
Ivan, Nabila dan Calvin sedang menyantap
berbagai hidangan yang disiapkan oleh Inah dan
Tuti di ruang makan kediaman lvan.
Calvin yang sangat membenci sayuran
tampak begitu lahap menyantap berbagai jenis
sayuran yang tersedia diatas meja.
"Wah, sayuran di rumah Paman lvan juga
sangat enak, ini sama enaknya dengan sayuran
yang aku santap di hotel tadi," seru Calvin begitu
mencoba sayuran yang dimasak oleh Inah dan
Tuti.
lvan kembali tertawa mendengar ucapan
Calvin, Ivan memang dulu meminta Koki di
restoran Hotel itu untuk mengajari Inah dan Tuti
secara khusus beberapa menu sayuran yang
menjadi kesukaan lvan di hotel milik
keluarganya.
"Apakah kamu sangat tidak menyukai
masakan ibumu? Aku rasa masakan ibumu tidak
seburuk itu," ucap lvan membela Nabila.
Calvin yang terus asyik menyantap sayuran
menoleh ke lvan, "Hah Paman... kamu tidak
mengetahui kengerian olahan sayur yang ibu
buat, kamu juga akan trauma sepertiku jika
kamu sudah mencicipi masakan ibu."
"Uhuk..." Nabila langsung batuk mendengar
ucapan Calvin. Dengan cepat dia menenggak air
putih yang berada di dekat piring makannya.
"Calvin," ucapnya sambil memandangi
putranya yang langsung menunduk begitu
melihat tatapan tajamnya.
Ivan yang melihat tingkah lucu ibu dan anak
itu langsung tertawa.
"Hahaha, Nabila, kamu tidak bisa
menyalahkan Calvin, bukankah anak-anak selalu
jujur dengan apa yang dia katakan," ucapnya
sambil terus tertawa.
Nabila yang sedang menatap Calvin kini
menoleh ke lvan, dia mengernyitkan alisnya dan
menatap Ivan yang sedang menertawakan
dirinya.
Deg
Ivan langsung terdiam melihat sorotan mata
Nabila, dia memperbaiki caranya duduk, dan
menatap Calvin yang sedang tertunduk.
"Hah..Pantas saja Calvin tidak berani
menatap lbunya..!" batin lvan yang ikut
merasakan horor dari tatapan Nabila.
"A-aku rasa masakan ibumu tidak seburuk
itu, aku yakin sayuran yang di masak ibumu
sama enaknya dengan sayuran ini," kata lvan
sambil berpura-pura menasehati Calvin.
Nabila kembali tersenyum, mereka bertiga
lalu melanjutkan menyantap hidangan yang
berada di meja, saat itu lvan mendapat pelajaran
berharga, seburuk apapun masakan wanita,
jangan pernah membahas itu langsung di depan
wanita yang bersangkutan.
Kalau tidak kamu akan merasakan mati rasa
secara tiba-tiba.
"Aku akan memasak sayuran untuk kalian
berdua nanti, aku sudah di ajari oleh Bi Inah dan
Bi Tuti tadi, aku akan menunjukkan kepada
kalian berdua jika sayuran yang aku masak tidak
seburuk apa yang kalian berdua pikirkan," tegas
Nabila membela diri.
Mendengar itu Calvin segera menoleh ke
Nabila, "Benarkah ibu? Bagaimana jika besok?"
tanya Calvin dengan mata berbinar-binar.
"Besok?" Dengan cepat Nabila menoleh ke
Calvin, jika dia mengikuti permintaan putranya
itu berarti besok mereka berdua harus makan di
tempat ini lagi bersama lvan.
"Tapi..."
"Aku setuju, lebih cepat lebih baik, kita
harus mengklarifikasi tuduhan tanpa bukti dari
Calvin yang mengatakan jika masakanmu tidak
enak," sela lvan menimpali.
Nabila menghela nafasnya pelan, dia
menganggukkan kepalanya, dia benar-benar
dibuat tidak berdaya oleh kombinasi ucapan lvan
dan Calvin.
"Baiklah, besok aku akan memasak sayuran
untuk kalian berdua," jawabnya sambil
memegang jidatnya tak percaya jika besok dia
harus kembali ke rumah ini laai.
Nabila tentu saja merasa senang berada di
__ADS_1
rumah lvan, dia hanya merasa tidak enak jika
harus terus merepotkan Ivan dengan
kehadirannya.
"Yey... berarti hari ini kita akan menginap
dirumah Paman lvan?" tanya Calvin yang tampak
bersemangat.
"Menginap?" Nabila terlihat sangat terkejut
mendengar pertanyaan Calvin.
Begitupun dengan lvan, berhubung hari
sudah larut malam, dia tentu saja berniat
menawarkan itu kepada Nabila, dia tidak pernah
menyangka jika Calvin memiliki pemikiran yang
sama dengannya.
"Calvin, lbu rasa-" belum selesai Nabila
berbicara
"Aku setuju, ini sudah larut malam, dan aku
akan kembali mengingatkan jika kamu sudah
berjanji untuk menjelaskan terkait insiden tadi
kepadaku," potong lvan yang juga meminta
Nabila agar menginap di rumahnya.
Nabila kembali terdiam, dia memang sudah
berjanji kepada lvan untuk menjelaskan
mengapa Daryl menyebut nama Qaila sebagai
ibu Calvin dan bukan namanya.
Dia menoleh ke Putranya yang sedang
menatapnya dengan tatapan penuh permohonan,
dia juga kembali teringat bagaimana wajah
putranya yang tampak sangat bahagia ketika
bermain di ruangan lvan yang dipenuhi dengan
mainan.
"Hah... baiklah, tapi untuk malam ini saja,"
ucap Nabila pasrah sambil menghela nafasnya.
"Berhasil.." teriak Calvin kegirangan sambil
berdiri dan beradu telapak tangan dengan lvan
yang juga ikut tersenyum dengan keberhasilan
mereka.
Nabila yang melihat itu langsung menatap
tajam lvan dan Calvin.
"Kalian berdua bekerjasama?" seru Nabila
yang tak percaya jika putranya bekerjasama
dengan lvan agar dia mau menginap di rumah
Ivan
"Ups..." ucap Calvin keceplosan.
Ivan yang menjadi canggung segera
mengambil sayuran di meja dengan sendok dan
Sambil melirik Nabila yang sedang
menatapnya dia berkata, "Calvin makan yang
banyak, setelah itu kita bisa kembali ke ruangan
tadi."
Ivan memilih untuk berpura-pura jika
selebrasi tadi tidak pernah terjadi.
"Ba-baik Paman," jawab Calvin yang kembali
menyantap hidangan diatas meja sambil
sesekali melirik ibunya yang sedang menatap
mereka berdua.
Sambil menghela nafas kecil, "Aku
benar-benar terjebak dengan rencana kalian,"
ucap Nabila sambil menepuk jidatnya.
Calvin dan lvan menahan tawa, kepalan
tangan mereka saling menyentuh dibawah meja
untuk melanjutkan selebrasi mereka yang tadi
sempat terganggu.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga
telah selesai makan malam, Calvin yang masih
belum puas bermain kembali menuju ruangan
tempat Ivan menyimpan koleksi mainannya.
"Nabila, bisakah kamu menemani Calvin
sebentar semetara aku berganti pakaian," kata
Ivan yang masih mengenakan kemeja putih
berdasi dengan celana kain.
"Baiklah," jawab Nabila singkat disertai
senyuman indah menghiasi wajahnya.
Ivan lalu bergegas menuju kamarnya,
sementara Nabila menemani Calvin yang asyik
bermain dengan koleksi action figure milik lvan.
Beberapa menit kemudian, lvan sudah
mandi dan berganti pakaian, dia mengenakan
kemeja kaos oblong berwarna putih, dengan
celana panjang kain berwarna abu-abu,
walaupun rambutnya tidak lagi tersisir rapi, dia
masih terlihat tampan dengan model rambut
belah tengah.
Ketika dia baru saja keluar kamar, Inah
langsung menghampirinya.
"Tuan lvan, apakah kamu tidak melupakan
sesuatu?" tanya Inah sambil menatap lvan yang
sudah terlihat segar.
__ADS_1
"Melupakan sesuatu?"
Ivan mengernyitkan alisnya, matanya
mengerling menatap langit-langit.
"Hah... Tuan lvan, apakah kamu lupa jika
calon istrimu dan putranya tidak menmbawa
pakaian ganti, apakah mereka berdua harus tidur
menggunakan pakaian yang sekarang mereka
kenakan?" kata Inah mengingatkan.
Ivan sontak tersadar ketika mendengar
ucapan Inah.
"Ah... bagaimana bisa aku melupakan itu,"
kata lvan sambil mengelus dahinya sendiri. Dan
tidak sadar dengan perkataan Inah.
"Terima kasih bibi karena sudah
mengingatkanku, aku akan memesan beberapa
pakaian untuk mereka berdua," ucapnya sambil
menepuk halus pundak Inah.
"Sama-sama Tuan, sebaiknya Tuan
bergegas, calon istri Tuan lvan pasti sudah
merasa gerah karena terus menggunakan
pakaian yang sama hari ini," balas Inah.
"Terima kasih bibi karena sudah
mengingatkanku, aku akan memesan beberapa
pakaian untuk mereka berdua," ucapnya sambil
menepuk halus pundak Inah.
"Sama-sama Tuan, sebaiknya Tuan
bergegas, calon istri Tuan lvan pasti sudah
merasa gerah karena terus menggunakan
pakaian yang sama hari ini," balas Inah.
"Baiklah," kata lvan, setelah dia berjalan
cukup jauh dari Inah, dia tersadar dengan
kata-kata yang baru saja Inah ucapkan.
Dengan ekspresi wajah terkejut, dia kembali
menoleh ke Inah yang juga sedang menatapnya,
Calon istri?" tanya lvan yang akhirnya mengingat
jika Inah terus mengatakan Nabila dengan
sebutan calon istri.
"lya, bukankah Nona Nabila calon istri Tuan
Ivan?"
"Ah itu..." wajah lvan memerah, dia tampak
kesulitan menjawab pertanyaan Inah.
"Dia wanita pertama yang Tuan lvan bawa
ke rumah ini, dia juga wanita pertama yang
menginap di rumah ini, dan menurutku Nona
Nabila sangat cantik dan memiliki kepribadian
yang baik, dia wanita yang sangat cocok menjadi
istri Anda," kata Inah berpendapat.
"Apakah Anda tidak menyukai Nona Nabila?"
tanya Inah.
"Bi Inah, tentu saja aku menyukainya, hanya
saja..."
"Ketika aku memanggil Nona Nabila dengan
sebutan calon istri Tuan lvan, dia juga tampak
tidak keberatan dengan hal itu," sambung Inah.
"Benarkah?" tanya lvan bersemangat.
Harus dia akui, pesona Nabila telah
menghancurkan dinding hatinya yang tidak
pernah bisa ditembus oleh wanita manapun.
Kecantikan Nabila dan sikapnya yang
lembut tapi tetap tegas ke Calvin membuat lvan
langsung jatuh hati kepada Nabila.
Nabila yang sudah memiliki seorang putra
bukanlah sebuah kekurangan dimatanya, dia
malah menganggap itu sebagai kelebihan, Calvin
yang cerdas dan pemberani menjadi bukti jika
Nabila berhasil mendidik putranya dengan
sangat baik.
Di usia lvan yang sekarang, dia tidak lagi
mencari wanita yang hanya untuk diajak
bersenang-senang, dia mencari sosok wanita
yang layak dan pantas untuk dijadikan istri
sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya
nanti.
Dan menurutnya Nabila memiliki semua
kriteria itu pada dirinya.
"Tuan Ivan, aku sudah merawatmu sejak
masih kecil, aku sangat mengenal dirimu,
melihat sikapmu yang nyaman ketika bersama
Nabila dan putranya, aku bisa langsung tahu jika
kamu menyukai Nona Nabila,"
Ivan menunduk malu, ketika dia kembali
ingin membahas Nabila, Inah dengan cepat
menepuk lengannya dan berkata, "Apa yang
Tuan lvan lakukan, bukankah Anda harus
memesan pakaian untuk Nona Nabila dan Calvin.
"Ah.. aku lagi-lagi melupakan itu, terima
kasih bi lnah atas saran dan informasinya," kata
__ADS_1
Ivan lalu berbalik menuju ruangan tempat Nabila
dan Calvin berada.