Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 8 Tawa Si Kecil Calvin


__ADS_3

Kdiaman lvan terus membuat Nabila


terkejut, tidak hanya luas, rumah lvan juga berisi


barang-barang mewah dari berbagai negara,


penataan ruangan dan juga desain dari tiap


ruangan yang dia lewati terus membuatnya


takjub.


"Ini kamar Nona Nabila," kata Inah saat


mereka tiba di depan pintu kamar yang berada di


lantai dua.


"Terima kasih Bi Inah," balas Nabila, dia lalu


membuka pintu dan memasuki kamar itu.


Ditemani dua pelayan lvan, Nabila


melihat-lihat keadaan kamar itu, dalam hati dia


kembali memuji kemewahan kamar yang


dipersiapkan untuknya.


"Kamar ini benar-benar indah," puji Nabila


yang tampak terpesona dengan desain interior


kamar itu.


"Baguslah jika Nona Nabila menyukainya,


Nona bisa beristirahat disini terlebih dahulu, aku


akan memanggil Nona Nabila saat makanannya


sudah siap," ucap Tuti dengan sopan.


"Terima kasih Bi Tuti," balas Nabila singkat.


Saat Inah dan Tuti hendak keluar, Nabila


tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Ah. mengapa aku malah berterima kasih,


aku tidak seharusnya berada di kamar ini," batin


Nabila.


Dia benar-benar terbawa arus pembicaraan


sampai-sampai dia lupa untuk menjelaskan


bahwa dia hanya sebentar di rumah ini,


rencananya setelah makan malam dia dan


putranya akan langsung pulang meninggalkan


kediaman Ivan.


"Bi Inah, tunggu.."


Inah yang hendak pergi meninggalkan


kamar itu kembali menoleh ke Nabila.


"Ada apa Nona muda?" tanya Inah.


"Maaf Bi, aku lupa memberitahu jika aku


dan putraku akan segera pulang setelah makan


malam jadi Bibi tidak perlu repot-repot


menyiapkan kamar untuk kami berdua," kata


Nabila menjelaskan.


"Nona Nabila tidak usah mengkhawatirkan


itu, ini pertama kalinya Tuan lvan membawa


tamu wanita ke rumah, kami sangat


bersemangat dan sepertinya akan memasak


banyak hidangan malam ini, kamar ini hanya


untuk berjaga-jaga jika Nona Nabila lelah


menunggu kami menyiapkan hidangan," ucap


Inah sambil tersenyum kepada Nabila.


Nabila membalas senyuman Inah, dia


berkata, "Bibi, aku bukan Tuan putri yang


terbiasa menunggu sampai hidangan siap di


meja, bagaimana jika aku membantu kalian


berdua?"


Inah dan Tuti tersenyum sumringah, Tuti


yang sangat menyukai kepribadian Nabila segera


menarik tangan Nabila.


"Tuan lvan benar-benar beruntung memiliki


calon istri sepertimu, ayo kita menuju dapur,


untuk menyiapkan makanan terbaik untuk Tuan


Ivan dan Tuan Muda Calvin," seru Tuti


bersemangat.


"Calon istri? Tapi..."


"Sudah Nona Nabila, ayo kita bergegas


menuju dapur, kasihan jika Tuan Muda Calvin


harus menunggu lama," kata Inah memotong

__ADS_1


ucapan Nabila.


Nabila lagi-lagi tidak diberikan kesempatan


untuk mengklarifikasi statusnya oleh kedua


pelayan di rumah van, dia hanya bisa menghela


nafasnya pasrah mengikuti Inah dan Tuti


menuju dapur kediaman lvan.


Di salah satu ruangan di rumah Ivan, mata


Calvin langsung berbinar-binar begitu memasuki


ruangan yang menjadi tempat Ivan menyimpan


semua mainan kesukaannya.


Mulai dari action Figure, model replika


kereta api, replika alat transportasi, dan berbagai


jenis mainan kendaraan mewah memenuhi


ruangan itu.


Ivan tampak tersenyum puas ketika melihat


ekspresi wajahnya Calvin, ruangan ini adalah


ruangan yang dipenuhi barang-barang yang


menjadi hobinya sejak masih kecil.


"Gundam. Iron Man. Batman.. Luffy.


Naruto.. wahh..." teriak Calvin menyebut


beberapa action figure berukuran 30 cm yang


berada di ruangan itu.


"Bagaimana? Apakah kamu menyukai


ruangan rahasia Paman?" tanya lvan.


"lya Paman!" teriak Calvin sambil


mengangkat kedua tangannya.


Dia lalu berkeliling ruangan yang CUkup luas


itu sambil terus memandangi mainan koleksi


Ivan dengan perasaan takjub.


Namun setelah berkeliling, Calvin tampak


menunduk lesu, dia lalu duduk dilantai sambil


memandangi koleksi mainan Ivan yang sangat


menggiurkan bagi anak seusia dirinya.


Ivan yang melihat perubahan ekspresi


Calvin segera menghampiri Calvin lalu duduk


"Mengapa kamu terlihat sedih? Apa kamu


tidak menyukai mainan Paman?" tanya lvan


penasaran.


Calvin menggelengkan kepalanya, dengan


wajah yang masih tetap menunduk dia berkata,


Aku pernah datang ke rumah salah satu teman


sekolahku, dia juga memiliki beberapa mainan


seperti itu." Calvin lalu menunjuk sudut ruangan


yang menjadi tempat lvan menaruh koleksi


action figurenya.


"Lalu ada apa dengan itu?" tanya lvan


kembali.


"Ketika aku dan teman-teman ku ingin


menyentuh mainan itu, ayah temanku sangat


marah, dia berkata jika mainan-mainan itu


sangat mahal, jika tidak berhati-hati kami bisa


merusaknya, karena itulah dia melarang kami


menyentuh mainan seperti itu," ucap Calvin


menjelaskan.


Ivan tersenyum, dia lalu mengelus kepala


Calvin, dia juga tidak menyalahkan ayah teman


Calvin yang berbuat seperti itu, harga action


figure memang tidaklah murah.


Namun dia sendiri berprinsip berbeda,


alasan dia mengumpulkan mainan ini karena


kelak dia berharap jika nanti dia memiliki


seorang putra, dia akan menghabiskan waktu


luangnya dengan putranya sambil memainkan


berbagai mainan yang telah dia kumpulkan di


ruangan ini.


"Ayah temanmu tidak salah, memang


mainan seperti itu harganya mahal, jadi kamu


tidak boleh sembarang menyentuh mainan

__ADS_1


seperti ini ketika kamu berada dirumah orang


lain," kata lvan


Mendengar itu ekspresi wajah Calvin


semakin sedih.


"Tapi jika di rumah Paman beda ceritanya,


kamu bebas bermain sepuasmu di ruangan ini,


tentu saja kamu tetap harus berhati-hati,"


sambung lvan.


"Benarkah Paman? wajah Calvin kembali


bersemangat mendengar penjelasan lvan.


Matanya berbinar-binar. Sungguh


menggemaskan.


"Tapi bagaimana jika aku tidak sengaja


merusaknya?" tanya Calvin lagi yang kembali


tertunduk lesu.


"Tinggal diperbaiki!" jawab lvan singkat


dan mengedipkan satu matanya.


"Bagaimana jika mainan itu tidak bisa


diperbaiki?"


lvan tersenyum, dia kembali mengelus


kepala Calvin.


"Berarti sudah waktunya mainan itu diganti,"


jawab lvan singkat sambil terus mengelus


kepala Calvin.


Calvin langsung kembali bersemangat, dia


berkata, "Terima kasih Paman, aku akan


berhati-hati."


Calvin lalu memeluk tubuh van, setelah itu


dia kembali berkeliling dan memilih beberapa


mainan yang hendak dia mainkan.


Nabila baru saja selesai mnenyiapkan


makanan bersama Inah dan Tuti, dia lalu pamit


untuk memanggil lvan dan Calvin sambil


menunggu Inah dan Tuti menyiapkan makanan


di meja.


Nabila yang masih bingung dengan ruangan


di kediaman lvan meminta Inah agar


menunjukkan ruangan tempat lvan dan Calvin


berada, setelah menunjukkan ruangan itu, Inah


kembali ke ruang makan untuk membantu Tuti


menyiapkan hidangan di atas meja.


Karena lvan tidak menutup pintu ruangan itu,


samar-samar Nabila bisa mendengar suara


Calvin yang tertawa lepas bersama lvan. Dengan


rasa penasaran dia berjalan mendekat ke


ruangan itu untuk melihat apa yang membuat


putranya bisa tertawa seperti itu.


"Ini super hero terkuat sepanjang masa,


tidak ada yang bisa mengalahkan super hero ini,"


kata lvan sambil menunjukkan Action Figure Son


Go Ku dari anime Dragon Ball kepada Calvin.


"Paman, aku tidak mengenal super hero itu,


menurutku mereka ini yang merupakan super


hero terkuat sepanjang masa," balas Calvin


sambil menunjukkan action figure Naruto dan


Luffy yang berada di tangannya.


Ivan memeluk action figure yang berada di


tangannya, "Ah... mengapa anak-anak sekarang


melupakan jagoanku," kata lvan sambil


memasang ekspresi wajah sedih.


Hal itu membuat Calvin tertawa


terbahak-bahak, Nabila yang menyaksikan itu


hanya bisa tersenyum dengan mata


berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia melihat


Calvin berinteraksi secara bebas dengan pria


yang mungkin berumur seperti ayahnya.


"Terima kasih lvan.." gumam Nabila yang


masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2