Paman Nikahilah Ibuku

Paman Nikahilah Ibuku
Bab 21 Kebenaran Yang Mulai Terbuka


__ADS_3

Bab 21 Kebenaran Yang Mulai


"Paman. lbu...!!" teriak Calvin menyambut


Nabila dan Ivan yang baru saja turun dari mobil.


Nabila langsung memeluk tubuh putranya,


ini adalah pertama kalinya dia berpisah dengan


putranya dalam waktu yang cukup lama.


"Tbu sangat merindukan-"


"Paman!" teriak Calvin yang langsung pergi


meninggalkan Nabila dan menghampiri lvan.


"Calvin.," ucap Nabila lirih, dia hanya bisa


pasrah memandangi putranya berlalu pergi


menuju lvan.


"Hello jagoanku.!" seru lvan yang langsung


mengangkat tubuh Calvin dengan kedua


tangannya.


Begitu selesai mengangkat Calvin, lvan


menghampiri Nabila yang sedang terperangah


melihat putranya.


"Putraku.." bisik lvan pelan di telinga Nabila.


"Ihh... kamu.!!" balas Nabila sambil


mencubit pelan perut Ivan yang tertawa.


Mereka bertiga lalu menuju ke pintu masuk,


di depan pintu terlihat Inah sedang berdiri


menyambut mereka dengan ekspresi wajah yang


terlihat sedih.


"Ada apa bibi?" tanya Nabila.


Inah terkejut, dia sontak tersadar dari


lamunannya, "Ah.. tidak apa-apa Nona," jawab


Inah sambil tersenyum kepada Nabila.


Ivan mengernyitkan alisnya, tidak biasanya


dia melihat Inah bersikap seperti itu.


"Ayo Bibi, aku sudah lapar.." ucap Calvin


manja sambil menarik lengan Inah.


"lya Tuan Muda.." jawab Inah sambil


tersenyum, sekilas raut wajahnya kembali


terlihat sedih begitu memandangi wajah Calvin


yang sedang tersenyum bahagia.


Tuan Muda?" batin lvan terkejut, sebutan


tuan muda hanya Inah pakai ketika memanggil


dia dan mendiang kakaknya sewaktu mereka


masih kecil, hal itu tentu saja membuat Ivan


bertanya-tanya, mengapa Inah memanggil Calvin


dengan sebutan tuan muda dan bukan


memanggil nama Calvin seperti biasanya.


"Ivan..." Nabila yang juga merasa aneh


melihat raut sedih tergambar di wajah Inah


langsung menoleh ke lvan.


Ivan tersenyum,"Kamu tenang saja, aku


yang akan berbicara dengan Bi Inah nanti,


sekarang ayo kita makan siang dulu, aku yakin Bi


Inah sudah menyiapkan makanan enak untuk


kita.." jawab lvan sambil mengelus rambut


indah Nabila.


Frieska dan teman-temannya baru saja


selesai menyerahkan surat permohonan maaf


mereka ke Jafin.


Setelah menyerahkan surat itu, Frieska yang


merasa sangat kesal kepada Nabila langsung


bergegas pergi menuju pelataran parkir.


Brakk!!


Frieska menutup pintu mobilnya dengan


kasar, dia sangat marah karena merasa sudah


dipermalukan oleh lvan atas bujuk rayu jahat


Nabila atas pikirannya sendiri.


"Wanita ******...." teriak Frieska sambil


memukul kemudi mobilnya.


"Jangan pikir kamu sudah menang, tunggu


saja aku akan membalas perbuatanmu.!" ujar


Frieska sambil merogoh tas miliknya.


Frieska mengeluarkan ponselnya, lalu


mencari nama Daryl di kontak ponselnya.


Tut...Tuutt.


"Halo," jawab Daryl.


"Daryl, bagaimana kamu mendidik


tunanganmu..?! Apa kamu tidak tahu jika Nabila


berselingkuh dengan lvan Barata.17" ketus


Frieska saat mendengar suara Daryl.


"Hah... ayahmu baru saja memberitahuku


jika Nabila sepertinya sedang bersama


pengusaha kaya, setelah mendengar kamu


bertanya, akhirnya aku bisa memastikan jika


Nabila memang telah menjalin hubungan


dengan van Barata..!"' jawab Daryl sambil


menghela nafasnya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan? Dia


tunanganmu, seharusnya kamu berbuat sesuatu


tentang hal itu.." seru Frieska dengan suara


tinggi.


"Apa yang bisa aku lakukan..!?? Kamu


sendiri pasti sudah paham sebesar apa


kekuasaan keluarga Barata, aku tidak bisa


berbuat apa-apa tentang hal itu," balas Daryl


yang juga mulai sedikit kesal dengan nada


bicara Frieska.


"Hah... kamu pasti bisa memikirkan sebuah


cara, aku akan membantumu, aku siap


melakukan apa saja agar Nabila dan lvan bisa


berpisah.!!" ujar Frieska.


"Apa saja?" tanya Daryl yang langsung


tersenyum mesum mendengar ucapan Frieska.


"lya.!" tegas Frieska tanpa curiga.


Daryl tertawa dalam hati begitu mendengar


jawaban Frieska, dari sikap Frieska yang sangat


ingin melihat Nabila dan lvan berpisah, Daryl bisa


menebak jika Frieska menyukai lvan,


kesempatan ini tentu saja tidak Daryl lewatkan.


Sudah lama dia sangat ingin menikmati


tubuh Frieska, walaupun tidak secantik Nabila,


bentuk tubuh dan wajah Frieska masih lebih baik


dari beberapa wanita koleksinya.


"Tak bisa memiliki Nabila Frieska pun jadi,"


batinnya sambil terus tersenyum.


"Jadi apa idemu?" Tanya Frieska


membuyarkan lamunan Daryl.


"Hmm.. bagaimana jika kita membicarakan


hal ini di hotel milik temanku..??!" balas Daryl


memberikan tawarannya.


Deg..


Frieska terdiam, ucapan Daryl hanya


mengisyaratkan satu hal, dia sudah lama

__ADS_1


mengetahui jika Daryl juga mengincar dirinya.


Bahkan sudah beberapa kali Daryl secara


terang-terangan mengajaknya menginap di hotel,


tentu saja Frieska selalu menolak ajakan Daryl.


Namun kali ini berbeda, Frieska sadar hanya


Daryl yang bisa membantunya, mau tidak mau


dia harus menerima ajakan Daryl kali ini.


"Hah... baiklah, kirimkan aku alamat hotel


Temanmu, jam delapan malam, aku akan segera


ke hotel itu," jawab Frieska pasrah.


"Baiklah sayang," balas Daryl sambil


tersenyum sumringah.


Begitu mengakhiri panggilan teleponnya,


Frieska tampak menghela nafasnya beberapa


kali.


"Demi lvan.!! aku siap melakukan apa saja,


toh ini juga bukan pertama kalinya aku tidur


bersama pria." gumamnya berbicara kepada


dirinya sendiri.


Tak berselang lama, Frieska memacu


mobilnya meninggalkan pelataran parkir Tower


Barata Corp.


Ivan, Nabila dan Calvin baru saja selesai


makan siang bersama, dia saat ini sedang


berada di ruang keluarga membahas jadwal


kerjanya besok bersama Nabila, sesekali dia


melirik Calvin yang sedang tertawa bahagia


bersama Inah, Ivan kembali mengagumi Inah


yang berhasil membuat Calvin dekat dengannya


hanya dalam waktu beberapa jam.


"Ivan, sepertinya kamu kurang fokus," ujar


Nabila membuyarkan lamunan lvan.


"Maaf sayang, aku tidak bisa melepaskan


pandanganku dari Calvin, dia benar-benar


terlihat menggemaskan," balas lvan sambil


tersenyum.


Nabila tersenyum lembut mendengar


ucapan lvan, dia juga ikut memandangi putranya


yang sedang asik berinteraksi dengan Inah.


"Bi Inah, benar-benar hebat, dia bisa


membuat Calvin merasa nyaman bersamanya,"


ucap Nabila memuji kemampuan Inah.


Ivan yang sedang memandangi Calvin


kembali menangkap ekspresi raut wajah Inah


yang terlihat sedih, hal itu membuat van


menjadi semakin penasaran, tanpa sadar dia


mengernyitkan alisnya menatap tajam Inah yang


sedang berinteraksi bersama Calvin.


"Ekspresi itu lagi, mengapa bibi terlihat


sedih saat bersama Calvin2" batin Ivan.


Nabila yang bisa melihat perubahan raut


wajah lvan sontak menoleh ke Inah, namun Inah


tidak lagi terlihat sedih, raut wajah itu hanya


sesekali Inah tergambar di wajah Inah.


"Ivan, mengapa kamu menatap Bi Inah


Seperti itu?" tanya Nabila.


"Ah... maaf, sampai dimana kita tadi?" jawab


Ivan yang semakin membuat Nabila penasaran.


Nabila menekuk dahinya memandangi lvan


yang seolah mengalihkan pembicaraan, dia lalu


kembali menoleh ke Inah, namun lagi-lagi dia


Ivan menunjukkan raut wajah serius seperti tadi.


"Hmm.. tentang dua tamu ini, mungkin


kamu bisa berkunjung di kantornya," sebut


Nabila sambil kembali membahas jadwal lvan


besok.


Satu jam berlalu dengan cepat, mereka


berdua fokus membahas tentang pekerjaan,


Inah menghampiri mereka berdua, dia meminta


izin untuk mengantar Calvin ke kamar.


Tuan, Nona, ini waktunya Calvin untuk tidur


siang, aku akan mengantar dia ke kamarnya,"


sela Inah.


"Terima kasih Bibi, maaf karena aku harus


merepotkanmu.." ucap Nabila sambil


tersenyum lembut kepada Inah.


"Nona Nabila tidak perlu meminta maaf, aku


sangat senang menjaga Calvin," ujar lnah, dia


lalu undur diri mengantar Calvin ke kamar yang


berada di lantai dua.


Nabila dan lvan tersenyum, mereka berdua


kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka.


Dua jam kemudian, Nabila dan lvan akhirnya


telah selesai, Ivan baru saja mendapat laporan


dari Jafin jika surat permohonan maaf dari para


karyawarn wanita yang menggunjing Nabila


sudah menumpuk di mejanya, lvan tersenyum


mendengar itu, setidaknya masalah fitnah


tentang Nabila bisa berakhir tanpa harus


memecat karyawannya yang terlibat dalam


insiden itu.


Namun tentu saja itu tidak cukup, lvan


berencana memindahkan Frieska dan


teman-temannya ke salah satu perusahaan yang


juga berada di bawah naungan Grup Barata


Cipta Abadi, dengan begitu dia bisa merasa


yakin jika kekasihnya tidak akan lagi mendapat


masalah di perusahaannya.


"Dimana Bi Inah?" tanya Nabila yang sejak


tadi tidak melihat Inah.


"Mungkin dia masih bersama Calvin, Bi Inah


memang orangnya seperti itu," jawab Ivan


sambil tersenyum mengingat masa kecilnya


ketika dirawat oleh Inah.


"Ayo kita pergi melihat Bi Inah, aku yakin dia


sedang duduk disamping Calvin sambil


membelai rambut Calvin yang sedang tertidur


pulas, dia selalu melakukan itu kepadaku ketika


aku masih kecil," sambung lvan sambil


tersenyum kepada Nabila.


Nabila membalas senyuman lvan, mereka


berdua lalu berjalan menuju kamar yang berada


di lantai dua.


Namun prediksi lvan ternyata salah, begitu


mereka berdua memasuki ruangan, mereka


mendapati Inah sedang duduk di lantai


memandangi wajah Calvin yang sedang tertidur


pulas, Inah sedang menangis tersedu-sedu


sambil mengelus kepala Calvin, hal itu sontak


membuat lvan dan Nabila terkejut

__ADS_1


"Bibi, ada apa?" tanya Nabila panik, dia lalu


bergegas menghampiri Inah yang sedang


berderai airmata.


"Tidak apa-apa Nona, maaf karena kamu


harus melihatku seperti ini," jawab Inah sambil


menyeka airmatanya yang terus keluar.


"Bibi.," lirih Nabila pelan, matanya ikut


menitikkan airmata melihat Inah yang menangis


di depannya.


"Ibu...?" terdengar suara Calvin mengigau,


Ivan segera menghampiri Nabila yang berlutut di


depan Inah.


"Nabila, sebaiknya kamu menjaga Calvin,


biar aku yang bicara dengan Bi Inah," seru Ivan


sambil mengelus rambut Nabila.


Nabila mengangguk pelan, dia menyeka


airmatanya lalu naik ke tempat tidur, sambil


membelai rambut Calvin, Nabila tampak


menepuk-nepuk halus dada Calvin.


"Bibi, Ayo kita bicara diluar.." ujar lvan


lembut sambil membantu Inah berdiri.


"Baik Tuan," jawab Inah yang masih


menangis sesegukan.


Ivan merangkul pundak Inah, dia membawa


Inah menuju balkon lantai dua kediamannya,


begitu tiba, dia dengan lembut membantu Inah


duduk di kursi.


Ivan tidak langsung bertanya tentang hal


yang membuat Inah menangis, dengan tenang


dia memberikan tisu yang berada di meja


kepada lnah, lvan memberi Inah waktu untuk


menumpahkan luapan emosinya.


Ivan menghela nafasnya pelan, dia ikut


sedih melihat wanita yang sudah mengasuhnya


menangis terisak, namun saat ini dia tidak bisa


berbuat banyak, dia hanya bisa menunggu Inah


menyelesaikan tangisnya yang terdengar begitu


memilukan.


Beberapa saat kemudian, suara isak tangis


Inah perlahan mereda, lvan tersenyum lembut


kepada Inah, "Bibi, apakah sekarang kamu bisa


memberitahu aku, apa yang sudah membuatmu


menangis seperti ini..?" tanya lvan dengan suara


lembut.


"Maaf Tuan lvan, setelah bersama Tuan


Muda Calvin selama beberapa jam, aku akhirnya


menyadari sesuatu.." jawab Inah sambil


menyeka pipinya yang basah karena airmatanya.


"Menyadari sesuatu tentang Calvin?" ujar


Ivan balik bertanya.


"lya Tuan... cara Calvin menatapku, cara


Calvin berjalan, cara Calvin tersenyum bahkan


wajah tampan Calvin mengingatkanku kepada


mendiang tuan Cakra, mereka berdua terlihat


sangat mirip, aku.. " ucap Inah.


Inah tidak sanggup melanjutkan ucapannya


dia kembali menangis berderai airmata


mengingat sosok mendiang Kakak lvan sewaktu


masih kecil.


"Calvin mirip mendiang Kak Cakra?!" seru


Ivan yang sontak terkejut mendengar ucapan


Inah.


"Calvin mirip mendiang Kakakmu...?" suara


Nabila yang baru saja tiba ikut terkejut


mendengar ucapan lvan.


Ivan sontak menoleh ke Nabila yang sedang


terkejut, dia menghampiri Nabila dan


memintanya untuk duduk di samping Inah.


"Ivan, apa maksud dari ucapanmu barusan?"


tanya Nabila yang tidak dapat menyembunyikan


rasa penasarannya.


Ivan menghela nafasnya, dia memegang


kedua tangan Nabila yang terlihat syok


mendengar ucapannya.


"Sayanh, apa kamu benar-benar tidak


mengetahui siapa ayah Calvin yang sebenarnya?"


tanya Ivan lembut.


Ivan sangat mempercayai perkataan Inah,


itu karena Inah yang sudah meravwat dia dan


Kakaknya sewaktu mereka berdua masih kecil,


tentu saja Inah sangat mengenali semua


kebiasaannya dan juga kebiasaan mendiang


kakaknya, berdasarkan keterangan Inah, lvan


menebak jika Calvin mungkin bisa jadi adalah


putra dari mendiang Kakaknya, karena itulah dia


menanyakan tentang ayah biologis Calvin ke


Nabila, mungkin Nabila bisa memberinya sedikit


petunjuk tentang hal itu.


Nabila menggelengkan kepalanya, "Tidak,


Kak Qalia tidak pernah memberi petunjuk


tentang siapa ayah biologis Calvin yang


sebenarnya.." jujur Nabila.


Ivan kembali menghela nafasnya, tiba-tiba


sebuah ide muncul dikepalanya.


"Nabila, Bi Inah, aku akan memeriksa


sesuatu terlebih dahulu," ujar Ivan yang


langsung dibalas anggukan kepala oleh Nabila


dan Inah.


Ivan lalu beranjak dari duduknya, dia


bergegas menuju kamarnya.


Ceklek...


Pintu kamar lvan terbuka, dengan cepat Ivan


berlari menuju lemari tempat dia menyimpan


semua album foto miliknya.


"Seharusnya ada disini..!" gumam lvan


sambil membuka halaman demi halaman album


foto masa kecilnya.


Begitu dia menemukan foto yang dia cari.


Mata lvan langsung membelalak tidak percaya.


"Astaga. kenapa aku bisa melupakan hal ini


..?!" seru lvan yang langsung jatuh terduduk


begitu melihat foto mendiang kakaknya sewaktu


berusia 6 tahun.


Bulu kuduknya merinding, dirinya sangat


terkejut memandangi foto kecil mendiang


kakaknya yang sedang tersenyum.


"Calvin dan Kakak terlihat sangat mirip.


Kakak... apakah Calvin benar-benar putramu?"


ucapnya terbata-bata sambil memandangi foto


Kakaknya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2