Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 11 Akan Kuganti Air Matamu Dengan Kebahagiaan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,


Ivan menggendong Calvin yang tertidur menuju


kamar tamu bersama Nabila.


Setelah sampai di dalam kamar, dengan


lembut lvan membaringkan tubuh Calvin yang


sedang tertidur pulas, tak lupa dia menutup


tubuh Calvin dengan selimut lalu mengecup


kening Calvin dengan lembut kayaknya seorang


ayah.


"Mimpi yang indah jagoan !!" ucap lvan


dengan lembut sambil tersenyum hangat.


Perasaan aneh menyelimuti Nabila ketika


melihat Ivan mengucapkan selamat tidur kepada


putranya, rasa senang bercampur haru membuat


matanya berkaca-kaca melihat putra yang dia


sayangi mendapat perlakuan lembut dari orang


lain


Ivan lalu berjalan menghampiri Nabila yang


sedang menatapnya, karena terbawa suasana,


tanpa lvan sadari, lvan melakukan hal yang sama


kepada Nabila.


Cup!


Ivan mengecup kening Nabila, sambil


tersenyum dia berkata.


"Kamu juga sebaiknya istirahat." suara berat


Ivan dengan begitu lembut


Setelah mengatakan itu dia berjalan menuju


pintu kamar, tepat sebelum dia membuka pintu,


Ivan tiba-tiba berhenti karena menyadari sudah


melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia


lakukan


Deg


"Ah.. dasar bodoh !! Apa yang baru saja aku


lakukan..!" umpatnya dalam hati ketika


menyadari dia tanpa sadar sudah mengecup


kening Nabila tanpa permisi.


Perlahan dia kembali menoleh ke Nabila, dia


mendapati Nabila yang sedang menatapnya


dengan ekspresi wajah kebingungan sambil


menyentuh dahinya yang baru saja di kecup oleh


Ivan.


"Na-nabila, aku.." Ivan tersenyum canggung,


dia tidak bisa memikirkan alasan dari tindakan


yang baru saja dia lakukan.


Nabila berjalan mendekatinya, membuat


Ivan sedikit merasa ketakutan karena mengira


jika Nabila sedang marah kepadanya.


Ketika Nabila sudah berada di depannya,


Ivan sontak menutup matanya, di pikirannya


Nabila yang marah sudah pasti akan


menamparnya.


"Matilah aku.!" batin lvan.


"Kenapa kamu menutup matamu Ivan..?!"


tanya Nabila sambil tertawa kecil.


Ivan perlahan membuka matanya, dia


mendapati Nabila yang sedang tersenyum


kepadanya.


"Ka-kamu tidak marah..?" tanya lvan dengan


suara terbata-bata.


"Marah? Kenapa ?" tanya Nabila balik.


"Itu karena aku sudah mengecup keningmu,


jadi..." Ivan menggantung kalimatnya ragu untuk


melanjutkannya.


Nabila kembali tertawa, wajahnya semakin


cantik tatkala terkena sinar lampu yang sedikit


redup.


"Aku tidak akan marah padamu hanya


karena hal itu lvan, aku tahu kalau kamu


melakukannya secara tidak sadar...? Benarkan..?


Atau..?!" ucap Nabila sambil terus tertawa dan


kembali menggoda lvan.


"Ten-tentu saja Nabila...Hufttt.." van


bernafas lega, dia sudah bersiap jika Nabila ingin


menamparnya karena sudah bertindak kurang


ajar.


Ketika lvan hendak berbalik kembali ke

__ADS_1


kamarnya, Nabila meraih tangan lvan.


"Aku sudah janji untuk menceritakan


tentang Ibu Calvin kepadamu, jadi.." kata Nabila


sambil tersenyum dengan wajah yang sedikit


menunduk.


Ivan membalas senyuman Nabila, "Tentu


saja, ayo kita ke balkon lantai dua, kamu bisa


bercerita sambil memandangi bintang-bintang


dari sana." ucapnya lembut.


Nabila lalu melepaskan tangan lvan, ketika


dia hendak melangkah keluar kamar, dia sedikit


terkejut karena Ivan kembali memegang


tangannya.


Tanpa menoleh ke Nabila, Ivan berjalan


menuntun Nabila menuju balkon yang berada di


lantai dua.


Deg


Begitu tiba di balkon, lvan mempersilakan


Nabila duduk kursi panjang yang berada di


balkon itu, dia sendiri lalu duduk di kursi yang


tepat berada disamping kursi Nabila.


"Silahkan Nabila...Disini kamu bisa


mendapatkan pemandangan yang indah.." ujar


Ivan.


"Terima kasih lvan," balas Nabila singkat


yang langsung dibalas senyuman oleh lvan.


Dibawah kemerlap bintang malam itu,


Nabila lalu mulai menceritakan kisahnya kepada


Ivan.


"Aku berasal dari keluarga Pratama. Calvin


bukanlah putra kandungku, dia adalah putra


mendiang kakak ku bernama Qaila yang


meninggal sesaat setelah melahirkan Calvin


saat itu. "


"Orang tua ku sendiri sudah pergi terlebih


dahulu dalam insiden kecelakaan mobil yang


terjadi beberapa bulan sebelum lbu Calvin


meninggal.." lanjut Nabila dengan mata


berkaca-kaca.


Calvin saat ini adalah adik dari ayahku, yang


akhirnya menjadi kepala keluarga Pratama saat


ini." terang Nabila.


"Semua itu terjadi ketika aku berstatus


mahasiswi semester akhir di salah satu


Universitas ternama di Jakarta. Mendiang


kakakku sendiri terus merahasiakan ayah dari


janin yang dikandungnya saat itu, jadi hal itu


yang membuat Paman dan Bibi merasa geram.."


"Karena itulah sejak Calvin lahir di dunia,


Calvin tidak pernah disukai oleh keluarga besar,


Calvin tidak pernah diakui sebagai anggota


keluarga Pratama, hal itu yang membuat dirikj


terpaksa meninggalkan bangku kuliah yang


tinggal sedikit lagi adalah kelulusanku." dengan


lirih


"Jadi dia membuang cita-cita dan mimpinya


untuk mengurus Calvin.?" batin lvan menatap


Nabila yang mulai tidak bisa mengendalikan air


matanya.


Dada Nabila tiba-tiba terasa sesak harus


kembali mengingat kejadian itu. Tapi sebisa


mungkin Nabila melanjutkan ceritanya.


"Aku yang saat itu berstatus lulusan SMA


tanpa pekerjaan, mau tidak mau, harus


menggantungkan hidupku dan Calvin dari uang


pemberian paman dan bibi, walaupun paman


dan bibin tidak menyukai diriku dan Calvin,


mereka tetap tidak bisa menendang aku keluar


dari rumah, hal itu karena aku juga berhak


mendapatkan uang atas bisnis keluarga


Pratama, mendiang ayah adalah sosok yang


telah membuat usaha keluarga Pratama menjadi


besar" terang Nabila.


"Tapi sayangnya akhir-akhir ini kondisi


bisnis keluarga Pratama kurang baik, jadi untuk


menyelamatkan bisnis keluarga mereka, paman

__ADS_1


akhirnya mengatur perjodohan ku dengan Daryl


yang merupakan dari keluarga Mahendra,


dengan perjanjian keluarga Mahendra akan


membantu bisnis keluarga Pratama yang


sedang bermasalah" jujur Nabila.


Buka


Ivan kagum begitu mendengar cerita Nabila,


di usia muda Nabila terpaksa membuang


hidupnya untuk mengurus Calvin, dia juga


akhirnya mengerti mengapa Calvin mengatakan


jika Kakek dan Neneknya bukanlah orang baik.


"Ternyata seperti itu masalahnya.." batin


Ivan mulau mengerti masalah pelik yang di lalui


Nabila dan Calvin.


"****.!! Menyelamatkan keluarga? Itu lebih


terdengar seperti menjual Nabila kepada


keluarga Mahendra..!" geram lvan dalam hati


mengutuk Paman dan Bibi Nabila.


Ivan bangkit dari duduknya dan


menghampiri Nabila yang sedang menangis,


Ivan lalu duduk di kursi panjang tempat Nabila


duduk, perlahan dia mengulurkan tangannya, dia


memberanikan diri mengelus kepala Nabila yang


sedang bederai airmata.


"Maafkan aku, aku tiba-tiba tidak bisa


menahan air mataku.." sendu Nabila sambil


berusaha menyeka airmatanya yang terus keluar


tak terkendali.


Ivan menatap Nabila dengan tatapan sendu,


sambil tetap mengelus kepala Nabila, "Nabila,


terkadang menangis adalah hal yang paling baik


dilakukan untuk menghibur dirimu yang sedang


tersakiti..Hmm..?" ucap nya lembut.


"Kamu tidak perlu menahan airmatamu,


biarkan itu tumpah bersama rasa sakit yang


sudah k.


kamu alami selama ini, kamu sangat


hebat karena bisa bertahan menjalani semuanya


..." lanjut lvan dengan lembut sambil terus


mengelus rambut indah Nabila.


Emosi Nabila tiba-tiba meluap tatkala


mendengar perkataan lvan, ini pertama kalinya


dia berkeluh kesah tentang kehidupan tidak


menyenangkan yang sedang dia jalani, setelah


ayah, ibu dan kakaknya meninggal, dia tidak lagi


mempunyai tempat untuk menceritakan


permasalahannya.


Luapan emosi yang tiba-tiba itu membuat


airmatanya mengalir deras, tanpa sadar Nabila


menyandarkan kepalanya ke dada lvan


Nabila menangis terisak, suara tangisannya


benar-benar menyayat hati, lvan tidak bisa


membayangkan seberat apa kehidupan yang


tengah Nabila jalani saat ini, namun dari


tangisan kepedihan Nabila. Dia tahu jika Nabila


sangat tersiksa dengan kehidupannya saat ini.


"Ayah... ibu. kakak... mengapa kalian


meninggalkanku dan Calvin..."


"Aku tidak peduli dengan hidupku, aku cuma


tidak kuat melihat Calvin terus menderita karena


keadaan ini.." lirih Nabila dalam tangisannya.


"Calvin? Jadi dia menangis karena


memikirkan Calvin?" batin lvan, dia sangat


terkejut mendengar perkataan Nabila.


Cinta Nabila kepada Calvin membuatnya


semakin mengagumi sosok wanita yang sedang


menangis di dekapannya.


Ivan memeluk kepala Nabila, lalu


menyandarkan pipinya di kepala Nabila yang


sedang menangis terisak. Memeluk Nabila


kedalam dekapannya.


"Biarkan aku masuk kedalam hidupmu


Nabila, biarkan aku yang menjagamu dan Calvin,


akan kuganti airmatamu yang saat ini tumpah


dengan kebahagiaan, Nabila... sepertinya aku


jatuh cinta kepadamu." bisik lvan tepat di telinga

__ADS_1


Nabila.


__ADS_2