvin bukankah kamu tidak menyukai
sayuran?" tanya Nabila yang tiba-tiba muncul.
lvan dan Calvin sedikit terkejut ketika
mengetahui Nabila sudah bangun dari tidurnya,
Sayuran di sini enak ibu,!" seru Calvin sambil
mengacungkan jempolnya.
Ivan tertawa kecil mendengar perkataan
Calvin, sementara Nabila mengambil sendok dan
ikut mencicipi sayuran yang berada di meja.
"Ini benar-benar enak !" kata Nabila sambil
mengunyah sayuran itu dimulutnya.
"Ah... ma-maaf," sambungnya setelah
menyadari jika lvan sedang menatapnya sambil
tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, kamu juga sebaiknya makan
" balas lvan sambil tersenyum hangat, dia lalu
mempersilakan Nabila duduk di kursi yang
berada tepat di sampingnya.
"Terima kasih," jawab Nabila pelan. Dia lalu
ikut menyantap hidangan yang berada di atas
meja.
Di kamar yang juga berada di Hotel itu, Daryl
yang sudah sadar terus mengumpat Yanto
karena membiarkan seseorang masuk ke dalam
kamarnya saat dia ingin bersenang-senang
dengan Nabila.
"Kamu benar-benar tidak becus dalam
bekerja, mengapa kamu membiarkan pria tadi
masuk!" hardik Daryl sambil mengompres
pipinya yang lebam karena pukulan lvan.
"Maafkan aku bos, orang itu memiliki dua
pengawal yang berbodi kekar, dua pengawal itu
yang menghajarku di luar," jawab Yanto yang
wajahnya juga babak belur karena dipukuli oleh
bawahan Ivan.
"Di mana pria itu dan Nabila, cari mereka,
aku akan membalas pria itu," kata Daryl
berdecak kesal.
"Dia masih berada di hotel ini, keamanan
yang bertugas di hotel ini tadi datang dan
__ADS_1
memberitahu jika Pria itu dan Nona Nabila masih
berada di salah satu kamar Hotel ini," jawab
Yanto.
"Kurang ajar! Tidak hanya menghajarku dan
mengganggu waktuku dengan Nabila, dia
bahkan mengajak Nabila ke kamarnya.
"Yanto! Panggil semua petugas keamanan
di sini, aku akan membalas perbuatan pria tadi,"
teriak lvan memberi perintah, emosinya semakin
memuncak tatkala mengetahui jika Nabila
sedang berada di kamar pria itu.
Daryl lalu menyambar pakaiannya dan
segera mengenakannya, ketika dia sudah
berganti pakaian dan hendak menuju pintu
kamar, Yanto tiba-tiba menarik tangannya.
"Bos, sebaiknya kita tidak mengganggu pria
itu," kata Yanto dengan ekspresi wajah cemas.
Daryl menyipitkan matanya menatap Yanto,
dengan nada tinggi dia berkata, "Yanto, apakah
kamu lupa siapa aku? Aku adalah putra
pemegang saham Hotel ini"
Yanto menunduk tak berani menatap wajah
Daryl yang sudah sangat marah, walau begitu dia
harus tetap menyampaikan alasan mengapa
Daryl tidak boleh mengganggu pria tadi.
"Maaf Bos, alasan mengapa Bos Daryl tidak
boleh mengganggu pria itu, karena pria itu
bernama lvan Barata, dia berasal dari keluarga
Barata, yang merupakan pemilik Grup Barata
Cipta Abadi yang memiliki Hotel ini dan
beberapa perusahaan besar lainnya." Balas
Yanto.
Daryl sangat tercengang ketika mengetahui
identitas Pria yang menolong Nabila, dia kembali
menuju sofa dan langsung duduk menenangkan
dirinya. Keluarganya memang pemilik saham di
Hotel ini, walau begitu keluarganya tidak bisa di
bandingkan dengan keluarga Barata, alasannya
karena keluarga Barata adalah pemegang saham
"Bagaimana bisa Nabila mengenal pria dari
keluarga Barata." Daryl mengusap wajahnya, dia
lalu mengeluarkan sebatang rokok dan
meletakkannya di bibirnya.
Yanto segera maju dan menyalakan rokok
Daryl dengan korek api yang dia bawa.
Sambil menatap langit-langit kamar itu,
Daryl berkata, "Ini benar-benar bahaya, ayahku
akan sangat marah jika mengetahui aku sudah
terlibat masalah dengan orang dari keluarga
Barata."
"Apakah kita harus meminta maaf ke Pria
itu?" tanya Yanto.
"Tidak, jika aku ke sana sekarang, itu hanya
akan membuat situasi menjadi semakin rumit,"
kata Daryl sambil menghembuskan asap rokok
dari mulutnya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Bos?"
Daryl terdiam sejenak, dia lalu mematikan
rokonya di asbak dan beranjak dari duduknya.
"Ayo, kita harus menemui Winarto yang
menjadi Presiden Direktur hotel ini, aku akan
menyuruhnya menyampaikan ke lvan jika yang
terjadi tadi hanyalah kesalahpahaman," ucap
Daryl.
Yanto mengangguk pelan, mereka berdua
meninggalkan kamar itu menuju ruangan
Winarto.
Ivan sudah selesai mengerjakan dokumen
dan proposal yang tadi berada di mejanya, dia,
Calvin dan Nabila sedang berjalan menuju Lobby
Hotel, rencananya dia akan menyerahkan
dokumen-dokumen yang berada di tangannya
kepada Winarto di tempat itu.
Nabila sedikit cemas ketika melihat
__ADS_1
beberapa petugas keamanan Hotel berada di
depan pintu yang membatasi antara Lobby dan
area Presidential Suite Hotel itu.
Hal yang membuatnya cemas tentu saja
karena dia mengetahui jika Daryl adalah pemilik
saham Hotel ini, dia takut jika petugas
keamanan yang berada di hotel itu akan
menahan mereka, dan membuat Ivan yang
sudah menolong mereka terlibat masalah serius
dengan keluarga Daryl.
Ivan yang sedang memegang tangan Calvin
tentu saja menyadari perubahan ekspresi wajah
Nabila. Dia lalu menarik pelan tangan Calvin,
setelah Calvin menoleh kepadanya, dia
mengedipkan matanya ke Calvin sambil
menunjuk tangan Nabila.
Calvin yang cerdas langsung bisa
mengetahui maksud Ivan, dia meraih tangan
ibunya, kini dia berjalan di tengah sambil
memegang tangan lvan dan juga tangan Nabila.
Nabila sedikit terkejut ketika Calvin meraih
tangannya, dia lalu tersenyum, dengan Calvin
memegang tangannya entah mengapa dia
merasa tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan
petugas keamanan hotel itu.
Ketika mereka melewati petugas keamanan
Hotel itu, Nabila kembali terkejut, para petugas
hotel yang ada di sana dengan sangat sopan
menyapa mereka, salah seorang dari petugas itu
bahkan memandu mereka menuju Lobby Hotel.
Dalam hati dia kembali bertanya-tanya
tentang identitas Ivan yang baru saja
menolongnya beberapa waktu yang lalu.
Sesampainya di Lobby, Winarto yang
menjabat Presiden Direktur Hotel itu segera
menghampiri mereka dengan tersenyum, Ivan
lalu menyerahkan dokumen yang berada di
tangannya kepada Winarto.
Setelah sedikit berbincang mengenai isi
dokumen itu, Ivan lalu mohon pamit kepada
Winarto, dia kembali memegang tangan Calvin,
dan berjalan menuju pelataran Hotel di mana
mobil pribadinya sudah terparkir di depan Hotel
itu.
Tepat sebelum dia meninggalkan hotel, lvan
tiba-tiba berhenti dan berbalik ke Winarto yang
juga ikut mengantar mereka ke pelataran.
"Ah, Pak Winarto aku hampir lupa hal yang
penting," kata lvan.
"Hal yang penting Tuan?" tanya Winarto
penasaran.
"Tentang keluarga Mahendra yang memiliki
saham di hotel ini, tolong sampaikan kepada
Ayahku untuk menendang mereka sebagai
pemilik saham dari Hotel ini, aku tidak ingin
sampah seperti Daryl mengotori Hotel ini
dengan kelakuan busuknya," perintah lvan.
"Menendang keluarga Mahendra?" batin
Nabila yang sangat terkejut mendengar ucapan
Ivan.
Jika lvan bisa menendang keluarga Daryl
hanya dengan ucapan, itu berarti status lvan
jauh lebih tinggi dari pada Daryl pikirnya.
Winarto langsung tersenyum bahagia
mendengar perintah lvan, dia memang sangat
tidak menyukai sikap Daryl yang semaunya di
Hotel ini.
"Tentu Tuan, akan kusampaikan hal itu
kepada Ayah Tuan lvan," kata Winarto Tegas.
Ivan tersenyum, dia lalu kembali berjalan
menuju mobilnya.
"Ivan siapa kamu sebenarnya?" tanya Nabila.
"Aku tidak akan menyembunyikan apapun
darimu, aku akan menjelaskan siapa aku saat
__ADS_1
nanti kita sampai dirumahku," balas lvan sambil
tersenyum lembut kepada Nabila.