Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 5 Nabila Kembali


__ADS_3

"Jafin, tolong antar Nabila ke rumah


pamannya, kamu harus melindungi dia, aku


khawatir paman dan bibinya akan berbuat kasar


kepada Nabila," perintah lvan kepada Jafin.


"Siap Tuan lvan..!" tegas Jafin sambil


menepuk dadanya sendiri.


Setelah beberapa kali membujuk, Nabila


akhirnya menyetujui tawaran lvan yang


memintanya untuk tinggal di rumah lvan.


Nabila juga menyetujui tawaran lvan yang


hendak mengangkatnya menjadi sekretaris


pribadi lvan, dia awalnya sempat menolak


tawaran pekerjaan itu karena takut Ivan


memberinya pekerjaan hanya karena lvan


menyukainya.


Namun, dengan tegas Ivan menolak alasan


itu, lvan mengatakan jika dirinya menawarkan


pekerjaan itu kepada Nabila karena kemampuan


yang dimiliki Nabila memang sangat cocok


untuk mengisi posisi sekretaris yang selalu


dibiarkan kosong oleh lvan dan bukan karena


alasan pribadi seperti yang dikhawatirkan oleh


Nabila.


Rencananya Nabila, Nabila akan pergi


menuju kediaman Paman dan Bibinya untuk


mengambil semua pakaian dan


barang-barangnya yang berada dirumah itu


Setelah itu Jafin akan mnengantar Nabila


menuju Tower Barata Corp, gedung 20 lantai


tempat lvan berkantor saat ini.


Ivan sebenarnya ingin mengantar Nabila


bertemu paman dan bibinya sekaligus


mengemasi pakaian Nabila dan Calvin yang ada


dirumah itu, namun dia tidak bisa melakukan itu


karena memiliki janji bertemu dengan beberapa


partner kerjanya.


Karena itulah, dia meminta Jafin untuk


menemani Nabila.


Setelah memberikan perintahnya kepada


Jafin, lvan lalu menghampiri Nabila yang sedang


berbicara dengan lnah.


"Nabila, aku sudah meminta Jafin untuk


mengantarmu ke rumah pamanmu, jika


urusanmu telah selesai di tempat itu, Jafin akan


mengantarmu ke kantorku, aku akan langsung


mengurus proses pengangkatanmu menjadi


sekretarisku," ucap lvan lembut.


"Baiklah," jawab Nabila sambil


menganggukkan kepalanya.


Ivan lalu menoleh ke Inah yang sedang


berdiri disamping Nabila.


"Aku akan menjaga Calvin selama Tuan lvan


dan Nona Nabila mengurus pekerjaan," ucap


Inah yang seakan sudah mengetahui apa yang


ingin diucapkan oleh Ivan.


Ivan tersenyum lembut, lvan dan mendiang


Kakaknya juga dirawat oleh Inah sejak mereka


masih kecil, dia tentu saja sudah sangat


mengetahui bagaimana kemampuan Inah dalam


mengurus anak-anak.


"Bi Inah memang yang terbaik..!" ucap lvan


sambil menunjukkan jempolnya ke Inah.


Dia lalu kembali menoleh ke Nabila, "Kalau


begitu aku akan berangkat kerja," kata lvan


sambil mendekatkan wajahnya ke kening Nabila.


Dan Cup.


Nabila sontak terkejut mendapatkan ciuman


kening tiba-tiba dari lvan. Nabila menutup rapat


kedua matanya karena malu.


"Ada Bi inah..." gumam Nabila dengan wajah


meronanya. Mengingatkan lvan kalau ada Bi Inah.


Mendengar hal itu, lvan sontak tersadar, dia


lagi-lagi terbawa suasana dan mengecup kening


Nabila, dengan cepat dia memundurkan


wajahnya menjauh dari Nabila yang masih


menutup matanya.


"Ahh maaf... aku.."


Ivan tersipu malu, wajahnya memerah,


namun terlambat, begitu dia menoleh ke Inah,


dia mendapati Inah sedang tersenyum genit


sambil menutup mulutnya.


"Aduh... apa yang sudah kulakukan..."


batinnya yang kembali mengutuk dirinya sendiri.


"Nabila... a... aku pergi dulu..." ucapnya kikuk


sambil bergegas pergi menuju Billy yang sedang


menunggunya di mobil.


Mendengar itu Nabila membuka matanya,


dia langsung tertawa kecil ketika melihat lvan


yang berjalan menunduk sambil sesekali


menggaruk kepalanya sendiri.


"Hati-hati di jalan."jawabnya pelan sambil


tersenyum memandangi punggung Ivan yang


semakin menjauh.


Inah yang berdiri disamping Nabila kini


menoleh dan memandangi wajah Nabila, dia lalu


menarik lengan Nabila dan menggodanya


dengan berkata, "Nabila.. mmuah...


Nabila kembali terkejut, dia menoleh ke Inah


yang berdiri disampingnya dan langsung


merangkul lengan Inah.


"Bibi.." rengek Nabila manja dengan wajah

__ADS_1


kemerahan.


"Hahaha, kalian berdua benar-benar


menggemaskan," kata Inah sambil terus tertawa


Menggoda Nabila.


Dikediaman paman Nabila..


"Paman Aditya, aku tidak tahu harus


bagaimana lagi, Nabila tidak mendengarkan


perkataanku, mungkin aku harus menyampaikan


ini kepada kedua orang tuaku untuk


mempertimbangkan kembali kerjasama antara


keluargaku dan keluarga Paman Aditya," keluh


Daryl kepada Paman Nabila.


Dia tahu jika usaha keluarga Pratama yang


sedang di kendalikan oleh Paman Nabila sangat


membutuhkan bantuan finansial dari


keluarganya, karena itulah dia menggunakan


alasan itu untuk menekan Nabila melalui


Pamannya.


"Nak Daryl.. ini bisa dibicarakan baik-baik,


kamu tidak perlu terburu-buru dalam mengambil


keputusan,'" bujuk Aditya cemas.


"Ilya Nak Daryl, kamu jangan terburu-buru


menyampaikan itu kepada orang tuamu, Bibi


yang akan menasehati Nabila, kamu tenang saja,


dia pasti akan mendengarkan semua


perkataanmu," ucap Vina menimpali.


"Hah... aku berharap semoga Paman dan


Bibi bisa meyakinkan Nabila, aku juga akan


menahan diri untuk tidak memberitahukan ini


kepada ayahku," balas Daryl sambil


menyunggingkan bibirnya.


Setelah mengatakan itu, Daryl bangkit dari


duduknya dan langsung mohon pamit kepada


Aditya dan Vina, dia lalu pergi meninggalkan


kediaman Paman dan Bibi Nabila.


"Berengsek! Anak itu benar-benar tidak tahu


Terima kasih, aku akan buat perhitungan saat


dia kembali ke rumah ini..!" umpat Aditya


mengutuk Nabila.


Wajahnya terlihat sangat marah, bisnisnya


sedang berada di ujung tanduk, tanpa bantuan


dana keluarga Daryl bisa dipastikan jika bisnis


keluarganya akan hancur.


"Bagaimana? Apakah kamu masih belum


bisa menghubungi anak sialan itu?" tanya Aditya


kepada Istrinya.


Vina yang terus mencoba menghubungi


ponsel Nabila menggelengkan kepalanya, sejak


Nabila pergi menemui Daryl di Hotel, Nabila


hanya mengaktifkan ponselnya ketika berkirim


pesan dengan Clarissa teman Ivan mengenai


ukuran bajunya, setelah itu dia tidak pernah lagi


"Tidak bisa, nomornya masih belum aktif,


sejak kemarin aku juga sudah mengirim pesan


ke Whatsapp miliknya, namun tetap saja tidak


ada balasan," jawab Vina sambil mendengus


kesal.


"Berengsek!" teriak Aditya kembali


mengumpat Nabila.


Nabila sedang dalam perjalanan menuju


kediaman pamannya, Calvin yang hampir tidak


pernah berpisah dengan Nabila langsung


mengangguk setuju ketika Inah menjelaskan jika


ibunya harus pergi mengurus pekerjaan dan juga


mengambil barang-barangnya yang masih


berada di rumah kakek dan neneknya.


Jafin yang mengantar Nabila sesekali


melirik Nabila yang duduk di kursi belakang


melalui kaca spion tengah mobil, dia dapat


melihat raut wajah Nabila yang terlihat begitu


cemas sambil memandangi ponselnya.


"Nona Nabila tidak perlu cemas, aku yakin


semuanya akan baik-baik saja," ujar Jafin


mencoba menenangkan Nabila yang terlihat


cemas.


"Terima kasih Jafin," balas Nabila sembari


tersenyum.


Dia lalu kembali memandangi layar


ponselnya yang sedang tidak aktif, tak lama


kemudian Nabila menghela nafas panjang, dia


akhirnya memberanikan diri mengaktifkan layar


ponselnya.


Ting..


Begitu layar ponselnya aktif, ratusan


notifikasi panggilan tak terjawab muncul di layar


ponselnya, terlihat nama Bibi Vina dan Daryl


bergantian muncul, nada notifikasi pesan masuk


juga terus berbunyi, begitu Nabila membaca


pesan yang masuk, dia langsung menunduk


sedih.


[Bibi Vina) Dasar anak tidak tahu diri dimana


kamu sekarang?


[Daryl] Mengapa ponselmu tidak aktif? Aku


akan melaporkan ini kepada Paman dan Bibimu.


[Bibi Vina] Dimana kamu sekarang? Daryl


benar-benar sangat marah, dia berniat


membatalkan kerjasama antara keluarga


Mahendra dan keluarga Pratama karena


perbuatanmu.


Satu persatu, Nabila terus membaca pesan


masuk yang dikirim oleh Vina dan Daryl, isinya

__ADS_1


semua hampir sama, pesan dari mereka hanya


berisi umpatan dan juga ancaman.


Nabila menghela nafasnya berat beberapa


kali, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri


untuk menghadapi amukan dari Paman dan


Bibinya.


Beberapa saat kemudian, Jafin dan Nabila


telah tiba di depan rumah Paman dan Bibinya,


satpam yang menjaga rumah itu segera


menghampiri mobil mereka.


"Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?"


tanya satpam itu.


Nabila segera menurunkan kaca mobil,


dengan lembut dia berkata, "Maaf Pak, ini aku


Nabila, aku ingin mengambil beberapa barang


milikku yang berada di rumah ini."


Ekspresi wajah satpam itu langsung


berubah begitu melihat Nabila yang berbicara


dari kursi penumpang, dia yang tadinya bersikap


sopan, langsung memasang wajah yang terlihat


tidak senang.


"Oh itu kamu, tunggu sebentar, aku akan


memberitahu Tuan Aditya dan Nyonya Vina


tentang kedatanganmu," kata Satpam itu


dengan sikap yang terkesan tidak menghormati


Nabila.


Nabila hanya tersenyum mendengar ucapan


Satpam itu, sementara Jafin tampak menatap


tajam satpam itu sambil mengernyitkan alisnya.


Satpam itu lalu pergi menuju posnya, dia


tampak menghubungi seseorang melalui


pesawat telepon yang berada di posnya, setelah


itu dia kembali menuju Nabila.


"Tuan Aditya dan Nyonya Vina sudah


menunggumu, oh iya, dimana anak haram itu?


Aku tidak melihatnya datang bersamamu," ledek


satpam itu sambil menyunggingkan bibirnya.


Setelah itu Dia pergi membuka pintu gerbang


kediaman Paman Nabila.


Jafin yang mendengar itu semakin terkejut,


Nabila yang juga berstatus sebagai anggota


keluarga Pratama benar-benar tidak dihormati di


rumah ini, bahkan seorang satpam berani


berkata kasar kepada Nabila.


Jafin yang langsung emosi hendak turun


untuk melabrak satpam itu, namun Nabila


langsung menghentikannya.


"Jafin... jangan... aku ingin menyelesaikan ini


secara baik-baik," seru Nabila pelan.


Jafin mengangguk pelan, sambil terus


menatap tajam satpam itu, dia mengendarai


mobilnya menuju halaman depan rumah itu.


Aditya dan Vina sudah berdiri di depan


rumah menunggu kedatangan Nabila, mereka


berdua langsung terkejut saat melihat mobil


Mercedes Benz S Class berwarna silver yang


berhenti tepat di depan mereka berdua.


"Mengapa Nabila datang menggunakan


mobil seharga 8 Milyar?" tanya Vina kepada


suaminya yang ikut terperangah melihat mobil


mewah yang berhenti didepan mereka.


"Aku tidak tahu, mungkin mobil itu milik


Daryl, bukankah Daryl baru saja menemui kita


berdua," jawab Aditya.


Vina mengangguk pelan, kecemasannya


langsung sirna berganti menjadi perasaan


senang, hanya alasan itu yang bisa menjelaskan


mengapa Nabila tiba dengan menggunakan


mobil mewah.


"Jika Nabila dan Daryl menikah, aku akan


meminta Daryl memberikan mobil itu kepadaku,"


batin Vina sambil tersenyum sumringah.


Jafin segera turun dari mobil, dia lalu


berjalan menuju kursi penumpang dan


membuka pintu mempersilakan Nabila turun


dari mobil.


Vina yang melihat itu semakin kesal, dia


merasa sikap bawahan Daryl terlalu sopan


kepada Nabila.


"Arg... bawahan Daryl tidak perlu sesopan itu


kepada Nabila.!" umpat Vina kesal melihat


sikap Jafin yang terlihat begitu sopan kepada


Nabila.


Aditya segera menghampiri Jafin, dengan


sopan dia mengulurkan tangannya untuk


berjabat tangan dengan Jafin.


"Anda pasti bawahan Daryl, Terima kasih


karena sudah mengantar Nabila ke rumah kami,"


ucapnya sopan.


Jafin yang sedang berada di samping Nabila


tidak menggubris uluran tangan Aditya yang


mengajaknya berjabat tangan, dia menatap


dingin wajah Aditya sambil menaikkan satu


alisnya.


Aditya tersenyum canggung, dia terpaksa


menahan malu sambil menarik kembali


tangannya.


Melihat suaminya diperlakukan seperti itu,


Vina menjadi semakin kesal. Dia menoleh ke


Nabila dan memanggil Nabila dengan suara yang


cukup keras.

__ADS_1


"Nabila! Kemari kamu!" hardik Vina dengan


raut wajah yang sangat marah.


__ADS_2