
Tok... tok.. tok..
"Permisi Pak..." terdengar suara seorang
wanita mengetuk pintu ruang kerja lvan.
"Masuk.." jawab lvan mempersilakan
wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
Begitu wanita itu memasuki ruang kerja lvan,
Nabila sontak terperangah.
"Frieska.!?!" seru Nabila dengan raut wajah
terkejut.
"Nabila.?!" ujar wanita itu yang ternyata
adalah sepupu Nabila, putri dari Aditya dan Vina.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Frieska
dengan nada tidak bersahabat.
Wajahnya menunjukkan tanda bahwa dia
tidak senang melihat sosok Nabila berada di
ruangan Tuan CEO yang sudah menjadi
incarannya selama 5 tahun ini.
"Oh. kalian berdua saling mengenal?" tanya
Ivan yang juga ikut terkejut.
"L. iya Pak, dia adalah sepup-"
"Dia adalah benalu yang tinggal di rumahku..!
" potong Frieska menyela ucapan Nabila.
Nabila tertunduk lesu mendengar perkataan
Frieska, sementara Ivan langsung
mengernyitkan alisnya memandangi Frieska
yang tak segan-segan menyerang Nabila.
"Benalu..?" tanya lvan menaikkan satu
alisnya.
"Iya Pak..! Wanita ini dan putranya tinggal
menumpang hidup di rumahku..," cibir Frieska
menyindir Nabila.
Ivan tersenyum sinis mendengar ucapan
Frieska, dia lalu menyandarkan punggungnya di
kursi kerjanya.
Sementara Nabila hanya terdiam sambil
menunduk, Nabila tampak tak berani
mengangkat wajahnya untuk melihat Frieska
yang sedang berdiri dengan angkuh di depan
meja lvan.
"Frieska, duduklah.." titah lvan.
Frieska tersenyum kepada lvan, dia lalu
duduk di kursi yang berada di depan meja lvan.
"Aku tidak begitu tertarik dengan hubungan
kalian berdua.." ujar lvan, lalu menyerahkan
berkas Nabila yang berada di mejanya kepada
Frieska.
"Tolong, urus berkas ini, aku berencana
mengangkat Nabila menjadi sekretarisku.!"
sambung lvan santai.
Frieska yang menerima berkas Nabila
sontak Naik pitam, dia yang juga menjabat
sebagai manager HRD di perusahaan lvan sudah
beberapa kali menawarkan diri untuk menjadi
sekretaris pribadi lvan, namun lvan tidak pernah
menyetujui usulan itu.
Karena lvan tidak memiliki sekretaris pribadi,
Frieska yang menjabat sebagai manager HRD
akhirnya yang selalu mengatur jadwal lvan
selama ini, mendengar jika lvan ingin
mengangkat wanita yang paling dia benci untuk
mengisi posisi yang sudah dia incar selama ini,
tentu membuat Frieska marah.
"Pak van, Nabila ini hanya lulusan SMA, aku
ragu jika dia bisa menjalankan tugasnya sebagai
sekretaris pribadi Bapak, dia juga sama sekali
tidak memiliki pengalaman kerja, jadi sebaiknya
Pak lvan mempertimbangkan kembali usulan
Bapak untuk mengangkatnya sebagai sekretaris
pribadi Bapak.." terang Frieska menjelaskan.
Ivan melirik Nabila yang sedang duduk di
sofa, dia dapat melihat kesedihan terpancar dari
wajah cantik kekasihnya.
"Jadi menurutmu, posisi apa yang cocok
untuk Nabila?" tanya lvan dengan nada datar.
"Berdasarkan persyaratan penerimaan
karyawan di perusahaan ini, posisi yang cocok
untuk Nabila hanya Cleaning Service.." tegas
Frieska sambil tersenyum sinis melirik Nabila.
"Cleaning service....? Hahaha..." Ivan tertawa
mendengar jawaban Frieska, hal itu membuat
Frieska seakan mendapat angin segar.
Ivan lalu mengambil dua jadwal yang dibuat
Frieska dan Nabila yang berada di mejanya, lvan
lalu meminta Frieska membandingkan dua
jadwal tadi.
"Menurutmu, susunan jadwal mana yang
paling bagus?" tanya lvan.
Frieska mengamati jadwal yang diberikan
Ivan, dia sadar jika salah satu jadwal itu adalah
buatannya.
Frieska terdiam, dia mau tidak mau harus
mengakui jika susunan jadwal yang bukan
miliknya jauh lebih tertata rapi dari pada jadwal
yang dia buat untuk lvan.
"Aku harus profesional dalam menilai,
susunan jadwal ini lebih baik dari pada milikku.."
jawab Frieska.
"Berarti pertanyaanmu sudah terjawab,
jadwal itu adalah jadwal yang dibuat oleh Nabila
untukku, jika aku mengikuti jadwal yang kamu
buat, sudah dipastikan aku akan melewatkan
__ADS_1
beberapa pertemuan penting hari ini..." seru lvan
Sambil menyilangkan tangannya.
Deg..
Frieska terdiam, matanya membelalak tak
percaya jika dia baru saja memuji hasil kerja
Nabila. Dalam diam kepalanya langsung
memikirkan cara agar lvan bisa membatalkan
keputusannya untuk merekrut Nabila.
"Pak lvan, tetap saja Bapak tidak bisa
menerima Nabila..." protes Frieska lagi.
lvan kembali menekuk dahinya, "Katakan
alasannya mengapa aku tidak bisa merekrut
Nabila," balas lvan.
"Ini tentang image perusahaan, Nabila hanya
lulusan SMA, selain itu dia juga memiliki anak
yang tidak jelas siapa ayahnya, aku takut itu
akan merusak citra Pak lvan di hadapan rekan
pengusaha Bapak jika mereka mengetahui
tentang ini," ucap Frieska yang sudah gelagapan
memikirkan alasan untuk menyingkirkan Nabila.
Nabila semakin sedih, selama 7 tahun dia
tinggal di rumah pamannya, otaknya seakan
sudah di program untuk selalu tunduk kepada
Frieska, kesedihannya memuncak, tanpa dia
sadari matanya mulai berkaca-kaca.
Sedangkan lvan tampak tercengang
mendengar ucapan Frieska, awalnya dia ingin
bersikap profesional dan tidak
mempermasalahkan masalah pribadi yang
terjadi antara Frieska dan Nabila, namun
mendengar calon istrinya dan juga calon
putranya dilecehkan seperti itu, amarahnya
langsung naik.
"Frieska, sebutkan statusku di perusahaan
ini...!" tanya lvan sambil menatap tajam Frieska
yang sudah merasa menang karena telah
mempermalukan Nabila di depan lvan.
"Pak lvan adalah CEO dari Grup Barata Cipta
Abadi, yang memimpin puluhan perusahaan
yang berada dibawah naungan grup ini.." jawab
Frieska dengan bangga.
"Kamu benar, tapi sepertinya kamu
melupakan sesuatu,.?!" ucap lvan sambil melirik
Nabila yang menunduk dengan mata
berkaca-kaca.
"Melupakan sesuatu?" tanya Frieska
bingung.
"Aku tidak hanya berstatus sebagai CEO,
tapi juga pemilik perusahaan ini, apakah kamu
tahu arti kata pemilik?" tanya lvan sambil
tersenyum sinis kepada Frieska.
sangat tidak bersahabat.
Dengan terbata-bata Frieska menjawab, .
iya Pak."
"Frieska, apakah kamu pikir aku salah
menilai Nabila? Bukankah itu berarti aku juga
salah karena sudah merekrut orang sepertimu?"
tanya lvan lagi.
"Ti. tidak Pak," jawab Frieska yang mulai
menundukkan kepalanya.
"Tugasmu sebagai manager HRD hanya
memberikan rekomendasi, keputusan tetap
berada ditanganku, ataukah sekarang aku perlu
mendapat izin darimu untuk merekrut karyawan
di perusahaan milikku sendiri?" tanya lvan
sambil menatap Frieska dingin.
Frieska terdiam, dia sadar karena sudah
melakukan kesalahan yang cukup fatal.
"Jawab!" bentak lvan dengan suara yang
keras.
Nabila dan Frieska sontak terkejut, Frieska
yang baru pertama kali melihat lvan marah mulai
berkeringat dingin. Dengan wajah yang sudah
mulai ketakutan dia menjawab pertanyaan lvan.
"Ti.. tidak Pak, ini perusahaan Bapak, jadi
Pak lvan mempunyai Otoritas penuh untuk
menentukan siapa yang akan bekerja di
perusahan Bapak," jawab Frieska pelan.
"Baguslah jika kamu masih mengetahui
tempatmu, sekarang urus berkas Nabila, dalam 5
menit, aku mau Nabila sudah resmi menjadi
sekretarisku..." perintah lvan tegas.
"Baik Pak," jawab Frieska, dia lalu
mengambil berkas Nabila dan mohon undur diri.
"Nabila sialan, aku pasti akan membalasmu
nant..!!" batin Frieska mengumpat Nabila.
Begitu Frieska meninggalkan ruangan lvan,
Nabila yang masih terkejut karena suara lvan
barusan langsung berdiri dari duduknya dan
menghampiri lvan.
"Pak lvan, aku rasa kamu tidak perlu berbuat
sejauh itu, aku.. "
Belum sempat Nabila menyelesaikan
perkataannya, lvan dengan cepat menarik lengan
Nabila sehingga Nabila jatuh terduduk di
pangkuannya.
"Kenapa kamu menggunakan panggilan
formal saat kita hanya berdua, apa kamu lupa
kalau aku sekarang adalah kekasihmu...?" tanya
Ivan manja sambil memeluk tubuh Nabila.
"lvan.. aku serius," rengek Nabila manja
__ADS_1
"Iya, aku juga serius.." balas lvan.
"Huftt... aku hanya khawatir jika Frieska
akan berbuat nekat.." keluh Nabila sambil
membelai tangan Ivan yang sedang memeluk
tubuhnya.
"Semua akan baik-baik saja, tenang saja..?
Hmm.?" balas lvan yang sedang memanjakan
dirinya menikmati aroma parfum Nabila.
Cekle... pintu ruang kerja Ivan kembali
terbuka.
van.
Jafin yang langsung masuk tanpa
mengetuk pintu langsung terkejut begitu
melihat Nabila yang sedang duduk dipangkuan
"Oh My..!! " ucapnya sambil menutup
wajahnya dengan telapak tangannya.
Nabila dan lvan juga sontak terkejut, dengan
cepat Nabila bangkit dari pangkuan lvan dan
berdiri disamping lvan yang lagi-lagi mengutuk
Jafin dalam hati.
"Arrggg, si berengsek ini..!! Selalu saja
menganggu ku bersama Nabila..!"'batin lvan
sambil menunduk dan mengelus dahinya sendiri.
"Hehe, jika Tuan dan Nona sibuk, aku bisa
kembali nanti..." ujar Jafin cengengesan.
"Baguslah jika kamu mengerti, sekarang
kamu bisa keluar.!!" ketus lvan yang tidak
mengerti mengapa Jafin selalu muncul di saat
dia sedang bermesraan bersama Nabila.
"lvan...?" mata Nabila menatap tajam lvan,
hal itu membuat lvan mengoreksi ucapannya.
"Ah... tidak apa-apa, sepertinya ada hal
penting yang ingin kamu sampaikan," kata lvan
sambil menghela nafasnya pelan.
Jafin yang hendak berbalik pergi kembali
memandangi lvan yang sedang melotot
kepadanya.
"Dari tatapan Tuan lvan, sepertinya Tuan
sangat terganggu dengan kedatanganku..?" kata
Jafin kembali menggoda lvan.
"Hoh.. kamu sadar diri rupanya, kamu-"
"Ivan.." Nabila kembali menyela ucapan
Ivan, dia tampak menghela nafasnya melihat
sikap dua pria ini.
"Hahaha, Tuan, maaf menganggu waktu
anda, aku hanya ingin memberitahu jika tamu
anda sedang menunggu di ruang sebelah,"
terang Jafin maksud kedatangannya dengan
tawa kecilnya.
Ivan melirik jam tangannya, dia baru sadar
jika di jam ini dia harus bertemu dengan satu
orang lagi untuk membahas tentang proyek
lainnya.
"Astaga... aku benar-benar melupakan itu..!!"
seru lvan sambil mengusap wajahnya.
Ivan beranjak dari duduknya dan
menghampiri Nabila yang sedang berdiri
didekatnya, "Nabila, aku akan bertemu dengan
tamu ini dulu, setelah itu kita bisa makan siang
bersama..Hmm.??" ucap lvan sambil tersenyum
lembut kepada Nabila.
Nabila merapikan dasi Ivan yang sedikit
miring,"Hmm.Baiklah, aku akan menunggumu
disini, semoga urusanmu berjalan lancar," balas
Nabila sambil tersengum manis.
"Oh.. Inikah rasanya memiliki pasangan
yang perhatian..." Ivan yang sedang tersenyum
bahagia kembali mendekatkan wajahnya.
Nabila yang seakan sudah mengerti
langsung menahan lvan dengan kedua
tangannya.
"Ivan.." kata Nabila lembut sambil melirik
Jafin yang berdiri di dekat pintu.
Ivan yang menyadari arti lirikan mata Nabila
hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Cup!
"Kalau di sini tidak masalah kan.?" goda
Ivan sambil mengedipkan matanya setelah
mengecup kening Nabila sekilas.
"Ivan.!" protes Nabiladan tersenyum malu.
Ivan tersenyum senang lalu menghampiri
Jafin yang sedang menunggunya.
"Ayo kita menemui tamu terakhir hari ini..!"
kata lvan sambil merangkul pundak Jafin.
Jafin tersenyum, sambil berbisik pelan dia
bertanya, "Bos melihat sikap kalian berdua,
apakah itu artinya?"
lvan tersenyum, dia dan Jafin keluar dari
ruangannya dan menutup pintu ruangannya.
"Tentu saja, kami sudah resmi menjadi
sepasang kekasih..!"' jawab lvan sambil
memukul pelan dada Jafin dengan wajah
sumringahnya.
"Se-serius..??!" tanya Jafin dengan
pura-pura tidak percaya.
"Kamu tidak percaya.??" Ivan bertanya balik
kepda Jafin.
"Hehehe.Tentu saja Tuan..!! Selamat Tuan
Ivan sudah melepas predikat Jomblo.!"
cengengesan Jafin.
"Kamuuuu..!!"
__ADS_1