Paradox

Paradox
Chapter 21 : Albion Enzy


__ADS_3

Beberapa hari setelah William keluar dari rumah sakit, dia dan kelima teman lainnya memutuskan untuk piknik di tempat di mana mereka pertama kali berkumpul, di bawah pohon besar didekat taman. Meski tanpa Jeje dan Vi yang baru pertama kali datang kesana.


"Virza, kamu mau .." Vi menjulurkan tangannya yang memegang sepotong roti dengan menampilkan wajah lucunya. Virza terkekeh melihat Viera memasukan setengah potongan roti kemulutnya sendiri, kemudian mendekatkan wajah ke arahnya. Dengan senang hati Virza menyambut setengah potongan lain dengan mulut nya sendiri. Alhasil kini mereka saling menggigit potongan roti bersamaan dan dilanjutkan dengan saling ******* bibir.


"Aww.. Kalian berdua terlihat begitu manis.." ucap Agra tersenyum melihat


Virza dan Viera yang sedang asik dengan dunia manis mereka sendiri. Sementara itu, Nabilah sedang berbaring di pangkuan Agra, asik bermain dengan rambutnya disaat Agra menyuapinya dengan potongan-potongan roti.


Gracia dan William duduk bersebelahan melihat yang lain bersenang-senang sendiri sebelum akhirnya saling pandang dan tersenyum.


"Yah, pada akhirnya jadi kencan bersama." ucap Gracia memulai obrolan dengan William.


"Maaf ya, Gre. Padahal aku berjanji untuk membawamu kencan berdua saja. " ucap William minta maaf.


"Tidak apa-apa. Semakin banyak, semakin meriah, bukan? Lagipula, kita masih punya banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama-sama, kan? " balas Gracia sambil tersenyum.


Tiba-tiba wajah William tampak berubah murung. "Kita masih punya banyak waktu, ya?"


"Ada apa?" Tanya Gracia, memperhatikan perubahan sikap William.


Setelah menghela napas panjang, William akhirnya bersuara. "Gre, apa kamu mau berjalan-jalan sebentar denganku? Hanya kita berdua. A-aku ingin mengatakan sesuatu. "


"E-Eh?" Gracia langsung tersipu dengan pernyataan William.


"Emm Baiklah. "jawab Gracia sedikit gugup. Tanpa pamit pada yang lain, keduanya berjalan menjauh dari tempat itu.


Setelah beberapa saat berjalan dalam diam, William akhirnya memecah keheningan dengan pertanyaan yang mengejutkan. "Gre, apa kamu memiliki perasaan padaku?"


Gracia benar-benar terkejut dengan pertanyaan itu, wajahnya seketika berubah merah dan mulai gagap. "E-Eh? Aku err.. Tidak.. Eh maksudku iya .. Tidak, aku berkata iya! Tidak!"


William terkekeh melihat kegugupan Gracia kemudian berkata, "Tidak apa-apa, Gre. Katakan saja yang sebenarnya. Aku ingin tahu. "


"A-aku punya perasaan padamu, William. Aku jatuh cinta padamu. " ungkap Gracia pada akhirnya.


William tiba-tiba mendesah panjang dan keras. "Ini sulit .."


"Apa maksudmu?" tanya Gracia dengan kening berkerut.


William berdiri satu langkah didepan Gracia dan meraih bahunya, membuat Gracia terkejut. "Aku juga punya perasaan padamu, Gre."


Hati Gracia terasa seperti akan meledak menjadi potongan-potongan kecil ditambah wajah nya berubah benar-benar merah.


"Tapi ada sesuatu yang harus ku

__ADS_1


menghubungimu sejak lama." Lanjut


William.


'I-Ini pengakuan? William mau menembakkku! ' ucap Gracia dalam hati.


"Gre, aku sebenarnya su.."


"William, kamu disini.." Seorang gadis tiba-tiba muncul dan berdiri disamping William. William yang terkejut-pun tidak jadi menyelesaikan kalimatnya dan segera menjaga jarak dari Gracia.


"Enzy!" seru William cukup keras.


'Itu gadis aneh yang mengaku keluarga William. Dia ace vampir? ' Pikir Gracia.


Enzy menoleh pada Gracia lalu tersenyum. "Kulihat kamu memiliki teman di sini, William. Kalian tampak akrab. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ya pernah. Ketika kau menerobos masuk ke ruang rawat William, menciumnya dan pergi tanpa memperkenalkan diri. " ucap Gracia keras dan ketus.


"Maafkan aku karena ketidak sopananku. Namaku Albion Enzy. Kau bisa memanggilku Enzy." Ucap Enzy memperkenalkan dirinya.


"Dan kau adalah ace vampir, aku tahu itu. William sudah memberitahu kami tentangmu. "Gracia mengatakannya dengan nada marah, masih mengingat adegan ciuman di ruang rawat.


"Yah.. Berarti aku tidak perlu menyembunyikan siapa diriku." balas Enzy diselingi senyum.


tanya William.


"Sejak kemarin aku sudah ingin menjengukmu lagi, tapi sayangnya aku harus menjalankan misi tingkat S lebih dulu. Jadi, setelah aku kembali dari misi, aku langsung menjengukmu. Tapi saat aku datang, perawat bilang kamu sudah keluar. Nah, karena sekarang aku sudah menemukanmu, ayo kita pulang, William. Kita harus bersiap-siap. " ucap Enzy mengulurkan tangannya pada William.


"Bersiap-siap untuk apa, William?" tanya Gracia curiga.


William tampak kebingungan untuk menjawab. Baik itu pertanyaan Gracia ataupun ajakan Enzy. Sebuah kerutan tiba-tiba muncul di wajah Enzy. "William, kau tampak ragu. Ada apa?"


"William, jawab aku! Apa yang terjadi! " Kali ini, Gracia bertanya dengan suara keras.


Enzy memelototi Gracia. "Apa gadis ini yang menahanmu untuk pulang bersamaku !?"


"T-Tidak! Dia tidak bersalah! " ucap William cepat.


"Kalau begitu ayo kita pulang, William. Semua orang sudah menunggu kita. " ucap Enzy kemudian.


"Dia tidak akan kemana-mana!" terdengar sebuah teriakan disusul munculnya 4 sosok keluar dari balik batu di dekat mereka.


"Kenapa kalian ada disana?" Gracia begitu terkejut dengan kehadiran kakak dan teman-temannya.

__ADS_1


"Kami mencoba menguping obrolan kalian." ucap Nabilah yang langsung mendapat pukulan di kepala oleh Virza.


"Jangan bilang-bilang!"


"Ah.. aku bertemu kalian semua di ruangan William waktu itu. Kau dokter. " ucap Viny menunjuk Virza.


"Tidak perlu basa basi! Kemana kau akan membawa William?! " tanya Virza cukup keras.


"Ku yakin aku tidak perlu berkonsultasi padamu tentang masalah kami, bukan?" Jawab Enzy yang malah balik bertanya.


"Hei, kelelawar! Kau akan pergi bersama dia?" Tanya Nabilah. William hanya menjawab dengan diam.


"Dari diamnya William, sepertinya dia tidak ingin mengikutimu pulang ke rumah." ucap Agra mulai bersuara.


"Itu bukan urusan kalian semua. William dan aku punya hal penting untuk dilakukan. " ucap Enzy.


"Aku tidak peduli kau ace vampir atau apa, tapi kau tidak bisa memaksa membawa William pergi jika dia tidak mau." ujar Viera.


Melihat Virza, Nabilah dan Viera perlahan melangkah mendekatinya, Enzy akhirnya berkata, "Sepertinya kalian ingin mengajakku untuk berkelahi."


"Kenapa tidak? Kami tidak akan membiarkanmu memaksa William pulang bersamamu. " ucap Virza.


"Dengar! Aku di sini tidak bermaksud untuk melawan kalian. Aku di sini hanya untuk membawa William pulang. Jadi, sebaiknya kalian tidak mengganggu kami jika kalian tidak ingin terluka. William, ayo kita pergi. " Enzy membalas dengan suara tenang.


William menoleh dan memandang ke arah Gracia dengan mata berkaca-kaca. Hal itu menarik perhatian Enzy, kemudian melotot marah pada Gracia. "William. Jika dugaanku benar, gadis inilah alasanmu menjadi ragu untuk pulang bersamaku."


Melihat itu, Virza, Viera dan Nabilah langsung berdiri didepan William dan Gracia, bermaksud untuk melindungi mereka. "Kau tidak akan membawa William kemana-mana, dan Kau tidak akan melakukan apa pun pada Gracia!" Teriak Vi.


"Tidak, hentikan! Aku akan pulang denganmu, Enzy. Tolong jangan melawan!" ucap William tiba-tiba.


"Kenapa !? Ini 3 lawan 1! Kami memiliki keuntungan!" Teriak Nabilah.


William justru menggeleng dan berkata, "Aku minta maaf untuk mengatakan ini Nabilah, tapi itu tidak akan cukup."


Mereka bertiga cukup terkejut dengan pernyataan William.


Tidak ingin membiarkan harga dirinya hancur, Nabilah segera berubah menjadi bentuk lycan dan melompat ke arah Enzy dengan kecepatan penuh. "Kita lihat saja nanti! Aku juga Ace klanku! "


Enzy menggeleng. "Ingat ya. Kalian lah yang memulai pertarungan ini. Jangan salahkan aku untuk setiap luka yang kalian terima. "


Nabilah mengangkat tinjunya dan mencoba memukul Enzy. Di saat yang sama, lengan kanan Enzy diselimuti oleh aura ungu saat ia mengangkatnya. Pukulan kuat Nabilah dengan mudah dihentikan oleh Enzy hanya dengan tangan kanan saja dan kemudian mencengkeram kepalan tangan itu.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2