
Kdiaman lvan terus membuat Nabila
terkejut, tidak hanya luas, rumah lvan juga berisi
barang-barang mewah dari berbagai negara,
penataan ruangan dan juga desain dari tiap
ruangan yang dia lewati terus membuatnya
takjub.
"Ini kamar Nona Nabila," kata Inah saat
mereka tiba di depan pintu kamar yang berada di
lantai dua.
"Terima kasih Bi Inah," balas Nabila, dia lalu
membuka pintu dan memasuki kamar itu.
Ditemani dua pelayan lvan, Nabila
melihat-lihat keadaan kamar itu, dalam hati dia
kembali memuji kemewahan kamar yang
dipersiapkan untuknya.
"Kamar ini benar-benar indah," puji Nabila
yang tampak terpesona dengan desain interior
kamar itu.
"Baguslah jika Nona Nabila menyukainya,
Nona bisa beristirahat disini terlebih dahulu, aku
akan memanggil Nona Nabila saat makanannya
sudah siap," ucap Tuti dengan sopan.
"Terima kasih Bi Tuti," balas Nabila singkat.
Saat Inah dan Tuti hendak keluar, Nabila
tiba-tiba teringat akan sesuatu.
"Ah. mengapa aku malah berterima kasih,
aku tidak seharusnya berada di kamar ini," batin
Nabila.
Dia benar-benar terbawa arus pembicaraan
sampai-sampai dia lupa untuk menjelaskan
bahwa dia hanya sebentar di rumah ini,
rencananya setelah makan malam dia dan
putranya akan langsung pulang meninggalkan
kediaman Ivan.
"Bi Inah, tunggu.."
Inah yang hendak pergi meninggalkan
kamar itu kembali menoleh ke Nabila.
"Ada apa Nona muda?" tanya Inah.
"Maaf Bi, aku lupa memberitahu jika aku
dan putraku akan segera pulang setelah makan
malam jadi Bibi tidak perlu repot-repot
menyiapkan kamar untuk kami berdua," kata
Nabila menjelaskan.
"Nona Nabila tidak usah mengkhawatirkan
itu, ini pertama kalinya Tuan lvan membawa
tamu wanita ke rumah, kami sangat
bersemangat dan sepertinya akan memasak
banyak hidangan malam ini, kamar ini hanya
untuk berjaga-jaga jika Nona Nabila lelah
menunggu kami menyiapkan hidangan," ucap
Inah sambil tersenyum kepada Nabila.
Nabila membalas senyuman Inah, dia
berkata, "Bibi, aku bukan Tuan putri yang
terbiasa menunggu sampai hidangan siap di
meja, bagaimana jika aku membantu kalian
berdua?"
Inah dan Tuti tersenyum sumringah, Tuti
yang sangat menyukai kepribadian Nabila segera
menarik tangan Nabila.
"Tuan lvan benar-benar beruntung memiliki
calon istri sepertimu, ayo kita menuju dapur,
untuk menyiapkan makanan terbaik untuk Tuan
Ivan dan Tuan Muda Calvin," seru Tuti
bersemangat.
"Calon istri? Tapi..."
"Sudah Nona Nabila, ayo kita bergegas
menuju dapur, kasihan jika Tuan Muda Calvin
harus menunggu lama," kata Inah memotong
__ADS_1
ucapan Nabila.
Nabila lagi-lagi tidak diberikan kesempatan
untuk mengklarifikasi statusnya oleh kedua
pelayan di rumah van, dia hanya bisa menghela
nafasnya pasrah mengikuti Inah dan Tuti
menuju dapur kediaman lvan.
Di salah satu ruangan di rumah Ivan, mata
Calvin langsung berbinar-binar begitu memasuki
ruangan yang menjadi tempat Ivan menyimpan
semua mainan kesukaannya.
Mulai dari action Figure, model replika
kereta api, replika alat transportasi, dan berbagai
jenis mainan kendaraan mewah memenuhi
ruangan itu.
Ivan tampak tersenyum puas ketika melihat
ekspresi wajahnya Calvin, ruangan ini adalah
ruangan yang dipenuhi barang-barang yang
menjadi hobinya sejak masih kecil.
"Gundam. Iron Man. Batman.. Luffy.
Naruto.. wahh..." teriak Calvin menyebut
beberapa action figure berukuran 30 cm yang
berada di ruangan itu.
"Bagaimana? Apakah kamu menyukai
ruangan rahasia Paman?" tanya lvan.
"lya Paman!" teriak Calvin sambil
mengangkat kedua tangannya.
Dia lalu berkeliling ruangan yang CUkup luas
itu sambil terus memandangi mainan koleksi
Ivan dengan perasaan takjub.
Namun setelah berkeliling, Calvin tampak
menunduk lesu, dia lalu duduk dilantai sambil
memandangi koleksi mainan Ivan yang sangat
menggiurkan bagi anak seusia dirinya.
Ivan yang melihat perubahan ekspresi
Calvin segera menghampiri Calvin lalu duduk
"Mengapa kamu terlihat sedih? Apa kamu
tidak menyukai mainan Paman?" tanya lvan
penasaran.
Calvin menggelengkan kepalanya, dengan
wajah yang masih tetap menunduk dia berkata,
Aku pernah datang ke rumah salah satu teman
sekolahku, dia juga memiliki beberapa mainan
seperti itu." Calvin lalu menunjuk sudut ruangan
yang menjadi tempat lvan menaruh koleksi
action figurenya.
"Lalu ada apa dengan itu?" tanya lvan
kembali.
"Ketika aku dan teman-teman ku ingin
menyentuh mainan itu, ayah temanku sangat
marah, dia berkata jika mainan-mainan itu
sangat mahal, jika tidak berhati-hati kami bisa
merusaknya, karena itulah dia melarang kami
menyentuh mainan seperti itu," ucap Calvin
menjelaskan.
Ivan tersenyum, dia lalu mengelus kepala
Calvin, dia juga tidak menyalahkan ayah teman
Calvin yang berbuat seperti itu, harga action
figure memang tidaklah murah.
Namun dia sendiri berprinsip berbeda,
alasan dia mengumpulkan mainan ini karena
kelak dia berharap jika nanti dia memiliki
seorang putra, dia akan menghabiskan waktu
luangnya dengan putranya sambil memainkan
berbagai mainan yang telah dia kumpulkan di
ruangan ini.
"Ayah temanmu tidak salah, memang
mainan seperti itu harganya mahal, jadi kamu
tidak boleh sembarang menyentuh mainan
__ADS_1
seperti ini ketika kamu berada dirumah orang
lain," kata lvan
Mendengar itu ekspresi wajah Calvin
semakin sedih.
"Tapi jika di rumah Paman beda ceritanya,
kamu bebas bermain sepuasmu di ruangan ini,
tentu saja kamu tetap harus berhati-hati,"
sambung lvan.
"Benarkah Paman? wajah Calvin kembali
bersemangat mendengar penjelasan lvan.
Matanya berbinar-binar. Sungguh
menggemaskan.
"Tapi bagaimana jika aku tidak sengaja
merusaknya?" tanya Calvin lagi yang kembali
tertunduk lesu.
"Tinggal diperbaiki!" jawab lvan singkat
dan mengedipkan satu matanya.
"Bagaimana jika mainan itu tidak bisa
diperbaiki?"
lvan tersenyum, dia kembali mengelus
kepala Calvin.
"Berarti sudah waktunya mainan itu diganti,"
jawab lvan singkat sambil terus mengelus
kepala Calvin.
Calvin langsung kembali bersemangat, dia
berkata, "Terima kasih Paman, aku akan
berhati-hati."
Calvin lalu memeluk tubuh van, setelah itu
dia kembali berkeliling dan memilih beberapa
mainan yang hendak dia mainkan.
Nabila baru saja selesai mnenyiapkan
makanan bersama Inah dan Tuti, dia lalu pamit
untuk memanggil lvan dan Calvin sambil
menunggu Inah dan Tuti menyiapkan makanan
di meja.
Nabila yang masih bingung dengan ruangan
di kediaman lvan meminta Inah agar
menunjukkan ruangan tempat lvan dan Calvin
berada, setelah menunjukkan ruangan itu, Inah
kembali ke ruang makan untuk membantu Tuti
menyiapkan hidangan di atas meja.
Karena lvan tidak menutup pintu ruangan itu,
samar-samar Nabila bisa mendengar suara
Calvin yang tertawa lepas bersama lvan. Dengan
rasa penasaran dia berjalan mendekat ke
ruangan itu untuk melihat apa yang membuat
putranya bisa tertawa seperti itu.
"Ini super hero terkuat sepanjang masa,
tidak ada yang bisa mengalahkan super hero ini,"
kata lvan sambil menunjukkan Action Figure Son
Go Ku dari anime Dragon Ball kepada Calvin.
"Paman, aku tidak mengenal super hero itu,
menurutku mereka ini yang merupakan super
hero terkuat sepanjang masa," balas Calvin
sambil menunjukkan action figure Naruto dan
Luffy yang berada di tangannya.
Ivan memeluk action figure yang berada di
tangannya, "Ah... mengapa anak-anak sekarang
melupakan jagoanku," kata lvan sambil
memasang ekspresi wajah sedih.
Hal itu membuat Calvin tertawa
terbahak-bahak, Nabila yang menyaksikan itu
hanya bisa tersenyum dengan mata
berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia melihat
Calvin berinteraksi secara bebas dengan pria
yang mungkin berumur seperti ayahnya.
"Terima kasih lvan.." gumam Nabila yang
masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1