
"Nabila! Kemari!" harik Vina dengan raut
wajah yang sangat marah.
Nabila menunduk ketakutan, dengan berat
dia melangkahkan kakinya menghampiri Vina
yang terlihat sangat kesal.
Jafin tidak tinggal diam, dia berjalan
mengikuti Nabila sesuai perintah lvan yang
memintanya untuk terus menjaga Nabila.
Aditya sedikit terkejut ketika Jafin yang
tidak menggubrisnya berjalan mengikuti Nabila,
sedangkan Vina yang sudah terbakar amarah
tidak lagi memedulikan hal itu, dia langsung
mengharik Nabila begitu Nabila berdiri di
depannya.
"Dasar anak kurang ajar, kamu tidak
mengaktifkan ponselmu semalaman, kamu juga
sudah membuat Daryl marah, karena
perbuatanmu itu Daryl berniat membatalkan
hubungan kerjasama keluarga kita, aku tidak
mau tahu, sekarang juga segera hubungi Daryl
dan minta maaf atas tindakan bodoh yang telah
kamu lakukan..!" hardik Vina.
Nabila menunduk, tangannya mengepal
menahan amarah, dia merasa sangat kecewa,
bukan hanya tidak mendengarkan penjelasannya,
bibinya bahkan menyuruhnya meminta maaf
atas perbuatan Daryl yang mencoba meniduri
Nya.
Jafin yang terus mengamati Nabila segera
meletakkan telapak tangannya di punggung
Nabila.
"Nona Nabila... jangan takut," ucapnya sopan
sembari tersenyum lembut kepada Nabila.
Vina dan Aditya kembali terkejut, sedangkan
Nabila tampak menghela nafasnya pelan, dia lalu
menatap wajah Vina.
"Bibi Vina, maaf... aku kemari tidak untuk
mencari masalah dengan keluarga Bibi, aku
kemari hanya ingin berpamitan dan juga
mengemasi barang-barang milikku dan milik
putraku, mulai hari ini aku akan meninggalkan
rumah Bibi dan tinggal di tempat lain.!" tegas
Nabila.
Aditya langsung terperangah mendengar
ucapan Nabila dia tidak menyangka jika Nabila
berniat keluar dari rumah mereka.
Vina semakin marah, dia menunjuk wajah
Nabila dan langsung memaki Nabila yang dia
anggap tidak tahu cara balas budi.
"Kamu benar-benar kurang ajar dan tidak
tahu balas budi, beberapa tahun ini kami terus
membiayai kehidupanmu dan juga kehidupan
putramu, sekarang saat kami memintamu untuk
membantu keluarga ini, kamu dengan
seenaknya ingin pergi meninggalkan rumah ini."
Nabila tidak membalas ucapan Vina, hal itu
membuat Vina semakin naik pitam. Vina meraih
tangan Nabila dengan kasar, dia lalu menarik
Vina masuk ke dalam rumah.
"Ayo ikut aku, aku tidak akan pernah
membiarkanmu pergi dari rumah ini sampai
kerjasama antara keluarga Mahendra dan
keluarga Pratama berhasil.! tukas Vina.
Nabila dengan cepat melepaskan tangannya
yang sedang ditarik paksa oleh Vina, dia dengan
tegas menolak untuk mengikuti perintah Vina.
"Kamu!" teriak Vina marah.
Dia lalu melayangkan tangannya untuk
menampar pipi Nabila yang berani
membangkang perintahnya.
Nabila menutup matanya, tepat sebelum
tangan Vina mendarat di pipinya, Jafin dengan
sigap menangkap tangan Vina.
"Apa yang kamu coba lakukan?" kata Jafin
sambil menatap dingin wajah Vina.
Aditya yang melihat itu segera menghampiri
Jafin, namun Jafin langsung mendorongnya
mundur dengan berkata, "Jangan ikut campur..!"
Aditya bergidik ngeri, dia yang terdorong
mundur mulai merasa takut saat Jafin
menatapnya tajam. Tatapan Jafin seolah
mengisyaratkan jika Jafin tidak segan-segan
menghajarnya jika berani mendekati Nabila.
"Jafin..." ucap Nabila pelan.
"Nona Nabila tenang saja, biar aku yang
mengambil alih," kata Jafin sambil tersenyum
lembut kepada Nabila.
Vina menarik tangannya yang di genggam
erat oleh Jafin. Begitu tangannya terlepas, dia
langsung memaki Jafin yang berani
menghentikan aksinya.
"Kamu benar-benar kurang ajar, aku akan
meminta Daryl untuk memecatmu!" teriaknya
menghardik Jafin.
Jafin tertawa, dia lalu kembali menatap Vina
yang sudah salah paham tentang statusnya.
"Aku tidak mengenal bedebah yang baru
saja kamu sebutkan.!" seru Jafin.
Aditya dan Vina sontak terkejut mendengar
ucapan Jafin, mereka berdua yang awalnya
mengira Jafin adalah bawahan Daryl kini mulai
mempertanyakan identitas pria berjas hitam
yang terus membela Nabila.
Dari ucapan Jafin yang dengan mudahnya
menyebut Daryl bedebah, mereka berdua
langsung bisa menebak jika Jafin memiliki latar
belakang yang tidak biasa.
"Maaf.. aku tidak tahu siapa anda, tapi ini
urusan keluarga kami, anda tidak berhak untuk
ikut campur," kata Aditya yang langsung
berbicara dengan nada sopan kepada Jafin.
"Aku diminta atasanku untuk membantu
Nona Nabila mengemasi barang-barangnya dan
juga menjaga keamanan Nona Nabila, hari ini
Nona Nabila sudah resmi menjadi karyawan di
perusahaan kami, sesuai dengan perintah
atasanku, aku tidak akan pernah membiarkan
seseorang menyakiti karyawan yang merupakan
aset bagi perusahaan kami..!" seru Jafin
menjelaskan status Nabila.
Aditya dan Vina saling menatap, mereka
tidak menyangka jika Nabila yang hanya
berstatus lulusan SMA bisa bekerja di
perusahaan yang menggunakan Mobil seharga 8
Milyar hanya untuk mengemasi barang
karyawannya.
"Maaf. kalau boleh tahu, apa nama
perusahaan anda, aku akan bertemu dengan
atasan anda untuk menjelaskan status dari
keponakan kami," sela Aditya.
"Pfftt, cecunguk sepertimu ingin bertemu
atasanku? Hahaha, kamu tidak pantas, bahkan
orang tua dari bedebah yang bernama Daryl
__ADS_1
harus mengantri jika ingin bertemu dengan
atasanku," jumawa Jafin sambil terus tertawa.
"Jafin..." ucap Nabila pelan sambil menatap
tajam Jafin.
"Ehmm, maaf Nona Nabila, aku hanya
berusaha menjelaskan status Tuan Muda
kepada cecunguk... ah maaf maksudku kepada
Tuan Aditya," kata Jafin sambil menahan
tawanya.
"Orang tua Daryl harus mengantri untuk
bertemu dengan atasan Nabila?" batin Aditya
yang mulai semakin khawatir setelah
mendengar perkataan Jafin.
Dia bisa saja menganggap Jafin berbohong,
namun instingnya sebagai pengusaha
memberitahunya jika Jafin tidak berbohong
mengenai status atasannya, kendaraan seharga
8 milyar dan juga sikap sombong yang di
tunjukkan Jafin semakin meyakinkan dirinya jika
Jafin berkata yang sesungguhnya.
"Nona Nabila, silakan anda mengemasi
barang-barang anda," kata Jafin lembut
mempersilakan Nabila memasuki rumah Aditya.
Nabila mengangguk pelan, dia lalu berjalan
menuju pintu masuk kediaman Aditya.
"Tunggu!" teriak Vina yang masih terlihat
sangat kesal. Dia kembali ingin menghentikan
Nabila yang hendak mengemasi
barang-barangnya, namun Aditya yang sudah
merasa khawatir dengan cepat menghentikan
Vina, dia tidak mau gegabah menyinggung orang
besar yang berdiri dibelakang Nabila.
"Istriku berhenti.!" seru Aditya sambil
menarik lengan Vina yang mencoba
menghentikan Nabila.
"Bagaimana dengan Daryl..?" tanya Vina
yang masih mengkhawatirkan ancaman Daryl.
Aditya menggelengkan kepalanya, "Jangan
bertindak gegabah sebelum kita mengetahui
latar belakang orang yang melindungi Nabila,
aku yang akan menjelaskan semuanya kepada
Daryl," bisiknya pelan di telinga Vina.
Vina hanya bisa berdecak kesal, dia
terpaksa harus pasrah mengikuti ucapan
Suaminya.
"Kamu cukup pinta," kata Jafin memuji
kehati-hatian Aditya, setelah mengatakan itu dia
lalu menyusul Nabila yang sudah memasuki
rumah Aditya lebih dulu.
Mata Nabila langsung berkaca-kaca saat
memasuki kamar yang dia tempati bersama
putranya selama 6 tahun, berbagai kenangan
pahit yang dia lalui tiba-tiba muncul dikepalanya,
dia terlihat sangat sedih saat mengemasi
pakaian dan barang-barang miliknya.
Rumah yang ditempati Aditya dan Vina
awalnya adalah rumah milik mendiang ayahnya,
setelah kematian kedua orang tuanya, Aditya
beserta istri dan anaknya langsung datang dan
mengklaim jika rumah itu adalah milik mereka
sebagai kepala keluarga Pratama yang baru.
Nabila dan mendiang kakaknya yang tidak
mengerti apa-apa terpaksa harus pasrah
menerima klaim sepihak dari keluarga Aditya.
Saat ini kamar mendiang ayah dan Ibunya
ditempati oleh Aditya dan Vina, kamar miliknya
dulu kini ditempati oleh putri Aditya yang
bernama Frieska sedangkan kamar mendiang
pakaian dan juga koleksi tas branded dan
pakaian mahal milik Frieska.
Nabila dan Kakaknya sendiri dipaksa untuk
menempati kamar sempit berukuran 3x2 meter
milik pembantu yang bekerja untuk orang tua
mereka dulu.
Jafin yang sudah menyusul Nabila langsung
berhenti di depan pintu kamar Nabila, melihat
ekspresi wajah Nabila yang
sedih, dia bisa tahu jika saat ini Nabila
sedang butuh waktu untuk sendiri.
Satu demi satu, Nabila memasukkan
pakaian miliknya dan Calvin ke dalam koper,
setelah beberapa saat berlalu, Nabila akhirnya
selesai mengemasi semua barang-barangnya.
Jafin berdecak kesal, dia tidak menyangka
jika kamar yang ditempati Nabila sangat tidak
layak untuk ukuran Nona Muda dari keluarga
pengusaha, dia semakin merasa kesal tatkala
melihat 4 buah koper milik Nabila, menurutnya
jumlah pakaian yang dimiliki Nabila sangat
sedikit, Inah yang hanya pelayan di kediaman
Ivan bahkan memiliki pakaian yang jauh lebih
banyak dari jumlah pakaian milik Nabila yang
berstatus Nona Muda dari keluarga Pratama.
Dalam hati, Jafin terus mengumpat Aditya
dan Vina yang memperlakukan Calon istri Tuan
Mudanya seperti itu, jika bukan karena Nabila
terus menghentikannya, dia tentu sudah lepas
kontrol dan menghajar Aditya sampai babak
belur.
"Nona... apakah anda sudah selesai?" tanya
Jafin.
Nabila mengangguk pelan dia mengusap
airmatanya yang tanpa sadar keluar saat
mengingat masa-masa indah bersama
keluarganya di rumah ini.
Jafin merogoh saku jasnya, dia
mengeluarkan Tisu dan menyerahkannya
kepada Nabila.
"Nona Nabila, jangan bersikap lemah di
depan mereka, anda adalah calon istri Tuan lvan,
senyuman terlihat lebih cocok untuk wajah
cantik anda," ucap Jafin sambil tersenyum
lembut kepada Nabila.
Nabila tertawa kecil mendengar kata-kata
manis Jafin, tidak hanya Ivan, para bawahan Ivan
juga bersikap baik kepadanya.
"Sekarang aku tahu dari mana Ivan
Mendapatkan kemampuan merayu miliknya,"
ucap Nabila tertavwa sambil menyeka airmatanya.
"Ah.. sepertinya anda salah, aku dan Billy
yang mendapatkan kemampuan merayu itu dari
Tuan lvan," jawab Jafin.
"Benarkah? Aku akan menanyakan itu
kepada lvan."
"Nona Nabila, anda sungguh kejam, jika
Tuan lvan mendengar itu, aku pastikan dia akan
menghajarku," kata Jafin bercanda.
Nabila kembali tertawa, mereka berdua lalu
pergi meninggalkan kamar Nabila.
Aditya yang masih berada di halaman depan
hanya bisa pasrah memandangi Nabila dan Jafin
yang baru saja keluar dari rumah mereka, 4 buah
koper yang ditarik Jafin semakin mempertegas
__ADS_1
jika Nabila sebentar lagi akan meninggalkan
kediaman mereka.
Sedangkan Vina yang awalnya sudah
merelakan kepergian Nabila kembali merasa
kesal, hatinya merasa sakit melihat Nabila yang
mungkin sebentar lagi akan hidup enak o
tempat lain.
Cara berjalan Nabila yang biasa saja terlihat
seperti sedang berlenggak-lenggok di matanya,
kebenciannya kepada Nabila yang sudah
mendarah daging membuatnya semakin naik
pitam dan tidak rela melepas kepergian Nabila.
"Tuan, anda tidak bisa melakukan ini,
keluarga kamilah yang membiayai Nabila dan
putranya selama beberapa tahun terakhir ini,
saat ini bisnis keluarga kami sedang terancam,
hanya Nabila yang bisa membantu
menyelesaikan permasalahan itu, setidaknya
biarkan dia membalas kebaikan kami selama ini."
terang Vina.
Nabila sempat berhenti berjalan, namun
Jafin kembali memintanya agar terus berjalan
menuju mobil yang mereka kendarai.
"Nona Nabila, anda tidak perlu memedulikan
mereka," kata Jafin pelan yang langsung dibalas
anggukan kepala oleh Nabila.
Jafin dan Nabila tidak menggubris ucapan
Vina, mereka berdua kembali berjalan menuju
mobil mereka.
Jafin memasukkan dua koper milik Nabila
ke bagasi belakang, sisanya dia letakkan di kursi
penumpang, setelah memasukkan semua koper
Nabila, Jafin menghidupkan mesin mobil.
"Nona, aku akan segera kembali," kata Jafin.
"Jafin, jangan mencari masalah dengan
mereka, kita sebaiknya pergi meninggalkan
tempat ini.
"Nona Nabila tidak perlu cemas, aku hanya
ingin menjelaskan beberapa hal kepada mereka
berdua," ucap Jafin.
Nabila menghela nafasnya pelan, dia
menganggukkan kepalanya memberi izin kepada
Jafin untuk kembali menemui Paman dan
bibinya.
Jafin menutup pintu mobilnya, dia kembali
menemui Aditya dan Vina dengan ekspresi
wajah yang sangat serius.
"Hei wanita sialan, aku sudah muak dengan
sikap materialistismu.!" umpat Jafin begitu dia
tiba di depan Aditya dan Vina.
Aditya dan Vina terdiam, sikap Jafin sangat
berbeda ketika Nabila tadi bersamanya.
"Sebelum aku kemari, atasanku sudah
mengirimkan beberapa informasi tentang
keluarga Pratama, aku sudah mengetahui jika
semua aset yang kalian miliki sebenarnya adalah
milik mendiang Tuan Gilang Pratama yang
merupakan ayah dari Nona Nabila, kalian berdua
hanya parasit yang mengambil keuntungan dari
kepolosan Nona Nabila dan mendiang Kakaknya."
Aditya dan Vina langsung mematung
mendengar perkataan Jafin, hanya mereka
berdua dan temannya yang berprofesi sebagai
pengacara yang mengetahui tentang hal itu,
mereka akhirnya benar-benar sadar jika atasan
Jafin memiliki latar belakang yang luar biasa
karena bisa mendapatkan informasi itu.
"Cecunguk dan wanita sialan, kalian berdua
memang pasangan serasi, cuih.. aku merasa
jijik melihat sikap kalian yang sombong dari
hasil kerja keras orang lain," ledek Jafin, dia lalu
berbalik pergi meninggalkan mereka berdua
yang tidak lagi berani membalas kata-kata Jafin.
"Apakah sudah selesai?" tanya Nabila begitu
Jafin masuk ke dalam mobil.
Jafin tersenyum sambil menunjukkan
jempolnya ke Nabila, setelah itu dia
mengemudikan mobilnya meninggalkan Aditya
dan Vina yang masih mematung di tempat
mereka.
Mobil mereka akhirnya tiba di pintu gerbang,
satpam yang berjaga tadi segera membuka pintu,
begitu pintu gerbang terbuka, Jafin segera
turun dari mobil, hal itu membuat Nabila sedikit
kebingungan.
"Hei kemari.." Jafin melambaikan
tangannya memanggil satpam yang berdiri di
dekat gerbang.
Satpam itu berlari kecil menghampiri Jafin,
begitu dia tiba di depan Jafin, dengan cepat
Jafin melayangkan tinjunya ke wajah satpam itu.
Bukk!
"Acckk..! pekik satpam itu yang langsung
tersungkur dengan hidung yang mengeluarkan
darah.
Jafin lalu menunduk dan mendekatkan
wajahnya ke satpam itu, dengan wajah yang
sangat marah dia berkata, "Itu hukuman karena
kamu berani menghina Nona Mudaku."
Nabila yang melihat sontak terkejut melihat
Jafin memukuli satpam itu, dia tidak menyangka
ika Jafin akan bertindak sejauh itu.
Jafin kembali ke mobil, dia lalu
mengemudikan mobilnya meninggalkan satpam
Aditya yarng masih menggeliat menahan sakit di
wajahnya.
"Jafin mengapa kamu memukuli satpam itu?
"tanya Nabila.
"Ah... aku lupa, seharusnya aku meminta izin
terlebih dahulu, ehem.. maaf Nona Nabila, aku
meminta izin untuk memukuli satpam yang
sudah menghina Nona Nabila," kata Jafin
dengan ekspresi wajah yang dibuat seakan
terkejut.
Nabila menepuk jidatnya sendiri, "Hah... Jafin
. kamu sudah memukulinya untuk apa kamu
meminta izin," keluh Nabila sambil menghela
nafasnya pelan.
Dia lalu menyandarkan tubuhnya di
sandaran kursi, walaupun dia tadi terkejut
dengan tindakan Jafin, dia sama sekali tidak
marah, selama tinggal di kediaman pamannya,
satpam itu memang selalu memperlakukannya
dengan tidak hormat, tak jarang pula satpam itu
menghardik Calvin seenaknya hanya karena
alasan yang tidak jelas.
"Jafin... Terima kasih" kata Nabila sambil
tersenyum lembut.
"Nona Nabila tidak perlu berterima kasib,
sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi
calon istri Tuan lvan," jawab Jafin.
Nabila tertawa kecil, dia merasa sangat
bersyukur karena dipertemukan dengan
__ADS_1
orang-orang baik yang memperlakukannya
seperti keluarga.