
Makhluk itu indah, besar dan ditutupi dengan bulu abu-abu. Mata emas itu tak berkedip melihat ke segala arah. Aku berjalan perlahan-lahan, lebih dekat dan lebih dekat. Dia tidak bergerak. Anehnya, aku tidak takut. Orang lain pasti akan ketakutan dengan serigala raksasa berdiri begitu dekatnya. Aku mengulurkan tanganku. Aku hanya ingin menyentuhnya ...
KRIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNGGG!!!!!
Aku terbangun oleh suara alarm yang begitu keras hingga terasa seperti itu datang dari dalam kepala bukan dari sisi lain tempat tidur. Tanganku keluar dari selimut dan membantingkan tanganku ke atas meja mencari benda bulat berisik itu. Masih tanpa membuka mata, aku menemukan benda sialan itu lalu memukulkannya ke meja beberapa kali dan akhirnya sekali lagi kamar ini penuh dengan keheningan yang membahagiakan."Agra! Bangun! Kamu punya jadwal pemotretan hari ini!" suara lain membangunkanku.
Yah, kalian sudah dengar? Namaku Agra. Lengkapnya Agrata. Dan aku seorang model. Jadwalku setiap harinya penuh dengan berbagai pemotretan. Saat jadwal kosong di malam hari, kadang-kadang aku akan melakukan pekerjaan sampingan sebagai peramal. Bukan dengan kartu tarot, tapi dengan sentuhan. Kalian tahu, aku lahir dengan sebuah keistimewaan. Aku bisa melihat masa depan dan menggali jauh ke dalam memori seseorang hanya dengan satu sentuhan di dahi. Baik itu mimpi indah hingga mimpi terburuk mereka. Aku juga mampu membawa mimpi buruk mereka bangkit kembali. Meski hanya ilusi, namun terasa begitu nyata hingga mengganggu kejiwaan mereka. Inilah sebabnya kenapa teman-teman dekatku takut untuk bermain-main dengan ku, kecuali ..
"Agra kuww! Cuu..."
"Ehmmm.. Hentikan Nabilah! Aku sedang pemotretan, jangan tiba-tiba menciumku!" omelku pada orang yang baru saja memeluk dan menciumku tiba-tiba.
Nah dia Nabilah stellaria. Pacar ku. Kami sudah berpacaran selama 2 bulan. Dia seorang artis. Kami bertemu ketika melakukan sebuah pemotretan bersama. Wajahnya cantik tapi kelakuannya sering memalukan. Suaranya pun sangat berisik. Mesum juga. Lihat sendiri kan tadi? Dengan seenaknya mengganggu pekerjaanku dan menciumku dibibir bahkan didepan semua kru Photoshoot.
Hubungan kami sudah jadi rahasia umum. Sejak pertemuan itu dia sering sekali mendatangiku. Memaksa untuk dekat denganku, di saat kebanyakan orang tidak ingin terlalu dekat denganku karena kemampunaanku ini. Itu yang membuatku luluh padanya dan aku benar-benar mencintainya. Tapi kadang-kadang dia bisa sangat mengganggu. Dan ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya. Nabilah adalah satu-satunya orang yang tidak bisa aku baca pikirannya. Tidak tahu kenapa .. Mungkin cinta yang membuatku buta.
"Ooo.... Mereka mengambil foto saat kita berciuman! Dasar mesum! Kirimkan padaku! Biar jadi koleksi untuk ku."
"Kau yang mesum!" aku menarik telinganya singkat, kemudian mengelus pipinya "Nabilah sayang, tolong tunggu di luar dulu, ok? Aku sebentar lagi selesai.
"Tapi sayang.. Aku rindu padamu .." dia merengek seperti anak kecil.
"Tapi itu bukan alasan untuk mengganggu pekerjaanku. Hanya sebentar lagi, ok?"
Yah, tidak semua hal berjalan sesuai yang diharapkan. Butuh 2 jam untuk menyelesaikan photoshoot hingga semua selesai.
"Ayo, Agra. Cepat! Ayo kita pulang!"
"H-Hei, berhenti mendorongku. Kenapa harus terburu-buru?"
"Kamu tahu aku tidak suka pergi keluar di malam hari, bukan? ... aku tidak suka melihat bulan."
Nah, ini salah satu keanehannya. Bagaimana bisa ada manusia yang tidak suka melihat bulan. Hal itu cukup mengganggu pikiranku. Aku selalu berharap untuk berjalan-jalan bersamanya di taman pada malam hari disinari cahaya bulan. Pasti sangat romantis.
Mobil yang kami kendarai berhenti didepan sebuah rumah. Dia turun dari kursi kemudi, berlari berputar untuk membukakan pintu untukku. Sungguh romantis perlakuannya. Meski kadang-kadang.
"Kita sudah sampai, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu .. "
Dia merajuk begitu lucu tidak ingin kita berpisah. Aku tersenyum hangat padanya kemudian menciumnya. Bibir Nabilah mulai ******* bibirku penuh semangat. Aku menarik diri mencari udara, tapi dengan cepat ditarik kembali untuk ciuman yang kedua. Kami berciuman mesra cukup lama, hingga saling menarik diri, menarik napas kami cepat dan kemudian berciuman lagi. Puas berciuman berkali-kali, kini kami saling menempelkan dahi dan menatap mata satu sama lain.
"Nabilah, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Agra. Sepertinya sudah saatnya aku pergi. Sampai jumpa besok."
"Ok." dia melambai dan berlari kecil menyusuri jalan. Saat aku berjalan masuk kedalam rumah, aku menoleh padanya yang sudah mulai menjauh. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi hari ini.
...***...
Aku berbaring di rumput di atas bukit, menatap langit yang diterangi oleh bulan purnama. "Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Dia harus tahu tentang jati diriku. Tapi bagaimana aku menjelaskan padanya?"
“Sedang menikmati sinar bulan, Nabilah?”
Sebuah suara bergema ke telingaku. Aku menoleh dan terlihat seseorang melangkah keluar dari balik pohon. "Pergilah, sonia. Aku ingin sendirian
__ADS_1
sekarang."
"Kau tahu, sekarang kau berubah. Aku tidak lagi melihat sosok seorang Ace darimu.
Kau jadi lembut. Biasanya kau selalu menantangku bertarung setiap kali kita bertemu."
Aku tetap diam tanpa komentar.
"Ah.. aku mengerti. Karena pria itu. Siapa namanya? Kalau tidak salah, Agra?"
Aku bangkit menatapnya tajam "Apa mau mu, Sonia? Katakan saja! "
"Alpha terlihat tidak senang dengan ini. Kau harus menyingkirkannya. "
"Lupakan saja. Kau tahu aku tidak akan pernah melakukan itu. "
"Asal tahu saja, aku mendapat perintah langsung dari Alpha untuk menyingkirkan Pria itu."
Telingaku berkedut mendengar ungkapan konyolnya. Dengan cepat aku menerkamnya dan menempelkannya di atas tanah. Mataku bersinar emas sementara taring setajam pisau dan cakar mulai muncul dari mulut dan jari-jariku.
"Coba saja letakkan jarimu padanya. Aku akan MENGAKHIRI HIDUPMU! " Aku mengancamnya dengan suara penuh kemarahan.
"Nabilah, biarkan aku selesai berbicara." Ucapnya tenang. "Silahkan. Tapi jika aku mendengar
kata-kata yang tidak sesuai dengan
telingaku, cakar ku ini akan menusuk
"Baiklah. Dengar, sebagai Beta, aku harus mematuhi semua perintah dari Alpha. Dalam kasus sekarang untuk melenyapkan priamu itu. Tapi aku mengenalmu lebih lama dari Alpha. Aku lebih menghargai persahabatan kita. Pikirkan ini sebagai saran dari seorang teman lama. Tinggalkan pria itu. Waktumu 1 minggu. Setelah itu jika kalian berdua masih bersama, Alpha akan mengirimkan pasukannya untuk melenyapkannya.
"Kalau begitu, biarkan saja mereka datang! Aku akan melindunginya!" tantangku.
"BAGAIMANA CARANYA ?! DENGAN BERUBAH MENJADI ITU?! Dia akan ketakutan! Dan pada akhirnya dia akan meninggalkan mu! " Aku tahu yang Sonia maksud adalah wujud asliku.
Aku memukulkan cakar tajamku ke tanah tepat di samping kepala Sonia. Ku tatap dia dengan penuh kemarahan. "Jangan kau berani - berani mempengaruhi ku, Sonia! Kau temanku! seharusnya kau membantuku!"
"Aku sudah membantumu! Aku menawarkan diri untuk berbicara dengan mu lebih dulu! Jika saja Alpha mengambil tindakan langsung, pria itu sudah lama mati! " Sonia berteriak sambil mendorongku pergi. Dia kemudian berdiri dan membersihkan bajunya dari debu.
"Aku tidak ingin melakukan ini, Bil. Kau sahabatku. Apapun pilihanmu, pastikan itu yang menurutmu benar. Itu saja yang ingin aku katakan. Sampai bertemu lagi. " Sonia berubah menjadi serigala dan berlari pergi.
Aku terduduk lagi di rumput dan mendesah keras "Apa yang harus ku lakukan?"
“Bertengkar dengan Sonia, Nabilah?”
"K-kau!"
...***...
Aku merasa ada yang aneh dengan Nabilah. Memang sih banyak sekali yang janggal darinya. Terlalu banyak hal yang ia rahasiakan dariku. Dua bulan sudah kami menjalin kasih, tapi aku belum pernah pergi ke rumahnya. Sedangkan dia hampir setiap hari datang baik untuk menjemput atau pun mengantarku pulang. Dia juga selalu berjalan kaki saat datang. Dan selalu menolak setiap aku ingin mengantarnya pulang.
Penasaran dan juga khawatir, sekarang aku ingin mencoba untuk mengikutinya. Ku lihat tadi ia berjalan kearah bukit. Aku sedang mendaki jalan menanjak ketika aku mendengar sebuah perdebatan. Itu suara Nabilah. Aku bersembunyi di balik batu besar mencoba untuk menguping dan mengintip.
"Pergilah, Violeta! Aku tidak ingin melawanmu."
__ADS_1
"Aku tahu Sonia tidak akan berani untuk melawanmu. Jadi aku mengikutinya diam-diam sampai kesini. Dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, jadi biarkan aku membantu menyelesaikannya. Di mana pria itu, Nabilah?"
"Pergilah ke neraka!"
"Keras kepala. Baiklah, kalau begitu aku akan memaksamu bicara!"
Aku melihat gadis bernama Violeta itu berubah menjadi serigala tepat di depan mata ku kemudian menerkam Nabilah hingga tersudut ke bawah. Itu bukan serigala normal. Tubuhnya sebesar sapi, sehingga aku pun berteriak ketakutan dan panic "Nabilah!" Teriakanku menarik perhatian mereka.
"Agra, lari!" Nabilah menjerit saat aku melihat serigala itu melotot kearahku.
"Jadi ini pria itu, ya?" Serigala itu segera mengubah target dan melompat langsung ke arahku.
"Tidak secepat itu sialan!" Nabilah berteriak. Dia berhasil mencengkeram ekor serigala itu dan membantingnya ke batu besar di dekatnya.
"Apa yang terjadi, Bil?! Bagaimana kamu melakukan itu ??" Aku mulai panik.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Cepat pergi.. Ugh " Nabilah tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya sebab serigala itu berhasil menerkam dan menjatuhkannya ke bawah lagi.
Nabilah terlihat berusaha melawan kekuatan dari serigala diatasnya. Tiba-tiba Nabilah menoleh kearah ku dan terdiam "Agra, aku minta maaf aku sudah berbohong padamu. Aku tidak pernah ingin kamu melihat ini tapi sepertinya aku tak punya pilihan sekarang."
Ku dengar Nabilah berkata sesuatu. Suaranya lirih tapi masih dapat ku dengar. Detik kemudian aku menatap ngeri, Nabilah berubah menjadi serigala juga dan akhirnya mampu menendang serigala itu menjauh. Dia kemudian menyambarku dan menempatkanku di punggungnya lalu berlari menjauh dari tempat itu. Serigala tadi tidak mampu mengejar kami. Setelah cukup jauh, ia berhenti berlari. Aku turun dan mulai mendekatinya.
Makhluk itu indah, besar dan ditutupi bulu abu-abu. Mata emas itu tak berkedip melihat ke segala arah. Aku berjalan perlahan-lahan, lebih dekat dan lebih dekat. Dia tidak bergerak. Anehnya, aku tidak takut. Orang lain pasti akan ketakutan dengan serigala raksasa berdiri begitu dekatnya. Aku mengulurkan tanganku. Aku hanya ingin menyentuhnya.
“Nabilah?”
Dia tampaknya berusaha untuk tidak menanggapiku.
“Nabilah, sayang? Kamukah itu?” Tanyaku dengan nada khawatir.
Dia masih tidak ingin menatapku dan
menoleh ke arah lain. "Sekarang, kamu pasti akan meninggalkanku, kan?" Ucapnya terdengar sedih.
Aku mendekat lagi, kemudian membelai bulunya. "Nabilah, kumohon lihat aku?"
Nabilah perlahan menoleh ke arahku.
"Hanya karena kamu manusia serigala? Aku pikir aku bisa hidup dengan itu. Selain itu, aku tahu kamu tidak akan pernah menyakitiku." Aku memberinya senyum hangat saat ia berubah kembali menjadi bentuk manusia.
" aku tahu kamu tidak akan pernah menyakitiku." Aku memberinya senyum hangat saat ia berubah kembali menjadi bentuk manusia.
"B- benarkah?"
"Tentu saja. Ini terlihat keren memiliki werewolf sebagai pengawal."
"Tunggu. Kamu menganggapku hanya
sebagai pengawal? "
"Yah, kadang-kadang .." ujarku bercanda. "Baiklah pangeran. Untukmu, aku akan selalu menjadi pengawalmu" Nabilah menarikku dan mencium bibirku. Kami berpelukan sepanjang malam itu. Memiliki werewolf sebagai pacar, hal buruk apa yang yang mungkin terjadi?
Oh yah. Aku berencana untuk bertemu teman lama ku. Sebaiknya aku memperkenalkan Nabilah padanya. Aku yakin dia pasti iri aku memiliki seorang pacar artis.
__ADS_1