Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 18 Nabila Dipermalukan


__ADS_3

Tok... tok.. tok..


"Permisi Pak..." terdengar suara seorang


wanita mengetuk pintu ruang kerja lvan.


"Masuk.." jawab lvan mempersilakan


wanita itu masuk ke dalam ruangannya.


Begitu wanita itu memasuki ruang kerja lvan,


Nabila sontak terperangah.


"Frieska.!?!" seru Nabila dengan raut wajah


terkejut.


"Nabila.?!" ujar wanita itu yang ternyata


adalah sepupu Nabila, putri dari Aditya dan Vina.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Frieska


dengan nada tidak bersahabat.


Wajahnya menunjukkan tanda bahwa dia


tidak senang melihat sosok Nabila berada di


ruangan Tuan CEO yang sudah menjadi


incarannya selama 5 tahun ini.


"Oh. kalian berdua saling mengenal?" tanya


Ivan yang juga ikut terkejut.


"L. iya Pak, dia adalah sepup-"


"Dia adalah benalu yang tinggal di rumahku..!


" potong Frieska menyela ucapan Nabila.


Nabila tertunduk lesu mendengar perkataan


Frieska, sementara Ivan langsung


mengernyitkan alisnya memandangi Frieska


yang tak segan-segan menyerang Nabila.


"Benalu..?" tanya lvan menaikkan satu


alisnya.


"Iya Pak..! Wanita ini dan putranya tinggal


menumpang hidup di rumahku..," cibir Frieska


menyindir Nabila.


Ivan tersenyum sinis mendengar ucapan


Frieska, dia lalu menyandarkan punggungnya di


kursi kerjanya.


Sementara Nabila hanya terdiam sambil


menunduk, Nabila tampak tak berani


mengangkat wajahnya untuk melihat Frieska


yang sedang berdiri dengan angkuh di depan


meja lvan.


"Frieska, duduklah.." titah lvan.


Frieska tersenyum kepada lvan, dia lalu


duduk di kursi yang berada di depan meja lvan.


"Aku tidak begitu tertarik dengan hubungan


kalian berdua.." ujar lvan, lalu menyerahkan


berkas Nabila yang berada di mejanya kepada


Frieska.


"Tolong, urus berkas ini, aku berencana


mengangkat Nabila menjadi sekretarisku.!"


sambung lvan santai.


Frieska yang menerima berkas Nabila


sontak Naik pitam, dia yang juga menjabat


sebagai manager HRD di perusahaan lvan sudah


beberapa kali menawarkan diri untuk menjadi


sekretaris pribadi lvan, namun lvan tidak pernah


menyetujui usulan itu.


Karena lvan tidak memiliki sekretaris pribadi,


Frieska yang menjabat sebagai manager HRD


akhirnya yang selalu mengatur jadwal lvan


selama ini, mendengar jika lvan ingin


mengangkat wanita yang paling dia benci untuk


mengisi posisi yang sudah dia incar selama ini,


tentu membuat Frieska marah.


"Pak van, Nabila ini hanya lulusan SMA, aku


ragu jika dia bisa menjalankan tugasnya sebagai


sekretaris pribadi Bapak, dia juga sama sekali


tidak memiliki pengalaman kerja, jadi sebaiknya


Pak lvan mempertimbangkan kembali usulan


Bapak untuk mengangkatnya sebagai sekretaris


pribadi Bapak.." terang Frieska menjelaskan.


Ivan melirik Nabila yang sedang duduk di


sofa, dia dapat melihat kesedihan terpancar dari


wajah cantik kekasihnya.


"Jadi menurutmu, posisi apa yang cocok


untuk Nabila?" tanya lvan dengan nada datar.


"Berdasarkan persyaratan penerimaan


karyawan di perusahaan ini, posisi yang cocok


untuk Nabila hanya Cleaning Service.." tegas


Frieska sambil tersenyum sinis melirik Nabila.


"Cleaning service....? Hahaha..." Ivan tertawa


mendengar jawaban Frieska, hal itu membuat


Frieska seakan mendapat angin segar.


Ivan lalu mengambil dua jadwal yang dibuat


Frieska dan Nabila yang berada di mejanya, lvan


lalu meminta Frieska membandingkan dua


jadwal tadi.


"Menurutmu, susunan jadwal mana yang


paling bagus?" tanya lvan.


Frieska mengamati jadwal yang diberikan


Ivan, dia sadar jika salah satu jadwal itu adalah


buatannya.


Frieska terdiam, dia mau tidak mau harus


mengakui jika susunan jadwal yang bukan


miliknya jauh lebih tertata rapi dari pada jadwal


yang dia buat untuk lvan.


"Aku harus profesional dalam menilai,


susunan jadwal ini lebih baik dari pada milikku.."


jawab Frieska.


"Berarti pertanyaanmu sudah terjawab,


jadwal itu adalah jadwal yang dibuat oleh Nabila


untukku, jika aku mengikuti jadwal yang kamu


buat, sudah dipastikan aku akan melewatkan

__ADS_1


beberapa pertemuan penting hari ini..." seru lvan


Sambil menyilangkan tangannya.


Deg..


Frieska terdiam, matanya membelalak tak


percaya jika dia baru saja memuji hasil kerja


Nabila. Dalam diam kepalanya langsung


memikirkan cara agar lvan bisa membatalkan


keputusannya untuk merekrut Nabila.


"Pak lvan, tetap saja Bapak tidak bisa


menerima Nabila..." protes Frieska lagi.


lvan kembali menekuk dahinya, "Katakan


alasannya mengapa aku tidak bisa merekrut


Nabila," balas lvan.


"Ini tentang image perusahaan, Nabila hanya


lulusan SMA, selain itu dia juga memiliki anak


yang tidak jelas siapa ayahnya, aku takut itu


akan merusak citra Pak lvan di hadapan rekan


pengusaha Bapak jika mereka mengetahui


tentang ini," ucap Frieska yang sudah gelagapan


memikirkan alasan untuk menyingkirkan Nabila.


Nabila semakin sedih, selama 7 tahun dia


tinggal di rumah pamannya, otaknya seakan


sudah di program untuk selalu tunduk kepada


Frieska, kesedihannya memuncak, tanpa dia


sadari matanya mulai berkaca-kaca.


Sedangkan lvan tampak tercengang


mendengar ucapan Frieska, awalnya dia ingin


bersikap profesional dan tidak


mempermasalahkan masalah pribadi yang


terjadi antara Frieska dan Nabila, namun


mendengar calon istrinya dan juga calon


putranya dilecehkan seperti itu, amarahnya


langsung naik.


"Frieska, sebutkan statusku di perusahaan


ini...!" tanya lvan sambil menatap tajam Frieska


yang sudah merasa menang karena telah


mempermalukan Nabila di depan lvan.


"Pak lvan adalah CEO dari Grup Barata Cipta


Abadi, yang memimpin puluhan perusahaan


yang berada dibawah naungan grup ini.." jawab


Frieska dengan bangga.


"Kamu benar, tapi sepertinya kamu


melupakan sesuatu,.?!" ucap lvan sambil melirik


Nabila yang menunduk dengan mata


berkaca-kaca.


"Melupakan sesuatu?" tanya Frieska


bingung.


"Aku tidak hanya berstatus sebagai CEO,


tapi juga pemilik perusahaan ini, apakah kamu


tahu arti kata pemilik?" tanya lvan sambil


tersenyum sinis kepada Frieska.


sangat tidak bersahabat.


Dengan terbata-bata Frieska menjawab, .


iya Pak."


"Frieska, apakah kamu pikir aku salah


menilai Nabila? Bukankah itu berarti aku juga


salah karena sudah merekrut orang sepertimu?"


tanya lvan lagi.


"Ti. tidak Pak," jawab Frieska yang mulai


menundukkan kepalanya.


"Tugasmu sebagai manager HRD hanya


memberikan rekomendasi, keputusan tetap


berada ditanganku, ataukah sekarang aku perlu


mendapat izin darimu untuk merekrut karyawan


di perusahaan milikku sendiri?" tanya lvan


sambil menatap Frieska dingin.


Frieska terdiam, dia sadar karena sudah


melakukan kesalahan yang cukup fatal.


"Jawab!" bentak lvan dengan suara yang


keras.


Nabila dan Frieska sontak terkejut, Frieska


yang baru pertama kali melihat lvan marah mulai


berkeringat dingin. Dengan wajah yang sudah


mulai ketakutan dia menjawab pertanyaan lvan.


"Ti.. tidak Pak, ini perusahaan Bapak, jadi


Pak lvan mempunyai Otoritas penuh untuk


menentukan siapa yang akan bekerja di


perusahan Bapak," jawab Frieska pelan.


"Baguslah jika kamu masih mengetahui


tempatmu, sekarang urus berkas Nabila, dalam 5


menit, aku mau Nabila sudah resmi menjadi


sekretarisku..." perintah lvan tegas.


"Baik Pak," jawab Frieska, dia lalu


mengambil berkas Nabila dan mohon undur diri.


"Nabila sialan, aku pasti akan membalasmu


nant..!!" batin Frieska mengumpat Nabila.


Begitu Frieska meninggalkan ruangan lvan,


Nabila yang masih terkejut karena suara lvan


barusan langsung berdiri dari duduknya dan


menghampiri lvan.


"Pak lvan, aku rasa kamu tidak perlu berbuat


sejauh itu, aku.. "


Belum sempat Nabila menyelesaikan


perkataannya, lvan dengan cepat menarik lengan


Nabila sehingga Nabila jatuh terduduk di


pangkuannya.


"Kenapa kamu menggunakan panggilan


formal saat kita hanya berdua, apa kamu lupa


kalau aku sekarang adalah kekasihmu...?" tanya


Ivan manja sambil memeluk tubuh Nabila.


"lvan.. aku serius," rengek Nabila manja

__ADS_1


"Iya, aku juga serius.." balas lvan.


"Huftt... aku hanya khawatir jika Frieska


akan berbuat nekat.." keluh Nabila sambil


membelai tangan Ivan yang sedang memeluk


tubuhnya.


"Semua akan baik-baik saja, tenang saja..?


Hmm.?" balas lvan yang sedang memanjakan


dirinya menikmati aroma parfum Nabila.


Cekle... pintu ruang kerja Ivan kembali


terbuka.


van.


Jafin yang langsung masuk tanpa


mengetuk pintu langsung terkejut begitu


melihat Nabila yang sedang duduk dipangkuan


"Oh My..!! " ucapnya sambil menutup


wajahnya dengan telapak tangannya.


Nabila dan lvan juga sontak terkejut, dengan


cepat Nabila bangkit dari pangkuan lvan dan


berdiri disamping lvan yang lagi-lagi mengutuk


Jafin dalam hati.


"Arrggg, si berengsek ini..!! Selalu saja


menganggu ku bersama Nabila..!"'batin lvan


sambil menunduk dan mengelus dahinya sendiri.


"Hehe, jika Tuan dan Nona sibuk, aku bisa


kembali nanti..." ujar Jafin cengengesan.


"Baguslah jika kamu mengerti, sekarang


kamu bisa keluar.!!" ketus lvan yang tidak


mengerti mengapa Jafin selalu muncul di saat


dia sedang bermesraan bersama Nabila.


"lvan...?" mata Nabila menatap tajam lvan,


hal itu membuat lvan mengoreksi ucapannya.


"Ah... tidak apa-apa, sepertinya ada hal


penting yang ingin kamu sampaikan," kata lvan


sambil menghela nafasnya pelan.


Jafin yang hendak berbalik pergi kembali


memandangi lvan yang sedang melotot


kepadanya.


"Dari tatapan Tuan lvan, sepertinya Tuan


sangat terganggu dengan kedatanganku..?" kata


Jafin kembali menggoda lvan.


"Hoh.. kamu sadar diri rupanya, kamu-"


"Ivan.." Nabila kembali menyela ucapan


Ivan, dia tampak menghela nafasnya melihat


sikap dua pria ini.


"Hahaha, Tuan, maaf menganggu waktu


anda, aku hanya ingin memberitahu jika tamu


anda sedang menunggu di ruang sebelah,"


terang Jafin maksud kedatangannya dengan


tawa kecilnya.


Ivan melirik jam tangannya, dia baru sadar


jika di jam ini dia harus bertemu dengan satu


orang lagi untuk membahas tentang proyek


lainnya.


"Astaga... aku benar-benar melupakan itu..!!"


seru lvan sambil mengusap wajahnya.


Ivan beranjak dari duduknya dan


menghampiri Nabila yang sedang berdiri


didekatnya, "Nabila, aku akan bertemu dengan


tamu ini dulu, setelah itu kita bisa makan siang


bersama..Hmm.??" ucap lvan sambil tersenyum


lembut kepada Nabila.


Nabila merapikan dasi Ivan yang sedikit


miring,"Hmm.Baiklah, aku akan menunggumu


disini, semoga urusanmu berjalan lancar," balas


Nabila sambil tersengum manis.


"Oh.. Inikah rasanya memiliki pasangan


yang perhatian..." Ivan yang sedang tersenyum


bahagia kembali mendekatkan wajahnya.


Nabila yang seakan sudah mengerti


langsung menahan lvan dengan kedua


tangannya.


"Ivan.." kata Nabila lembut sambil melirik


Jafin yang berdiri di dekat pintu.


Ivan yang menyadari arti lirikan mata Nabila


hanya bisa menghela nafasnya pelan.


Cup!


"Kalau di sini tidak masalah kan.?" goda


Ivan sambil mengedipkan matanya setelah


mengecup kening Nabila sekilas.


"Ivan.!" protes Nabiladan tersenyum malu.


Ivan tersenyum senang lalu menghampiri


Jafin yang sedang menunggunya.


"Ayo kita menemui tamu terakhir hari ini..!"


kata lvan sambil merangkul pundak Jafin.


Jafin tersenyum, sambil berbisik pelan dia


bertanya, "Bos melihat sikap kalian berdua,


apakah itu artinya?"


lvan tersenyum, dia dan Jafin keluar dari


ruangannya dan menutup pintu ruangannya.


"Tentu saja, kami sudah resmi menjadi


sepasang kekasih..!"' jawab lvan sambil


memukul pelan dada Jafin dengan wajah


sumringahnya.


"Se-serius..??!" tanya Jafin dengan


pura-pura tidak percaya.


"Kamu tidak percaya.??" Ivan bertanya balik


kepda Jafin.


"Hehehe.Tentu saja Tuan..!! Selamat Tuan


Ivan sudah melepas predikat Jomblo.!"


cengengesan Jafin.


"Kamuuuu..!!"

__ADS_1


__ADS_2