Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 19 Isu Yang tersebar tentang Nabila


__ADS_3

Fieska baru saja selesai mengurus berkas


Nabila, sesuai permintaan van, hanya dalam 5


menit, Frieska dibantu beberapa temannya


sudah menyelesaikan proses Administrasi


pengangkatan Nabila menjadi sekretaris pribadi


Ivan.


Dia yang masih sangat marah, mulai


menghembuskan berita miring tentang Nabila,


mulai dari latar belakang Nabila, sampai status


Nabila yang sudah memiliki putra yang tidak


diketahui siapa ayahnya.


Berita tentang sekretaris Ivan yang baru


langsung menyebar dengan cepat di kalangan


karyawan, apa yang Nabila khawatirkan menjadi


kenyataan, Frieska yang telah lama bekerja di


perusahaan Ivan sudah memiliki pengaruh yang


besar, dia juga dikenal dekat dengan Ivan, tentu


saja karyawan yang mengetahui jika sumber


berita itu dari Frieska langsung mempercayai


berita itu.


Banyaknya Karyawan wanita yang saling


berbisik pelan menarik perhatian Billy, dia yang


sedang menuju ruangan Ivan segera mencari


tahu melalui beberapa orang karyawan yang


cukup dekat dengannya, begitu mengetahui jika


Nabila adalah orang yang sedang menjadi bahan


pergunjingan para karyawan, Billy langsung naik


pitam.


"Dari mana kamu mendapat cerita ini?"


tanya Billy kepada salah seorang karyawan.


"Dari lbu Frieska Pak," jawab karyawan itu.


Billy lalu menghampiri beberapa karyawan


lainnya, mereka semua ikut membenarkan jika


yang pertama menyebar informasi itu adalah


Frieska.


Billy lalu bergegas menuju lift, dia


berencana memberitahukan tentang hal ini


kepada lvan.


*****


Frieska baru saja diberitahu oleh salah


seorang temannya jika berita tentang Nabila


telah menyebar dengan cepat. Dalam hati dia


terus tertawa, di benaknya dia bisa


membayangkan wajah Nabila yang murung


karena di kucil kan oleh teman-temannya di


kantor ini.


"Memang kenapa jika Pak lvan menyukaimu?


Aku akan melihat sampai dimana kesabaranmu


menghadapi gunjingan dari semua karyawan


wanita yang ada di perusahaan ini," batin Frieska


sambil terus tersenyum.


Dia tampak memegang id card milik Nabla


di tangan kanannya, dan ponsel di tangan kirinya.


Dia yang sedang berada di lantai 9 sedang


menuju ruang kerja lvan di lantai 8, tangan


kirinya terus sibuk menggulirkan layar ponselnya,


dia terlihat serius membaca pesan masuk dari


ibunya.


Inti dari pesan ibunya hanya satu, Nabila


sudah tidak tinggal dirumah mereka, dan Nabila


sepertinya sudah bekerja di salah satu


perusahaan besar.


Ibunya juga menjelaskan ciri-ciri pria kasar


yang menemani Nabila, dia mengingatkan


Frieska agar tidak mencari masalah dengan


Nabila terlebih dahulu.


[Vinal Pria yang menemani Nabila tadi


sepertinya bukan orang biasa, kamu sebaiknya


tidak mencari masalah dengan Nabila sampai


kami mengetahui identitas pria itu.


[Vinal Pria itu mengatakan jika Nabila adalah


karyawan di perusahaan milik atasannya, aku


penasaran dimana anak tidak tahu diri itu


bekerja sekarang.


"Nabila sudah bekerja di perusahaan besar?


Berarti perusahaan yang dia maksud bukan


perusahaan ini," gumam Frieska.


Pikiran Frieska kembali menjadi liar,


kebenciannya kepada Nabila sudah tidak bisa


membuatnya berpikir jernih, siapapun akan


langsung mengerti jika atasan pria kasar yang


disebutkan oleh ibunya adalah lvan, namun


karena ego dan kebencian sudah merasuki


pikirannya, dia menepis semua itu.


"Dasar wanita serakah, dia sudah memiliki


pria kaya yang ingin memeliharanya, dan


sekarang dia juga ingin merebut Ivan dariku.!"


batin Frieska yang sudah tidak bisa lagi berpikir


jernih.


Beberapa saat kemudian, Frieska telah


keluar dari lift, dia bergegas menuju ruangan


Ivan untuk menyerahkan id card Nabila.


"Maaf, kamu tidak bisa memasuki ruangan


Tuan lvan," kata Jafin menghentikan Frieska


yang hendak masuk ke dalam ruang kerja lvan.


Frieska berhenti di depan Jafin, dia lalu


menunjukkan Id card milik Nabila yang baru saja


selesai dia buat.


"Maaf Pak Jafin, aku hanya ingin


menyerahkan ID Card ini kepada Pak lvan."


Jafin menatap ID Card yang berada di


tangan Frieska, dia berkata, "Kamu bisa


menyerahkan ID Card itu kepadaku, Tuan lvan


sedang menemui tamu diruangan itu,"


Jafin lalu menunjuk ruangan yang biasa


menjadi tempat Ivan menerima tamu penting,


dari tempatnya berdiri, samar-samar Frieska


bisa mendengar suara gelak tawa lvan yang


sedang berbicara dengan seorang pria.


"Tunggu...!" Frieska tercengang dia


tampaknya baru menyadari sesuatu.


"Berarti yang berada di dalam ruangan Pak


Ivan saat ini adalah..." terka Frieska.


"lya, Nona Nabila yang ada di ruangan Tuan


Ivan.." tegas Jafin.


"Nona?" batin Frieska yang begitu terkejut


karena mendengar Jafin memanggil Nabila


dengan sebutan Nona.


Walaupun hanya berposisi sebagai


pengawal lvan, Jafin dan Billy memiliki posisi

__ADS_1


yang cukup tinggi di perusahaan lvan. Kedua


pengawal lvan merupakan lulusan universitas


ternama jurusan managemen bisnis di Amerika,


pengetahuan mereka berdua jauh diatas


rata-rata.


Selain itu orang tua lvan juga memberikan


mereka perusahaan untuk dipimpin, selain


bertugas sebagai pengawal lvan mereka berdua


juga adalah CEO dari perusahaan yang juga


tergabung di bawah Grup Barata Cipta Abadi.


Karena itulah semua karyawan di perusahaan


Ivan selalu menghormati mereka berdua.


Frieska yang mendengar sebutan Nona dari


mulut Jafin semakin kesal, dia pun semakin


bernafsu untuk bertemu dengan Nabila.


"Pak Jafin, Nabila itu sepupuku jadi bisakah


kamu membiarkan aku untuk menyapanya?"


ucapnya sambil tersenyum kepada Jafin.


Ting!


Lift kembali berbunyi, Billy yang ingin


bertemu dengan lvan keluar dari lift itu.


Frieska dan Jafin sontak menoleh ke Billy


yang berjalan menghampiri mereka berdua,


namun kata-kata Billy yang keluar dari mulutnya


langsung membuat Frieska terperangah.


"Wanita berengsek..!" maki Billy pelan


sambil menatap tajam wajah Frieska.


Frieska terdiam, dia benar-benar tidak


mengerti mengapa Billy yang baru saja tiba


menatapnya dengan tatapan sinis disertai


kata-kata kasar.


Billy yang baru saja melewati Frieska segera


berbisik di telinga Jafin, dia memberitahu situasi


para karyawan yang sedang menggunjing Nabila


karena hasutan dari Frieska.


"Kurang ajar.!!" teriak Jafin yang langsung


menyambar ID Card milik Nabila yang berada


ditangan Frieska.


Frieska yang terkejut langsung jatuh


terduduk dilantai, dia memandangi wajah Jafin


dan Billy yang sedang menatapnya penuh


dengan amarah.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dulu aku


tidak mempercayai peribahasa ini, karena aku


percaya setiap orang dilahirkan berbeda, dan


setiap orang bisa mengubah nasib mereka,


namun hari ini aku mulai percaya dengan


peribahasa itu, ternyata wanita sialan bisa


melahirkan wanita sialan lainnva...!" seru Jafin


yang terlihat sangat marah.


Dia lalu berjongkok di depan Frieska yang


sedang terduduk dilantai, "Apa ibu dan ayahmu


tidak memberitahu kamu tentang kedatanganku


tadi 2"


Wajah Frieska berubah menjadi pucat, dia


akhirnya sadar jika pria kasar yang dimaksud


ibunya adalah Jafin, wajahnya menunduk lesu,


jika Jafin adalah pria kasar yang dimaksud


Ibunya, itu berarti atasan yang pria kasar itu


adalah lvan.


Ivan yang sedang berbicara dengan


luar ruangannya, dia dengan sopan meminta izin


kepada tamunya untuk mengecek asal suara itu.


"Maaf Pak, aku permisi sebentar,..." pamit


Ivan yang langsung dibalas anggukan oleh pria


itu.


Begitu dia keluar ruangan, Ivan langsung


terkejut melihat Frieska yang sedang duduk di


lantai, Jafin terlihat berjongkok di depan Frieska


sementara Billy sedang memandangi Frieska


dengan tatapan yang tidak bersahabat.


"Jafin, Billy, ada apa ini?" tanya lvan kepada


kedua pengawalnya.


"Pak lvan," kata Frieska lirih wajahnya


terlihat memelas meminta pertolongan.


Billy segera menghampiri Ivan, dia lalu


berbisik kepada lvan.


"Tuan lvan, seperti ini kejadiannya...."


Sambil berbisik Billy menjelaskan kepada


Ivan kondisi saat ini, mendengar informasi dari


Billy ekspresi wajah lvan yang tadinya terkejut


berubah menjadi datar.


"Hahh..." Ivan menghela nafasnya, dia lalu


mengambil ID Card milik Nabila yang berada


ditangan Jafin.


"Jafin, perintahkan semua karyawan untuk


berkumpul di aula lantai 10, semua karyawan


wajib hadir.." seru lvan memberikan perintahnya.


"Dan Billy, aku tidak ingin melihat satu


orang pun berada di depan ruangan ku begitu


aku selesai memberikan ID Card ini kepada


Nabila," sambungnya lalu bergegas masuk ke


dalam ruangannya.


"Siap Tuan.!" kompak Billy dan Jafin


menjawab perintah lvan.


"Pak lvan..." ucap Frieska memanggil lvan.


Ivan tidak menjawab dia hanya melirik


Frieska sekilas lalu masuk ke dalam ruangannya.


Ceklek..


Pintu ruang kerja lvan terbuka, Nabila yang


sedang duduk di kursi kerja lvan langsung


tersenyum begitu melihat lvan memasuki


ruangan.


"Bagaimana dengan urusanmu apa sudah


selesai..?" tanya Nabila sambil merapikan


beberapa berkas yang ada di meja lvan.


Ivan menutup pintu ruang kerjanya, dia lalu


bersandar di pintu sambil menyilangkan kedua


tangannya.


"Nona CEO, kamu terlihat sangat cantik,"


ujar lvan bercanda sambil tersenyum genit ke


Nabila.


"Berhenti menggodaku lvan, aku sedang


merapikan dan menyusun berkas yang ada di


mejamu, ini benar-benar berantakan.!" balas


Nabila yang terlihat serius merapikan meja kerja


Ivan.


"Aku serius, tulisan CEO yang berada di


meja benar-benar cocok untukmu, mungkin aku


harus menjadikanmu CEO di salah satu

__ADS_1


perusahaanku." Ivan menatap langit-langit


ruang kerjanya matanya mengerling


membayangkan Nabila mengisi posisi CEO di


salah satu perusahaan miliknya.


Nabila menjadi panik, dia tahu lvan tidak


pernah bercanda jika menyangkut hal seperti ini,


bagi orang lain yang mendengar perkataan Ivan


Barusan, mereka mungkin akan menganggap


Ivan bercanda, namun tidak bagi Nabila, dia


masih mengingat dengan jelas bagaimana van


menendang keluarga Mahendra hanya dengan


perkataan sederhana seperti ini


"No. No. No.. lvan berhenti berpikiran yang


tidak-tidak, buang jauh-jauh pikiranmu tentang


menjadikanku CEO.!" seru Nabila yang terlihat


sangat panik.


"Why not? Aku rasa kamu pantas untuk itu,"


balas lvan sambil tersenyum.


Nabila menghela nafasnya, dia takut jika


Ivan benar-benar menjadikannya CEO, Nabila


menolak bukan karena sombong, namun karena


dia sadar, dia tidak memiliki pengetahuan


tentang dunia CEO sama sekali.


Nabila mulai memikirkan cara, tiba-tiba


sebuah ide muncul di benaknya.


"Hmm. baiklah silahkan menjadikanku CEO


.." kata Nabila, dia lalu kembali duduk di kursi


kerja lvan.


"Nah... akhirnya kita sepemikiran, aku


sedang memikirkan beberapa nama perusahaan


yang bisa kamu pimpin, hmm.mungkin di


perusahaan.."


"Silahkan jadikan aku CEO, dengan begitu


aku akan meeting tiap hari bersama para pria


pengusaha yang lain, mungkin aku juga akan


bepergian keluar kota dengan asisten pribadiku,


hmmm pasti itu akan sangat menyenangkan..."


gumam Nabila menggoda lvan, matanya tampak


melirik lvan, dia menunggu ekspresi wajah


seperti apa yang lvan akan tunjukkan kepadanya.


"What? Tunggu... Tunggu.." van lalu


bergegas menghampiri Nabila. Kini dia yang


menjadi panik, dia lalu berlutut di depan Nabila


yang duduk di kursinya sambil menyilangkan


kedua tangannya.


"Bagaimana bisa aku melupakan itu..??!"


batinnya yang mulai menyesali perkataannya.


"Nabila sayang, mungkin tugas CE0 masih


terlalu berat bagi kamu, bagaimana jika kamu


menjadi sekretaris pribadiku saja," ucap lvan


sambil meletakkan kedua tangannya di lutut


Nabila.


Nabila menahan tawa sambil memalingkan


wajahnya, namun dia masih ingin menggoda


Ivan yang terlihat begitu menggemaskan


dimatanya.


"Tidak, aku tetap ingin menjadi CEO, seperti


katamu tadi, aku sudah siap memimpin sebuah


perusahaan..." seru Nabila dengan nada tegas.


Ivan menunduk lesu, dia semakin menyesali


keputusannya, namun begitu dia melirik Nabila


yang sedang memalingkan wajahnya, dia bisa


melihat senyuman tipis Nabila yang sedang tawa.


"Oh.. jadi kamu mengerjai ku?" batin lvan


menyeringai


"Baiklah aku akan menjadikanmu CEO..!"


tegas lvan dengan nada serius.


"Apa?!" Nabila yang terkejut sontak menoleh


ke lvan, begitu dia menoleh lvan dengan cepat


mencium bibirnya dengan lembut.


Nabila yang sempat terdiam karena ciuman


tiba-tiba lvan. Sedetik kemudian membalas


ciuman lembut Ivan.


lvan menekan tengkuk leher Nabila


memperdalam ciumannya. Di sesapnya bibir


Nabila atas dan bawah bergantian dengan begitu


lembut dan penuh cinta.


"Bibirmu sangat manis sayang..." bisik lvan


di sela ciumannya membuat wajah Nabila


merona.


Begitu lvan melepaskan ciumannya, dia lalu


meletakkan tangan kirinya dibawah kedua lutut


Nabila, sementara tangan kanannya dia selipkan


dibawah punggung Nabila.


"Ivan..?!" ucap Nabila manja yang langsung


melingkarkan kedua tangannya di leher lvan.


Huuup...


Ivan mengangkat tubuh Nabila, "Sayang,


selamat.! Kamu sudah resmi menjadi


sekretarisku.!!" seru lvan yang mendongakkan


kepalanya melihat kekasih hatinya itu.


Nabila tertawa sumringah, "lya aku tahu, tapi


kamu tidak perlu menggendongku seperti ini


kan?" balas Nabila dengan senyuman manisnya.


Ceklek...


Pintu ruang kerja lvan kembali terbuka,


Jafin lagi-lagi masuk di saat yang kurang tepat.


"Woah Tuan, apa-apaan ini? Bukankah


progressnya terlalu cepat.?!" goda Jafin sambil


bergerak mundur kembali menuju pintu hingga


hanya tubuh bagian atasnya saja yang masih


berada di dalam ruangan.


"Jafiiinnn!" teriak lvan sambil menatap


Jafin.


Dukk!


Jafin dengan sigap langsung menutup pintu


ruang kerja lvan. Hal itu membuat Nabila dan


van tertawa melihat kelakuan Jafin.


"Dia benar-benar selalu masuk di saat yang


tepat..!! Tepat untuk mengganggu waktu kita


bersama.!" dengus Ivan yang sedikit kagum


dengan ketepatan waktu Jafin.


Ceklek...


Pintu kembali terbuka, namun kali ini hanya


lengan Jafin yang terlihat, sambil menunjukkan


jempolnya terdengar suara Jafin, "Mantap Tuan..


Begitu selesai mengatakan Itu Jafin


kembali menarik lengannya dan langsung


menutup pintu kembali.


Nabila dan lvan saling menatap, mereka lalu

__ADS_1


kompak tertawa bersama.


__ADS_2