
Fieska baru saja selesai mengurus berkas
Nabila, sesuai permintaan van, hanya dalam 5
menit, Frieska dibantu beberapa temannya
sudah menyelesaikan proses Administrasi
pengangkatan Nabila menjadi sekretaris pribadi
Ivan.
Dia yang masih sangat marah, mulai
menghembuskan berita miring tentang Nabila,
mulai dari latar belakang Nabila, sampai status
Nabila yang sudah memiliki putra yang tidak
diketahui siapa ayahnya.
Berita tentang sekretaris Ivan yang baru
langsung menyebar dengan cepat di kalangan
karyawan, apa yang Nabila khawatirkan menjadi
kenyataan, Frieska yang telah lama bekerja di
perusahaan Ivan sudah memiliki pengaruh yang
besar, dia juga dikenal dekat dengan Ivan, tentu
saja karyawan yang mengetahui jika sumber
berita itu dari Frieska langsung mempercayai
berita itu.
Banyaknya Karyawan wanita yang saling
berbisik pelan menarik perhatian Billy, dia yang
sedang menuju ruangan Ivan segera mencari
tahu melalui beberapa orang karyawan yang
cukup dekat dengannya, begitu mengetahui jika
Nabila adalah orang yang sedang menjadi bahan
pergunjingan para karyawan, Billy langsung naik
pitam.
"Dari mana kamu mendapat cerita ini?"
tanya Billy kepada salah seorang karyawan.
"Dari lbu Frieska Pak," jawab karyawan itu.
Billy lalu menghampiri beberapa karyawan
lainnya, mereka semua ikut membenarkan jika
yang pertama menyebar informasi itu adalah
Frieska.
Billy lalu bergegas menuju lift, dia
berencana memberitahukan tentang hal ini
kepada lvan.
*****
Frieska baru saja diberitahu oleh salah
seorang temannya jika berita tentang Nabila
telah menyebar dengan cepat. Dalam hati dia
terus tertawa, di benaknya dia bisa
membayangkan wajah Nabila yang murung
karena di kucil kan oleh teman-temannya di
kantor ini.
"Memang kenapa jika Pak lvan menyukaimu?
Aku akan melihat sampai dimana kesabaranmu
menghadapi gunjingan dari semua karyawan
wanita yang ada di perusahaan ini," batin Frieska
sambil terus tersenyum.
Dia tampak memegang id card milik Nabla
di tangan kanannya, dan ponsel di tangan kirinya.
Dia yang sedang berada di lantai 9 sedang
menuju ruang kerja lvan di lantai 8, tangan
kirinya terus sibuk menggulirkan layar ponselnya,
dia terlihat serius membaca pesan masuk dari
ibunya.
Inti dari pesan ibunya hanya satu, Nabila
sudah tidak tinggal dirumah mereka, dan Nabila
sepertinya sudah bekerja di salah satu
perusahaan besar.
Ibunya juga menjelaskan ciri-ciri pria kasar
yang menemani Nabila, dia mengingatkan
Frieska agar tidak mencari masalah dengan
Nabila terlebih dahulu.
[Vinal Pria yang menemani Nabila tadi
sepertinya bukan orang biasa, kamu sebaiknya
tidak mencari masalah dengan Nabila sampai
kami mengetahui identitas pria itu.
[Vinal Pria itu mengatakan jika Nabila adalah
karyawan di perusahaan milik atasannya, aku
penasaran dimana anak tidak tahu diri itu
bekerja sekarang.
"Nabila sudah bekerja di perusahaan besar?
Berarti perusahaan yang dia maksud bukan
perusahaan ini," gumam Frieska.
Pikiran Frieska kembali menjadi liar,
kebenciannya kepada Nabila sudah tidak bisa
membuatnya berpikir jernih, siapapun akan
langsung mengerti jika atasan pria kasar yang
disebutkan oleh ibunya adalah lvan, namun
karena ego dan kebencian sudah merasuki
pikirannya, dia menepis semua itu.
"Dasar wanita serakah, dia sudah memiliki
pria kaya yang ingin memeliharanya, dan
sekarang dia juga ingin merebut Ivan dariku.!"
batin Frieska yang sudah tidak bisa lagi berpikir
jernih.
Beberapa saat kemudian, Frieska telah
keluar dari lift, dia bergegas menuju ruangan
Ivan untuk menyerahkan id card Nabila.
"Maaf, kamu tidak bisa memasuki ruangan
Tuan lvan," kata Jafin menghentikan Frieska
yang hendak masuk ke dalam ruang kerja lvan.
Frieska berhenti di depan Jafin, dia lalu
menunjukkan Id card milik Nabila yang baru saja
selesai dia buat.
"Maaf Pak Jafin, aku hanya ingin
menyerahkan ID Card ini kepada Pak lvan."
Jafin menatap ID Card yang berada di
tangan Frieska, dia berkata, "Kamu bisa
menyerahkan ID Card itu kepadaku, Tuan lvan
sedang menemui tamu diruangan itu,"
Jafin lalu menunjuk ruangan yang biasa
menjadi tempat Ivan menerima tamu penting,
dari tempatnya berdiri, samar-samar Frieska
bisa mendengar suara gelak tawa lvan yang
sedang berbicara dengan seorang pria.
"Tunggu...!" Frieska tercengang dia
tampaknya baru menyadari sesuatu.
"Berarti yang berada di dalam ruangan Pak
Ivan saat ini adalah..." terka Frieska.
"lya, Nona Nabila yang ada di ruangan Tuan
Ivan.." tegas Jafin.
"Nona?" batin Frieska yang begitu terkejut
karena mendengar Jafin memanggil Nabila
dengan sebutan Nona.
Walaupun hanya berposisi sebagai
pengawal lvan, Jafin dan Billy memiliki posisi
__ADS_1
yang cukup tinggi di perusahaan lvan. Kedua
pengawal lvan merupakan lulusan universitas
ternama jurusan managemen bisnis di Amerika,
pengetahuan mereka berdua jauh diatas
rata-rata.
Selain itu orang tua lvan juga memberikan
mereka perusahaan untuk dipimpin, selain
bertugas sebagai pengawal lvan mereka berdua
juga adalah CEO dari perusahaan yang juga
tergabung di bawah Grup Barata Cipta Abadi.
Karena itulah semua karyawan di perusahaan
Ivan selalu menghormati mereka berdua.
Frieska yang mendengar sebutan Nona dari
mulut Jafin semakin kesal, dia pun semakin
bernafsu untuk bertemu dengan Nabila.
"Pak Jafin, Nabila itu sepupuku jadi bisakah
kamu membiarkan aku untuk menyapanya?"
ucapnya sambil tersenyum kepada Jafin.
Ting!
Lift kembali berbunyi, Billy yang ingin
bertemu dengan lvan keluar dari lift itu.
Frieska dan Jafin sontak menoleh ke Billy
yang berjalan menghampiri mereka berdua,
namun kata-kata Billy yang keluar dari mulutnya
langsung membuat Frieska terperangah.
"Wanita berengsek..!" maki Billy pelan
sambil menatap tajam wajah Frieska.
Frieska terdiam, dia benar-benar tidak
mengerti mengapa Billy yang baru saja tiba
menatapnya dengan tatapan sinis disertai
kata-kata kasar.
Billy yang baru saja melewati Frieska segera
berbisik di telinga Jafin, dia memberitahu situasi
para karyawan yang sedang menggunjing Nabila
karena hasutan dari Frieska.
"Kurang ajar.!!" teriak Jafin yang langsung
menyambar ID Card milik Nabila yang berada
ditangan Frieska.
Frieska yang terkejut langsung jatuh
terduduk dilantai, dia memandangi wajah Jafin
dan Billy yang sedang menatapnya penuh
dengan amarah.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dulu aku
tidak mempercayai peribahasa ini, karena aku
percaya setiap orang dilahirkan berbeda, dan
setiap orang bisa mengubah nasib mereka,
namun hari ini aku mulai percaya dengan
peribahasa itu, ternyata wanita sialan bisa
melahirkan wanita sialan lainnva...!" seru Jafin
yang terlihat sangat marah.
Dia lalu berjongkok di depan Frieska yang
sedang terduduk dilantai, "Apa ibu dan ayahmu
tidak memberitahu kamu tentang kedatanganku
tadi 2"
Wajah Frieska berubah menjadi pucat, dia
akhirnya sadar jika pria kasar yang dimaksud
ibunya adalah Jafin, wajahnya menunduk lesu,
jika Jafin adalah pria kasar yang dimaksud
Ibunya, itu berarti atasan yang pria kasar itu
adalah lvan.
Ivan yang sedang berbicara dengan
luar ruangannya, dia dengan sopan meminta izin
kepada tamunya untuk mengecek asal suara itu.
"Maaf Pak, aku permisi sebentar,..." pamit
Ivan yang langsung dibalas anggukan oleh pria
itu.
Begitu dia keluar ruangan, Ivan langsung
terkejut melihat Frieska yang sedang duduk di
lantai, Jafin terlihat berjongkok di depan Frieska
sementara Billy sedang memandangi Frieska
dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Jafin, Billy, ada apa ini?" tanya lvan kepada
kedua pengawalnya.
"Pak lvan," kata Frieska lirih wajahnya
terlihat memelas meminta pertolongan.
Billy segera menghampiri Ivan, dia lalu
berbisik kepada lvan.
"Tuan lvan, seperti ini kejadiannya...."
Sambil berbisik Billy menjelaskan kepada
Ivan kondisi saat ini, mendengar informasi dari
Billy ekspresi wajah lvan yang tadinya terkejut
berubah menjadi datar.
"Hahh..." Ivan menghela nafasnya, dia lalu
mengambil ID Card milik Nabila yang berada
ditangan Jafin.
"Jafin, perintahkan semua karyawan untuk
berkumpul di aula lantai 10, semua karyawan
wajib hadir.." seru lvan memberikan perintahnya.
"Dan Billy, aku tidak ingin melihat satu
orang pun berada di depan ruangan ku begitu
aku selesai memberikan ID Card ini kepada
Nabila," sambungnya lalu bergegas masuk ke
dalam ruangannya.
"Siap Tuan.!" kompak Billy dan Jafin
menjawab perintah lvan.
"Pak lvan..." ucap Frieska memanggil lvan.
Ivan tidak menjawab dia hanya melirik
Frieska sekilas lalu masuk ke dalam ruangannya.
Ceklek..
Pintu ruang kerja lvan terbuka, Nabila yang
sedang duduk di kursi kerja lvan langsung
tersenyum begitu melihat lvan memasuki
ruangan.
"Bagaimana dengan urusanmu apa sudah
selesai..?" tanya Nabila sambil merapikan
beberapa berkas yang ada di meja lvan.
Ivan menutup pintu ruang kerjanya, dia lalu
bersandar di pintu sambil menyilangkan kedua
tangannya.
"Nona CEO, kamu terlihat sangat cantik,"
ujar lvan bercanda sambil tersenyum genit ke
Nabila.
"Berhenti menggodaku lvan, aku sedang
merapikan dan menyusun berkas yang ada di
mejamu, ini benar-benar berantakan.!" balas
Nabila yang terlihat serius merapikan meja kerja
Ivan.
"Aku serius, tulisan CEO yang berada di
meja benar-benar cocok untukmu, mungkin aku
harus menjadikanmu CEO di salah satu
__ADS_1
perusahaanku." Ivan menatap langit-langit
ruang kerjanya matanya mengerling
membayangkan Nabila mengisi posisi CEO di
salah satu perusahaan miliknya.
Nabila menjadi panik, dia tahu lvan tidak
pernah bercanda jika menyangkut hal seperti ini,
bagi orang lain yang mendengar perkataan Ivan
Barusan, mereka mungkin akan menganggap
Ivan bercanda, namun tidak bagi Nabila, dia
masih mengingat dengan jelas bagaimana van
menendang keluarga Mahendra hanya dengan
perkataan sederhana seperti ini
"No. No. No.. lvan berhenti berpikiran yang
tidak-tidak, buang jauh-jauh pikiranmu tentang
menjadikanku CEO.!" seru Nabila yang terlihat
sangat panik.
"Why not? Aku rasa kamu pantas untuk itu,"
balas lvan sambil tersenyum.
Nabila menghela nafasnya, dia takut jika
Ivan benar-benar menjadikannya CEO, Nabila
menolak bukan karena sombong, namun karena
dia sadar, dia tidak memiliki pengetahuan
tentang dunia CEO sama sekali.
Nabila mulai memikirkan cara, tiba-tiba
sebuah ide muncul di benaknya.
"Hmm. baiklah silahkan menjadikanku CEO
.." kata Nabila, dia lalu kembali duduk di kursi
kerja lvan.
"Nah... akhirnya kita sepemikiran, aku
sedang memikirkan beberapa nama perusahaan
yang bisa kamu pimpin, hmm.mungkin di
perusahaan.."
"Silahkan jadikan aku CEO, dengan begitu
aku akan meeting tiap hari bersama para pria
pengusaha yang lain, mungkin aku juga akan
bepergian keluar kota dengan asisten pribadiku,
hmmm pasti itu akan sangat menyenangkan..."
gumam Nabila menggoda lvan, matanya tampak
melirik lvan, dia menunggu ekspresi wajah
seperti apa yang lvan akan tunjukkan kepadanya.
"What? Tunggu... Tunggu.." van lalu
bergegas menghampiri Nabila. Kini dia yang
menjadi panik, dia lalu berlutut di depan Nabila
yang duduk di kursinya sambil menyilangkan
kedua tangannya.
"Bagaimana bisa aku melupakan itu..??!"
batinnya yang mulai menyesali perkataannya.
"Nabila sayang, mungkin tugas CE0 masih
terlalu berat bagi kamu, bagaimana jika kamu
menjadi sekretaris pribadiku saja," ucap lvan
sambil meletakkan kedua tangannya di lutut
Nabila.
Nabila menahan tawa sambil memalingkan
wajahnya, namun dia masih ingin menggoda
Ivan yang terlihat begitu menggemaskan
dimatanya.
"Tidak, aku tetap ingin menjadi CEO, seperti
katamu tadi, aku sudah siap memimpin sebuah
perusahaan..." seru Nabila dengan nada tegas.
Ivan menunduk lesu, dia semakin menyesali
keputusannya, namun begitu dia melirik Nabila
yang sedang memalingkan wajahnya, dia bisa
melihat senyuman tipis Nabila yang sedang tawa.
"Oh.. jadi kamu mengerjai ku?" batin lvan
menyeringai
"Baiklah aku akan menjadikanmu CEO..!"
tegas lvan dengan nada serius.
"Apa?!" Nabila yang terkejut sontak menoleh
ke lvan, begitu dia menoleh lvan dengan cepat
mencium bibirnya dengan lembut.
Nabila yang sempat terdiam karena ciuman
tiba-tiba lvan. Sedetik kemudian membalas
ciuman lembut Ivan.
lvan menekan tengkuk leher Nabila
memperdalam ciumannya. Di sesapnya bibir
Nabila atas dan bawah bergantian dengan begitu
lembut dan penuh cinta.
"Bibirmu sangat manis sayang..." bisik lvan
di sela ciumannya membuat wajah Nabila
merona.
Begitu lvan melepaskan ciumannya, dia lalu
meletakkan tangan kirinya dibawah kedua lutut
Nabila, sementara tangan kanannya dia selipkan
dibawah punggung Nabila.
"Ivan..?!" ucap Nabila manja yang langsung
melingkarkan kedua tangannya di leher lvan.
Huuup...
Ivan mengangkat tubuh Nabila, "Sayang,
selamat.! Kamu sudah resmi menjadi
sekretarisku.!!" seru lvan yang mendongakkan
kepalanya melihat kekasih hatinya itu.
Nabila tertawa sumringah, "lya aku tahu, tapi
kamu tidak perlu menggendongku seperti ini
kan?" balas Nabila dengan senyuman manisnya.
Ceklek...
Pintu ruang kerja lvan kembali terbuka,
Jafin lagi-lagi masuk di saat yang kurang tepat.
"Woah Tuan, apa-apaan ini? Bukankah
progressnya terlalu cepat.?!" goda Jafin sambil
bergerak mundur kembali menuju pintu hingga
hanya tubuh bagian atasnya saja yang masih
berada di dalam ruangan.
"Jafiiinnn!" teriak lvan sambil menatap
Jafin.
Dukk!
Jafin dengan sigap langsung menutup pintu
ruang kerja lvan. Hal itu membuat Nabila dan
van tertawa melihat kelakuan Jafin.
"Dia benar-benar selalu masuk di saat yang
tepat..!! Tepat untuk mengganggu waktu kita
bersama.!" dengus Ivan yang sedikit kagum
dengan ketepatan waktu Jafin.
Ceklek...
Pintu kembali terbuka, namun kali ini hanya
lengan Jafin yang terlihat, sambil menunjukkan
jempolnya terdengar suara Jafin, "Mantap Tuan..
Begitu selesai mengatakan Itu Jafin
kembali menarik lengannya dan langsung
menutup pintu kembali.
Nabila dan lvan saling menatap, mereka lalu
__ADS_1
kompak tertawa bersama.