
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam,
Ivan menggendong Calvin yang tertidur menuju
kamar tamu bersama Nabila.
Setelah sampai di dalam kamar, dengan
lembut lvan membaringkan tubuh Calvin yang
sedang tertidur pulas, tak lupa dia menutup
tubuh Calvin dengan selimut lalu mengecup
kening Calvin dengan lembut kayaknya seorang
ayah.
"Mimpi yang indah jagoan !!" ucap lvan
dengan lembut sambil tersenyum hangat.
Perasaan aneh menyelimuti Nabila ketika
melihat Ivan mengucapkan selamat tidur kepada
putranya, rasa senang bercampur haru membuat
matanya berkaca-kaca melihat putra yang dia
sayangi mendapat perlakuan lembut dari orang
lain
Ivan lalu berjalan menghampiri Nabila yang
sedang menatapnya, karena terbawa suasana,
tanpa lvan sadari, lvan melakukan hal yang sama
kepada Nabila.
Cup!
Ivan mengecup kening Nabila, sambil
tersenyum dia berkata.
"Kamu juga sebaiknya istirahat." suara berat
Ivan dengan begitu lembut
Setelah mengatakan itu dia berjalan menuju
pintu kamar, tepat sebelum dia membuka pintu,
Ivan tiba-tiba berhenti karena menyadari sudah
melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia
lakukan
Deg
"Ah.. dasar bodoh !! Apa yang baru saja aku
lakukan..!" umpatnya dalam hati ketika
menyadari dia tanpa sadar sudah mengecup
kening Nabila tanpa permisi.
Perlahan dia kembali menoleh ke Nabila, dia
mendapati Nabila yang sedang menatapnya
dengan ekspresi wajah kebingungan sambil
menyentuh dahinya yang baru saja di kecup oleh
Ivan.
"Na-nabila, aku.." Ivan tersenyum canggung,
dia tidak bisa memikirkan alasan dari tindakan
yang baru saja dia lakukan.
Nabila berjalan mendekatinya, membuat
Ivan sedikit merasa ketakutan karena mengira
jika Nabila sedang marah kepadanya.
Ketika Nabila sudah berada di depannya,
Ivan sontak menutup matanya, di pikirannya
Nabila yang marah sudah pasti akan
menamparnya.
"Matilah aku.!" batin lvan.
"Kenapa kamu menutup matamu Ivan..?!"
tanya Nabila sambil tertawa kecil.
Ivan perlahan membuka matanya, dia
mendapati Nabila yang sedang tersenyum
kepadanya.
"Ka-kamu tidak marah..?" tanya lvan dengan
suara terbata-bata.
"Marah? Kenapa ?" tanya Nabila balik.
"Itu karena aku sudah mengecup keningmu,
jadi..." Ivan menggantung kalimatnya ragu untuk
melanjutkannya.
Nabila kembali tertawa, wajahnya semakin
cantik tatkala terkena sinar lampu yang sedikit
redup.
"Aku tidak akan marah padamu hanya
karena hal itu lvan, aku tahu kalau kamu
melakukannya secara tidak sadar...? Benarkan..?
Atau..?!" ucap Nabila sambil terus tertawa dan
kembali menggoda lvan.
"Ten-tentu saja Nabila...Hufttt.." van
bernafas lega, dia sudah bersiap jika Nabila ingin
menamparnya karena sudah bertindak kurang
ajar.
Ketika lvan hendak berbalik kembali ke
__ADS_1
kamarnya, Nabila meraih tangan lvan.
"Aku sudah janji untuk menceritakan
tentang Ibu Calvin kepadamu, jadi.." kata Nabila
sambil tersenyum dengan wajah yang sedikit
menunduk.
Ivan membalas senyuman Nabila, "Tentu
saja, ayo kita ke balkon lantai dua, kamu bisa
bercerita sambil memandangi bintang-bintang
dari sana." ucapnya lembut.
Nabila lalu melepaskan tangan lvan, ketika
dia hendak melangkah keluar kamar, dia sedikit
terkejut karena Ivan kembali memegang
tangannya.
Tanpa menoleh ke Nabila, Ivan berjalan
menuntun Nabila menuju balkon yang berada di
lantai dua.
Deg
Begitu tiba di balkon, lvan mempersilakan
Nabila duduk kursi panjang yang berada di
balkon itu, dia sendiri lalu duduk di kursi yang
tepat berada disamping kursi Nabila.
"Silahkan Nabila...Disini kamu bisa
mendapatkan pemandangan yang indah.." ujar
Ivan.
"Terima kasih lvan," balas Nabila singkat
yang langsung dibalas senyuman oleh lvan.
Dibawah kemerlap bintang malam itu,
Nabila lalu mulai menceritakan kisahnya kepada
Ivan.
"Aku berasal dari keluarga Pratama. Calvin
bukanlah putra kandungku, dia adalah putra
mendiang kakak ku bernama Qaila yang
meninggal sesaat setelah melahirkan Calvin
saat itu. "
"Orang tua ku sendiri sudah pergi terlebih
dahulu dalam insiden kecelakaan mobil yang
terjadi beberapa bulan sebelum lbu Calvin
meninggal.." lanjut Nabila dengan mata
berkaca-kaca.
Calvin saat ini adalah adik dari ayahku, yang
akhirnya menjadi kepala keluarga Pratama saat
ini." terang Nabila.
"Semua itu terjadi ketika aku berstatus
mahasiswi semester akhir di salah satu
Universitas ternama di Jakarta. Mendiang
kakakku sendiri terus merahasiakan ayah dari
janin yang dikandungnya saat itu, jadi hal itu
yang membuat Paman dan Bibi merasa geram.."
"Karena itulah sejak Calvin lahir di dunia,
Calvin tidak pernah disukai oleh keluarga besar,
Calvin tidak pernah diakui sebagai anggota
keluarga Pratama, hal itu yang membuat dirikj
terpaksa meninggalkan bangku kuliah yang
tinggal sedikit lagi adalah kelulusanku." dengan
lirih
"Jadi dia membuang cita-cita dan mimpinya
untuk mengurus Calvin.?" batin lvan menatap
Nabila yang mulai tidak bisa mengendalikan air
matanya.
Dada Nabila tiba-tiba terasa sesak harus
kembali mengingat kejadian itu. Tapi sebisa
mungkin Nabila melanjutkan ceritanya.
"Aku yang saat itu berstatus lulusan SMA
tanpa pekerjaan, mau tidak mau, harus
menggantungkan hidupku dan Calvin dari uang
pemberian paman dan bibi, walaupun paman
dan bibin tidak menyukai diriku dan Calvin,
mereka tetap tidak bisa menendang aku keluar
dari rumah, hal itu karena aku juga berhak
mendapatkan uang atas bisnis keluarga
Pratama, mendiang ayah adalah sosok yang
telah membuat usaha keluarga Pratama menjadi
besar" terang Nabila.
"Tapi sayangnya akhir-akhir ini kondisi
bisnis keluarga Pratama kurang baik, jadi untuk
menyelamatkan bisnis keluarga mereka, paman
__ADS_1
akhirnya mengatur perjodohan ku dengan Daryl
yang merupakan dari keluarga Mahendra,
dengan perjanjian keluarga Mahendra akan
membantu bisnis keluarga Pratama yang
sedang bermasalah" jujur Nabila.
Buka
Ivan kagum begitu mendengar cerita Nabila,
di usia muda Nabila terpaksa membuang
hidupnya untuk mengurus Calvin, dia juga
akhirnya mengerti mengapa Calvin mengatakan
jika Kakek dan Neneknya bukanlah orang baik.
"Ternyata seperti itu masalahnya.." batin
Ivan mulau mengerti masalah pelik yang di lalui
Nabila dan Calvin.
"****.!! Menyelamatkan keluarga? Itu lebih
terdengar seperti menjual Nabila kepada
keluarga Mahendra..!" geram lvan dalam hati
mengutuk Paman dan Bibi Nabila.
Ivan bangkit dari duduknya dan
menghampiri Nabila yang sedang menangis,
Ivan lalu duduk di kursi panjang tempat Nabila
duduk, perlahan dia mengulurkan tangannya, dia
memberanikan diri mengelus kepala Nabila yang
sedang bederai airmata.
"Maafkan aku, aku tiba-tiba tidak bisa
menahan air mataku.." sendu Nabila sambil
berusaha menyeka airmatanya yang terus keluar
tak terkendali.
Ivan menatap Nabila dengan tatapan sendu,
sambil tetap mengelus kepala Nabila, "Nabila,
terkadang menangis adalah hal yang paling baik
dilakukan untuk menghibur dirimu yang sedang
tersakiti..Hmm..?" ucap nya lembut.
"Kamu tidak perlu menahan airmatamu,
biarkan itu tumpah bersama rasa sakit yang
sudah k.
kamu alami selama ini, kamu sangat
hebat karena bisa bertahan menjalani semuanya
..." lanjut lvan dengan lembut sambil terus
mengelus rambut indah Nabila.
Emosi Nabila tiba-tiba meluap tatkala
mendengar perkataan lvan, ini pertama kalinya
dia berkeluh kesah tentang kehidupan tidak
menyenangkan yang sedang dia jalani, setelah
ayah, ibu dan kakaknya meninggal, dia tidak lagi
mempunyai tempat untuk menceritakan
permasalahannya.
Luapan emosi yang tiba-tiba itu membuat
airmatanya mengalir deras, tanpa sadar Nabila
menyandarkan kepalanya ke dada lvan
Nabila menangis terisak, suara tangisannya
benar-benar menyayat hati, lvan tidak bisa
membayangkan seberat apa kehidupan yang
tengah Nabila jalani saat ini, namun dari
tangisan kepedihan Nabila. Dia tahu jika Nabila
sangat tersiksa dengan kehidupannya saat ini.
"Ayah... ibu. kakak... mengapa kalian
meninggalkanku dan Calvin..."
"Aku tidak peduli dengan hidupku, aku cuma
tidak kuat melihat Calvin terus menderita karena
keadaan ini.." lirih Nabila dalam tangisannya.
"Calvin? Jadi dia menangis karena
memikirkan Calvin?" batin lvan, dia sangat
terkejut mendengar perkataan Nabila.
Cinta Nabila kepada Calvin membuatnya
semakin mengagumi sosok wanita yang sedang
menangis di dekapannya.
Ivan memeluk kepala Nabila, lalu
menyandarkan pipinya di kepala Nabila yang
sedang menangis terisak. Memeluk Nabila
kedalam dekapannya.
"Biarkan aku masuk kedalam hidupmu
Nabila, biarkan aku yang menjagamu dan Calvin,
akan kuganti airmatamu yang saat ini tumpah
dengan kebahagiaan, Nabila... sepertinya aku
jatuh cinta kepadamu." bisik lvan tepat di telinga
__ADS_1
Nabila.