
"Jafin, tolong antar Nabila ke rumah
pamannya, kamu harus melindungi dia, aku
khawatir paman dan bibinya akan berbuat kasar
kepada Nabila," perintah lvan kepada Jafin.
"Siap Tuan lvan..!" tegas Jafin sambil
menepuk dadanya sendiri.
Setelah beberapa kali membujuk, Nabila
akhirnya menyetujui tawaran lvan yang
memintanya untuk tinggal di rumah lvan.
Nabila juga menyetujui tawaran lvan yang
hendak mengangkatnya menjadi sekretaris
pribadi lvan, dia awalnya sempat menolak
tawaran pekerjaan itu karena takut Ivan
memberinya pekerjaan hanya karena lvan
menyukainya.
Namun, dengan tegas Ivan menolak alasan
itu, lvan mengatakan jika dirinya menawarkan
pekerjaan itu kepada Nabila karena kemampuan
yang dimiliki Nabila memang sangat cocok
untuk mengisi posisi sekretaris yang selalu
dibiarkan kosong oleh lvan dan bukan karena
alasan pribadi seperti yang dikhawatirkan oleh
Nabila.
Rencananya Nabila, Nabila akan pergi
menuju kediaman Paman dan Bibinya untuk
mengambil semua pakaian dan
barang-barangnya yang berada dirumah itu
Setelah itu Jafin akan mnengantar Nabila
menuju Tower Barata Corp, gedung 20 lantai
tempat lvan berkantor saat ini.
Ivan sebenarnya ingin mengantar Nabila
bertemu paman dan bibinya sekaligus
mengemasi pakaian Nabila dan Calvin yang ada
dirumah itu, namun dia tidak bisa melakukan itu
karena memiliki janji bertemu dengan beberapa
partner kerjanya.
Karena itulah, dia meminta Jafin untuk
menemani Nabila.
Setelah memberikan perintahnya kepada
Jafin, lvan lalu menghampiri Nabila yang sedang
berbicara dengan lnah.
"Nabila, aku sudah meminta Jafin untuk
mengantarmu ke rumah pamanmu, jika
urusanmu telah selesai di tempat itu, Jafin akan
mengantarmu ke kantorku, aku akan langsung
mengurus proses pengangkatanmu menjadi
sekretarisku," ucap lvan lembut.
"Baiklah," jawab Nabila sambil
menganggukkan kepalanya.
Ivan lalu menoleh ke Inah yang sedang
berdiri disamping Nabila.
"Aku akan menjaga Calvin selama Tuan lvan
dan Nona Nabila mengurus pekerjaan," ucap
Inah yang seakan sudah mengetahui apa yang
ingin diucapkan oleh Ivan.
Ivan tersenyum lembut, lvan dan mendiang
Kakaknya juga dirawat oleh Inah sejak mereka
masih kecil, dia tentu saja sudah sangat
mengetahui bagaimana kemampuan Inah dalam
mengurus anak-anak.
"Bi Inah memang yang terbaik..!" ucap lvan
sambil menunjukkan jempolnya ke Inah.
Dia lalu kembali menoleh ke Nabila, "Kalau
begitu aku akan berangkat kerja," kata lvan
sambil mendekatkan wajahnya ke kening Nabila.
Dan Cup.
Nabila sontak terkejut mendapatkan ciuman
kening tiba-tiba dari lvan. Nabila menutup rapat
kedua matanya karena malu.
"Ada Bi inah..." gumam Nabila dengan wajah
meronanya. Mengingatkan lvan kalau ada Bi Inah.
Mendengar hal itu, lvan sontak tersadar, dia
lagi-lagi terbawa suasana dan mengecup kening
Nabila, dengan cepat dia memundurkan
wajahnya menjauh dari Nabila yang masih
menutup matanya.
"Ahh maaf... aku.."
Ivan tersipu malu, wajahnya memerah,
namun terlambat, begitu dia menoleh ke Inah,
dia mendapati Inah sedang tersenyum genit
sambil menutup mulutnya.
"Aduh... apa yang sudah kulakukan..."
batinnya yang kembali mengutuk dirinya sendiri.
"Nabila... a... aku pergi dulu..." ucapnya kikuk
sambil bergegas pergi menuju Billy yang sedang
menunggunya di mobil.
Mendengar itu Nabila membuka matanya,
dia langsung tertawa kecil ketika melihat lvan
yang berjalan menunduk sambil sesekali
menggaruk kepalanya sendiri.
"Hati-hati di jalan."jawabnya pelan sambil
tersenyum memandangi punggung Ivan yang
semakin menjauh.
Inah yang berdiri disamping Nabila kini
menoleh dan memandangi wajah Nabila, dia lalu
menarik lengan Nabila dan menggodanya
dengan berkata, "Nabila.. mmuah...
Nabila kembali terkejut, dia menoleh ke Inah
yang berdiri disampingnya dan langsung
merangkul lengan Inah.
"Bibi.." rengek Nabila manja dengan wajah
__ADS_1
kemerahan.
"Hahaha, kalian berdua benar-benar
menggemaskan," kata Inah sambil terus tertawa
Menggoda Nabila.
Dikediaman paman Nabila..
"Paman Aditya, aku tidak tahu harus
bagaimana lagi, Nabila tidak mendengarkan
perkataanku, mungkin aku harus menyampaikan
ini kepada kedua orang tuaku untuk
mempertimbangkan kembali kerjasama antara
keluargaku dan keluarga Paman Aditya," keluh
Daryl kepada Paman Nabila.
Dia tahu jika usaha keluarga Pratama yang
sedang di kendalikan oleh Paman Nabila sangat
membutuhkan bantuan finansial dari
keluarganya, karena itulah dia menggunakan
alasan itu untuk menekan Nabila melalui
Pamannya.
"Nak Daryl.. ini bisa dibicarakan baik-baik,
kamu tidak perlu terburu-buru dalam mengambil
keputusan,'" bujuk Aditya cemas.
"Ilya Nak Daryl, kamu jangan terburu-buru
menyampaikan itu kepada orang tuamu, Bibi
yang akan menasehati Nabila, kamu tenang saja,
dia pasti akan mendengarkan semua
perkataanmu," ucap Vina menimpali.
"Hah... aku berharap semoga Paman dan
Bibi bisa meyakinkan Nabila, aku juga akan
menahan diri untuk tidak memberitahukan ini
kepada ayahku," balas Daryl sambil
menyunggingkan bibirnya.
Setelah mengatakan itu, Daryl bangkit dari
duduknya dan langsung mohon pamit kepada
Aditya dan Vina, dia lalu pergi meninggalkan
kediaman Paman dan Bibi Nabila.
"Berengsek! Anak itu benar-benar tidak tahu
Terima kasih, aku akan buat perhitungan saat
dia kembali ke rumah ini..!" umpat Aditya
mengutuk Nabila.
Wajahnya terlihat sangat marah, bisnisnya
sedang berada di ujung tanduk, tanpa bantuan
dana keluarga Daryl bisa dipastikan jika bisnis
keluarganya akan hancur.
"Bagaimana? Apakah kamu masih belum
bisa menghubungi anak sialan itu?" tanya Aditya
kepada Istrinya.
Vina yang terus mencoba menghubungi
ponsel Nabila menggelengkan kepalanya, sejak
Nabila pergi menemui Daryl di Hotel, Nabila
hanya mengaktifkan ponselnya ketika berkirim
pesan dengan Clarissa teman Ivan mengenai
ukuran bajunya, setelah itu dia tidak pernah lagi
"Tidak bisa, nomornya masih belum aktif,
sejak kemarin aku juga sudah mengirim pesan
ke Whatsapp miliknya, namun tetap saja tidak
ada balasan," jawab Vina sambil mendengus
kesal.
"Berengsek!" teriak Aditya kembali
mengumpat Nabila.
Nabila sedang dalam perjalanan menuju
kediaman pamannya, Calvin yang hampir tidak
pernah berpisah dengan Nabila langsung
mengangguk setuju ketika Inah menjelaskan jika
ibunya harus pergi mengurus pekerjaan dan juga
mengambil barang-barangnya yang masih
berada di rumah kakek dan neneknya.
Jafin yang mengantar Nabila sesekali
melirik Nabila yang duduk di kursi belakang
melalui kaca spion tengah mobil, dia dapat
melihat raut wajah Nabila yang terlihat begitu
cemas sambil memandangi ponselnya.
"Nona Nabila tidak perlu cemas, aku yakin
semuanya akan baik-baik saja," ujar Jafin
mencoba menenangkan Nabila yang terlihat
cemas.
"Terima kasih Jafin," balas Nabila sembari
tersenyum.
Dia lalu kembali memandangi layar
ponselnya yang sedang tidak aktif, tak lama
kemudian Nabila menghela nafas panjang, dia
akhirnya memberanikan diri mengaktifkan layar
ponselnya.
Ting..
Begitu layar ponselnya aktif, ratusan
notifikasi panggilan tak terjawab muncul di layar
ponselnya, terlihat nama Bibi Vina dan Daryl
bergantian muncul, nada notifikasi pesan masuk
juga terus berbunyi, begitu Nabila membaca
pesan yang masuk, dia langsung menunduk
sedih.
[Bibi Vina) Dasar anak tidak tahu diri dimana
kamu sekarang?
[Daryl] Mengapa ponselmu tidak aktif? Aku
akan melaporkan ini kepada Paman dan Bibimu.
[Bibi Vina] Dimana kamu sekarang? Daryl
benar-benar sangat marah, dia berniat
membatalkan kerjasama antara keluarga
Mahendra dan keluarga Pratama karena
perbuatanmu.
Satu persatu, Nabila terus membaca pesan
masuk yang dikirim oleh Vina dan Daryl, isinya
__ADS_1
semua hampir sama, pesan dari mereka hanya
berisi umpatan dan juga ancaman.
Nabila menghela nafasnya berat beberapa
kali, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri
untuk menghadapi amukan dari Paman dan
Bibinya.
Beberapa saat kemudian, Jafin dan Nabila
telah tiba di depan rumah Paman dan Bibinya,
satpam yang menjaga rumah itu segera
menghampiri mobil mereka.
"Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?"
tanya satpam itu.
Nabila segera menurunkan kaca mobil,
dengan lembut dia berkata, "Maaf Pak, ini aku
Nabila, aku ingin mengambil beberapa barang
milikku yang berada di rumah ini."
Ekspresi wajah satpam itu langsung
berubah begitu melihat Nabila yang berbicara
dari kursi penumpang, dia yang tadinya bersikap
sopan, langsung memasang wajah yang terlihat
tidak senang.
"Oh itu kamu, tunggu sebentar, aku akan
memberitahu Tuan Aditya dan Nyonya Vina
tentang kedatanganmu," kata Satpam itu
dengan sikap yang terkesan tidak menghormati
Nabila.
Nabila hanya tersenyum mendengar ucapan
Satpam itu, sementara Jafin tampak menatap
tajam satpam itu sambil mengernyitkan alisnya.
Satpam itu lalu pergi menuju posnya, dia
tampak menghubungi seseorang melalui
pesawat telepon yang berada di posnya, setelah
itu dia kembali menuju Nabila.
"Tuan Aditya dan Nyonya Vina sudah
menunggumu, oh iya, dimana anak haram itu?
Aku tidak melihatnya datang bersamamu," ledek
satpam itu sambil menyunggingkan bibirnya.
Setelah itu Dia pergi membuka pintu gerbang
kediaman Paman Nabila.
Jafin yang mendengar itu semakin terkejut,
Nabila yang juga berstatus sebagai anggota
keluarga Pratama benar-benar tidak dihormati di
rumah ini, bahkan seorang satpam berani
berkata kasar kepada Nabila.
Jafin yang langsung emosi hendak turun
untuk melabrak satpam itu, namun Nabila
langsung menghentikannya.
"Jafin... jangan... aku ingin menyelesaikan ini
secara baik-baik," seru Nabila pelan.
Jafin mengangguk pelan, sambil terus
menatap tajam satpam itu, dia mengendarai
mobilnya menuju halaman depan rumah itu.
Aditya dan Vina sudah berdiri di depan
rumah menunggu kedatangan Nabila, mereka
berdua langsung terkejut saat melihat mobil
Mercedes Benz S Class berwarna silver yang
berhenti tepat di depan mereka berdua.
"Mengapa Nabila datang menggunakan
mobil seharga 8 Milyar?" tanya Vina kepada
suaminya yang ikut terperangah melihat mobil
mewah yang berhenti didepan mereka.
"Aku tidak tahu, mungkin mobil itu milik
Daryl, bukankah Daryl baru saja menemui kita
berdua," jawab Aditya.
Vina mengangguk pelan, kecemasannya
langsung sirna berganti menjadi perasaan
senang, hanya alasan itu yang bisa menjelaskan
mengapa Nabila tiba dengan menggunakan
mobil mewah.
"Jika Nabila dan Daryl menikah, aku akan
meminta Daryl memberikan mobil itu kepadaku,"
batin Vina sambil tersenyum sumringah.
Jafin segera turun dari mobil, dia lalu
berjalan menuju kursi penumpang dan
membuka pintu mempersilakan Nabila turun
dari mobil.
Vina yang melihat itu semakin kesal, dia
merasa sikap bawahan Daryl terlalu sopan
kepada Nabila.
"Arg... bawahan Daryl tidak perlu sesopan itu
kepada Nabila.!" umpat Vina kesal melihat
sikap Jafin yang terlihat begitu sopan kepada
Nabila.
Aditya segera menghampiri Jafin, dengan
sopan dia mengulurkan tangannya untuk
berjabat tangan dengan Jafin.
"Anda pasti bawahan Daryl, Terima kasih
karena sudah mengantar Nabila ke rumah kami,"
ucapnya sopan.
Jafin yang sedang berada di samping Nabila
tidak menggubris uluran tangan Aditya yang
mengajaknya berjabat tangan, dia menatap
dingin wajah Aditya sambil menaikkan satu
alisnya.
Aditya tersenyum canggung, dia terpaksa
menahan malu sambil menarik kembali
tangannya.
Melihat suaminya diperlakukan seperti itu,
Vina menjadi semakin kesal. Dia menoleh ke
Nabila dan memanggil Nabila dengan suara yang
cukup keras.
__ADS_1
"Nabila! Kemari kamu!" hardik Vina dengan
raut wajah yang sangat marah.