Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 4 Melindungi Calon Istri Tuan Ivan


__ADS_3

"Nabila! Kemari!" harik Vina dengan raut


wajah yang sangat marah.


Nabila menunduk ketakutan, dengan berat


dia melangkahkan kakinya menghampiri Vina


yang terlihat sangat kesal.


Jafin tidak tinggal diam, dia berjalan


mengikuti Nabila sesuai perintah lvan yang


memintanya untuk terus menjaga Nabila.


Aditya sedikit terkejut ketika Jafin yang


tidak menggubrisnya berjalan mengikuti Nabila,


sedangkan Vina yang sudah terbakar amarah


tidak lagi memedulikan hal itu, dia langsung


mengharik Nabila begitu Nabila berdiri di


depannya.


"Dasar anak kurang ajar, kamu tidak


mengaktifkan ponselmu semalaman, kamu juga


sudah membuat Daryl marah, karena


perbuatanmu itu Daryl berniat membatalkan


hubungan kerjasama keluarga kita, aku tidak


mau tahu, sekarang juga segera hubungi Daryl


dan minta maaf atas tindakan bodoh yang telah


kamu lakukan..!" hardik Vina.


Nabila menunduk, tangannya mengepal


menahan amarah, dia merasa sangat kecewa,


bukan hanya tidak mendengarkan penjelasannya,


bibinya bahkan menyuruhnya meminta maaf


atas perbuatan Daryl yang mencoba meniduri


Nya.


Jafin yang terus mengamati Nabila segera


meletakkan telapak tangannya di punggung


Nabila.


"Nona Nabila... jangan takut," ucapnya sopan


sembari tersenyum lembut kepada Nabila.


Vina dan Aditya kembali terkejut, sedangkan


Nabila tampak menghela nafasnya pelan, dia lalu


menatap wajah Vina.


"Bibi Vina, maaf... aku kemari tidak untuk


mencari masalah dengan keluarga Bibi, aku


kemari hanya ingin berpamitan dan juga


mengemasi barang-barang milikku dan milik


putraku, mulai hari ini aku akan meninggalkan


rumah Bibi dan tinggal di tempat lain.!" tegas


Nabila.


Aditya langsung terperangah mendengar


ucapan Nabila dia tidak menyangka jika Nabila


berniat keluar dari rumah mereka.


Vina semakin marah, dia menunjuk wajah


Nabila dan langsung memaki Nabila yang dia


anggap tidak tahu cara balas budi.


"Kamu benar-benar kurang ajar dan tidak


tahu balas budi, beberapa tahun ini kami terus


membiayai kehidupanmu dan juga kehidupan


putramu, sekarang saat kami memintamu untuk


membantu keluarga ini, kamu dengan


seenaknya ingin pergi meninggalkan rumah ini."


Nabila tidak membalas ucapan Vina, hal itu


membuat Vina semakin naik pitam. Vina meraih


tangan Nabila dengan kasar, dia lalu menarik


Vina masuk ke dalam rumah.


"Ayo ikut aku, aku tidak akan pernah


membiarkanmu pergi dari rumah ini sampai


kerjasama antara keluarga Mahendra dan


keluarga Pratama berhasil.! tukas Vina.


Nabila dengan cepat melepaskan tangannya


yang sedang ditarik paksa oleh Vina, dia dengan


tegas menolak untuk mengikuti perintah Vina.


"Kamu!" teriak Vina marah.


Dia lalu melayangkan tangannya untuk


menampar pipi Nabila yang berani


membangkang perintahnya.


Nabila menutup matanya, tepat sebelum


tangan Vina mendarat di pipinya, Jafin dengan


sigap menangkap tangan Vina.


"Apa yang kamu coba lakukan?" kata Jafin


sambil menatap dingin wajah Vina.


Aditya yang melihat itu segera menghampiri


Jafin, namun Jafin langsung mendorongnya


mundur dengan berkata, "Jangan ikut campur..!"


Aditya bergidik ngeri, dia yang terdorong


mundur mulai merasa takut saat Jafin


menatapnya tajam. Tatapan Jafin seolah


mengisyaratkan jika Jafin tidak segan-segan


menghajarnya jika berani mendekati Nabila.


"Jafin..." ucap Nabila pelan.


"Nona Nabila tenang saja, biar aku yang


mengambil alih," kata Jafin sambil tersenyum


lembut kepada Nabila.


Vina menarik tangannya yang di genggam


erat oleh Jafin. Begitu tangannya terlepas, dia


langsung memaki Jafin yang berani


menghentikan aksinya.


"Kamu benar-benar kurang ajar, aku akan


meminta Daryl untuk memecatmu!" teriaknya


menghardik Jafin.


Jafin tertawa, dia lalu kembali menatap Vina


yang sudah salah paham tentang statusnya.


"Aku tidak mengenal bedebah yang baru


saja kamu sebutkan.!" seru Jafin.


Aditya dan Vina sontak terkejut mendengar


ucapan Jafin, mereka berdua yang awalnya


mengira Jafin adalah bawahan Daryl kini mulai


mempertanyakan identitas pria berjas hitam


yang terus membela Nabila.


Dari ucapan Jafin yang dengan mudahnya


menyebut Daryl bedebah, mereka berdua


langsung bisa menebak jika Jafin memiliki latar


belakang yang tidak biasa.


"Maaf.. aku tidak tahu siapa anda, tapi ini


urusan keluarga kami, anda tidak berhak untuk


ikut campur," kata Aditya yang langsung


berbicara dengan nada sopan kepada Jafin.


"Aku diminta atasanku untuk membantu


Nona Nabila mengemasi barang-barangnya dan


juga menjaga keamanan Nona Nabila, hari ini


Nona Nabila sudah resmi menjadi karyawan di


perusahaan kami, sesuai dengan perintah


atasanku, aku tidak akan pernah membiarkan


seseorang menyakiti karyawan yang merupakan


aset bagi perusahaan kami..!" seru Jafin


menjelaskan status Nabila.


Aditya dan Vina saling menatap, mereka


tidak menyangka jika Nabila yang hanya


berstatus lulusan SMA bisa bekerja di


perusahaan yang menggunakan Mobil seharga 8


Milyar hanya untuk mengemasi barang


karyawannya.


"Maaf. kalau boleh tahu, apa nama


perusahaan anda, aku akan bertemu dengan


atasan anda untuk menjelaskan status dari


keponakan kami," sela Aditya.


"Pfftt, cecunguk sepertimu ingin bertemu


atasanku? Hahaha, kamu tidak pantas, bahkan


orang tua dari bedebah yang bernama Daryl

__ADS_1


harus mengantri jika ingin bertemu dengan


atasanku," jumawa Jafin sambil terus tertawa.


"Jafin..." ucap Nabila pelan sambil menatap


tajam Jafin.


"Ehmm, maaf Nona Nabila, aku hanya


berusaha menjelaskan status Tuan Muda


kepada cecunguk... ah maaf maksudku kepada


Tuan Aditya," kata Jafin sambil menahan


tawanya.


"Orang tua Daryl harus mengantri untuk


bertemu dengan atasan Nabila?" batin Aditya


yang mulai semakin khawatir setelah


mendengar perkataan Jafin.


Dia bisa saja menganggap Jafin berbohong,


namun instingnya sebagai pengusaha


memberitahunya jika Jafin tidak berbohong


mengenai status atasannya, kendaraan seharga


8 milyar dan juga sikap sombong yang di


tunjukkan Jafin semakin meyakinkan dirinya jika


Jafin berkata yang sesungguhnya.


"Nona Nabila, silakan anda mengemasi


barang-barang anda," kata Jafin lembut


mempersilakan Nabila memasuki rumah Aditya.


Nabila mengangguk pelan, dia lalu berjalan


menuju pintu masuk kediaman Aditya.


"Tunggu!" teriak Vina yang masih terlihat


sangat kesal. Dia kembali ingin menghentikan


Nabila yang hendak mengemasi


barang-barangnya, namun Aditya yang sudah


merasa khawatir dengan cepat menghentikan


Vina, dia tidak mau gegabah menyinggung orang


besar yang berdiri dibelakang Nabila.


"Istriku berhenti.!" seru Aditya sambil


menarik lengan Vina yang mencoba


menghentikan Nabila.


"Bagaimana dengan Daryl..?" tanya Vina


yang masih mengkhawatirkan ancaman Daryl.


Aditya menggelengkan kepalanya, "Jangan


bertindak gegabah sebelum kita mengetahui


latar belakang orang yang melindungi Nabila,


aku yang akan menjelaskan semuanya kepada


Daryl," bisiknya pelan di telinga Vina.


Vina hanya bisa berdecak kesal, dia


terpaksa harus pasrah mengikuti ucapan


Suaminya.


"Kamu cukup pinta," kata Jafin memuji


kehati-hatian Aditya, setelah mengatakan itu dia


lalu menyusul Nabila yang sudah memasuki


rumah Aditya lebih dulu.


Mata Nabila langsung berkaca-kaca saat


memasuki kamar yang dia tempati bersama


putranya selama 6 tahun, berbagai kenangan


pahit yang dia lalui tiba-tiba muncul dikepalanya,


dia terlihat sangat sedih saat mengemasi


pakaian dan barang-barang miliknya.


Rumah yang ditempati Aditya dan Vina


awalnya adalah rumah milik mendiang ayahnya,


setelah kematian kedua orang tuanya, Aditya


beserta istri dan anaknya langsung datang dan


mengklaim jika rumah itu adalah milik mereka


sebagai kepala keluarga Pratama yang baru.


Nabila dan mendiang kakaknya yang tidak


mengerti apa-apa terpaksa harus pasrah


menerima klaim sepihak dari keluarga Aditya.


Saat ini kamar mendiang ayah dan Ibunya


ditempati oleh Aditya dan Vina, kamar miliknya


dulu kini ditempati oleh putri Aditya yang


bernama Frieska sedangkan kamar mendiang


pakaian dan juga koleksi tas branded dan


pakaian mahal milik Frieska.


Nabila dan Kakaknya sendiri dipaksa untuk


menempati kamar sempit berukuran 3x2 meter


milik pembantu yang bekerja untuk orang tua


mereka dulu.


Jafin yang sudah menyusul Nabila langsung


berhenti di depan pintu kamar Nabila, melihat


ekspresi wajah Nabila yang


sedih, dia bisa tahu jika saat ini Nabila


sedang butuh waktu untuk sendiri.


Satu demi satu, Nabila memasukkan


pakaian miliknya dan Calvin ke dalam koper,


setelah beberapa saat berlalu, Nabila akhirnya


selesai mengemasi semua barang-barangnya.


Jafin berdecak kesal, dia tidak menyangka


jika kamar yang ditempati Nabila sangat tidak


layak untuk ukuran Nona Muda dari keluarga


pengusaha, dia semakin merasa kesal tatkala


melihat 4 buah koper milik Nabila, menurutnya


jumlah pakaian yang dimiliki Nabila sangat


sedikit, Inah yang hanya pelayan di kediaman


Ivan bahkan memiliki pakaian yang jauh lebih


banyak dari jumlah pakaian milik Nabila yang


berstatus Nona Muda dari keluarga Pratama.


Dalam hati, Jafin terus mengumpat Aditya


dan Vina yang memperlakukan Calon istri Tuan


Mudanya seperti itu, jika bukan karena Nabila


terus menghentikannya, dia tentu sudah lepas


kontrol dan menghajar Aditya sampai babak


belur.


"Nona... apakah anda sudah selesai?" tanya


Jafin.


Nabila mengangguk pelan dia mengusap


airmatanya yang tanpa sadar keluar saat


mengingat masa-masa indah bersama


keluarganya di rumah ini.


Jafin merogoh saku jasnya, dia


mengeluarkan Tisu dan menyerahkannya


kepada Nabila.


"Nona Nabila, jangan bersikap lemah di


depan mereka, anda adalah calon istri Tuan lvan,


senyuman terlihat lebih cocok untuk wajah


cantik anda," ucap Jafin sambil tersenyum


lembut kepada Nabila.


Nabila tertawa kecil mendengar kata-kata


manis Jafin, tidak hanya Ivan, para bawahan Ivan


juga bersikap baik kepadanya.


"Sekarang aku tahu dari mana Ivan


Mendapatkan kemampuan merayu miliknya,"


ucap Nabila tertavwa sambil menyeka airmatanya.


"Ah.. sepertinya anda salah, aku dan Billy


yang mendapatkan kemampuan merayu itu dari


Tuan lvan," jawab Jafin.


"Benarkah? Aku akan menanyakan itu


kepada lvan."


"Nona Nabila, anda sungguh kejam, jika


Tuan lvan mendengar itu, aku pastikan dia akan


menghajarku," kata Jafin bercanda.


Nabila kembali tertawa, mereka berdua lalu


pergi meninggalkan kamar Nabila.


Aditya yang masih berada di halaman depan


hanya bisa pasrah memandangi Nabila dan Jafin


yang baru saja keluar dari rumah mereka, 4 buah


koper yang ditarik Jafin semakin mempertegas

__ADS_1


jika Nabila sebentar lagi akan meninggalkan


kediaman mereka.


Sedangkan Vina yang awalnya sudah


merelakan kepergian Nabila kembali merasa


kesal, hatinya merasa sakit melihat Nabila yang


mungkin sebentar lagi akan hidup enak o


tempat lain.


Cara berjalan Nabila yang biasa saja terlihat


seperti sedang berlenggak-lenggok di matanya,


kebenciannya kepada Nabila yang sudah


mendarah daging membuatnya semakin naik


pitam dan tidak rela melepas kepergian Nabila.


"Tuan, anda tidak bisa melakukan ini,


keluarga kamilah yang membiayai Nabila dan


putranya selama beberapa tahun terakhir ini,


saat ini bisnis keluarga kami sedang terancam,


hanya Nabila yang bisa membantu


menyelesaikan permasalahan itu, setidaknya


biarkan dia membalas kebaikan kami selama ini."


terang Vina.


Nabila sempat berhenti berjalan, namun


Jafin kembali memintanya agar terus berjalan


menuju mobil yang mereka kendarai.


"Nona Nabila, anda tidak perlu memedulikan


mereka," kata Jafin pelan yang langsung dibalas


anggukan kepala oleh Nabila.


Jafin dan Nabila tidak menggubris ucapan


Vina, mereka berdua kembali berjalan menuju


mobil mereka.


Jafin memasukkan dua koper milik Nabila


ke bagasi belakang, sisanya dia letakkan di kursi


penumpang, setelah memasukkan semua koper


Nabila, Jafin menghidupkan mesin mobil.


"Nona, aku akan segera kembali," kata Jafin.


"Jafin, jangan mencari masalah dengan


mereka, kita sebaiknya pergi meninggalkan


tempat ini.


"Nona Nabila tidak perlu cemas, aku hanya


ingin menjelaskan beberapa hal kepada mereka


berdua," ucap Jafin.


Nabila menghela nafasnya pelan, dia


menganggukkan kepalanya memberi izin kepada


Jafin untuk kembali menemui Paman dan


bibinya.


Jafin menutup pintu mobilnya, dia kembali


menemui Aditya dan Vina dengan ekspresi


wajah yang sangat serius.


"Hei wanita sialan, aku sudah muak dengan


sikap materialistismu.!" umpat Jafin begitu dia


tiba di depan Aditya dan Vina.


Aditya dan Vina terdiam, sikap Jafin sangat


berbeda ketika Nabila tadi bersamanya.


"Sebelum aku kemari, atasanku sudah


mengirimkan beberapa informasi tentang


keluarga Pratama, aku sudah mengetahui jika


semua aset yang kalian miliki sebenarnya adalah


milik mendiang Tuan Gilang Pratama yang


merupakan ayah dari Nona Nabila, kalian berdua


hanya parasit yang mengambil keuntungan dari


kepolosan Nona Nabila dan mendiang Kakaknya."


Aditya dan Vina langsung mematung


mendengar perkataan Jafin, hanya mereka


berdua dan temannya yang berprofesi sebagai


pengacara yang mengetahui tentang hal itu,


mereka akhirnya benar-benar sadar jika atasan


Jafin memiliki latar belakang yang luar biasa


karena bisa mendapatkan informasi itu.


"Cecunguk dan wanita sialan, kalian berdua


memang pasangan serasi, cuih.. aku merasa


jijik melihat sikap kalian yang sombong dari


hasil kerja keras orang lain," ledek Jafin, dia lalu


berbalik pergi meninggalkan mereka berdua


yang tidak lagi berani membalas kata-kata Jafin.


"Apakah sudah selesai?" tanya Nabila begitu


Jafin masuk ke dalam mobil.


Jafin tersenyum sambil menunjukkan


jempolnya ke Nabila, setelah itu dia


mengemudikan mobilnya meninggalkan Aditya


dan Vina yang masih mematung di tempat


mereka.


Mobil mereka akhirnya tiba di pintu gerbang,


satpam yang berjaga tadi segera membuka pintu,


begitu pintu gerbang terbuka, Jafin segera


turun dari mobil, hal itu membuat Nabila sedikit


kebingungan.


"Hei kemari.." Jafin melambaikan


tangannya memanggil satpam yang berdiri di


dekat gerbang.


Satpam itu berlari kecil menghampiri Jafin,


begitu dia tiba di depan Jafin, dengan cepat


Jafin melayangkan tinjunya ke wajah satpam itu.


Bukk!


"Acckk..! pekik satpam itu yang langsung


tersungkur dengan hidung yang mengeluarkan


darah.


Jafin lalu menunduk dan mendekatkan


wajahnya ke satpam itu, dengan wajah yang


sangat marah dia berkata, "Itu hukuman karena


kamu berani menghina Nona Mudaku."


Nabila yang melihat sontak terkejut melihat


Jafin memukuli satpam itu, dia tidak menyangka


ika Jafin akan bertindak sejauh itu.


Jafin kembali ke mobil, dia lalu


mengemudikan mobilnya meninggalkan satpam


Aditya yarng masih menggeliat menahan sakit di


wajahnya.


"Jafin mengapa kamu memukuli satpam itu?


"tanya Nabila.


"Ah... aku lupa, seharusnya aku meminta izin


terlebih dahulu, ehem.. maaf Nona Nabila, aku


meminta izin untuk memukuli satpam yang


sudah menghina Nona Nabila," kata Jafin


dengan ekspresi wajah yang dibuat seakan


terkejut.


Nabila menepuk jidatnya sendiri, "Hah... Jafin


. kamu sudah memukulinya untuk apa kamu


meminta izin," keluh Nabila sambil menghela


nafasnya pelan.


Dia lalu menyandarkan tubuhnya di


sandaran kursi, walaupun dia tadi terkejut


dengan tindakan Jafin, dia sama sekali tidak


marah, selama tinggal di kediaman pamannya,


satpam itu memang selalu memperlakukannya


dengan tidak hormat, tak jarang pula satpam itu


menghardik Calvin seenaknya hanya karena


alasan yang tidak jelas.


"Jafin... Terima kasih" kata Nabila sambil


tersenyum lembut.


"Nona Nabila tidak perlu berterima kasib,


sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi


calon istri Tuan lvan," jawab Jafin.


Nabila tertawa kecil, dia merasa sangat


bersyukur karena dipertemukan dengan

__ADS_1


orang-orang baik yang memperlakukannya


seperti keluarga.


__ADS_2