Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 9 Wanita Yang menghancurkan Dinding Hati Ivan


__ADS_3

Ivan, Nabila dan Calvin sedang menyantap


berbagai hidangan yang disiapkan oleh Inah dan


Tuti di ruang makan kediaman lvan.


Calvin yang sangat membenci sayuran


tampak begitu lahap menyantap berbagai jenis


sayuran yang tersedia diatas meja.


"Wah, sayuran di rumah Paman lvan juga


sangat enak, ini sama enaknya dengan sayuran


yang aku santap di hotel tadi," seru Calvin begitu


mencoba sayuran yang dimasak oleh Inah dan


Tuti.


lvan kembali tertawa mendengar ucapan


Calvin, Ivan memang dulu meminta Koki di


restoran Hotel itu untuk mengajari Inah dan Tuti


secara khusus beberapa menu sayuran yang


menjadi kesukaan lvan di hotel milik


keluarganya.


"Apakah kamu sangat tidak menyukai


masakan ibumu? Aku rasa masakan ibumu tidak


seburuk itu," ucap lvan membela Nabila.


Calvin yang terus asyik menyantap sayuran


menoleh ke lvan, "Hah Paman... kamu tidak


mengetahui kengerian olahan sayur yang ibu


buat, kamu juga akan trauma sepertiku jika


kamu sudah mencicipi masakan ibu."


"Uhuk..." Nabila langsung batuk mendengar


ucapan Calvin. Dengan cepat dia menenggak air


putih yang berada di dekat piring makannya.


"Calvin," ucapnya sambil memandangi


putranya yang langsung menunduk begitu


melihat tatapan tajamnya.


Ivan yang melihat tingkah lucu ibu dan anak


itu langsung tertawa.


"Hahaha, Nabila, kamu tidak bisa


menyalahkan Calvin, bukankah anak-anak selalu


jujur dengan apa yang dia katakan," ucapnya


sambil terus tertawa.


Nabila yang sedang menatap Calvin kini


menoleh ke lvan, dia mengernyitkan alisnya dan


menatap Ivan yang sedang menertawakan


dirinya.


Deg


Ivan langsung terdiam melihat sorotan mata


Nabila, dia memperbaiki caranya duduk, dan


menatap Calvin yang sedang tertunduk.


"Hah..Pantas saja Calvin tidak berani


menatap lbunya..!" batin lvan yang ikut


merasakan horor dari tatapan Nabila.


"A-aku rasa masakan ibumu tidak seburuk


itu, aku yakin sayuran yang di masak ibumu


sama enaknya dengan sayuran ini," kata lvan


sambil berpura-pura menasehati Calvin.


Nabila kembali tersenyum, mereka bertiga


lalu melanjutkan menyantap hidangan yang


berada di meja, saat itu lvan mendapat pelajaran


berharga, seburuk apapun masakan wanita,


jangan pernah membahas itu langsung di depan


wanita yang bersangkutan.


Kalau tidak kamu akan merasakan mati rasa


secara tiba-tiba.


"Aku akan memasak sayuran untuk kalian


berdua nanti, aku sudah di ajari oleh Bi Inah dan


Bi Tuti tadi, aku akan menunjukkan kepada


kalian berdua jika sayuran yang aku masak tidak


seburuk apa yang kalian berdua pikirkan," tegas


Nabila membela diri.


Mendengar itu Calvin segera menoleh ke


Nabila, "Benarkah ibu? Bagaimana jika besok?"


tanya Calvin dengan mata berbinar-binar.


"Besok?" Dengan cepat Nabila menoleh ke


Calvin, jika dia mengikuti permintaan putranya


itu berarti besok mereka berdua harus makan di


tempat ini lagi bersama lvan.


"Tapi..."


"Aku setuju, lebih cepat lebih baik, kita


harus mengklarifikasi tuduhan tanpa bukti dari


Calvin yang mengatakan jika masakanmu tidak


enak," sela lvan menimpali.


Nabila menghela nafasnya pelan, dia


menganggukkan kepalanya, dia benar-benar


dibuat tidak berdaya oleh kombinasi ucapan lvan


dan Calvin.


"Baiklah, besok aku akan memasak sayuran


untuk kalian berdua," jawabnya sambil


memegang jidatnya tak percaya jika besok dia


harus kembali ke rumah ini laai.


Nabila tentu saja merasa senang berada di

__ADS_1


rumah lvan, dia hanya merasa tidak enak jika


harus terus merepotkan Ivan dengan


kehadirannya.


"Yey... berarti hari ini kita akan menginap


dirumah Paman lvan?" tanya Calvin yang tampak


bersemangat.


"Menginap?" Nabila terlihat sangat terkejut


mendengar pertanyaan Calvin.


Begitupun dengan lvan, berhubung hari


sudah larut malam, dia tentu saja berniat


menawarkan itu kepada Nabila, dia tidak pernah


menyangka jika Calvin memiliki pemikiran yang


sama dengannya.


"Calvin, lbu rasa-" belum selesai Nabila


berbicara


"Aku setuju, ini sudah larut malam, dan aku


akan kembali mengingatkan jika kamu sudah


berjanji untuk menjelaskan terkait insiden tadi


kepadaku," potong lvan yang juga meminta


Nabila agar menginap di rumahnya.


Nabila kembali terdiam, dia memang sudah


berjanji kepada lvan untuk menjelaskan


mengapa Daryl menyebut nama Qaila sebagai


ibu Calvin dan bukan namanya.


Dia menoleh ke Putranya yang sedang


menatapnya dengan tatapan penuh permohonan,


dia juga kembali teringat bagaimana wajah


putranya yang tampak sangat bahagia ketika


bermain di ruangan lvan yang dipenuhi dengan


mainan.


"Hah... baiklah, tapi untuk malam ini saja,"


ucap Nabila pasrah sambil menghela nafasnya.


"Berhasil.." teriak Calvin kegirangan sambil


berdiri dan beradu telapak tangan dengan lvan


yang juga ikut tersenyum dengan keberhasilan


mereka.


Nabila yang melihat itu langsung menatap


tajam lvan dan Calvin.


"Kalian berdua bekerjasama?" seru Nabila


yang tak percaya jika putranya bekerjasama


dengan lvan agar dia mau menginap di rumah


Ivan


"Ups..." ucap Calvin keceplosan.


Ivan yang menjadi canggung segera


mengambil sayuran di meja dengan sendok dan


Sambil melirik Nabila yang sedang


menatapnya dia berkata, "Calvin makan yang


banyak, setelah itu kita bisa kembali ke ruangan


tadi."


Ivan memilih untuk berpura-pura jika


selebrasi tadi tidak pernah terjadi.


"Ba-baik Paman," jawab Calvin yang kembali


menyantap hidangan diatas meja sambil


sesekali melirik ibunya yang sedang menatap


mereka berdua.


Sambil menghela nafas kecil, "Aku


benar-benar terjebak dengan rencana kalian,"


ucap Nabila sambil menepuk jidatnya.


Calvin dan lvan menahan tawa, kepalan


tangan mereka saling menyentuh dibawah meja


untuk melanjutkan selebrasi mereka yang tadi


sempat terganggu.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga


telah selesai makan malam, Calvin yang masih


belum puas bermain kembali menuju ruangan


tempat Ivan menyimpan koleksi mainannya.


"Nabila, bisakah kamu menemani Calvin


sebentar semetara aku berganti pakaian," kata


Ivan yang masih mengenakan kemeja putih


berdasi dengan celana kain.


"Baiklah," jawab Nabila singkat disertai


senyuman indah menghiasi wajahnya.


Ivan lalu bergegas menuju kamarnya,


sementara Nabila menemani Calvin yang asyik


bermain dengan koleksi action figure milik lvan.


Beberapa menit kemudian, lvan sudah


mandi dan berganti pakaian, dia mengenakan


kemeja kaos oblong berwarna putih, dengan


celana panjang kain berwarna abu-abu,


walaupun rambutnya tidak lagi tersisir rapi, dia


masih terlihat tampan dengan model rambut


belah tengah.


Ketika dia baru saja keluar kamar, Inah


langsung menghampirinya.


"Tuan lvan, apakah kamu tidak melupakan


sesuatu?" tanya Inah sambil menatap lvan yang


sudah terlihat segar.

__ADS_1


"Melupakan sesuatu?"


Ivan mengernyitkan alisnya, matanya


mengerling menatap langit-langit.


"Hah... Tuan lvan, apakah kamu lupa jika


calon istrimu dan putranya tidak menmbawa


pakaian ganti, apakah mereka berdua harus tidur


menggunakan pakaian yang sekarang mereka


kenakan?" kata Inah mengingatkan.


Ivan sontak tersadar ketika mendengar


ucapan Inah.


"Ah... bagaimana bisa aku melupakan itu,"


kata lvan sambil mengelus dahinya sendiri. Dan


tidak sadar dengan perkataan Inah.


"Terima kasih bibi karena sudah


mengingatkanku, aku akan memesan beberapa


pakaian untuk mereka berdua," ucapnya sambil


menepuk halus pundak Inah.


"Sama-sama Tuan, sebaiknya Tuan


bergegas, calon istri Tuan lvan pasti sudah


merasa gerah karena terus menggunakan


pakaian yang sama hari ini," balas Inah.


"Terima kasih bibi karena sudah


mengingatkanku, aku akan memesan beberapa


pakaian untuk mereka berdua," ucapnya sambil


menepuk halus pundak Inah.


"Sama-sama Tuan, sebaiknya Tuan


bergegas, calon istri Tuan lvan pasti sudah


merasa gerah karena terus menggunakan


pakaian yang sama hari ini," balas Inah.


"Baiklah," kata lvan, setelah dia berjalan


cukup jauh dari Inah, dia tersadar dengan


kata-kata yang baru saja Inah ucapkan.


Dengan ekspresi wajah terkejut, dia kembali


menoleh ke Inah yang juga sedang menatapnya,


Calon istri?" tanya lvan yang akhirnya mengingat


jika Inah terus mengatakan Nabila dengan


sebutan calon istri.


"lya, bukankah Nona Nabila calon istri Tuan


Ivan?"


"Ah itu..." wajah lvan memerah, dia tampak


kesulitan menjawab pertanyaan Inah.


"Dia wanita pertama yang Tuan lvan bawa


ke rumah ini, dia juga wanita pertama yang


menginap di rumah ini, dan menurutku Nona


Nabila sangat cantik dan memiliki kepribadian


yang baik, dia wanita yang sangat cocok menjadi


istri Anda," kata Inah berpendapat.


"Apakah Anda tidak menyukai Nona Nabila?"


tanya Inah.


"Bi Inah, tentu saja aku menyukainya, hanya


saja..."


"Ketika aku memanggil Nona Nabila dengan


sebutan calon istri Tuan lvan, dia juga tampak


tidak keberatan dengan hal itu," sambung Inah.


"Benarkah?" tanya lvan bersemangat.


Harus dia akui, pesona Nabila telah


menghancurkan dinding hatinya yang tidak


pernah bisa ditembus oleh wanita manapun.


Kecantikan Nabila dan sikapnya yang


lembut tapi tetap tegas ke Calvin membuat lvan


langsung jatuh hati kepada Nabila.


Nabila yang sudah memiliki seorang putra


bukanlah sebuah kekurangan dimatanya, dia


malah menganggap itu sebagai kelebihan, Calvin


yang cerdas dan pemberani menjadi bukti jika


Nabila berhasil mendidik putranya dengan


sangat baik.


Di usia lvan yang sekarang, dia tidak lagi


mencari wanita yang hanya untuk diajak


bersenang-senang, dia mencari sosok wanita


yang layak dan pantas untuk dijadikan istri


sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya


nanti.


Dan menurutnya Nabila memiliki semua


kriteria itu pada dirinya.


"Tuan Ivan, aku sudah merawatmu sejak


masih kecil, aku sangat mengenal dirimu,


melihat sikapmu yang nyaman ketika bersama


Nabila dan putranya, aku bisa langsung tahu jika


kamu menyukai Nona Nabila,"


Ivan menunduk malu, ketika dia kembali


ingin membahas Nabila, Inah dengan cepat


menepuk lengannya dan berkata, "Apa yang


Tuan lvan lakukan, bukankah Anda harus


memesan pakaian untuk Nona Nabila dan Calvin.


"Ah.. aku lagi-lagi melupakan itu, terima


kasih bi lnah atas saran dan informasinya," kata

__ADS_1


Ivan lalu berbalik menuju ruangan tempat Nabila


dan Calvin berada.


__ADS_2